Roy, Betapa Mulia Hatimu !!!
by pigeon on Jun.12, 2011, under Cerpen
“Nur, kita ini adalah teman, teman sekelas. Mengapa kita harus bermusuhan ?”
”Alaaaah, sudahlah. Jangan sok baik. Kita bersaing dalam kelas berarti kita bermusuhan.”
“Itu kan dalam pelajaran, apa gunanya kita bermusuhan, Nur?”
“Sudahlah. Aku tidak mau membicarakannya lagi. Sudah dulu, ya aku sibuk. Sampai jumpa.”
Kian hari hubungan antara Roy dan Nur bukannya membaik tetapi malah semakin memburuk. Prestasi Roy meningkat secara bertahap, sedangkan Nur semakin merosot. Belajarnya kurang. Nur semakin membenci Roy, tetapi sebaliknya Roy tetap sabar meskipun Nur kadangkala mengejek dan memakinya.
Suatu hari Nur berjalan melewati kelasnya yang kosong, karena anak-anak pergi ke perpustakaan atau ke kantin sekolah. Nur melihat kunci laci meja guru masih menggantung di tempatnya. Nur segera mendekat dan membuka laci itu. Nur terkejut melihat buku jawaban soal-soal matematika milik Pak Syamsul. Ia membuka halaman pertama, ia mencoba mengingatnya. Tetapi begitu membuka halam kedua, Roy masuk ke dalam kelas dan melihat Nur sedang membuka buku milik Pak Syamsul yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh siswa. Karena gugupnya Nur mencoba menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam laci, tetapi karena tergesa-gesa ia menyobek halam kedua sampai setengahnya. Nur marah-marah pada Roy.
”Dasar laki-laki sialan. Kau pasti akan melaporkannya pada Pak Syamsul!” kata Nur sambil menangis.
”Tapi kau telah menyobeknya, kan ?” tanya Roy beralasan
”Sudahlah. Kau pasti akan melaporkannya.” Nur berlari keluar menerjang Roy
Roy berjalan keluar juga sambil memikirkan tindakan apa yang akan dilakukannya nanti. Ia berfikir keras sambil menimbang-nimbang setiap gagasan yang muncul dalam kepalanya.
”Apa yang harus aku lakukan ?” katanya dalam batin. Kalau aku melaporkannya pada pak Syamsul yang sangat galak itu, Nur pasti akan celaka. Ia akan dimarahi, dipukul atau yang lainnya. Padahal perempuan itu kulitnya tipis, hatinya mudah kuncup, tentu aku tak akan mengadukannya. Tetapi jika aku tidak melaporkannya maka seperti biasa pak Syamsul pasti akan menanyai anak sekelas satu-persatu dan akhirnya ketahuan juga. Wajah perempuan itu mudah diterka apa yang baru saja ia lakukan.
Sementara Roy sibuk berfikir, bel tanda masuk telah berbunyi. Anak-anak segera masuk ke kelas masing-masing, tidak terkecuali Roy dan Nur. Pak syamsuk segera masuk juga. Begitu beliau membuka laci dan melihat salah satu halaman bukunya robek ia langsung bertanya pada anak-anak dengan suara yang agak marah.
”Siapa yang telah merobek buku saya ini ?” tanya pak Syamsul sambil memperlihatkan buku itu. Anak-anak kelihatan tegang melihat kemarahan di wajah pak Syamsul tetapi Nur tidak juga mau mengaku. Ia terus saja melihat Roy yang juga tampak tegang.
”Kalau tidak ada yang mengaku, akan saya tanyai satu persatu. Di antara kalian pasti ketahuan.” Anak-anak dipanggil satu persatu urut dari nomor absen satu. Hingga nomor absen 28 tidak juga ketemu, tetapi begitu dipanggil nomor absen 29 Nur agak ragu-ragu untuk maju ke depan. Nur sangat gemetaran karena takut. Diberanikannya untuk maju menghadap pak Syamsul tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya ada seorang anak yang berteriak sambvil mengacungkan tangannya.
”Saya, Pak. Saya yang merobek buku itu.”
”Haaaa, Roy. Mengapa kamu lakukan ini? Kamu tahu apa yang akan dilakukan pak Syamsul padamu?” Nur berkata dalam hati.
Roy segera dibawa ke ruang Bp oleh pak Syamsul. Entah apa yang akan dilakukan terhadap Roy tetapi yang pasti Nur tidak pernah menyangka bahwa Roy akan melakukan tindakan senekat itu.
Kali ini Nur benar-benar dibuat khawatir oleh Roy. Sekarang ia sudah mulai sadar akan perbuatannya selama ini terhadap Roy. Setelah Roy keluar dari ruang Bp, Nur segera memberondong pertanyaan kepada Roy.
“Roy, apa kamu tidak apa-apa. Apa yang telah dilakukan pak Syamsul terhadapmu. Apa ada yang sakit ?”
“Tidak apa-apa. Ternyata pak Syamsul itu orangnya baik. Beliau hanya menasehatiku tadi. Dan beliau memperingatkanku agar tidak mengulangu perbuatan itu.”
“Roy, maafkan aku atas perbuatan yang telah aku lakukan kepadamu. Aku tidak menyangka. Roy, betapa mulia hatimu.
By : Adnan Anwar
SLTPN I SANDEN
No related posts.







August 23rd, 2011 on 4:02 pm
Hmm.. ini cerpen pas es-em-pe ya?
nama tokoh ceweknya hampir mirip namaku
September 5th, 2011 on 11:44 am
Iya, itu cerpen saya dulu waktu masih duduk di SMP. Wah, kalo sama bukan kesengajaan lho…hehehehe…
Website-mu kok ditolak sama antivirusku???