Dokter Kecil
by pigeon on Sep.10, 2011, under Nostalgia
Peristiwa ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SD Sorobayan 1. Saya agak lupa bulan apa tapi setiap detil kejadiannya saya masih ingat. Awalnya saya, Purnomo(teman satu kelas), dan Mas Jalu(nama lengkapnya Widya Jalu Latri, kakak angkatan kelas 5) digembleng khusus untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba dokter kecil yang akan dilaksanakan beberapa minggu ke depan. Hampir tiap hari kami keluar kelas, dikumpulkan di ruangan khusus lalu diberikan materi-materi yang berhubungan dengan dunia kesehatan. Mulai dari pertolongan pertama, hidup sehat, makanan sehat, dan masih banyak lagi.
Hari demi hari kami lalui dengan kegiatan belajar khusus mengenai dunia kesehatan tersebut. Hingga tiba saatnya hari perlombaan. Saya sendiri belum tahu begitu pasti akan seperti apa perlombaan yang dilaksanakan. Apakah seperti cerdas cermat ataukah praktek simulasi layaknya seorang dokter. Meskipun sebenarnya kami merasa masih sangat kurang dalam hal persiapan tetapi mau dikata apalagi, hari pelaksanaan sudah datang.
Saya datang seperti biasa, pukul 07.00 sudah sampai di sekolah. Kami berangkat bersama guru pembimbing yang bernama Bu Parinah(waktu itu menjawab sebagai wali kelas III). Ketika semua sudah siap, ada satu permasalahan yaitu kendaraan. Saya sendiri tidak punya sepeda waktu itu, guru pembimbing juga tidak punya sepeda motor, sementara Purnomo sama seperti saya tidak punya sepeda. Hanya mas Jalu yang punya. Akhirnya kami memutuskan bahwa saya membonceng Mas Jalu sementara Purnomo membonceng Bu Guru.
Sementara Bu Guru masih bersiap-siap, Mas Jalu punya ide untuk berangkat duluan, saya pun menyetujuinya. Jadilah mas Jalu dengan sepeda “jengki”-nya memboncengkan saya di belakang. Dengan kecepatan santai kami menuju Puskesma Sanden, tempat di mana lomba dilaksanakan. Sampai di sana, kami agak kaget karena lokasi sangat sepi, hanya ada para pasien yang akan berobat. Kami berusaha menunggu di pintu gerbang, mungkin sebentar lagi banyak peserta lain yang akan datang. Karena memang saat kami tiba di sana jam masih menunjukkan pukul 07.30 sementara perlombaan dijadwalkan pukul 08.00.
Setengah jam kami menunggu tetap tidak ada peserta lain yang datang. Kami memutuskan untuk kembali ke sekolah, karena bahkan Bu Parinah pembimbing kami pun tidak kelihatan batang hidungnya. Agak sedikit ngebut Mas Jalu mengayuh sepedanya agar segera sampai di sekolah. Tiba di sekolah kami segera menuju ruang guru untuk mencari Bu Parinah. “Lho, beliau sudah berangkat sejak tadi”. Kata salah seorang guru yang ada di sana. Waduh, kecolongan nih.
Kami memutuskan untuk kembali ke Puskesmas lagi. Mas Jalu masih ngotot dengan kecepatan penuh dalam mengayuh sepedanya, keringatnya mengucur deras terlihat dari bajunya yang sudah mulai basah. Tiba di puskesmas, keadaan masih sama saat kami datang pertama tadi. “Lho, gimana to? Katanya udah berangkat, tapi kok di sini masih sepi?” Tanya kami pada diri kami sendiri. Kami menunggu beberapa menit sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke sekolah.
“Gantian kamu yang mboncengin ya!” Pinta mas Jalu. Saya menyetujui saja. Nggak enak juga sama beliau karena sudah tiga dua kali bolak balik. Asal tahu aja, jarak sekolah kami ke puskesmas tidak kurang dari 3 Km. Artinya Mas Jalu sudah mengayuh sepedanya sepanjang 6 Km dengan memboncengkan saya.
Saya segera mengayuh sepeda pelan-pelan. Tidak disangka, baru separuh perjalanan saya sudah ngos-ngosan. Kerngatku mulai mengucur, bajuku langsung basah. Apa mau dikata, sepeda harus tetap dikayuh. Nggak enak minta gantian sama Mas Jalu. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 09.00, kami pikir apapun yang akan terjadi, kami tidak akan kembali lagi. Paling juga sudah di WO sama panitia karena sangat terlambat. Apalagi kondisi fisik kami yang sudah kelelahan.
Tiba di sekolah, saya segera memarkirkan sepeda di tempat parkir. Tak ayal lagi, bajuku basah kuyub seperti habis kehujanan. Begitu lewat di depan kantor, Bu Parinah keluar dan menyapa kami,”Lho, kalian darimana?” Kami bingung sendiri, dan agak kesal sebenarnya. Kenapa juga masih bertanya, jelas-jelas kami dari Puskesmas yang ternyata tidak ada orang. “Dari Puskesmas, Bu! Tapi di sana tidak ada orang di sana, makanya kami balik lagi.” “”Oalaaaah, pantesan tidak ketemu. Lombanya itu di SD Sanden II, bukannya di Puskesmas.” Kami bengong, ternyata kami salah tempat. “Lombanya dibatalkan karena peserta yang ikut hanya 3 tim, termasuk kalian. Haduh-haduh, adnan kamu sampai keringatan begitu. Kasihan sekali. Ayo ikut Ibu!!” Saya tidak tahu mau dibawa ke mana.
Sementara saya mengikuti Bu Parinah, Mas Jalu kembali ke kelas. Ternyata saya dibawa ke kantin. “Sudah ambil makanan sesukamu, ibu yang bayar.” Hyaaaa….saya nggak bener. Soalnya harusnya Mas Jalu lebih kecapekan daripada saya. Hanya karena saya kebagian mengayuh sepeda yang terakhir hingga keringat masih kelihatan, Bu Guru mengira saya terus yang mengayuh sepeda. Mau bagaimana lagi, saya ambil saja es lilin satu buah.
Buat Mas Jalu, maaf sekali atas kejadian itu ya!!! Semoga ALLAH selalu melindungi-Mu di manapun berada…
Related posts:







September 14th, 2011 on 2:42 pm
bhuwaahahhahaha…………
iya tho Pak?
waaah….jauh loh itu puskemas nyampe sekolah kita…
hihihihi….kasihan si Jalu…
tapi lucu juga ceritanya…
September 15th, 2011 on 5:46 am
Iya, nggak enak juga aku sama dia waktu itu..hehehe…