Adnan Anwar, ST.

Duka Cita untuk Jogja

by on Nov.02, 2010, under Opini

Saya lahir dan besar di Jogja. Saya belajar bagaimana bertahan hidup ya di Jogja. Saat mendengar gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jogja-Jawa Tengah, saya langsung merasa prihatin. Ya, bagaimanapun juga banyak kenangan di sana. Bahkan saya melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah yang jaraknya sangat dekat dengan gunung Merapi.

Sabtu-Ahad kemarin saya sempatkan untuk pulang ke Jogja. MasyaALLAH, begitu sampai di wilayah Jogja, hujan abu langsung menyambut. Jujur saja, saya belum pernah mengalami kejadian hujan abu sebesar ini. Dan begitu keluar dari bus, mata ini serasa tidak mau terbuka. Alasannya adalah karena begitu terbuka abu yang turun dari atas langsung menyerang mata sehingga terasa pedas.

Itu saya alami di pusat kota Jogja yang jaraknya lebih dari 60 Km dari puncak gunung Merapi. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana keadaannya di wilayah yang jaraknya sangat dekat dengan puncak Gunung Merapi. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung, tidak berguna sama sekali. Tidak ada jalan lain bagi mereka selain mengungsi.

Yah, ini adalah ujian bagi masyarakat di sekitar gunung Merapi. Ujian yang harus dijalani dan dilalui. Saya kadang menyesalkan diri saya sendiri karena tidak bisa berbuat banyak untuk mereka. Paling hanya bisa mengirimkan doa dan beberapa sumbangan yang dikoordinir beberapa lembaga bantuan sosial. Saya yakin mereka semua bisa melalui ujian ini.

Tadi saya melihat berita di televisi, beberapa warga memaksakan diri untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Hanya untuk sekedar melihat keadaan rumah, membersihkan debu yang tentu segitu banyaknya serta memastikan keadaan hewan ternak yang mereka miliki. Saya bisa merasakan bagaimana seandainya rumah tempat tinggal saya ditinggalkan begitu saja. Pastilah ada rasa tidak rela. Mungkin tidak seberapa bagusnya rumah mereka tetapi kecintaan terhadap rumah tersebut begitu besarnya.

Kadang saya juga berfikir, seandainya bencana ini telah berakhir, bagaimana mereka memulai kembali kehidupannya? Pertanian dan ladang kemungkinan besar rusak parah akibat terjangan abu panas dari gunung Merapi. Pasar-pasar pastilah juga belum ramai dengan penjual. Akhirnya, saya hanya bisa berdoa lagi kepada Zat Yang Maha Pemurah. Berikanlah mereka kemudahan dalam menjalani bencana ini!!

Di saat seperti ini, rasa persaudaraan seluruh bangsa Indonesia diuji. Tidak hanya bencana di Jogja tetapi juga di Wasior, Mentawai, dan lain-lain adalah ujian bagi rasa persaudaraan kita. Jika kita memang merasa senasib dan setanah air, tentunya kita akan berusaha sbisanya untuk memberikan bantuan. Tentu bukan besarnya bantuan yang menjadi tolok ukur karena memang rasa persaudaraan itu tidak bisa diukur hanya dengan materi saja.

Yuk, teman-teman sebangsa dan setanah air Indonesia. Ulurkan tangan untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuan. Semua bisa dilalui jika kita bersatu dan bekerja sama.

No related posts.

:, , ,

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...