Adnan Anwar, ST.

Pergeseran Dunia Lawak Indonesia

by on Aug.17, 2011, under Opini

Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan acara-acara dengan materi lawakan di berbagai stasion televisi Indonesia. Apalagi di bulan ramadhan seperti ini, hampir tayang tiap hari untuk menemani para pemirsanya menunggu berbuka atau menyelesaikan sahurnya. Dan memang acara-acara semacam itu mendapatkan rating yang cukup tinggi, mengingat banyaknya pemirsa yang menikmati. Mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Apakah ini menunjukkan bahwa tingkat stress bangsa Indonesia mulai meninggi sehingga membutuhkan hiburan segar bagi mereka? Wah, nggak tahu juga.

Saya melihat bahwa ada pergeseran dalam dunia lawak di Indonesia. Pertama dari segi pemirsanya di mana pada zaman dahulu hanya orang tertentu saja yang menyukai acara seperti ini. Paling asyik jika menonton bareng sekeluarga sehingga bisa menumbuhkan semangat kekeluargaan. Tetapi sekarang hampir setiap kalangan ada peminatnya. Mulai dari tukang becak sampe artis, mulai dari PNS sampe wakil rakyat. Lha wong, tidak sedikit kok pelawak yang menjadi anggota DPR. Bahkan anak sekolahan pun mulai menyukai acara semacam ini. Mulai dari yang masih TK sampai yang sudah S3.

Selain, itu. Saya juga mengamati bahwa materi yang digunakan untuk membuat para pemirsanya tertawa juga mengalami pergeseran. Memang, bukan hal yang mudah untuk membuat orang tertawa. Saat ini, kebanyakan materinya adalah ejek mengejek, pukul memukul, dan hal-hal yang berbau dewasa marak ditampilkan. Dan materi tersebut sangat berhasil. Dalam sebuah acara nonton bareng di kost saya, kebanyakan temen-temen tertawa ketika seorang pemain mengejek/menghina lawan mainnya atau seorang pemain memukul/menendang/menampar/menjatuhkan dan sejenisnya dengan gaya mereka sendir-sendiri.

Jika hanya untuk hiburan saja tentu materi tersebut sangat pas. Tetapi ada hal-hal yang saya sendiri kurang ngeh dengan materi tersebut. Berkaitan dengan kasus pertama bahwa semakin banyaknya penggemar acara lawak maka secara tidak langsung acara tersebut mengajari semakin banyak orang hal-hal yang digunakan sebagai materi lawak. Lihat saja di berbagai acara berkumpulnya anak-anak sekolahan, jika mereka sedang bersantai dan bercanda maka materinya tidak jauh-jauh dari materi lawak di televisi.

Jika hal ini terjadi pada anak-anak maka yang ditakutkan adalah bahwa mereka menjadi generasi yang suka menghina dan memukul hanya untuk mendapatkan kesenangan, bahkan di dunia nyata sekalipun. Dengan bangga mereka mengejek temennya dan semakin bangga karena teman yang lain tertawa dibuatnya. Dan tanpa malu-malu mereka melakukan kontak fisik untuk menghibur dirinya sendiri dan juga temen-temennya. Mau jadi apa bangsa ini jika generasi penerus bangsa dididik dengan cara seperti itu.

Sudah sepantasnya kita sebagai warga negara yang baik untuk ikut memajukan bangsa. Acara lawak sangat bagus dan membantu menyegarkan pikiran manusia. Tetapi materi yang disajikan juga harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Butuh kerja sama semua pihak untuk menjadikan acara lawak yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajari pemirsanya berbudi pekerti mulia.

Related posts:

  1. Nasib Pendidikan di Indonesia
:, , ,

4 Comments for this entry

  • nn

    yang penting bisa ketawa…he…he…he…

  • nn

    Neraka itu penuh tawa dunia. Surga itu penuh tangis dunia. Jangan heran kalau bahan tertawaan selalu penuh keburukan. Itu sudah hukum alam.

    Apa bisa anda tertawa sambil menghitung rumus fisika atau matematika?
    Semua unsur pendidikan selalu serius dan tidak ada celah untuk menjadikannya bahan tertawaan.
    Hanya orang gila saja yang begitu…

    Apa mau gila…???

    Lawak bukanlah hiburan dalam tataran kehidupan sebenarnya. Lawak adalah sindiran untuk kita sendiri.
    Yang paling lucu adalah… saat anda mentertawakan suatu lawakan yang sebetulnya adalah kejadian yang anda alami sehari-hari… baik sebagai pelaku atau korban.

    Layakkah kita tertawa atas kejadian tersebut?

    Apa mau gila…???

    Ya tho!?!!!

    • pigeon

      Wah, terima kasih atas pendapatnya. Saya setuju bahwa keburukan kita sebagai bahan lawakan tetapi jika tidak diikuti dengan kesadaran untuk memperbaikinya seolah jadi memunafiki diri sendiri.

      Saya tetap tidak setuju jika yang dijadikan guyonan itu adalah keburukan yang lebih mendekati penghinaan. Apalagi bawa-bawa nama orang tua dan lain-lain. Sangat tidak tepat menurut saya.

      Saya lebih suka lawakan yang membangun bukan hanya menghibur.

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...