Memancing di Sawah
by pigeon on Jan.22, 2011, under Nostalgia
Aku tidak ingat kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Dan ingatanku tentang kejadian itu pun tidak seutuhnya. Hanya beberapa potong saja yang bisa kuingat. Tapi yang paling penting adalah bahwa selalu ada kenangan-kenangan di masa kita masih anak-anak yang bahkan belum bisa berfikir matang, yang tidak akan pernah hengkang dari ingatan kita. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Jadi, tidak ada salahnya sebuah kisah ini kepada para pembaca semuanya sebagai bahan bacaan yang semoga bermanfaat.
Seingatku waktu itu aku masih duduk di sekolah dasar. Aku tidak ingat kelas berapa tapi aku bisa memastikan antara kelas 1 sampai kelas 3. Hari Minggu selalu menjadi hari yang menyenangkan bagi pelajar sekolah dasar. Tidak harus pergi sekolah, tidak harus mandi pagi-pagi, tidak harus mengerjakan PR dulu, dan yang paling penting adalah kita bisa main sepuasnya, dari pagi sampai sore sekalipun.
Kakakku yang kedua mengajakku memancing bersama teman-temannya ke sebuah sungai yang membelah persawahan di desa kami. Sungainya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Lebarnya mungkin sekitar 3 meter. Ada jembatan yang mengubungkan sisi sebelah barat dan sisi sebelah timur. Sungai ini tidak pernah kering sepanjang tahun, bahkan pada musim kemarau sekalipun. Dan sungai inilah tempat tujuan kami untuk memancing.
Saya juga tidak ingat betul jam berapa kami tiba di sana. Yang aku ingat adalah matahari sudah sangat tinggi, panasnya membakar. Di pinggir sungai ada beberapa pohon pisang yang kami jadikan tempat untuk berteduh sambil menunggu umpan kami dilahap oleh ikan. Sekitar setengah jam kami menunggu, masih juga belum ada yang mendapatkan ikan. Tetapi di situlah asyiknya memancing. Melatih kesabaran.
Tiba-tiba kakakku berteriak. Aku tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang diucapkannya tetapi aku bisa memastikan bahwa ada ikan yang tersangkut di kail pancingnya. Posisi kakakku memang agak jauh dariku, paling sekitar 5-8 meter. Semua berteriak histeris karena setelah sekian lama, ada juga yang kailnya tersangkut ikan.
Tanpa kami sadari tanah pijakan kakakku longsor ke bawah. Tak ayal lagi kakakku berterik sekerasnya karena tubuhnya jatuh ke sungai. Melihat kejadian itu aku ikut berteriak histeris. Kedalaman sungai yang mencapai 2 meter dari atas sampai permukaan air. Sementara kedalaman air aku tidak tahu. Au mendekat ke tempat kakakku jatuh sambil terus memanggilnya. Hampir saja aku menangis dan mencoba menanyakan solusi pada teman kakakku dengan memandangnya.
Anehnya, teman kakakku justru bersorak dan tertawa. Aku jengkel. Bagaimana mungkin seorang teman menertawakan temannya sendiri yang terkena musibah. Nyawa taruhannya. Aku mencoba mendekat padanya dan ingin menonjoknya tetapi belum sampai ke tempatnya, kakakku muncul dari dalam air dan tertaw-tawa. Aku senang sekaligus jengkel. Sampai segitunya aku khawatir, kakakku malah tertawa senangnya.
Aku tidak bisa berifikir lebih jauh lagi. Tetap saja tak dapat sampai ke logikaku waktu itu. Hal yang sangat berbahaya seperti itu tetapi justru semuanya tertawa girang. Sampai akhirnya aku mengerti dan itu membuatku bangga pada kakakku.
Setiap apa yang kita lakukan sebaiknya kita pahami betul apa resikonya. Dan kalo memang kita siap menghadapi resikonya maka tidak menjadi masalah jika kita tetap mau melakukannya. Tetapi jika tidak sebaiknya mundur saja. Kakakku tahu betul kemampuan dirinya untuk menghadapi resiko jatuh ke sungai. Maka tertawalah dia ketika resiko itu benar-benar terjadi dan dengan mudah ia menghadapinya.
More From adnan04
adnan04 Recommends
- Free Backlinks…..Get Backlinks Every Day! (Chad Nicely)
- The Backlink Miracle called Backlinks Indexer! (Chad Nicely)
No related posts.






