http://adnananwar.net

Memancing PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Sunday, 22 August 2010 02:09
Pagi ini cerah sekali, lebih cerah daripada biasanya. Matahari sudah nongol sejak tadi. Sinarnya menghangatkan setiap sudut ruangan di muka bumi ini. Sebagian menembus celah-celah pepohonan, memunculkan pemandangan yang tak akan pernah aku lupakan. Burung-burung kecil terbang kesana-kemari, loncat sana loncat sini seolah sedang menari menyambut datangnya pagi.

Jalan di depan rumahku mulai ramaui oleh lalu lintas beberapa warga yang hendak pergi ke pasar. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki tetapi ada juga yang naik sepeda motor meskipun hanya sedikit. Beberapa orang terlihat sedang menyapu halamannya masing-masing. Memang seperti itulah kebiasaan mereka di waktu pagi apalagi ini hari Minggu.

Aku menunggu di depan rumah. Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman sebayaku bersepakat untuk pergi memancing hari ini. Tadi malam kebetulan banyak laron yang keluar dari sarangnya. Kami menangkap cukup banyak untuk dijadikan umpan. Beberapa masih hidup hingga pagi ini tetapi banyak juga yang sudah mati, terutama yang ada di posisi paling bawah. Mungkin kehabisan nafas di sana.

Memang sulit jadi yang terbawah. Semuanya serba tidak menyenangkan. Seolah ia ada hanya untuk memperkokoh eksistensi bagi yang ada di atas. Bagaimana mungkin di katakan atas kalau tidak ada yang di bawah.

“Hai, Bas!” Beberapa anak datang sambil melambaikan tangan

“Hai, kok lama bener. Ntar keburu siang lho!” Jawabku

“Maaf. Tadi bantuin ibu dulu jemur baju. Jadinya telat deh.” Sahut yang lain.

“Ya, udah. Langsung berangkat aja yuk!”

“Bentar. Tak absen dulu biar afdhol.”

“Iya, deh!” Jawab mereka serempak.

“Andi!”

“Ada.”
Last Updated on Sunday, 22 August 2010 02:19
 
Teman Baru PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Saturday, 24 July 2010 23:37
Udara di sini membuat seluruh tubuhku berkeringat. Panas. Matahari bersinar memancarkan panasnya seperti tak peduli pada orang-orang di sini yang semakin kegerahan. Memang beda dengan tempat asalku di Kalimantan di Jawa lebih panas. Tak tahu mengapa padahal dari garis khatulistiwa lebih dekat Kalimantan daripada Jawa. Tetapi untung saja aku mempunyai ibu yang selalu di dekatku, siap melayani apapun kebutuhanku dan bagaimanapun keadaannya.

“Sss…..t, jangan menangis terus!” Ibuku mengibaskan kipas di tangannya sambil mengendong aku. Aku ingin bicara banyak padanya tetapi kalau aku bicara ibu selalu menanggapi dengan perkataan :”Jangan menangis!” dan dikiranya aku lapar. Disodorkannya sebotol susu ke mulutku. Aku tak mau minum. Aku tak lapar. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa sayangku padanya.

“Dari tadi nangis terus, sini gantian , biar aku yang gendong. Anak manis sama bapak, ya!” Kali ini aku pindah tangan. Ayahku sangat baik, kadang diceritakannya tentang bebek, tentang rosul, tentang islam dan masih banyak lagi. Beliau selalu mengatakan, “Besok kalau sudah besar harus jadi orang yang bertakwa, berbakti pada orang tua.” Begitu katanya.

Aku dibawa keluar oleh bapakku. Aku diam, soalnya kalau ngomong akan membuat ayah dan ibuku sedih dan murung. Udara lebih segar di luar. Banyak pepohonan, itulah yang aku suka di Jawa. Di Kalimantan juga ada pohon tetapi beda dengan di sini. Di sini pohonnya kecil-kecil, aku bisa menyentuh ujungnya, itupun kalau ada yang menolongku. Sementara ayahku terus berjalan melewati halaman, masuk ke jalan depan rumah lalu belok kiri. Aku mengamat-amati pemandangan di sekitar jalan.

“Lihat. Orang-oranmg sedang gotong-royong.” Sambil memutar badan ayah menghadapkan mukaku ke orang-orang di jalan yang sedang ramai. Rupanya ini yang dinamakan gotong-royong. Sangat beragam pekerjaan mereka. Ada yang mengambil pasir, menata batu, ada juga yang banyak omong, tuding sana tuding sini.

“Yang menunjuk-nunjuk iu pemimpinnya, Nak. Kalau sudah besar kamu juga harus jadi pemimpin. Jangan hanya jadi kacung yang kerjaannya hanya diperintah orang.” Kami berhenti di atas jembatan, kira-kira lima meter dari orang-orang yang sedang gotong-royong. Aku terus mencoba menangkap apa yang dikatakan ayah.

Kuperhatikan mereka sangat bersemangat. Diantara orang-orang itu terlihat seorang anak, tapi agaknya aneh. Celananya pendek hitam dan telanjang dada. Ia juga memperhatikan orang-orang tapi tak ikut bekerja. Aku memperhatikannya dari jauh.
Last Updated on Saturday, 24 July 2010 23:45
 
Ini Bukan Cinta PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Friday, 06 March 2009 02:02

    “Hallo, Dian. Ini aku, Dani.”
    “Oh, Dani. Ada apa sih pagi-pagi begini udah nelpon?”
    “Udah jam setengah pagi kok. Belum bangun ya? Maaf deh, tapi ini penting. Hubungannya dengan kamu juga.”
    “Ya, apaan yang penting?”
    “Udah ngerjain tugas yang kemarin belum? Kamu kan biasanya lupa kalo nggak diingetin, dikumpul hari ini lho!”
    “Haa….tugas yang mana? Perasaan nggak ada deh. Kamu jangan bikin kaget ah!”
    “Itu, tugas dari Pak Yanto. Kan disuruh ngerjain soal yang dari buku. Udah seminggu yang lalu kok.”
    “Mati aku. Aku belum ngerjain. Aduu…h, gimana nih? Kamu udah gerjain kan, aku nyontek aja ya! Please, aku benar-benar lupa nih!”
    “Iya, deh. Biasanya juga gitu kan? Hilangkan sifat pelupa kamu itu, nggak baik itu. Nanti aku ke rumahmu deh, sebelum ke kampus.”
    “Makacih, Dani. Kamu baee…k deh!”
    “Ya, kalo gitu udah dulu ya, mau mandi nih. Ntar telat lagi ke rumahmu.”
    “Ya deh. Da.....da......!”
    “Da.........!”


Kutaruh lagi gagang telepon ke tempatnya. Temenku itu memang aneh. Setiap kali ada tugas pasti lupa dan akhirnya nyontek pekerjaanku. Dulu pernah ada tugas untuk memberikan pendapat masing-masing mengenai kecelakaan yang saat itu dengan hangat dan dia nyontek juga. Padahal pendapat itu kan suatu pandangan yang datang dari dalam nurani seseorang tanpa campur tangan dari luar.

Last Updated on Friday, 06 March 2009 02:22
 
Layar Tancap PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Wednesday, 18 February 2009 00:41
    “Nanti malam ada layar tancap, lho!!”
    “Di mana, Gung?”
    “Di lapangan Sorobayan. Katanya film yang akan diputar sangat seru.”

Aku, Agung, Daryanto dan Pinut baru kali ini punya kesempatan untuk menonton layer tancap. Desa tempat tinggalku masih tergolong terbelakang alias tertinggal meskipun beberapa tahun yang lalu kepala dukuh menolak adanya IDT(Inpres Desa Tertinggal). Padahal dana yang ditawarkan tidak sedikit, bukan hanya jutaan tetapi ratusan juta. Cukup untuk membangun desa menjadi lebih maju dan makmur.

Sangat jarang desaku tersentuh produk teknologi termasuk layer tancap. Bisa jadi setahun cuma dua kali atau malah satu kali. Yang punya televisi bisa dihitung dengan jari, itupun stasiun yang nyambung paling TVRI yang isinya selalu berita atau kethoprak, sangat membosankan. Tidak aneh jika ada layer tancap animo masyarakat sangat besar. Walaupun harus bayar tiket masuk tetapi hal itu hanyalah angina lalu bila dibandinngkan dengan kepuasan yang diraih.

     ”Gimana, nih. Pada mau nonton, gak?” agung yang sedari tadi menjadi sumber informasi mencoba merayu kami.
Last Updated on Wednesday, 18 February 2009 00:51
 
Tolong-Tolong ! PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Sunday, 01 February 2009 10:24
“Tolong-tolong!” Sekali lagi suara itu datang. “ Siapa itu?” tanyaku sambil melihat sekeliling. Tetapi tidak ada yang menjawab, kupikir juga wajar karena aku sedang sendirian sehingga tidak ada orang lain di sekelilingku. Aneh, darimana datangnya suara itu? Aku benar-benar terganggu akan keberadaan suara itu.

Semenjak aku masuk ke Sekolah Menengah Umum, itulah mulai datangnya suara-suara itu. Mengapa ? Mengapa harus pada waktu itu? Mengapa tidak dari dulu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada dalam pikiranku. Kuakui semenjak aku sekolah di SMU ini, kehidupanku mulai berubah. Dari ibadahku sampai hubunganku dengan masyarakat. Dulu aku rajin beribadah dan selalu tepat waktu, dulu aku selalu hormat kepada orang lain tetapi sekarang? Ibadahku selalu molor, bahkan tidak aku lakukan, dengan orang lain pun aku mulai ”njangkar”, bahkan sekarang aku juga mulai punya kebiasaan buruk yaitu merokok dan minum minuman keras.

Rumahku di desa yang bernama Sanden, dekat dengan pantai selatan. Semenjak Tk sampai SLTP aku sekolah di sana, dan baru kali ini aku sekolah di kota. Kata oran-orang di desaku ”Negara”. Karena jaraknya yang amat jauh maka aku pun kost di dekat SMU sekolahku tersebut. Keadaan inilah yang selalau menjadi dalil bagi orang tuaku untuk memarahiku ketika hari Minggu aku pulang dalah keadaan mabuk.
Last Updated on Sunday, 01 February 2009 10:37
 
More Articles...
Page 1 of 2
ADNANANWAR.NET
Selamat membaca, jangan sungkan tuk ninggalin pesan atau komentar, ya .....


Leave Comment

Name :
URL :
Message:
:) :( :D :p :(( :)) :x