Sang Ketua Rohis
by pigeon on Jan.27, 2011, under Cerpen
Pagi yang cerah dan menyejukkan. Matahari terbit dengan indahnya dari ufuk timur. Sinarnya menembus daun-daun pepohonan di depan rumah. Induk ayam mengosak-asik sampah, mencarikan makanan buat anak-anaknya. Burung-burung berkicauan bersahut-sahutan seolah ikut menyambut datangnya hari yang baru, hari yang akan membawa hal-hal baru di dalamnya.
Makanan sudah terhidang di depan meja. Dengan dandanan yang rapi, baju seragam putih abu-abu berbet di lengan kanannya bertuliskan SMU N I YOGYAKARTA dan bersepatu fantofel, Irwan keluar dari kamarnya.
”Apa lagi kertas yang kau bawa itu, Wan?” Tanya Bu Isti, ibunya Irwan.
“Kertas proposal korban, Bu. Baru kuperiksa dan ingin kuserahkan pada Dimas hari ini.” Jawabnya.
“Ingat lho, Wan. Kamu boleh berorganisasi tapi jangan sampai lupa pada pelajaran. Itu tujuanmu sekolah!”
“Iya, Bu. Aku tahu.”
Hari Raya Idul Adha sudah dekat. Irwan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara. Walaupun sudah dibentuk panitia sendiri, ia masih sibuk memeriksa, mengontrol, dan mengecek sana-sini. Memang ia adalah sosok ketua rohis yang istiqomah, benar-benar bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya. Tidak ketinggalan juga bahwa ia paling anti dengan yang namanya pacaran. Di berbagai forum, ia selalu mengajak pada teman-temannya agar menjauhi satu hal tersebut.
“Ingat, ya adik-adik. Pacaran itu tidak ada dalam konsep Islam. Maka, mengapa kita harus melakukannya, lagipula Rosulullah tidak pernah memberikan tuntunan pada umatnya tentang pacaran.” Jelasnya dalam salah satu forum kajian kelas.
“Tanya, Mas. Apakah mas Irwan pernah jatuh cinta?” Tanya salah seorang anak, peserta forum.
”Belum dan saya tidak ingin melakukannya. Tidak boleh itu namanya jatuh cinta dan pacaran.”
”Tapi, Mas. Jatuh cinta kan datang dengan sendirinya, bagaimana tuh?”
”Ya, harus dihilangkan, cegah sekuat mungkin. Ingat sekali lagi bahwa cinta sejati itu hanya kepada Allah semata.” Katanya menutup forum.
Begitulah pandangannya tentang cinta, sangat kolot dan keras kepala. Itulah pula yang membuatnya dijauhi oleh anak-anak yang tidak setuju dengan pendapatnya. Tetapi memang begitulah pendidikan agama yang diberikan di sekolah tersebut. Baik oleh alumni yang masih aktif berdakwah di sekolah, baik oleh kakak kelas yang tentu saja berpengaruh langsung maupun oleh guru agama. Sehingga timbul dua golongan di dalam sekolah tersebut yaitu golongan anak rohis yang menentang keras perilaku pacaran dan golongan anak-anak yang bukan rohis.
Suatu ketika Irwan sedang berjalan di lorong antara kelas menuju ruang rohis. Karena pintunya tidak terkunci ia langsung masuk saja tanpa punya pikiran apa-apa. Tetapi tidak disangka pada saat yang bersamaan, Ika, Sang Sekretaris keluar dari ruangan yang sama melalui pintu yang sama. Kejadian yang tidak diharapkan oleh kedua insan manusia itu pun terjadi. Keduanya bertabrakan. Irwan melihat wajah sekretarisnya itu sangat dekat, lebih dekat daripada apapun yang pernah dipandangnya selama ini dan Ika pun balik memandangnya. Jantung Irwan berdetak kencang, kencang sekali. Baru setelah sekitar setengah menit, waktu yang cukup lama untuk saling memandang, keduanya baru tersadar. Ika segera berlari keluar melewatinya, sedang Irwan hanya bisa berdiri tercengang tak bergerak.
Entah apa yang terjadi pada sang ketua rohis itu, ia tak bisa melupakan kejadian itu. Belajar malamnya tak masuk bahkan sampai-sampai tidurnya bermimpi persis seperti kejadian tadi sore. Ia terus beristighfar dan minta petunjuk-Nya tetapi ternyata tetap tak bisa melupakannya.
Paginya ia hendak minta maaf pada Ika di kelasnya langsung. Tetapi ketika ia sudah sampai di depannya, jantungnya berdetak kencang lagi. Ia gugup, mulutnya sulit digerakkan apalagi mendengar Ika bicara duluan.
”Irwan mau ngomong apa?” tanyanya.
“A…..nu, aa….nu….. A..ku…., a..ku…..” dengan gugup ia mulai bicara.
“Ada apa sih?” Tanya Ika lagi, yang kini mulai punya dugaan tertentu terhadap sikap ketuanya itu, dan ia pun menjadi gugup juga.
“Maaf.” Dengan cepat Irwan berkata sambil berlari menjauhi Ika. Sambil berlari ia bergumam ”Ada apa aku ini? Mengapa aku jadi gugup begini?”
* * *
Hari ini seluruh pengurus Rohis mengadakan rapat guna membahas persiapan/pembentukan panitia seminar yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Rapat berjalan dengan lancar. Panitia telah terbentuk dan rapat ditutup pada pukul lima sore. Semua keluar kecuali Irwan yang katanya ingin membaca buku sebentar di ruangan tersebut.
Di lain pihak, Ika yang sudah tiba di kostnya baru ingat kalau buku PR Matematikanya ketinggalan di ruang rohis. Tanpa pikir panjang ia pakai jilbabnya dan setengah berlari menuju sekolah yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Irwan yang tengah asyik membaca buku dikejutkan oleh suara yang telah sangat dihafalnya.
“Assalamu’alaikum. Maaf, aku mau mengambil bukuku yang ketinggalan.” Katanya sambil berjalan mengambil buku di atas meja.
Irwan sangat gugup, tak sangup bicara sepatah katapun melihat sekretarisnya itu, berduaan lagi dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Ia terus memandangi wajah Ika sampai keluar dari ruangan. Satu perbuatan yang selama ini , Irwan selalu mengajarkan untuk tidak melakukannya yaitu memandang tajam pada seorang wanita, akhwat lagi.
Lama ia termenung di tempat tidur, memikirkan perasaannya yang selama ini mengganggu pikirannya. Tanpa sadar ia tertidur lelap, dan lagi-lagi ia memimpikan Ika, sekretarisnya itu.
Pagi yang indah, seperti biasa makan bersama keluarga. Irwan hanya diam tanpa bersuara, suara gemelitik piring saja yang menghiasi ruangan itu.
”Ika, siapa dia Irwan?” Tanya Bu Isti kepada Irwan
”Dia sekretarisku. Darimana Ibu tahu?”
”Pasti ia sangat cantik, sholehah, dan sangat anggun sampai bisa memikat seorang ketua rohis.”
”Ah, Ibu ini suka bercanda. Mana mungkin aku terpikat begitu.”
”Sudah, jangan bohong. Buktinya tadi malam kamu mimpi tentang dia kan? Sampai ngelindur panggil-panggil namanya lagi, apa itu namanya bukan cinta?”
”Apa benar ini cinta?” Gumamnya
Dalam perjalanannya ke sekolah ia terus memikirkan perkataan ibunya tadi pagi. ”Aku akan menahannya dan melupakannya.” Katanya
Tetapi di luar dugaannya, semakin ia berusaha melupakannya, perasaan itu semakin terasa. Perasaan ingin bertemu, perasaan ingin bicara, dan perasaan ingin memandang wajahnya. Bahkan kini ia mulai mencari-cari alasan hanya untuk menemui sekretarisnya itu. Dan setiap kali bertemu ada perasaan senang bercampur gugup dalam hatinya.
Begitulah cinta. Ia tidak dapat diciptakan tetapi juga tidak dapat dimusnahkan. Cinta adalah anugrah dari Sang Maha Mencinta. Lalu mengapa kita harus berusaha mencegahnya. Satu hal yang harus diingat adalah cinta itu boleh dan harus disyukuri tetapi jangan sampai cinta kepada sesama membuat kita buta dan gila apalagi sampai mengalahkan cinta kita kepada Sang Pencipta, sumber datangnya cinta dan cinta sejati bagi manusia.
S E K I A N
Yogyakarta, 21 Januari 2003
SMU N I YOGYAKARTA
No related posts.






