Tag: opini
Orang Paling Lemah
by pigeon on Oct.22, 2011, under Opini
Postingan yang lalu saya menulis tentang orang yang paling bodoh, yaitu orang yang tidak mengindahkan akal yang seharusnya menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. Kali ini saya akan menulis tentang orang yang paling lemah. Sebelum membicarakan lebih jauh lagi tentang topik ini mari kita diskusikan terlebih dulu definisi dari orang yang lemah.
Jika ada anak kecil yang tidak bisa mengangkat beban seberat 10 Kg, apakah dia disebut lemah? Saya kira bukan karena seiring bertambahnya umur dia akan mampu mengangkatnya. Orang yang pekerjaannya hanya sebagai bawahan yang hanya bisa disuruh-suruh, apakah dia adalah orang yang lemah? Saya kira juha bukan, karena ketika dia sudah meniti karirnya dan beranjak memegang tampuk kepemimpinan ia tidak lagi disuruh-suruh. Lalu, siapakah sebenarnya orang yang lemah itu?
Menurut saya, orang yang lemah adalah orang yang mempunyai kekuatan dalam dirinya tetapi tidak memanfaatkannya dengan baik. Ia terlalu takut dengan tantangan yang akan muncul sehingga lebih memilih untuk menempuh cara yang lebih mudah dan cepat untuk mengendalikan dirinya. Ia justru mengandalkan faktor eksternal untuk membuat dirinya “merasa” lebih baik. Siapakah manusia yang tergolong pada kategori itu?
Yang sangat jelas terlihat adalah pecandu narkoba. Lihatlah perilakunya, ia punya kemampuan dalam dirinya sama dengan manusia-manusia lain yang ada di muka bumi ini. Bedanya ia tidak menggunakan kemampuan itu dengan baik, justru mengandalkan narkoba untuk membuat dirinya “merasa” lebih baik. Kecanduan, ketagihan, adiksi, dan ketergantungan adalah salah satu ciri-ciri orang yang lemah. Ia bahkan tidak mampu mengendalikan keinginannya sendiri. Betapa lemahnya dia.
Contoh kedua adalah perokok. Ah, terpaksa saya menyebut julukan itu lagi. Memang tidak separah pecandu narkoba tetapi beberapa perokok sudah mendekati. Ada asalan yang kadang disebutkan oleh para perokok untuk me-legal-kan tindakan mereka yaitu “merokok itu bisa membuat pikiran tenang”. Saya berpendapat bahwa pernyataan itu justru menunjukkan betapa lemahnya dia. Untuk meraih ketenangan saja harus mengandalkan faktor eksternal.
Kemarin saya menonton pertandingan catur. Dua orang perokok saling beradu kemampuan memainkan bidak-bidak catur. Awalnya keduanya santai tetapi ketika 10 menit berlalu, keduanya menyulut rokok masing-masing. Sampai akhirnya salah satu perokok tersudut. Dan setelah saya perhatikan orang tersebut menghisap rokoknya lebih sering daripada perokok satunya yang dalam posisi unggul. Bahkan saya lihat ia tidak pernah berhenti karena begitu rokoknya habis ia segera mengambil lagi sebatang dari dalam bungkus. Saya membatin,”Kasihan sekali Bapak ini, diperbudak oleh rokok.”
So, yuk kita optimalkan apa-apa yanga da dalam diri kita. Allah sudah memberikan sarana dan prasarana lengkap di dalam tubuh kita untuk bisa memperoleh kenyamanan dalam menjalani kehidupan ini. Mengapa harus bergantung pada sesuatu yang justru akan merusak tubuh kita.
Orang Bodoh
by pigeon on Oct.13, 2011, under Opini
Bukan bermaksud menghakimi seseorang sebagai orang bodoh, tetapi saya hanya ingin membahas sedikit tentang pengertian orang bodoh dan siapa contohnya orang bodoh. Mengingat manusia dibekali dengan akal untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, yang menjadikannya memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada makhluk Allah lainnya. Akal yang seharusnya digunakan sebagaimana fungsinya untuk menjadikan kenyamanan dalam menjalani kehidupan.
Kita sepakati dulu apa sih sebenarnya definisi dari orang bodoh. Jika ada orang yang belum pernah belajar mengendarai sepeda lalu suatu saat ia mengendarai sepeda untuk pertama kalinya dan terjatuh, apakah ia tergolong orang bodoh? Saya kira bukan. Ia bukannya bodoh tetapi hanya kurang latihan saja. Lalu, jika ada orang yang tidak tahu bahwa di depannya ada lubang lalu ia terjatuh ke dalam lubang tersebut, apakah ia disebut orang bodoh? Saya kira juga bukan, ia bukannya bodoh hanya saja belum tahu. Lalu, jika ada orang yang tidak tahu bahwa makanan di depannya sangat pedas, dan ia memakannya dengan lahap hingga ia kepedasan, apakah ia disebut orang yang bodoh? Saya kira yang ini juga bukan, ia hanya tidak tahu saja.
Lalu orang yang seperti apa disebut bodoh? Menurut saya, orang yang bodoh adalah orang yang sudah tahu ada bahaya di depannya, ia tahu resiko buat diri sendiri, ia tahu bahayanya buat orang lain tetapi tetap saja dilakukan. Ia tak peduli bahwa tindakannya merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain, bahkan merugikan lingkungan.
Perokok, adalah salah satu contoh orang yang bodoh menurut saya. Bagaimana tidak? Penelitian secara ilmiah dan tidak ada yang membantah sedikitpun menunjukkan bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan pelakunya bahkan orang lain yang ada di sekitarnya. Tidak main-main, nyawa adalah taruhannya. Bukankah ini adalah hal yang fantastis?
Nyawa adalah satu-satunya alasan kita masih berada di dunia ini. Nyawa adalah satu-satunya jaminan kita masih bisa mengumpulkan pundi-pundi kebaikan dan menghapus kesalahan. Sebegitu berharganya nyawa dipertaruhkan untuk hal sepele, “merokok”. Lebih parahnya lagi, ia ikut mempertaruhkan nyawa orang lain yang bahkan mungkin tidak tahu apa-apa. Betapa besar dosa orang yang demikian.
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa seorang perokok menyadari sepenuhnya akan bahaya tersebut. Tetapi karena bodohnya itu tadi sehingga ia mengabaikan. Nha, perilaku mengabaikan ini yang saya anggap sebagai tindakan yang sangat bodoh. Pak Mario Teguh pernah mengatakan bahwa,”Jangan menganggap sesuatu itu sepele jika akibat yang ditimbulkannya besar.” Benar bahwa merokok itu hal yang sepele. Hanya mengisap asap doang, tetapi lihatlah efeknya.
Allah tidak akan memaafkan kesalahan seorang manusia yang dilakukan kepada sesama manusia sebelum manusia yang dirugikan tersebut memberikan maaf. Berapa banyak seorang perokok merugikan orang lain? Jelas itu adalah kesalahan. Bayangkan jika setiap orang yang dirugikan akibat asap rokoknya belum memberikan maafnya, mengerikan kawan.
So, yuk kita menjadi manusia yang cerdas. Yang menggunakan akal pikiran untuk berfikir sebagai dasar bertindak. Merokok adalah salah satu tindakan bodoh seorang manusia. Lalu, mengapa kita harus melakukan tindakan bodoh semacam itu?
Pergeseran Dunia Lawak Indonesia
by pigeon on Aug.17, 2011, under Opini
Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan acara-acara dengan materi lawakan di berbagai stasion televisi Indonesia. Apalagi di bulan ramadhan seperti ini, hampir tayang tiap hari untuk menemani para pemirsanya menunggu berbuka atau menyelesaikan sahurnya. Dan memang acara-acara semacam itu mendapatkan rating yang cukup tinggi, mengingat banyaknya pemirsa yang menikmati. Mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Apakah ini menunjukkan bahwa tingkat stress bangsa Indonesia mulai meninggi sehingga membutuhkan hiburan segar bagi mereka? Wah, nggak tahu juga.
Saya melihat bahwa ada pergeseran dalam dunia lawak di Indonesia. Pertama dari segi pemirsanya di mana pada zaman dahulu hanya orang tertentu saja yang menyukai acara seperti ini. Paling asyik jika menonton bareng sekeluarga sehingga bisa menumbuhkan semangat kekeluargaan. Tetapi sekarang hampir setiap kalangan ada peminatnya. Mulai dari tukang becak sampe artis, mulai dari PNS sampe wakil rakyat. Lha wong, tidak sedikit kok pelawak yang menjadi anggota DPR. Bahkan anak sekolahan pun mulai menyukai acara semacam ini. Mulai dari yang masih TK sampai yang sudah S3.
Selain, itu. Saya juga mengamati bahwa materi yang digunakan untuk membuat para pemirsanya tertawa juga mengalami pergeseran. Memang, bukan hal yang mudah untuk membuat orang tertawa. Saat ini, kebanyakan materinya adalah ejek mengejek, pukul memukul, dan hal-hal yang berbau dewasa marak ditampilkan. Dan materi tersebut sangat berhasil. Dalam sebuah acara nonton bareng di kost saya, kebanyakan temen-temen tertawa ketika seorang pemain mengejek/menghina lawan mainnya atau seorang pemain memukul/menendang/menampar/menjatuhkan dan sejenisnya dengan gaya mereka sendir-sendiri.
Jika hanya untuk hiburan saja tentu materi tersebut sangat pas. Tetapi ada hal-hal yang saya sendiri kurang ngeh dengan materi tersebut. Berkaitan dengan kasus pertama bahwa semakin banyaknya penggemar acara lawak maka secara tidak langsung acara tersebut mengajari semakin banyak orang hal-hal yang digunakan sebagai materi lawak. Lihat saja di berbagai acara berkumpulnya anak-anak sekolahan, jika mereka sedang bersantai dan bercanda maka materinya tidak jauh-jauh dari materi lawak di televisi.
Jika hal ini terjadi pada anak-anak maka yang ditakutkan adalah bahwa mereka menjadi generasi yang suka menghina dan memukul hanya untuk mendapatkan kesenangan, bahkan di dunia nyata sekalipun. Dengan bangga mereka mengejek temennya dan semakin bangga karena teman yang lain tertawa dibuatnya. Dan tanpa malu-malu mereka melakukan kontak fisik untuk menghibur dirinya sendiri dan juga temen-temennya. Mau jadi apa bangsa ini jika generasi penerus bangsa dididik dengan cara seperti itu.
Sudah sepantasnya kita sebagai warga negara yang baik untuk ikut memajukan bangsa. Acara lawak sangat bagus dan membantu menyegarkan pikiran manusia. Tetapi materi yang disajikan juga harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Butuh kerja sama semua pihak untuk menjadikan acara lawak yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajari pemirsanya berbudi pekerti mulia.
Polisi Gorontalo Menggila
by pigeon on Apr.10, 2011, under Opini
Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh tingkah kocak si Udin yang videonya tersebar lewat Youtube. Lagunya yang kocak dan menghibur mungkin menjadi faktor utama yang memicu masyarakat bahkan media massa mengangkatnya sebagai topik yang perlu diperbincangkan. Kualitas video yang masih jauh dari sempurna ternyata tidak membuat masyarakat melihat sebelah mata karena memang bukan itu point pentingnya.
Tidak lama kemudian muncul lagi aksi seorang polisi Gorontalo yang menunjukkan kemampuannya berjoget ketika sedang mendapat tugas jaga di tempat dia ditugaskan. Aksinya mendendangkan lagu India berjudul Chaiyya-chaiyya sambil berjoget persisi seperti video aslinya yang diperankan oleh Sahkrukh Khan. Videonya pun tersebar cepat melalui Youtube. Menurut berita di televisi, video tersebut bahkan ditonton oleh penikmatnya lebih daripada video aslinya yang juga diupload di website yang sama. Sungguh hal yang sangat luar biasa.
Saat ini setiap orang bebas berekspresi dan perwujudannya bisa ia sebarkan secepat an seluas mungkin dengan media informasi yang sudah sangat canggih saat ini. Yang menarik adalah kenapa kedua video tersebut yang membuat heboh?? Padahal ada jutaan rekaman video yang ada di Youtube. Pertanyaaan ini mengusik pikiran saya untuk menuliskan artikel ini.
Ada beberapa kesamaan yang saya dapatkan dari video Udin sedunia dan polisi Gorontalo menggila. Keduanya adalah perwujudan ekspresi murni dari pelakunya. Ketika saya menonton kedua video tersebut pun saya sempat tersenyum-senyum dan tertawa melihat aksi kocak keduanya. Selain tingahnya yang lucu juga ekpresinya yang sangat alami. Tidak dibuat-buat ataupun terpaksa. Kondisi ini yang memunculkan sebuah karya seni yang bisa menghibur banyak orang.
Selain itu, apa yang ditampilkan di video tersebut merupakan keadaan sebenarnya dari si pelakunya(saya melihatnya demikian). Lihat saja si Udin, ya karenanya namanya Udin maka dia membuat lagu yang mengisahkan tentang Udin.
Ekpresinya di video saya yakin tidak jauh berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Sama halnya dengan polisi Gorontalo yang memang sejak kecil sangat suka dengan yang namanya lagu India khususnya lagi dinyanyikan oleh tokoh idolanya tersebut yatu Sahrukh Khan. Sangat terlihat dari mimiknya yang sama persis dengan lirik lagunya.
Apakah kedua salah? Tentu saja tidak. Menurut saya tidak ada yang salah dari video tersebut. Mungkin konten lagu si Udin yang ada unsur penghinaan di dalamnya tetapi saya yakin dia tidak bermaksud demikian dan ini tidak perlu dipermasalahkan. Saya justru salut dengan polisi Gorontalo tersebut yang mau berekspresi di lingkungan yang menurut saya sangat tidak lazin berekspresi demikian. Beliau memberikan kesan yang baik buat kepolisian bahwa mereka juga manusia. Tidak sedikit polisi yang jaim dengan selalu menunjukkan tampang seram dan bengis. Polisi yang satu ini justru menunjukkan keramahannya pada masyarakat.
Maka, hikmah yang bisa kita ambil dari dua kejadian ini adalah bahwa jika kita mau berekpresi secara total maka hasilnya adalah karya seni yang bisa menghibur banyak orang. Tidak hanya dalam hal berekpresi, dalam bekerja, belajar, olah raga, dan masih banyak lagi jika kita lakukan secara totalitas maka hasilnya pasti luar biasa.
Dan kita perlu mencontoh kepolosan dan kejujuran beliau berdua. Tidak seperti beberapa tokoh politik yang sangat berbeda perilakunya antara di depan kamera dan di dunia nyata. Antara perkataan dan perbuatan. Berbeda dengan film dan sinetron yang bisanya hanya pura-pura padahal kehidupan sebenarnya jauh dari itu.
Nasib Pendidikan di Indonesia
by pigeon on Apr.02, 2011, under Opini
Baru saja saya membaca berita di Kompas hari ini. Salah satunya adalah mengenai pelajar SMP di Jakarta yang ke sekolah membawa celurit. Buat apa coba? Yang terjadi kemudian adalah tawuran antar pelajar yang merugikan banyak orang, khususnya para pelajar itu sendiri. Kesempatan yang seharusnya digunakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya justru disia-siakan begitu saja untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat sama sekali.
Harus kita sadari bersama bahwa masa depan bangsa ini terletak di tangan para pemuda. Masa sekolah adalah masa di mana seseorang ditempa untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya sehingga nantinya ketika masanya telah tiba untuk memegang kekuasaan/peranan yang penting di negeri ini, ia sudah siap dengan bekal yang ada. Bukan hanya masalah ilmu yang bersifat teoritis tetapi juga mental spiritual yang harus terbina pada masa-masa sekolah.
Kenyatannya hal itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Masih ada sebagian sekolah yang tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Tidak jarang guru yang seharusnya menjadi kunci keberhasilan pendidikan justru hanya bertindak untuk menunaikan kewajibannya semata. Dan tidak jarang pula ia justru memberikan teladan yang tidak baik.
Banyak hal yang mendorong anak didik menjadi malas untuk menuntut ilmu dan lebih senang berhura-hura di luar dengan membuat kerusakan. Anak muda butuh kegiatan untuk mengekspresikan dirinya. Nha, inilah yang seharusnya menjadi tugas utama kita semua. Bagaimana caranya agar setiap anak muda di negeri ini merasa senang dan nyaman mengekspresikan dirinya di lingkungan sekolahan, bukannya di jalan dengan menggelar tawuran.
Sangat miris memang, melihat fenomena yang seperti ini. Kebanyakan orang tua pasti senang jika melihat anak-anak muda bersemangat membangun dirinya. Menjadi anak yang baik dan berilmu serta bermartabat. Tapi perasaan ini berubah 10 derajat ketika justru yang terlihat adalah seringnya tawuran massa yang pesertanya adalah anak-anak muda. Bahkan anak sekolahan yang baru menginjak bangku SMP.
Lingkungan sangat berperan dalam membentuk karakter seseorang. Memberikan lingkungan pergaulan yang baik untuk anak-anak adalah tugas kita semua. Dan memang belum semua orang tua menyadari tanggung jawabnya ini. Tidak sedikit orang tua yang fokusnya hanya pada mencari uang, yang penting anak bisa sekolah tanpa peduli di mana dan bagaimana dia sekolah. Jika bukan orang tua yang mengarahkan anaknya, lalu siapa lagi.
Jadi, yuk kita bersama-sama membangun negeri ini dengan mempersiapkan generasi muda yang tangguh. Memang sulit untuk mewujudkan hal yang demikian tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Selalu ada jalan ketika kita mau berusaha. Saling menyalahkan bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Karena ini menyangkut keberlangsungan negeri ini. Mau di bawa ke mana negeri ini jika anak mudanya hanya bisa tawuran dan membuat kerusakan.
Revolusi Mesir, Mubarak Akhirnya Lengser
by pigeon on Feb.12, 2011, under Opini
Sekian lama, hari-hari kita di penuhi oleh berita mengenai demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Mesir. Sekian nyawa melayang demi memperjuangkan satu tujuan, yaitu menggulingkan kekuasaan Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Dan akhirnya, semua pengorbanan itu tertebus dengan sempurna. Jumat, 11 Februari 2011, Mubarak akhirnya mundur dari kursi kekuasaannya setelah ia berkuasa selama 30 tahun, waktu yang cukup lama untuk ukuran seorang presiden.
Banyak orang menyambut bahagia berita ini. Dan tentunya, rakyat mesir yang selam ini sudah sangat menginginkan kekuasaan Mubarak diganti menyambutnya dengan suka cita. Tidak hanya bangsa Mesir, bahkan bangsa-bangsa lain pun ikut menyambut gembira berita ini. Seperti Lebanon yang merayakan kemenangan ini dengan menyulut kembang api di pusat kota Beirut(detik.com). Tidak ketinggalan bangsa Indonesia yang notabene jauh dari wilayah Mesir pun menyambut gembira berita ini. Mengingat banyaknya mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di sana.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana Mesir selanjutnya? Kejadian di Mesir ini sama persis dengan kejadian di Indonesia yang terjadi pada tahun 1998, di mana waktu itu rakyat Indonesia bersatu dan melakukan demonstrasi besar-besaran di gedung DPR/MPR, menuntut lengsernya presiden Soeharto waktu itu. Hasilnya pun sama, yaitu presiden lengser dan diganti. Nha, apakah selanjutnya kondisi di Mesir pun sama dengan kondisi di Indonesia saat ini?
Lengsernya presiden Mubarak, memberikan konsekuensi memilih siapa yang akan menggantikannya. Dan kita semua tahu, kursi presiden tidak hanya satu dua orang yang mengincarnya. Bisa jadi jika rakyat Mesir kurang dewasa dalam menyikapi revolusi ini, justru keadaannya akan lebih buruk lagi daripada sebelumnya. Perebutan kekuasaan dengan dengan mengesampingkan kepentingan rakyat bisa jadi yang kemudian berlangsung.
Tentu semua orang tidak menginginkan yang demikian. Lihatlah Indonesia yang sampai sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan semenjak reformasi tahun 1998. Setiap orang menjadi bebas berbicara, semua mengatasnamakan kepentingan rakyak padahal realitanya nol besar. Hal ini bisa menjadi benchmark bagi Indonesia. Apakah revolusi yang dilakukan oleh rakyat Mesir lebih sukses daripada Indonesia. Jika memang demikian maka kita perlu belajar kepada mereka.
Semoga saja perubahan ke arah lebih baik yang kemudian terjadi. Bagimana pun juga Mesir adalah salah satu pemain ekonomi yang cukup penting di pasaran dunia, terutama dengan komoditas minyaknya. Tidak stabilnya Mesir tentu akan mengganggu perdagangan minyak di seluruh dunia, terutama masalah harga dan pastinya Indonesia juga akan terkena dampaknya. Dan yang paling merasakan pasti rakyat kecil yang hanya bisa pasrah.
Jadi, siapakah yang akan memimpin Mesir selanjutnya? Kita tunggu saja perkembangannya. Tapi yang jelas siapapun yang akan memimpin, haruslah lebih baik daripada Hosni Mubarak sehingga bisa membawa Mesir ke arah perubahan yang lebih baik. Jangan sampai revolusi ini justru menjadi boomerang bagi seluruh rakyat Mesir. Semua memang sulit, tetapi sulit bukan berarti tidak bisa.
Hati-Hati dengan Kata Orang
by pigeon on Jan.19, 2011, under Nasehat
Ketika kita memutuskan untuk menjadi manusia yang mau bergaul dengan banyak orang maka kita juga harus siap dengan segala macam kata-kata yang akan mereka keluarkan. Ada begitu banyak orang yang bergaul bersama kita maka sebanyak itu pula jenis kata-kata yang akan kita terima. Pertanyaannya adalah apakah kita siap dengan segitu banyaknya jenis kata-kata?
Siap atau tidak siap kita harus siap. Karena jika tidak kita akan mudah terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Memang benar bahwa kata-kata itu hanya sekedar angin lalu saja sebelum kita mengijinkannya memasuki ruang-ruang pikiran kita. Tetapi namanya manusia pasti punya celah yang sadar atau tidak kadang pintu itu terbuka dengan sendirinya sehingga membuat beban pemikiran yang dalam buat kita.
Moment adalah saat yang penting kita perhatikan. Betapa kita sudah berusaha untuk tegar pada prinsip yang sudah kita pegang sejak awal. Tetapi saat moment-moment tertentu kita akan terpengaruh juga, minimal akan memikirkan ulang apa yang sudah kita pegang sebelumnya. Dan inilah yang sangat berbahaya, terutama bagi kalangan pemuda.
Masa yang cukup sulit adalah perpindahan dari masa kuliah ke masa kerja. Itu adalah moment di mana seorang pemuda masuk ke dunia yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Dunia kuliah yang serba disajikan dalam cover ideal sementara dunia kerja yang idealisme itu seolah hanya kulit yang sangat tipis dibalik tebalnya realita yang jauh dari ideal. Pengaruh yang begitu kuat tiba-tiba saja menyeruak dan mempengaruhi alam bawah sadar kita.
Banyak orang mengalami perubahan yang sangat drastis ketika melalui masa ini. Yang harus kita perhatikan adalah apakah perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik atau ke ara yang lebih buruk. Tentu saja kita semua menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi seperti kata pepatah orang jawa yang mengatakan bahwa,”Ana rega ana rupa” alias ada harga yang harus dibayar.
Kuncinya adalah ketika kita sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah maka prinsip itu harus kita pegang penuh. Suatu ketika kita ragu dengan prinsip itu maka segera konsultasikan kepada orang yang lebih tahu daripada kita. Jika kita biarkan saja keragu-raguan itu mengendap di dalam otak kita maka semakin besar kemungkinan pintu gerbang keyakinan kita akan jebol.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa memang sangat sulit dan berat untuk mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Apalagi kita berada di lingkungan yang kurang mendukung dengan apa yang kita yakini. Tetapi bukankah memang semua itu butuh pengorbanan? Dan setiap pengorbanan, jika kita melakukannya dengan ikhlas dan sabar akan memberikan hasil yang kadang kita sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya. Hanya ALLAH-lah yang tahu mana yang terbaik buat kita.
Jika ada ujian akan keimanan kita kepada-Nya maka sebenarnya itu adalah test terhadap kekuatan kita. Sanggupkah kita? Dan ALLAH sudah berjanji, Dia tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Maka tidak ada alasan untuk menyerah. Yakin akan kemampuan kita dan yakin akan janji-Nya. InsyaALLAH, masa depan yang cerah sedang menunggu dis seberang sana.
Yuk, teman-teman. Sebagai golongan muda yang akan memberikan perubahan negeri ini menuju ke arah yang lebih baik, kita mantapkan hati kita akan kebenaran. Jangan mudah terpengaruh oleh golongan tua yang tidak selamanya mereka benar.
Menyikapi Pendapat Orang lain (Bagian 2)
by pigeon on Dec.23, 2010, under Nasehat
Masih berkaitan dengan artikel sebelumnya karena entah mengapa tangan ini masih menuntut untuk menuliskan beberapa ide yang belum tertuang dalam artikel sebelumnya. Dalam artikel ini saya lebih menekankan mengenai latar belakang seseorang berpendapat. Karena hal itu yang menurut saya dijadikan dasar untuk memberikan respons.
Sebelumnya saya menulis bahwa ketika kita menyikapi pendapat orang lain(apalagi kerabat atau teman dekat) maka lihatlah sudut pandang orang yang berpendapat tersebut. Dengan kata lain sisihkan sebentar ego kita untuk langsung mengeluarkan pendapat kita sendiri. Satukan sudut pandang barulah memutuskan apakah mau pro atau kontra. Sehingga jelas permasalahannya. Salah satu hal yang perlu kita lihat adalah latar belakang mengapa seseorang berpendapat.
Banyak sekali latar belakang yang membuat seseorang berpendapat. Maka kita pun harus menyesuaikan responnya. Missal seseorang berpendapat karena ia ingin sombong. Maka saya piker tidak perlu menanggapi isi pendapatnya, karena titik permasalahannya adalah rasa sombongnya. Karena menurut saya percuma mendebat pendapat seseorang yang didasari oleh kesombongan, nggak aka nada hasilnya. Begitu juga pendapat yang didasari karena ingin merendahkan orang lain. Nggak perlu ditanggapi, justru lebih baik jika kita mengingatkan.
Lain jika pendapat tersebut murni karena pemikirannya. Itulah yang dia ketahui maka ia berpendapat demikian. Pernah dengar istilah “Flash of Genius”? Mungkin kalo diterjemahkan menjadi pemikiran sesaat seorang yang cerdas. Saya perluas menjadi pemikiran sesaat yang membuat seseorang mengembangkan idenya. Ya contohnya ketika saya menonton film dengan judul “Flash of Genius” maka tercetuslah ide untuk menulis artikel ini. Atau Newton yang kepalanya kejatuhan buah apel yang membuatnya berfikir tentang gravitasi. Pasti setiap orang pernah mengalaminya.
Menjadi menarik untuk memberikan tanggapan kepadanya. Dan alangkah baiknya jika kita sekali lagi menyamakan sudut pandang. Ketika seseorang berpendapat apakah ia memang pantas mengeluarkan pendapat tersebut. Kadang lebih baik menguji pendapat orang lain kemudian memberikan solusi dari sudut pandang kita sendiri daripada langsung memberikan counter terhadapnya. Bingung, ya?
Ok, deh. Missal saya bilang “Bunga mawar itu indah.” Sebelum anda mencounter pendapat saya tersebut dan mengatakan “Bunga melati lebih indah.” Lebih baik menguji pendapat dari saya. Missal dengan bertanya “Bunga mawar indahnya di mana? Tapi bunga mawar itu berduri lho?” Dan seterusnya….. barulah anda mengeluarkan pendapat “Kalo menurutku sih bunga melati lebih indah.” Dan anda bias membandingkannya dengan bunga mawar versi saya(warnanya, mahkotanya, durinya, baunya, dll). Terjadilah diskusi(maaf, saya lebih suka menyebut diskusi daripada debat) yang menyenangkan.
Lebih teliti lagi jika kita ingin menanggapi pendapat yang berupa tulisan. Untuk menghindari debat kusir yang saya sebutkan sebelumnya maka alangkah baiknya jika kita lebih bijaksana lagi. Tidak semua orang bias mengutarakan pendapat lewat tulisan. Kadang yang dimaksud A tetapi bahasa tulisan mengatakan seolah-olah B. Perlu klarifikasi terlebih dahulu(kecuali media yang digunakan sudah resmi dan diakui bersama, contoh majalah, jurnal, makalah, skripsi, thesis, dll) sebelum kita mencounter. Media tulisan juga dibatasi oleh jumlah kata yang berarti kadang tidak semua ide tertuang di sana.
Kesimpulan saya dalam artikel ini adalah bahwa daripada kita langsung mencounter pendapat seseorang lebih baik menyamakan sudut pandang terlebih dahulu, telusuri latar belakang mengapa ia berpendapat seperti itu, sehingga kita bias memutuskan respon yang tepat. Akhirnya yang terjadi adalah diskusi yang menambah wawasan kedua pihak alih-alih debat kusir yang nggak mutu dan bikin dongkol saja. Apalagi jika sudah muncul kata “pokoknya”…..walah…..
Bayangkan saja jika anda mengatakan “Wah, pemandangan di sini indah.” Dan tiba-tiba orang lain mengatakan “Jelek. Lebih indah pemandangan di sana.” Lalu, anda berusaha sabar dan mengatakan “Menurut saya suasana di sini juga lebih nyaman, banyak pohon menghijau.” Dan orang tadi bilang “Pokoknya di sini jelek. Di sana lebih indah.” Kelihatan nggak mutunya kan orang tadi?
Akan lebih menyenangkan jika orang lain bilang”Ehhhmmmmm, menurut anda keindahan di sini terletak pada apanya?” Lalu anda menerangkan “Yaaa…..di sini banyak pohon menghijau, membuat udara menjadi segar. Anginnya juga tidak terlalu kencang, jadi nyaman buat tubuh kita.” Nha, orang tadi bias melihat fakta-fakta tadi lalu membandingkan dengan pendapatnya sendiri. Misal dengan mengatakan “Iya, sih. Tapi menurutku di sini terlalu ramai. Menjadikannya kurang cocok untuk bersantai. Kalo saya, di sana lebih indah. Yaaa….meskipun pohonnya tidak sebanyak di sini tapi lebih cocok untuk menikmati suasana. Apalagi jika sore hari, melihat matahari terbenam, di sana lebih bagus.” Dan seterusnya….. Lebih enak dan menyenangkan, kan?
Ok, deh. Semoga bermanfaat. Oh, iya. Kalo misalnya saya berpendapat “Anak-anak Teknik Elektro 2004 itu pandai-pandai”. Apa respon yang akan anda berikan?
Menyikapi Pendapat Orang Lain (Bagian 1)
by pigeon on Dec.21, 2010, under Nasehat
Pernahkah anda berbeda pendapat dengan oran lain? Atau justru mempunyai pendapat yang sama dengan orang lain? Apa sih sesungguhnya pendapat itu? Wah, awal-awal sudah banyak pertanyaan yang diajukan. Tapi ini bukan ujian lho… Hanya membuka pembahasan saja dalam artikel ini. Saya masih ingat sewaktu SMP kita diajari tentang perbedaan antara fakta dan pendapat. Perbedaan terletak pada nilai kebenarannya. Fakta memiliki kebenaran yang sudah diakui oleh masyarakat umum dan tak seorangpun bias membantah. Contoh saja bahwa manusia itu makhluk hidup. Nah..loo…nggak ada yang bantah, kan? Sedangkan pendapat memiliki nilai kebenaran yang bersifat relative. Mungkin hanya yang berpendapat saja yang menganggapnya benar. Kalo saya bilang bunga mawar itu indah, maka belum tentu orang lain sependapat dengan saya.
Maka jika ada orang yang bertengkar apalagi sampai bunuh-bunuhan gara-gara beda pendapat, menurut saya adalah hal bodoh. Bersengketa karena sesuatu yang relative kebenarannya. Sesuatu yang belum jelas benar dan salahnya. Analoginya gini deh. Missal saya bilang mawar itu indah lalu orang lain bilang bahwa melati lebih indah. Lalu kami bertengkar, ejek-mengejek, pukul-memukul, sampai bunuh-membunuh. Ironis bukan? Yaaa……ini contoh ekstrim saja kok.
Oke deh, segitu saja pengantarnya. Saya lebih menekankan tentang bagaimana kita menyikapi pendapat orang lain, entah kita setuju ataupun tidak setuju. Manusia diberi ego oleh Yang Maha Kuasa. Suatu perasaan yang lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Kadang kita mendasarkan segala sesuatu pada diri kita sendiri termasuk dalam menanggapi pendapat orang lain. Seperti dalam kasus di atas maka pertengkaran terjadi karena masing-masing mendasarkan egonya sendiri. Bahwa bagi saya mawarlah yang paling indah, nggak peduli mengapa orang lain bilang melati lebih indah, pokoknya bagi saya mawar lebih indah.
Saya piker kadang kita terlalu egois dalam hal ini. Ketika orang lain berpendapat maka langsung kita merespon tanpa memperhatikan mengapa ia berpendapat seperti itu. Seseorang pernah berkata pada saya bahwa Allah itu tidak adil. Jika saya egois maka langsung saja saya menolak pendapat itu. Menceramahinya dengan berbagai macam dalil dan nasehat. Tapi tahukah kalian mengapa ia berkata demikian? Dalam seminggu terakhir ia mendapat musibah yang sangat berat dan beruntun. Ia sedang down dan tidak mungkin dijejali dengan adu pendapat bahwa Allah itu adil atau tidak. Waktu itu saya memutuskan untuk mendengarkan saja keluh kesahnya, dan baru keesokan harinya saya ajak bicara lagi.
Yah, saya piker setiap orang memiliki alas annya sendiri mengapa ia berpendapat. Kita hanya perlu memahami alasannya baru kita memutuskan apakah setuju atau tidak setuju. Kadang pertengkaran terjadi karena pendapat disikapi dengan “saklek”, tanpa melihat kondisi orang yang berpendapat. Yang terjadi adalah salah paham dalam menterjemahkan pendapat orang lain. Selanjutnya debat kusirlah yang akan kita lihat alias debat yang nggak mutu, debat yang nggak bakalan ada hasilnya.
Missal ada orang yang bilang gini “Wah, kalo di Jepang enaknya pake baju yang tebal.” Kebetulan kita pernah ke Jepang dan waktu itu musim panas. Langsung saja sewot dan membantah pendapat tersebut ”Ya jelas tidak. Di Jepang paling enak pake baju yang tipis.” Orang pertama nggak mau kalah dan kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi? Ya itu tadi, debat kusir alias debat nggak mutu hanya karena beda sudut pandang. Jika kita lebih arif dalam bersikap tentu hal tersebut nggak bakalan terjadi. Orang pertama melihat dari sudut pandang Jepang saat musim dingin, sedangkan orang kedua dari sudut pandang musim panas. Keduanya benar bukan? Perdebatan yang sia-sia karena sebenarnya kedua pendapat tersebut tidaklah berseberangan.
Rosulullah sendiri pernah memberikan contoh ketika seorang bertanya kepada beliau “Ya Rosulullah, saya ingin masuk Islam tapi tetap berzina.” Wah, kalo ini sih benar-benar nggak boleh. Nggak perlu diperdebatkan lagi. Tapi rosulullah menanggapinya dengan arif. Bukannya memarahi apalagi memukul justru bilang boleh asal jujur. Di sini rosullah ingin orang tersebut menyadari sendiri kesalahannya tanpa harus rosulullah memberitahu(beliau hanya membimbing). Maka orang tersebut pun berfikir dan menemukan letak kesalahannya sendiri. Jika yang bertanya sahabat dekat beliau (missal Abu Bakar as, atau Umar bin Khattab tentu berbeda menyikapinya).
Artinya bahwa meski pendapat itu sama tetapi jika orangnya berbeda dan alasan keluarnya pendapat itu juga berbeda maka penyikapannya pun berbeda. Seperti kata orang bijak bahwa jika kita ingin dipahami orang lain maka belajarlah dulu untuk memahami orang lain. Sangat disayangkan jika terjadi konflik hanya karena salah penyikapan pendapat orang. Ironis, apalagi jika dilakukan oleh orang-orang terpelajar negeri ini.
Yuk, kita budayakan diskusi yang membangun. Yang tidak hanya mendasarkan pada ego pribadi tetapi pada persatuan dan kesatuan, kekerabatan, dan persaudaraan. Diskusi yang menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
O, iya artikel ini juga hanya pendapat saya saja. Jika ada yang tidak setuju saya sangat senang untuk berdiskusi. Bisa ditulis di comment atau e-mail, ato YM ato media apa saja selama itu bias menambah keakraban kita.






