Sesuatu Yang Ditunda
by pigeon on Sep.12, 2011, under Cerpen
“Aduh, aduu..h udah jam lima. Pekerjaan rumah Pak Sidi belum aku kerjakan lagi. Gimana nih ?” Gumam Andi, seorang ank kost yang sekalhnya di salah satu SMU Negeri di Jogjakarta.
”Udah jam setengah enam, baru dua lagi yang bisa aku kerjakan. Padahal soalnya ada 10. Biarin aja, ah. Nanti nyontek sama temen-temen aja, pasti mereka sudah jadi.” Gumamnya sambil menutup buku pekerjaannya.
Sudah satu setengah tahun Andi duduk di bangku SMU. Awalnya prestasinya bagus, bahkan pada semester pertama ia mendapat rengking lima, sebuah prestasi yang patut dibanggakan mengingat sekolah tersebut adalah sekolah yang paling favorit di Yogyakarta.
Tetapi sejak semester dua, prestasinya mulai menurun. Memang ia ikut di beberapa organisasi sekolah seperti Rohis dan KIR tetapi sebenarnya bukan itu yang menjadi beban baginya melainkan sesuatu hal lain yang saat ini belum diketahuinya.
Satu yang saat ini ia ketahui, adalah bahwa ia sulit menerima mata pelajaran. Mengingat masa kejayaannya pada waktu SMP, ia sering merasa heran dan tidak percaya. Dulu, sekali saja ia menerima pelajaran pasti langsung terkuasai, minimal setengahnya. Tetapi sekarang, bahkan ada beberapa mata pelajaran (Sub-mata pelajaran) yang ia benar-benar tidak mengerti sama sekali.
Setelah sekian lama, ia menemukan dua buah kelemahannya dalam belajar. Memang diakui bahwa ia akan belajar jika akan ada ulangan saja. Karena malas. Itulah yag selalu ia katakan sebagai alasan. Satu lagi, ia tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Kalaupun pekerjaan rumah itu harus dukumpulkan maka ia selalu mengerjakannya pagi hari sebelum berangkat ke sekolah yang pada hari itu juga harus dikumpulkan.
”Oke, anak-anak. Besok Sabtu ulangan, ya! Pelajari semua yang telah saya ajarkan!” Terdengar Bu Ndari dengan suara yang lembut, walaupun beliau adalah guru Matematika.
”Waktunya masih sepekan lagi. Jadi kalian bisa latihan soal-soal yang ada di buku. Cari soal sebanyak mungkin, makin banyak kalian berlatih maka kalian akan semakin mahir.” Terdengar lagi suaranya
”Masih satu minggu, santai ajalah. Tapi aku harus berlatih nih.” Gumam Andi dalah hatinya
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Andi sudah menyadari akan kelemahannya. Bahkan jauh hai sebelum ulangan ia sudah punya banyak rencana, tetapi pelaksanannya itu yang amburadul. Sehingga akhirnya ditunda-tunda dan ditunda terus sampai batas akhir waktunya.
Sekian lama Andi merenungi nasibnya dalam halprestasi belajarnya. Rasanya iri ketika melihat teman-temannya yang lain ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti suatu perlombaan atau untuk mendapat beasiswa pendidikan. Tetapi apa boleh buat, keadaannya yang demikian rasanya tidak mungkin mendapat penghargaan seperti itu.
Suatu hari sekolah mengadakan suatu program yang dinamakan ”remedial”. Program ini khusus untuk anak-anak yang dianggap ketinggalan. Hari itu Nadi sangat yakin dirinya aklan masuk dalam program tersebut. Tetapi alangkah kagetnya ia ketika panggilan selesai, dari sekian mata pelajaran yang ada tak satupun namanya disebut. Temannya, Arif yang 10 besar saja mauk dalam program itu tetapi Andi yang rata-rata 20 ke atas malah tidak.
Timbul semangat belajar di dalam dirinya, ternyata masih ada kemampuan yang tersisa dalam dirinya dan belum dikeluarkan. ”Aku pasti bisa!” Tekadnya bulat.
* * *
Waktu terus berjalan, Andi sepulah dari sekolah hendak pergi ke bimbingan belajar di salah satu lembaga dekat sekolahnya. Maklum, sekarang ia sudah kelas tiga dan ingin memperispkan lebih matang sebelum UAN dan SPMB. Dikayuhnya seped federal peninggalan kakaknya itu. Di tengah perjalanan tiba-tiba sebuah moil kijang dari arah depan melaju dengan cepatnya. Andi dengan santainya tidak memperdulikan mobil tersebut dan terus dikayuhnya sepedanya.
Saat jarak antara ia dengan mobil kira-kira 10 meter, ada seorang anak kecil menyeberang tetapt di depannya. Kontan Andi menghindarinya dengan membanting stang ke arah kanan. Mobil yang melaju cepat tak dapat mengelak sehingga menabrak sepeda yang ditumpangi Andi dan terpental ke belakang. Di belakangnya ada sebuah bus yang melaju dan Andi tepat terlempar di depannya. Terjdilah tabrakan dua kali sekaligus.
Tidak ayal lagi, tubuh Andi berlumuran darah penuh luka. Saat orang-orang hendak menolongnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan m,embawa tekad kuat untuk menjadi lebih baik. Membawa prestasi yang masih terpendam di dalam dirinya. Itulah takdrnya. Takdir yang sudah ditentukan jauh sebelum manusia ada.
Kita tidak tahu kapan dan di mana kita akan pergi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, penundaan hanya akan menimbulkan penundaan selanjutnya. Allah telah menentukan apa yang terbaik buat kita, tetapi apakh kita hanya akn menunda hidayah/ petunjuk dari Allah? Tidak, kita harus berusaha semampu kita selama masih ada kesempatan dan kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan habis.
S E L E S A I
YOGYAKARTA, 24 Maret 2003
No related posts.






