Tag: cinta
Berani Mencintai, Harus Siap Untuk Menikahi
by pigeon on Oct.24, 2011, under Puisi
Ketika memutuskan untuk siap mencintai, selanjutnya kita harus bersiap memasuki pintu gerbang cinta yang sebenarnya. Ya. gerbang itu bernama PERNIKAHAN.
MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuhnya cinta, ketika ribuan kapal pesiar …yang gemerlap memanggil-manggil……
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kan diuji sejauh mana pembuktian cinta mereka yang sebenarnya.
Karena MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami orang lain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana kita bisa memperhatikan pasangan hidup…??
Jika berani mencintai, Harus berani menikahi. Khususnya bagi para kaum lelaki. Jangan bisanya cuma obral janji..
Sana-sini banyak yang terlukai. Akhrnya menumpuk sakit hati.
KARENA MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ apa yang ada dan apa adanya.
Siapa yang berani mencintai, maka harus bersiap untuk menikahi…
Bukankah dengan menikah, mereka akan disejajarkan Rasululloh SAW dengan mujahid fii sabilillah yang dijanjikan akan mendapat pertolongannya! Karena kata beliau, tiga golongan yang menjadi keharusan Allah untuk membantu mereka adalah orang yang menikah untuk memelihara kesucian diri, budak yang hendak membayar kemerdekaan dirinya, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah. [HR Ahmad, Turmudzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah]
Dinamika Persahabatan
by pigeon on Sep.13, 2011, under Nasehat
Hidup ini tak akan menjadi indah jika kita tidak punya sahabat. Ia bagaikan oase di padang pasir, bagaikan cermin yang selalu memberikan pandangannya tentang diri kita. Ia bias menjadi penawar di kala hati sedang luka. Dan ia bias menjadi tempat berbagi mana kala kebahagiaan dating menjelma. Sebagian besar kebahagiaan kita pasti ada sangkut pautnya dengan sahabat.
Begitu berartinya sahabat bagi kehidupan kita. Bukan berarti ia begitu mudah didapatkan dan dipertahankan. Sulit mencari orang yang bias mengerti tentang diri kita apa adanya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin bukan? Selalu ada saja kendala yang dihadapi ketika persahabatan itu mulai bersemi antara dua atau lebih orang.
Bagaimana seseorang bias menerima kita dengan begitu baiknya? Tatkala kita juga mau menerima mereka dengan sama baiknya. Bukan berarti bahwa dua orang atau lebih yang sudah saling mengerti lalu berjalan mulus tanpa halangan. Sama sekali tidak. Selalu saja ada duri di tengah jalan yang bias membuat roda persahabatan kita tertusuk dan bocor. Masalahnya adalah apakah kita mau berhenti lalu memperbaikinya bersama atau ditinggal saja motornya lalu mencari kendaraan sendiri-sendiri.
Pertengkaran antara dua orang sahabat biasanya hanyalah salah faham. Yang satu tidak bermaksud demikian tetapi sahabat yang lain merasa demikian. Akhirnya terjadilah perselisihan yang akibatnya sangat tergantung dari mentalitas kedua belah pihak. Dalam sebuah pertengkaran harus ada yang menjadi air dan ada yang menjadi batu. Karena kemarahan yang kerasnya seperti batu bias luluh oleh lembutnya belaian air. Jika keduanya menjadi batu maka yang terjadi adalah keduanya akan pecah dan berserakan ke mana-mana.
Akibat dari perselisihan bias menjadikan keduanya memutuskan persahabatan tetapi jika berhasil mengatasinya maka justru akan semakin mempererat persahabatn yang sebelumnya sudah terjalin. Bagaimana tidak? Dari perselisihan maka kita menjadi tahu watak asli sahabat kita dan keduanya bias menjadikan hal itu sebagai bahan koreksi untuk masing-masing personal. Ia menjadi tahu apa yang tidak disukai oleh sahabatnya dan satunya akan menjadi tahu bahwa sahabatnya tidak bermaskud demikian.
Rasa solidaritas antar teman seharusnya menjadi prioritas yang utama jika mau menjadi sahabat yang baik. Ketika kita sudah tahu watak sahabat kita maka sudah sepantasnya kita semakin tahu juga bagaimana membuatnya senang. Jika ia melakukan kesalahan maka tugas kita untuk mengingatkan dan jika ia berbuat sesuatu hal yang baik maka tidak ada salahnya kita mencontohnya. Hanya saja kadang gengsi menjadi penghalang yang sangat mengganggu. Rasa tidak ingin kalah dengan sahabat kita menjadikan kita buta akan kebenaran yang sesungguhnya.
Apalagi jika kita menyinggung masalah wanita. Tidak sedikit persahabatan yang kandas di tengah jalan hanya karena wanita. Pertemuan yang dulunya sering dilakukan menjadi tidak seintens dulu karena salah satu atau keduanya lebih mengutamakan menghabiskan waktu dengan sahabat wanitanya. Bukan menyalahkan sang wanita tetapi kita sebagai manusia dewasa seharusnya bias memprioritaskan mana yang lebih penting dan berguna bagi kehidupan kita.
Maju terus persahabatan di dunia ini!!!!
SURAT BUAT IBUNDA
by pigeon on Sep.08, 2011, under Puisi
kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda,
ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh
ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang
ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda
sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai
tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang
kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga
ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam
tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata
tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda
seperti pesan bunda,
nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh
nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar
tak pernah mudah, ibunda, tak pernah
jika sesekali nanda berhenti
nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah
tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi
tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah
tapi nanda tak gentar
sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda
Makna Cinta
by pigeon on Jun.11, 2011, under Nasehat
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang gadis yang juga merupakan temanku. Beberapa hal kami perbincangkan hingga pembicaraan mengarah ke masalah cinta. Kebetulan temanku itu sudah memiliki pacar yang ketika aku tanya apakah sudah mantab untuk memilihnya sebagai pendamping ia menjawab dengan ragu-ragu.
Awalnya temanku itu minta didownloadkan beberapa lagu. Setelah saya lihat judulnya kok semua bertema patah hati atau putus cinta. Saya tanya ke dia, mengapa kok suka dengan lagu-lagu dengan tema seperti ini? Secara tidak langsung lagu-lagu seperti itu akan mengarahkan pemikiran kita bahwa patah hati dan atau putus cinta itu hal biasa dan menurut saya itu adalah hal yang kurang baik. Dengan santainya dia menjawab, “Mumpung masih belum menikah gapapa, kan bica cari lagi.” Eik, saya kaget dengan jawaban itu.
Apakah para pembaca merasa kaget dengan jawaban santai semacam itu? Semoga saja ya. Kenapa saya kaget? Dalam agama Islam, cinta itu adalah hal yang teramat suci. Coba para pembaca sekalian cari mengenai cinta dalam ranah Islam. Betapa agung dan luar biasanya cinta. Sesuatu yang terjadi pada hal yang sangat besar maka peristiwa itu juga menjadi sangat besar.
Analoginya begini. Tahu kan yang namanya menawa Eiffel yang ada di Perancis? Bayangkan satu tiang penyangga patah. Menurut anda apakah itu hal yang luar biasa? Ya, pasti iya dibandingkan dengan patahnya tiang bendera di depan sekolah kita. Maka, putus cinta itu adalah sesuatu yang luar biasa. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa bisa sampai putus cinta?
Perceraian dalam Islam harus memenuhi persyaratan yang begitu panjangnya. Kenapa? Karena Islm mencoba untuk tetap mencari perdamaian daripada perpisahan. Tetapi apa yang terjadi pada orang yang sedang pacaran? Apakah putus cinta ketika sedang pacaran tetap adalah hal biasa. Menurut saya, ini adalah mind set yang harus dirubah.
Bahwa ketika kita memutuskan bahwa,”Aku cinta dia” maka sesungguhnya ada konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. Kata ini memiliki efek domino yang sangat panjang. Bagaimana disebut cinta ketika masih berfikir bahwa putus cinta itu adalah hal biasa. Masih bisa mencari orang yang lebih baik dari dia.
Kalo memang masih berfikir untuk mencari yang lebih baik, maka jangan putuskan bahwa kita cinta dengan dia. Karena hal itu hanya akan memberikan rasa sakit bagi kedua belah pihak yang ujung-ujungnya pada hal yang tidak kita harapkan. Artinya, saya sedikit berkesimpulan bahwa orang yang masih berfikir putus cinta itu biasa adalah orang yang memang sedang bermain-main dengan yang namanya cinta. Kasihan orang yang menjadi korban permainannya.
Untuk itu kawan, saya mengajak mari kita kembalikan makna cinta sesuai dengan makna yang sebenarnya. Untuk apa kita mengatakan cinta jika masih berfikir untuk mencari yg lebih baik. Begitu mudahnya cinta berpindah, apakah layak itu disebut cinta. Paling mudah adalah cintailah dia ketika anda memang sudah siap menikah dengannya. Kalo memang tidak mengarah ke pernikahan, lalu untuk apa? Bersenang-senang? Jangan sampai terlena dengan kesenangan dunia, Kawan!!!
Rembulan Tenggelam di Wajahmu
by pigeon on Feb.09, 2011, under Buku

Buku dari tere-liye, buku keempat(Hafalan Sholat Delisha, Moga Bunda Disayang Allah, dan Bidadari-Bidadari Surga) yang pernah saya baca dari pengarang yang sama. Satu hal yang membuat saya terkesan dari beliau adalah caranya menyusun kata-kata sehingga seolah susunan kata itu bukan hanya sekedar kalimat dan paragraph. Tapi benar-benar curahan hati dan perasaan dari pengarangnya. Dan selalu saja sangat terasa pesan yang ingin disampaikan oleh tere-liye dalam novel-nya ini.
Sangat banyak pertanyaan yang kadang menggelayut dalam pikiran kita khususnya mengenai kehidupan yang kita alami. Di sini beliau ingin menyampaikan 5 buah pertanyaan yang semuany dijelaskan mengapa pertanyaan itu ada dan bagaimana menjawabnya melalui sosok bernama Ray. Apakah lima pertanyaan itu? Sedikit bocoran saja. Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?
Yah, melalui buku ini saya mendapat kesan yang sangat mendalam mengenai bagaimana kita harus menyikapi hidup dengan sederhana. Segalanya dalam hidup ini memiliki keterkaitan. Hukum sebab akibat. Perbuatan baik ataupun buruk pasti ada akibatnya sekecil apapun. Semua urusan adalah sederhana jika kita bias memandang dari sisi yang benar. Hanya kadang keegoisan kita membuat sesuatu menjadi begitu sangat rumit.
Ini adalah kisah seseorang bernama Ray yang kehilangan orang tuanya karena kebakaran(tepatnya senaja rumahnya dibakar oleh seorang pengusaha karena lahannya akan dibangun bangunan modern). Hidup dip anti asuhan sebagai anak yatim piatu dengan segala macam kesengsaraan. Akhirya minggat dan menjadi preman pasar. Bertemu dengan orang yang baik hati dan disekolahkan. Sesutu terjadi dan ia pergi. Pernah menjadi pencuri kelas atas, pegawai serabutan, mandor konstruksi, dan bahkan menjadi pengusaha sukses. Tapi semua itu seolah kosong. Apalagi setelah ia kehilangan istri tercinta.
Lalu, apakah kemudian ia sadar bahwa segala kejadian dalam hidupnya memiliki alasannya sendiri yang dulu ia tidak memahaminya. Yang dulu ia bertanya mengapa begitu? Mengapa begini? Mengapa harus itu? Mengapa harus ini? Semuanya terjawab di akhir hayatnya. Bagaimana ia memperoleh segala macam jawaban dan apakah itu membuatnya tenang? Baca selengkapnya dalam novel ini….
Satu dari sekian banyak paragraph yang membuat saya sangat terkesan, ketika Ray kehilangan istri yang sangat ia cintai dan ini menjawab pertanyaan tentang makna kehilangan adalah berikut ini :
“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan…. Dalam kasusmu, penjelasan ini akan teramat rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahaminya dari sisi istrimu, yang pergi….”
“Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagian orang-orang baik dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak akan menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan. Bukankah itu yang terjadi bertahun-tahun kemudian? Kau tidak pernah bias berdamai dengan kepergian istrimu?” ……..hal 315….
Mau pinjam, silakan dating ke kostku, ya!!! Huehehehehe…… Gratis alias ga usah bayar…….
Sang Ketua Rohis
by pigeon on Jan.27, 2011, under Cerpen
Pagi yang cerah dan menyejukkan. Matahari terbit dengan indahnya dari ufuk timur. Sinarnya menembus daun-daun pepohonan di depan rumah. Induk ayam mengosak-asik sampah, mencarikan makanan buat anak-anaknya. Burung-burung berkicauan bersahut-sahutan seolah ikut menyambut datangnya hari yang baru, hari yang akan membawa hal-hal baru di dalamnya.
Makanan sudah terhidang di depan meja. Dengan dandanan yang rapi, baju seragam putih abu-abu berbet di lengan kanannya bertuliskan SMU N I YOGYAKARTA dan bersepatu fantofel, Irwan keluar dari kamarnya.
”Apa lagi kertas yang kau bawa itu, Wan?” Tanya Bu Isti, ibunya Irwan.
“Kertas proposal korban, Bu. Baru kuperiksa dan ingin kuserahkan pada Dimas hari ini.” Jawabnya.
“Ingat lho, Wan. Kamu boleh berorganisasi tapi jangan sampai lupa pada pelajaran. Itu tujuanmu sekolah!”
“Iya, Bu. Aku tahu.”
Hari Raya Idul Adha sudah dekat. Irwan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara. Walaupun sudah dibentuk panitia sendiri, ia masih sibuk memeriksa, mengontrol, dan mengecek sana-sini. Memang ia adalah sosok ketua rohis yang istiqomah, benar-benar bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya. Tidak ketinggalan juga bahwa ia paling anti dengan yang namanya pacaran. Di berbagai forum, ia selalu mengajak pada teman-temannya agar menjauhi satu hal tersebut.
“Ingat, ya adik-adik. Pacaran itu tidak ada dalam konsep Islam. Maka, mengapa kita harus melakukannya, lagipula Rosulullah tidak pernah memberikan tuntunan pada umatnya tentang pacaran.” Jelasnya dalam salah satu forum kajian kelas.
“Tanya, Mas. Apakah mas Irwan pernah jatuh cinta?” Tanya salah seorang anak, peserta forum.
”Belum dan saya tidak ingin melakukannya. Tidak boleh itu namanya jatuh cinta dan pacaran.”
”Tapi, Mas. Jatuh cinta kan datang dengan sendirinya, bagaimana tuh?”
”Ya, harus dihilangkan, cegah sekuat mungkin. Ingat sekali lagi bahwa cinta sejati itu hanya kepada Allah semata.” Katanya menutup forum.
Begitulah pandangannya tentang cinta, sangat kolot dan keras kepala. Itulah pula yang membuatnya dijauhi oleh anak-anak yang tidak setuju dengan pendapatnya. Tetapi memang begitulah pendidikan agama yang diberikan di sekolah tersebut. Baik oleh alumni yang masih aktif berdakwah di sekolah, baik oleh kakak kelas yang tentu saja berpengaruh langsung maupun oleh guru agama. Sehingga timbul dua golongan di dalam sekolah tersebut yaitu golongan anak rohis yang menentang keras perilaku pacaran dan golongan anak-anak yang bukan rohis.
Suatu ketika Irwan sedang berjalan di lorong antara kelas menuju ruang rohis. Karena pintunya tidak terkunci ia langsung masuk saja tanpa punya pikiran apa-apa. Tetapi tidak disangka pada saat yang bersamaan, Ika, Sang Sekretaris keluar dari ruangan yang sama melalui pintu yang sama. Kejadian yang tidak diharapkan oleh kedua insan manusia itu pun terjadi. Keduanya bertabrakan. Irwan melihat wajah sekretarisnya itu sangat dekat, lebih dekat daripada apapun yang pernah dipandangnya selama ini dan Ika pun balik memandangnya. Jantung Irwan berdetak kencang, kencang sekali. Baru setelah sekitar setengah menit, waktu yang cukup lama untuk saling memandang, keduanya baru tersadar. Ika segera berlari keluar melewatinya, sedang Irwan hanya bisa berdiri tercengang tak bergerak.
Entah apa yang terjadi pada sang ketua rohis itu, ia tak bisa melupakan kejadian itu. Belajar malamnya tak masuk bahkan sampai-sampai tidurnya bermimpi persis seperti kejadian tadi sore. Ia terus beristighfar dan minta petunjuk-Nya tetapi ternyata tetap tak bisa melupakannya.
Paginya ia hendak minta maaf pada Ika di kelasnya langsung. Tetapi ketika ia sudah sampai di depannya, jantungnya berdetak kencang lagi. Ia gugup, mulutnya sulit digerakkan apalagi mendengar Ika bicara duluan.
”Irwan mau ngomong apa?” tanyanya.
“A…..nu, aa….nu….. A..ku…., a..ku…..” dengan gugup ia mulai bicara.
“Ada apa sih?” Tanya Ika lagi, yang kini mulai punya dugaan tertentu terhadap sikap ketuanya itu, dan ia pun menjadi gugup juga.
“Maaf.” Dengan cepat Irwan berkata sambil berlari menjauhi Ika. Sambil berlari ia bergumam ”Ada apa aku ini? Mengapa aku jadi gugup begini?”
* * *
Hari ini seluruh pengurus Rohis mengadakan rapat guna membahas persiapan/pembentukan panitia seminar yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Rapat berjalan dengan lancar. Panitia telah terbentuk dan rapat ditutup pada pukul lima sore. Semua keluar kecuali Irwan yang katanya ingin membaca buku sebentar di ruangan tersebut.
Di lain pihak, Ika yang sudah tiba di kostnya baru ingat kalau buku PR Matematikanya ketinggalan di ruang rohis. Tanpa pikir panjang ia pakai jilbabnya dan setengah berlari menuju sekolah yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Irwan yang tengah asyik membaca buku dikejutkan oleh suara yang telah sangat dihafalnya.
“Assalamu’alaikum. Maaf, aku mau mengambil bukuku yang ketinggalan.” Katanya sambil berjalan mengambil buku di atas meja.
Irwan sangat gugup, tak sangup bicara sepatah katapun melihat sekretarisnya itu, berduaan lagi dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Ia terus memandangi wajah Ika sampai keluar dari ruangan. Satu perbuatan yang selama ini , Irwan selalu mengajarkan untuk tidak melakukannya yaitu memandang tajam pada seorang wanita, akhwat lagi.
Lama ia termenung di tempat tidur, memikirkan perasaannya yang selama ini mengganggu pikirannya. Tanpa sadar ia tertidur lelap, dan lagi-lagi ia memimpikan Ika, sekretarisnya itu.
Pagi yang indah, seperti biasa makan bersama keluarga. Irwan hanya diam tanpa bersuara, suara gemelitik piring saja yang menghiasi ruangan itu.
”Ika, siapa dia Irwan?” Tanya Bu Isti kepada Irwan
”Dia sekretarisku. Darimana Ibu tahu?”
”Pasti ia sangat cantik, sholehah, dan sangat anggun sampai bisa memikat seorang ketua rohis.”
”Ah, Ibu ini suka bercanda. Mana mungkin aku terpikat begitu.”
”Sudah, jangan bohong. Buktinya tadi malam kamu mimpi tentang dia kan? Sampai ngelindur panggil-panggil namanya lagi, apa itu namanya bukan cinta?”
”Apa benar ini cinta?” Gumamnya
Dalam perjalanannya ke sekolah ia terus memikirkan perkataan ibunya tadi pagi. ”Aku akan menahannya dan melupakannya.” Katanya
Tetapi di luar dugaannya, semakin ia berusaha melupakannya, perasaan itu semakin terasa. Perasaan ingin bertemu, perasaan ingin bicara, dan perasaan ingin memandang wajahnya. Bahkan kini ia mulai mencari-cari alasan hanya untuk menemui sekretarisnya itu. Dan setiap kali bertemu ada perasaan senang bercampur gugup dalam hatinya.
Begitulah cinta. Ia tidak dapat diciptakan tetapi juga tidak dapat dimusnahkan. Cinta adalah anugrah dari Sang Maha Mencinta. Lalu mengapa kita harus berusaha mencegahnya. Satu hal yang harus diingat adalah cinta itu boleh dan harus disyukuri tetapi jangan sampai cinta kepada sesama membuat kita buta dan gila apalagi sampai mengalahkan cinta kita kepada Sang Pencipta, sumber datangnya cinta dan cinta sejati bagi manusia.
S E K I A N
Yogyakarta, 21 Januari 2003
SMU N I YOGYAKARTA







