Dinamika Persahabatan
by pigeon on Sep.13, 2011, under Nasehat
Hidup ini tak akan menjadi indah jika kita tidak punya sahabat. Ia bagaikan oase di padang pasir, bagaikan cermin yang selalu memberikan pandangannya tentang diri kita. Ia bias menjadi penawar di kala hati sedang luka. Dan ia bias menjadi tempat berbagi mana kala kebahagiaan dating menjelma. Sebagian besar kebahagiaan kita pasti ada sangkut pautnya dengan sahabat.
Begitu berartinya sahabat bagi kehidupan kita. Bukan berarti ia begitu mudah didapatkan dan dipertahankan. Sulit mencari orang yang bias mengerti tentang diri kita apa adanya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin bukan? Selalu ada saja kendala yang dihadapi ketika persahabatan itu mulai bersemi antara dua atau lebih orang.
Bagaimana seseorang bias menerima kita dengan begitu baiknya? Tatkala kita juga mau menerima mereka dengan sama baiknya. Bukan berarti bahwa dua orang atau lebih yang sudah saling mengerti lalu berjalan mulus tanpa halangan. Sama sekali tidak. Selalu saja ada duri di tengah jalan yang bias membuat roda persahabatan kita tertusuk dan bocor. Masalahnya adalah apakah kita mau berhenti lalu memperbaikinya bersama atau ditinggal saja motornya lalu mencari kendaraan sendiri-sendiri.
Pertengkaran antara dua orang sahabat biasanya hanyalah salah faham. Yang satu tidak bermaksud demikian tetapi sahabat yang lain merasa demikian. Akhirnya terjadilah perselisihan yang akibatnya sangat tergantung dari mentalitas kedua belah pihak. Dalam sebuah pertengkaran harus ada yang menjadi air dan ada yang menjadi batu. Karena kemarahan yang kerasnya seperti batu bias luluh oleh lembutnya belaian air. Jika keduanya menjadi batu maka yang terjadi adalah keduanya akan pecah dan berserakan ke mana-mana.
Akibat dari perselisihan bias menjadikan keduanya memutuskan persahabatan tetapi jika berhasil mengatasinya maka justru akan semakin mempererat persahabatn yang sebelumnya sudah terjalin. Bagaimana tidak? Dari perselisihan maka kita menjadi tahu watak asli sahabat kita dan keduanya bias menjadikan hal itu sebagai bahan koreksi untuk masing-masing personal. Ia menjadi tahu apa yang tidak disukai oleh sahabatnya dan satunya akan menjadi tahu bahwa sahabatnya tidak bermaskud demikian.
Rasa solidaritas antar teman seharusnya menjadi prioritas yang utama jika mau menjadi sahabat yang baik. Ketika kita sudah tahu watak sahabat kita maka sudah sepantasnya kita semakin tahu juga bagaimana membuatnya senang. Jika ia melakukan kesalahan maka tugas kita untuk mengingatkan dan jika ia berbuat sesuatu hal yang baik maka tidak ada salahnya kita mencontohnya. Hanya saja kadang gengsi menjadi penghalang yang sangat mengganggu. Rasa tidak ingin kalah dengan sahabat kita menjadikan kita buta akan kebenaran yang sesungguhnya.
Apalagi jika kita menyinggung masalah wanita. Tidak sedikit persahabatan yang kandas di tengah jalan hanya karena wanita. Pertemuan yang dulunya sering dilakukan menjadi tidak seintens dulu karena salah satu atau keduanya lebih mengutamakan menghabiskan waktu dengan sahabat wanitanya. Bukan menyalahkan sang wanita tetapi kita sebagai manusia dewasa seharusnya bias memprioritaskan mana yang lebih penting dan berguna bagi kehidupan kita.
Maju terus persahabatan di dunia ini!!!!
No related posts.






