Adnan Anwar, ST.

Mencari Rempon di Sawah Tebu

by on May.21, 2011, under Nostalgia

Sebuah kesyukuran, saya dilahirkan di sebuah desa yang masih sangat asri. Persawahan masih sangat luas dan beraneka ragam tanamannya. Rumahku sampai ke persawahan hanya berjarak kira-kira 200 meter. Sangat dekat. Sudah menjadi kebiasaan setiap berapa tahun persawahan yang dimiliki oleh penduduk kampung disewa oleh pabrik gula(PG Madukismo, pabriknya ada di kawasan madukismo, Yogyakarta) untuk ditanami tebu. Yang paling menyenangkan adalah ketika tebu yang sudah matang dan berada dalam proses panen.

Para penduduk biasanya ramai-ramai pergi ke daerah persawahan yang yang sedang panen tebu. Para pemuda biasanya lebih suka meminta tebu yang matang dan diminum airnya, manis dan sangat enak. Sementara orang tua kebanyakan mencari batang tebu yang sudah kering atau daun tebu yang sudah kering untuk dijadikan bahan bakar memasak. Selain itu, anak-anak biasanya mencari “glagah” atau batang yang menghubungkan pohon tebu dengan bunganya. Yang sudah kering biasanya bisa dibuat mainan.

Nha, dalam proses panen selalu ada satu orang yang disebut mandor. Tugasnya mengawasi para penduduk agar tidak sembarangan mengambil tebu yang dipanen. Hal yang kami tangkap ketika mendengar kata “mandor” adalah orangnya pasti sangar, galak, dan tak segan-segan memarahi penduduk. Jelas saja kami, anak-anak, sangat takut jika bertemu dengannya. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Yang bertindak sebagai mandor adalah tetangga kami juga yaitu Pak Harto.

Alkisah, saya dan kakak-kakak saya diminta ibu untuk mencari “rempon” alias batang tebu yang sudah kering. Dengan bersepeda kami berangkat. Sampai di lokasi, kami langsung beraksi. Saya mencari dan mengambil semua batang tebu yang ada di tanah termasuk pucuk tebu yang belum kering sekalipun. Kakak saya yang pertama mengingatkan,”Itu bukan rempon, jangan diambil. Ntar dimarahi mandor!!” Saya membantah,”Ini kan pucuknya, ha bakalan dimarahi.” Kakak saya mengingatkan lagi tapi saya tetep ngeyel. Akhirnya saya memisahkan diri.

Agak jauh saya menyeret sekian banyak pucuk tebu yang belum kering ke sepeda. Tiba-tiba saya kaget mendengar suara,”Hoi, mau dibawa ke mana tebu itu.” Saya menengok. Pak Harto, mandor, mengacung-acungkan celurit sambil menunjukkan wajah garangnya ke arah saya. Saya takut sekali. Saya tidak peduli, tetap saja saya bawa tebu tersebut. Mandor semakin keras berteriak dan berjalan mendatangi saya. Sampai di dekat saya, ia bertanya lagi,”Mau dibawa ke mana tebunya?” Saking takutnya saya tak bisa berkata apa-apa. Saya hanya menjawab,”Rempon.”

“Kayak gini kok rempon, turunkan!!” Bentaknya. Otomatis saya turunkan. Temen-temen saya, melihat adegan itu di pinggir sawah ketawa cekikikan. Saya malu sekali. Masih ada rasa takut saya mendekati kakak saya. “Tadi mandor memarahi siapa?” Tanyanya. Saya mau jujur tapi malu. Lha, tadi sudah diingatkan tapi ngeyel. Akhirnya saya jawab,”Nggak tahu.”

Fiuh, pelajaran saja teman-teman. Apapun nasehat, peringatan, atau kritikan dari orang lain pertimbangkanlah. Siapa tahu memang benar dan akan memberikan sesuatu hal yang baik pada diri kita. Jangan sombong dengan merasa benar sendiri dan berusahalah untuk mau mengakui kesalahan sendiri.

Memori : Mas Sidiq, Mas Heru, Mbak Rahma

Related posts:

  1. Memancing di Sawah
:, , ,

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...