Menyikapi Pendapat Orang lain (Bagian 2)
by pigeon on Dec.23, 2010, under Nasehat
Masih berkaitan dengan artikel sebelumnya karena entah mengapa tangan ini masih menuntut untuk menuliskan beberapa ide yang belum tertuang dalam artikel sebelumnya. Dalam artikel ini saya lebih menekankan mengenai latar belakang seseorang berpendapat. Karena hal itu yang menurut saya dijadikan dasar untuk memberikan respons.
Sebelumnya saya menulis bahwa ketika kita menyikapi pendapat orang lain(apalagi kerabat atau teman dekat) maka lihatlah sudut pandang orang yang berpendapat tersebut. Dengan kata lain sisihkan sebentar ego kita untuk langsung mengeluarkan pendapat kita sendiri. Satukan sudut pandang barulah memutuskan apakah mau pro atau kontra. Sehingga jelas permasalahannya. Salah satu hal yang perlu kita lihat adalah latar belakang mengapa seseorang berpendapat.
Banyak sekali latar belakang yang membuat seseorang berpendapat. Maka kita pun harus menyesuaikan responnya. Missal seseorang berpendapat karena ia ingin sombong. Maka saya piker tidak perlu menanggapi isi pendapatnya, karena titik permasalahannya adalah rasa sombongnya. Karena menurut saya percuma mendebat pendapat seseorang yang didasari oleh kesombongan, nggak aka nada hasilnya. Begitu juga pendapat yang didasari karena ingin merendahkan orang lain. Nggak perlu ditanggapi, justru lebih baik jika kita mengingatkan.
Lain jika pendapat tersebut murni karena pemikirannya. Itulah yang dia ketahui maka ia berpendapat demikian. Pernah dengar istilah “Flash of Genius”? Mungkin kalo diterjemahkan menjadi pemikiran sesaat seorang yang cerdas. Saya perluas menjadi pemikiran sesaat yang membuat seseorang mengembangkan idenya. Ya contohnya ketika saya menonton film dengan judul “Flash of Genius” maka tercetuslah ide untuk menulis artikel ini. Atau Newton yang kepalanya kejatuhan buah apel yang membuatnya berfikir tentang gravitasi. Pasti setiap orang pernah mengalaminya.
Menjadi menarik untuk memberikan tanggapan kepadanya. Dan alangkah baiknya jika kita sekali lagi menyamakan sudut pandang. Ketika seseorang berpendapat apakah ia memang pantas mengeluarkan pendapat tersebut. Kadang lebih baik menguji pendapat orang lain kemudian memberikan solusi dari sudut pandang kita sendiri daripada langsung memberikan counter terhadapnya. Bingung, ya?
Ok, deh. Missal saya bilang “Bunga mawar itu indah.” Sebelum anda mencounter pendapat saya tersebut dan mengatakan “Bunga melati lebih indah.” Lebih baik menguji pendapat dari saya. Missal dengan bertanya “Bunga mawar indahnya di mana? Tapi bunga mawar itu berduri lho?” Dan seterusnya….. barulah anda mengeluarkan pendapat “Kalo menurutku sih bunga melati lebih indah.” Dan anda bias membandingkannya dengan bunga mawar versi saya(warnanya, mahkotanya, durinya, baunya, dll). Terjadilah diskusi(maaf, saya lebih suka menyebut diskusi daripada debat) yang menyenangkan.
Lebih teliti lagi jika kita ingin menanggapi pendapat yang berupa tulisan. Untuk menghindari debat kusir yang saya sebutkan sebelumnya maka alangkah baiknya jika kita lebih bijaksana lagi. Tidak semua orang bias mengutarakan pendapat lewat tulisan. Kadang yang dimaksud A tetapi bahasa tulisan mengatakan seolah-olah B. Perlu klarifikasi terlebih dahulu(kecuali media yang digunakan sudah resmi dan diakui bersama, contoh majalah, jurnal, makalah, skripsi, thesis, dll) sebelum kita mencounter. Media tulisan juga dibatasi oleh jumlah kata yang berarti kadang tidak semua ide tertuang di sana.
Kesimpulan saya dalam artikel ini adalah bahwa daripada kita langsung mencounter pendapat seseorang lebih baik menyamakan sudut pandang terlebih dahulu, telusuri latar belakang mengapa ia berpendapat seperti itu, sehingga kita bias memutuskan respon yang tepat. Akhirnya yang terjadi adalah diskusi yang menambah wawasan kedua pihak alih-alih debat kusir yang nggak mutu dan bikin dongkol saja. Apalagi jika sudah muncul kata “pokoknya”…..walah…..
Bayangkan saja jika anda mengatakan “Wah, pemandangan di sini indah.” Dan tiba-tiba orang lain mengatakan “Jelek. Lebih indah pemandangan di sana.” Lalu, anda berusaha sabar dan mengatakan “Menurut saya suasana di sini juga lebih nyaman, banyak pohon menghijau.” Dan orang tadi bilang “Pokoknya di sini jelek. Di sana lebih indah.” Kelihatan nggak mutunya kan orang tadi?
Akan lebih menyenangkan jika orang lain bilang”Ehhhmmmmm, menurut anda keindahan di sini terletak pada apanya?” Lalu anda menerangkan “Yaaa…..di sini banyak pohon menghijau, membuat udara menjadi segar. Anginnya juga tidak terlalu kencang, jadi nyaman buat tubuh kita.” Nha, orang tadi bias melihat fakta-fakta tadi lalu membandingkan dengan pendapatnya sendiri. Misal dengan mengatakan “Iya, sih. Tapi menurutku di sini terlalu ramai. Menjadikannya kurang cocok untuk bersantai. Kalo saya, di sana lebih indah. Yaaa….meskipun pohonnya tidak sebanyak di sini tapi lebih cocok untuk menikmati suasana. Apalagi jika sore hari, melihat matahari terbenam, di sana lebih bagus.” Dan seterusnya….. Lebih enak dan menyenangkan, kan?
Ok, deh. Semoga bermanfaat. Oh, iya. Kalo misalnya saya berpendapat “Anak-anak Teknik Elektro 2004 itu pandai-pandai”. Apa respon yang akan anda berikan?
Related posts:






