Sabar, Gampang-Gampang Susah
by pigeon on Nov.13, 2010, under Nasehat
Di dunia ini kita hidup tidaklah sendirian. Ada jutaan orang yang secara bersamaan hidup bersama kita. Dalam satu hari ratusan bahkan ribuan orang kita temui. Hal itu memunculkan banyak hal yang membuat kita harus bisa mengambil pilihan yang tepat. Ya, dalam hidup ini memang serba dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Untuk itulah Allah memberikan otak pada tubuh kita agar bisa menentukan pilihan dengan tepat.
Sabar, adalah salah satu pilihan yang ada di dalam kehidupan kita. Allah melalui rosul-Nya memberikan tuntunan kepada kita untuk bersabar. Apa sih gunanya sabar? Banyak sekali. Dengan sabar maka perselisihan bisa dihindari, pertengkaran bisa dielakkan dan masih banyak lagi. Hanya saja satu kata itu saja susah sekali diterapkan. Atau sebenarnya lebih tepat saya katakan gampang-gampang susah.
Hari ini, 13 November 2010 saya belajar tentang kesabaran. Sudah saya rencanakan bahwa hari ini saya akan men-service motor saya yang sudah sekian lama tidak diservice. Setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah kost, saya langsung meluncur ke dealer terdekat. Jam 09.30 saya sampai di dealer tersebut dan segera mengambil nomor antrian. Saya mendapat nomor 63. Setelah bertanya kepada frondesk, dia bilang kira-kira jam 13.00 motor saya baru masuk ke bengkel. Waduh, lama juga, pikir saya.
Saya sudah menyiapkan buku untuk mengisi waktu tersebut. Maka segera saya buka buku dari dalam tas dan mulailah saya membaca. Ruang tunggu begitu penuh hingga tak ada kursi yang tersisa. Satu jam saya membaca buku dalam keasyikan, bahkan tak terasa waktu sudah berlalu selama satu jam. Muncullah ketidaknyamanan di ruangan ini.
Lelaki di samping saya berganti. Dan lelaki penggantinya sedang merokok. Jujur saja saya paling tidak suka dengan asap rokok. Sangat mengganggu dan tidak mengenakkan. Sayangnya, lelaki di sebelah saya tidak menyadari ketidaknyamanan saya. Entah dia tidak menyadari atau memang tidak mau tahu. Saya mencoba untuk mengalah dengan menundukkan kepala saya ke bawah sehingga asap tidak secara langsung mengenai hidung saya.
Baru lima menit, lelaki di sebelah saya ikutan menunduk. Asap kembali mengepul di depan hidung saya. Saya sempat mengibas-ibaskan tangan saya untuk mengusir asap yang mengepul tadi. Saya tegakkan lagi badan saya agar terhindar dari asap. Ternyata lelaki tadi ikutan menegakkan badannya. Saya heran, ada apa dengan orang ini? Saya mengalah tetapi justru dia semakin gencar menyerang.
Hampir saya marah tetapi alhamdulillah, saya ingat nasehat seseorang. Allah akan menguji ummat-Nya sampai batas limitnya. Dan saya tahu saya masih bisa bersabar dengan kondisi ini. Saya juga sadar, masih ada pilihan lain selain marah kepada lelaki tadi. Saya berdiri dan berjalan keluar ruangan. Syukur saya panjatkan kepada-Nya. Udara segar masuk ke tenggorokan. Setelah melihat-lihat sebentar saya tengok ke dalam. Ada kursi kosong, dan saya segera masuk lagi dan mendudukinya. Alhamdulillah, lelaki tadi agak jauh dari tempat duduk saya sekarang.
Saya belajar dari peristiwa ini bahwa yang namanya sabar itu memang sulit tetapi kesulitan itu tidak akan sesulit yang kita bayangkan ketika kita sadar ada banyak pilihan untuk mengendalikan luapan emosi kita. Ada banyak cara agar kesabaran itu nyata kita lakukan.
Ok, deh. Mari kita terus melatih kesabaran kita. Tak ada yang tidak mungkin. InsyaALLAH, segala macam perselisihan, pertengkaran, perkelahian, dan hal-hal semacamnya akan hilang jika semua orang bisa melatih kesabarannya.
No related posts.






