Kenangan di TK ABA Sorobayan
by pigeon on Feb.26, 2011, under Nostalgia
Aku tidak ingat pasti tepatnya tahun berapa. Aku juga tak dapat mengingat tepatnya waktu itu TK nol besar atau nol kecil. Yang aku ingat pasti, aku duduk di sekolah itu, TK ABA Sorobayan. Sungguh sampai sekarang aku masih tidak paham betul apa singkatan dari ABA. Ya….lupa-lupa ingatlah. Beberapa nama yang terlekat erat dalam memori otakku. Purnomo, Ardiana Dewi Sesanti, Dewi Wulandari, Andhik Hermawan. Entah mengapa hanya itu nama-nama yang aku ingat dari sekian banyak penghuni TK tersebut. Maafkan aku teman-teman yang lain, bukannya dengan sengaja aku melupakan kalian tetap karena waktu pertemuan kita yang sudah sangat lama.
Ok-lah. Ada satu kejadian yang aku masih ingat betul. Hanya satu ini kejadian yang sampai sekarang, sedikitpun tidak hilang dari otakku. Sampai sedetil-detilnya aku masih ingat. Seperti kebanyakan siswa sekolah lainnya, kami harus membayar uang SPP setiap bulannya. Kalo tidak salah waktu itu sebesar Rp 500/bulan. Kalo dinilai dengan nilai rupiah sekarang, kecil sekali bukan? Aku saja waktu itu hanya diberi uang saku Rp 100/hari. Toh, masih cukup untuk jajan bahkan kadang sisa malah kadang-kadang masih utuh.
Aku dating diantar ibuku sampai ke pintu gerbang TK. Waktu itu masih belum banyak siswa yang dating. Di depan sekolah ada “plorotan” yang biasanya kami gunakan untuk bermain. Maka aku duduk-duduk sebentar di tempat itu. Tak lama kemudian bu guru dating. Kami senang sekali menyalami bu guru yang baru dating. Karena beliau pasti akan tersenyum manis dan bahagia. Tanpa menunggu lama aku langsung membayarkan uang SPP yang telah diberikan ibuku sebelumnya. Pelayanan diberikan di ruang guru karena memang buku catatan ada di sana.
Selesai aku langsung keluar. Kulihat Dewi(Ardiana Dewi Sesanti) agak terburu-buru menuju ruang kelas sambil membawa kartu pembayaran SPP beserta uangnya. Di depan kantor guru jelas sekali aku lihat uangnya(receh 5 keping, masing-masing Rp 100) jatuh dari tempatnya. Sungguh aku ingin sekali bilang padanya tapi aku malu sekaligus takut. Pertama karena aku belum terlalu dekat dengannya. Kedua karena aku laki-laki dan dia perempuan. Mesi aku tak tahu apa masalahnya dengan itu tapi itu membuatku berbeda daripada bergaul dengan sesame laki-laki. Akhirnya aku diam saja dan masuk ke kelas. Aku sempat membayangkan bagaimana ia akan membayar uang SPP, sementara uangnya jatuh tadi.
Pelajaran pertama aku lalui dengan terus bertanya-tanya. Sampai jam istirahat pun dating. Nha, pada waktu keluar salah satu temenku yang lain(aku lupa siapa namanya, kalo nggak salah Supriyadi) menemukan uang Rp 100 sebanyak 5 keping di depan pintu kelas. Aku diam saja, hanya menonton. Sungguh ia adalah laki-laki yang baik dan jujur. Bukannya menyimpan uang itu, dia justru melaporkannya kepada bu guru. Aku salut pada dia sampai sekarang, anak sekecil itu(padahal waktu itu aku juga sama kecilnya…huehehehe…..) memberikan contoh akhlak yang sangat mulia. Nha, sekarang banyak orang dewasa yang tak tahu malu mengambil uang yang bukan hak miliknya. Na’udzubillahimindzalik.
Pada jam kedua bu guru membuat pengumuman di depan kelas. Menanyakan apakah ada yang kehilangan uang Rp 100 sebanyak 5 keping. Saya sudah yakin pasti Dewi angkat tangan. Sungguh aneh, tak ada yang mengangkat tangannya. Sampai bu guru menanyakan 3 kali tidak ada yang merasa kehilangan. Sebenarnya aku ingin menegurnya tapi sekali lagi rasa malu dan takut itu terlalu besar. Aku diam saja.
Karena tidak ada yang mengaku maka bu guru memutuskan uang tersebut akan menjadi milik penemunya. Ah, saying sekali, batinku waktu itu. Kenapa aku tidak mengambilnya dan melaporkannya pada bu guru? Kalo begitu kejadiannya kan uang itu jadi milikku sekarang? Batinku lagi. Ah, sebenarnya bukan itu masalahnya. Aku masih penasaran, bagaimana mungkin Dewi tidak merasa kehilangan. Padahal jelas sekali aku melihat uang itu jatuh dari plastic yang dibawanya beserta kartu pembayaran. Ah, meskipun aku tanya dia sekarang pasti dia sudah lupa. Akhirnya biarlah ini menjadi tanda tanya dalam diriku.
Hikmahnya, biarlah para pembaca sendiri yang menyimpulkan, ya!!!!
In memories : Ipunk(Purnomo), Dewi(Ardiana Dewi Sesanti), Supriyadi. Moga kalian selalu dalam lindungan-Nya. Amien.
No related posts.






