Berkemah Saat Kelas 2 SMP
by pigeon on Mar.18, 2011, under Nostalgia
Semenjak SD sampai SMP, kegiatan pramuka adalah wajib hukumnya. Kegiatan ekstrakurikuler ini masuk ke dalam nilai yang ada di raport. Akhirnya, mau tidak mau, suka atau tidak suka, siswa harus tetap mengikuti kegiatan ini. Kalo saya tidak salah ingat ada semacam pangkat yang ada dalam organisasi pramuka. Sewaktu SD, pangkatnya adalah siaga. Sedangkan setelah naik ke jenjang SMP, pangkatnya juga naik menjadi penggalang. Tidak tahu juga apa bedanya, tapi mungkin hanya untuk menunjukkan umur saja.
Kelas 2 naik ke kelas 3 SMP(saya lupa-lupa ingat apakah kelas 2 naik ke kelas 3 ataukah kelas 1 naik ke kelas 2), kami melaksanakan kemah selama tiga hari. Dan inilah pengalamanku kemah selama itu. Pada waktu masih di jenjang SD pernah berkemah tetapi hanya dua hari satu malam, itupun masih di kecamatan yang sama. Kegiatan ini dilaksanakan jauh di kulon progo, saya lupa nama tempatnya.
Persiapan yang dilakukan adalah meminjam tenda, persiapan alat-alat yang harus dibawa, pembagian tugas piket jaga dan tidak lupa membuat pagar untuk membatasi area kelompok kami. Satu kelompok kalo tidak salah berjumlah 15 anak, dan saya menjadi ketua kelompoknya. Aneh, sekali pemilihan ketua waktu itu dilakukan dengan lotere. Yang namanya terambil menjadi ketua. Hari itu pun tiba, kami berangkat pagi-pagi sekali.
Hari pertama tidak ada kendala yang berarti. Semua berjalan dengan lancer dan kami menikmati kegiatan ini. Hari kedua adalah hari yang tak bias aku lupakan sampai hari ini. Dari pagi kakak-kaka panitia membuat berbagai macam peralatan yang saya tahu kemudian itu akan digunakan untuk acara setelah sholat dzuhur nanti. Pesannya singat, jangan sekali-kali menyentuh alat yang telah dibuat oleh panitia.
Jam 10.00 kami memulai kegiatan baru. Yaitu, tiap anak harus mencari kertas yang disebar di area kemah lalu melaksanakan apa yang tertulis di sana. Tibalah giliranku. Aku mendapatkan kertas di bawah palang-palang bamboo yang diikat di pohon oleh panitia serta dekat dengan tenda panitia. Aku agak kesusahan menulis di kertas satu lembar itu. Lalu, ada seorang kakak bilang,”Duduk di palang bamboo itu ada, Dik biar gampang!!” Awalnya saya teringat peringatan awal tadi,”Tidak boleh menyentuh alat yang dibuat panitia” tapi kemudian terpikir juga bahwa yang menyarankan kakak panitia juga, jadi tidak apa-apa.
Dengan santainya saya mengerjakan soal di kertas, sampai akhirnya ada panggilan dari horn,”Yang duduk di atas bamboo harap ke sini.” Saya belum sadar. Tiga kali dipanggil saya belum juga menyadarinya, sampai ada yang mengingatkan. Kaget. Saya turun dengan pelan lalu menghadap kaka panitia. “Adik tahu kesalahannya?” Tanyanya langsung. Saya bingung, lau menyadarinya sejenak kemudian. Saya bilang bahwa salah satu kakak yang menyuruh duduk di situ. Saya dimarahi. “Jangan bawa-bawa panitia atas kesalahan adik.” Haduh, jengkel juga aku. Emang bener kakak panitia yang nyuruh kok.
Hukuman pun ditentukan. Saya dikasih secarik kertas, lalu disuruh naik ke atas bamboo tadi dan membaca tulisan di kertas tadi keras-keras. Saya bilang,”Tidak mau. Nanti saya dihukum lagi karena perintah di awal tidak boleh menyentuh alat itu.” Kakanya marah,”Saya yang buat alat itu, dan saya berhak menyuruh kamu naik ke sana.” Hmmm…..tadi panitia juga yang nyuruh saya duduk, dan saya tetep dihukum juga, gimana sih? Batinku.
Sampai di atas saya buka tulisannya,”TEMAN-TEMAN SAYA DIHUKUM LHO!!” Ternyata suaraku tidak cukup keras. Saya dikasih pengeras suara. Perhatian pun tertuju pada saya. Sebagian ada yang cuek aja tetapi kebanyakan tertawa akan tingkah laku saya. Malu juga sebenarnya, apalagi saya adalah ketua regu. Setelah kembali ke kelompok saya lagi, kontan saja teman-teman menertawakan saya keras-keras. Huh, menyebalkan sekali.
Saya sadar bahwa posisi waktu itu memang mengharuskan mematuhi kakak panitia. Apapun argument yang saya keluarkan tetep saja kalah. Apalagi satu-satunya bukti adalah kakak panitia yang menyuruh saya itu. Yang kalopun ditanya dengan mudah ia bias mengelak dan pastinya panitia lain percaya dengannya. Ya, sudahlah. Biarkan itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi saya sewaktu SMP.
No related posts.







April 26th, 2011 on 4:43 pm
itu yang di kemah di bumi perkemahan di sentolo kan?
emang adnan dihukum ya?
kalau aku sih paling inget tidur di tenda di bawah pohon yg banyak ulat bulunya
hiiiiiii >,<
May 20th, 2011 on 2:23 pm
Iya, betul. Aku dihukum gara-gara duduk di atas bambu yang dibuat pembina. Padahal pembina lainnya yang nyuruh aku duduk di sana. Hmm…emang sengaja mau ngerjain kayaknya…
Kamu tidur banyak ulat bulunya? hahaha…asyik dong banyak temennya…