Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H
by pigeon on Sep.05, 2011, under Opini
Hari Raya Idul Fitri selalu memberikan kesan tersendiri bagi para pemeluk agama Islam yang merayakannya. Dan selalu kesan yang muncul adalah kebahagiaan dan kebersamaan. Kebahagiaan karena hari tersebut adalah puncak kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan penuh. Sementara kebersamaan karena pada hari tersebut berkumpul semua sanak keluarga di mana tidak akan ada hari lain yang semeriah hari Idul Fitri.
Tidak sedikit orang yang memanfaatkan hari raya Idul Fitri untuk menggelar acara-acara yang memerlukan kumpulnya sanak keluarga. Misalnya reuni, liburan keluarga, bahkan pernikahan. Itulah berkah yang ALLAH berikan kepada hamba-Nya atas jerih payah usahanya mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan lamanya.
Tentu semua orang selalu mendambakan datangnya hari raya Idul Fitri, mengingat begitu banyaknya barokah yang ada di dalamnya. Tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah mengenai makna harfiah dari Idul Fitri itu sendiri. Kembali ke Fitrah, selayaknya bayi yang baru dilahirkan. Menurut saya, ini sebenarnya tidaklah semudah perkataannya. Ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan oleh seluruh umat Islam di dunia sejak hari pertama puasa.
Bahwa tidak semua yang merayakan hari raya Idul Fitri mendapatkan makna Idul Fitri itu sendiri. Tidak sedikit yang gagal dan bahkan tidak tahu bahwa ia sudah gagal, merasa bahwa dirinya sama dengan orang lain yang berhasil mencapai makna Idul Fitri yang sebenarnya. Bagaimana bisa? Karena ia tidak tahu tantangan yang ALLAH berikan sebelum tiba hari raya tersebut.
Kuncinya adalah di bulan puasanya sendiri. Di sana ALLAH memberikan promo, diskon, potongan harga, bonus, hadiah, dan apapun namanya kepada hamba-Nya yang serius menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di sinilah kesempatan manusia(yang sadar tentunya) untuk mengumpulkan pundi-pundi amal sebanyak-banyaknya dan menghapus dosa sebesar-besarnya.
Man jadda wa jadda, kata pepatah. Siapa yang berusaha maka ia akan sukses. Siapa yang dengan sungguh-sungguh menjalankan puasa beserta amalan-amalannya maka ia akan berhasil dan meraih apa yang dimaksud Idul Fitri. Tanpa ada usaha bagaimana mungkin seseorang bisa kembali fitrah seperti layaknya bayi yang baru lahir. Di berbagai pengajian sudah disampaikan bahwa bulan puasa tidak hanya diperintahkan puasa saja tetapi banyak amalan-amalan lain yang juga diperintahkan. Tapi tidak sedikit yang beranggapan bahwa yang penting puasa.
Atau ada juga yang mengatakan, siang hari ga boleh bohong tetapi kalo malam hari boleh. Orang yang berkata demikian, saya yakin kurang memahami apa makna bulan puasa. Atau ada juga yang mengatakan, bulan puasa ga boleh berbuat dosa, ntar aja kalo dah selesai puasanya. Waduh, makin ga karuan ini. Semoa kita termasuk orang yang bisa memahami dan memaknai bulan puasa serta hari raya Idul Fitri.
Cara membedakan orang yang memahami makna Idul Fitri dan tidak sebenarnya tidak terlalu sulit, meskipun tidak bisa digeneralisir begitu saja. Lihat saja perilakunya pada saat bulan puasa dengan setelah Idul Fitri lewat. Bukan untuk menjelekkan mereka tetapi justru mengoreksi diri sendiri apakah kita sudah benar-benar memaknai hari Raya Idul Fitri atau hanya numpang lewat saja.
No related posts.






