Memancing
by pigeon on Feb.19, 2011, under Cerpen
Pagi ini cerah sekali, lebih cerah daripada biasanya. Matahari sudah nongol sejak tadi. Sinarnya menghangatkan setiap sudut ruangan di muka bumi ini. Sebagian menembus celah-celah pepohonan, memunculkan pemandangan yang tak akan pernah aku lupakan. Burung-burung kecil terbang kesana-kemari, loncat sana loncat sini seolah sedang menari menyambut datangnya pagi.
Jalan di depan rumahku mulai ramaui oleh lalu lintas beberapa warga yang hendak pergi ke pasar. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki tetapi ada juga yang naik sepeda motor meskipun hanya sedikit. Beberapa orang terlihat sedang menyapu halamannya masing-masing. Memang seperti itulah kebiasaan mereka di waktu pagi apalagi ini hari Minggu.
Aku menunggu di depan rumah. Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman sebayaku bersepakat untuk pergi memancing hari ini. Tadi malam kebetulan banyak laron yang keluar dari sarangnya. Kami menangkap cukup banyak untuk dijadikan umpan. Beberapa masih hidup hingga pagi ini tetapi banyak juga yang sudah mati, terutama yang ada di posisi paling bawah. Mungkin kehabisan nafas di sana.
Memang sulit jadi yang terbawah. Semuanya serba tidak menyenangkan. Seolah ia ada hanya untuk memperkokoh eksistensi bagi yang ada di atas. Bagaimana mungkin di katakan atas kalau tidak ada yang di bawah.
“Hai, Bas!” Beberapa anak datang sambil melambaikan tangan
“Hai, kok lama bener. Ntar keburu siang lho!” Jawabku
“Maaf. Tadi bantuin ibu dulu jemur baju. Jadinya telat deh.” Sahut yang lain.
“Ya, udah. Langsung berangkat aja yuk!”
“Bentar. Tak absen dulu biar afdhol.”
“Iya, deh!” Jawab mereka serempak.
“Andi!”
“Ada.”
“Tarno!”
“Ada, Bos.”
“Oke. Dah lengkap. Sekarang ayo kita berangkat!”
“Ayoo……!”
Sambil membawa pancing di tangan kami masing-masing, aku, Budi, Andi, dan Tarno berangkat ke lokasi pemancingan. Ada beberap tempat yang kata orang, banyak ikannya tetapi kami memutuskan untuk mengunjungi tempat pertama yang paling dekat dulu, yaitu sumur di tengah sawah milik Pak Bandi.
Biasanya kalau musim kemarau, sawah-sawah jadi kering. Akhirnya beberapa petani memutuskan untuk membuat sumur di sawah mereka. Air ditimba dengan ember lalu dialirkan ke sawah masing-masing sehingga tanaman tetap tumbuh dengan subur.
Pada musin penghujan air melimpah. Jangankan cukup, justru air berlebih. Sumur-sumur yang telah dibuat sebelumnya jadi tidak terpakai. Banyak tumbuhan air yang tumbuh di pinggir-pinggir sumur dan ikan-ikan pun senang untuk menempatinya.
Kami berjalan melewati jalan desa dengan riangnya, membayangkan ikan apa yang akan kami dapatkan nantinya. Sesekali bercanda satu sama lain. Saat yang paling membahagiakan memang masa-masa menjadi anak kecil. Hidup tanpa beban, yang penting adalah bermain untuk mendapat kesenangan. Kalaupun suatu saat ditimpa kesusahan, paling-paling satu hari saja sudah terlupakan.
Tiba di area persawahan, kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan, indah sekali. Di mana-mana tumbuh tanaman padi yang menghijau. Beberapa petak sawah dipasang orang-orangan sawah, fungsinya agar burung-burung mengira itu orang beneran dan tidak berani mendekat untuk memakan biji-biji padi. Tetapi sepertinya cara seperti itu kurang efektif, buktinya beberapa burung prit pari justru bertengger di atas kepala orang-orangan tersebut
Di sana-sini berseliweran beraneka ragam capung. Banyak sekali macamnya, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang berwarna merah, kuning, hijau bahkan biru juga ada. Kami sering menangkap beberapa ekor untuk dijadikan mainan. Caranya sayap yang besar itu dipotong kira-kira separo, tujuannya agar tidak bisa terbang terlalu tinggi, lalu diterbangkan. Kami mengejarnya ramai-ramai. Kejam juga ternyata kami, ya… namanya juga anak kecil. Jika kami sudah lelah, capung tersebut kami lepaskan juga. Nggak tahu sih gimana nasib capung itu, ada yang mengatakan sayap yang sudah dipotong tadi bisa tumbuh lagi, ada juga yang mengatakan capung itu akan mati karena tidak bisa terbang untuk mencari makanan. Tapi aku tidak peduli, yang penting kami senang.
Ada tiga jalan di depan kami, jalan besar ke tengah sawah dan dua jalan kecil yang menyusuri pinggir-pinggir sawah, satu ke kanan dan yang lainnya ke kiri.
“Kita lewat jalan yang mana, Bud?” Tanyaku
“Lewat tengah sawah aja. Ntar langsung ke sawahnya Pak Karto yang punya sumur dan banyak ikannya!” Jawab Budi.
“Wah, panas kalo lewat tengah. Mending kita lewat jalan pinggir, baru ke sana lewat pematang sawah.” Tarno ikut bicara
“Aku setuju usulnya Tarno. Lagian jalan besar di tengah sawah ini banyak batunya.” Tambah Andi
“Ya udah deh. Karena semua pengin lewat pinggir sawah, let’s go, berangkat!”
“Ayo berangkat!”
Perjalanan pun berlanjut, menyusuri pinggir-pinggir sawah. Suasananya masih sangat sejuk karena banyak pohon yang menutupi panasnya sinar matahari. Tetapi kalau sudah di tengah persawahan dijamin orang kota nggak akan mau ke sana sebab ntar kulitnya yang putih bersih bisa berubah menjadi hitam coklat karena terbakar.
Beberapa orang petani tengah sibuk dengan garapannya masing-masing. Ada yang menabur pupuk, ada yang mencari rumput untuk makanan hewan ternaknya, ada juga yang sudah menyelesaikan pekerjaanyya dan istirahat di bawah gubug sambil menikmati makanan ala kadarnya. Nikmat sekali sepertinya makanan itu.
Tetapi memang, makanan yang dimakan si bawah gubug sawah selalu enak. Sering pagi-pagi sekali kami menyempatkan pergi ke sawah sambil membawa sebungkus nasi, beberapa gorengan dan minuman. Hawanya yang masih sejuk menambah kenikmatan suasana di sawah.
Perjalanan jhampir sampai, tinggal melewati beberapa petak sawah lagi. Sumur yang akan menadi tempat tujuan kami juga sudah mulai terlihat. Tidak terlalu besar, paling Cuma satu meter kali satu setengah meter. Tetapi ikannya cukup banyak. Mulai yang berukuran kecil seperti sepat, cethul, dan wader hingga yang berukuran besar seperti bader, kutuk, bahkan katanya lele juga ada.
Tidak jauh dari sumur tersebut berdiri sebuah gubug. Di situlah kami akan beristirahat jika sudah lelah. Cukup luas untuk menampung empat anak kecil seperti kami. Kadang kami bercanda ria di gubug itu, bahkan sampai main berkelahi di situ juga.
“Ayo, segera kita pasang umpannya!” Ajakku begitu sampai di pinggir sumur. Kubuka plastik berisi laron sebagai umpan. Sekarang lebih banyak yang mati daripada tadi pagi. Tetapi itu tidak masalah, toh ikannya tetap mau memakannya.
“Iya, aku pengin segera mendapat ikannya.” Sahut Andi.
“Laronnya besar-besar, pasti ikannya sangat suka dan segera memakan umpan yang kita pasang.” Tarno ikut bicara
“Aku pengin dapat bader, soalnya selama ini aku belum pernah mendapatklan ikan yang satu ini.” Budi ikut bicara sambil memasang umpan ke kait pancingnya.
“Kalo di sumur yang tenang begini sulit mendapatkan bader karena ikan semacam itu biasanya hidup di air yang mengalir.” Sahutku.
“Yup, aku dah selesai. Duluan, ya!” Tarno ternyata paling cepat memasang umpan.
Satu persatu kami pun selesai menyiapkan umpannya. Segera kami masukkan ke dalam sumur. Sekarang tinggal menunggu ikan terjerat ke umpan lalu menariknya cepat-cepat. Pekerjaan seperti ini biasanya sangat menyenangkan atau malah sebaliknya. Tetapi kami menunggu dengan sabar. Biasanya kalau sudah kepanasan, pancing kami tancapkan ke bagian pinggir sumur lalu berteduh di bawah gubug sambil tetap memperhatikannya.
Waktu telah berlalu selama satu jam lebih. Beberapa ekor ikan berhasil kami tangkap tetapi itu belum memuaskan kami. Ikan yang kami tangkap tidaklah istimewa karena ukurannya yang kecil-kecil padahal yang diinginkan adalah ikan yang berukuran besar atau minimal sedang.
Kelesuan mulai menggerayangi tiap-tiap dari kami. Terutama Andi, ia malah tertidur di gubug semenjak tadi. Barangkali bosan karena umpannya tidak segera dimakan oleh ikan. Sementara yang lain tetap menunggu dengan sabar, termasuk aku.
Kata orang, dengan sabar maka akan mendapatkan keberuntungan. Barangkali aja memang belum saatnya, sehingga kami harus tetap menunggu. Sesekali pengapungnya bergerak-gerak pertanda ada ikan yang tertarik tetapi tidak jadi memakannya entah mengapa.
Lama kami menunggu sampai akhirnya pengapung milik Tarno bergerak-gerak. Kami mengira pasti ikannya tidak jadi memakan umpannya seperti tadi tetapi pengapung terus bergerak-gerak. Perhatian kami semua langsung tertuju pada pancing milik Tarno.
“Kayaknya aku bakal dapat ikan besar.” Kata Tarno sambil memegangi pancingnya, bersiap-siap mengangkat umpan dan berharap ada ikannya.
“Iya, sepertinya besar. Hati-hati, No. Tunggu bentar lagi sampai umpannya benar-benar dimakan!” Sahut Budi.
Mendengar keributan ini Andi akhirnya bangun dan ikut nimbrung.
“Tar, tunggu sampai pengapungnya ditarik ke bawah oleh ikannya.” Katanya
“Eh, pengapungnya bergerak ke pinggir. Sekarang aja, ntar malah lepas!” Usulku.
Tarno menengok pengapungnya yang sekarang ada di pinggir, bersatu dengan beberapa tumbuhan air. Mungkin ia terlalu menjorok ke sumur tetapi siapa peduli. Fokus kami sekarang adalah pengapung milik Tarno.
Tiba-tiba pengapung tertarik ke dalam air dengan begitu cepat.
“Tariii….kkkk!” Teriak kami serempak.
Tarno seperti kaget dan segera menarik pancingnya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu, tanah tempat pijakan Tarno retak dan tercebur ke dalam sumur. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Tarnio ikut masuk ke dalam air.
Tubuhnya mengelepar-gelepar, tangannya menggapai-gapai apaun yang ada di sana untuk pegangan tetapi percuma, semuanya ikut tenggelam. Sepertinya Tarno kesakitan. Ia tak bisa berenang dan mungkin sudah cukup banyak air yang masuk ke dalam mulutnya.
“Tarno, raih pancingku. Nanti kami tarik!” Teriak Andi sambil menyodorkan pancingnya ke tangan Tarno.
“Pegang yang erat, ya!” Tambah Budi.
Tetapi sepertinya tarno kehilangan konsentrasi. Tangannya tidak juga dapat meraih pancing yang kami sodorkan. Semua jadi panik, tak tahu harus berbuat apalagi untuk menolong teman kami.
“Tarno, berusahalah. Raih pancing ini!” Teriak Budi
“Iya, kamu pasti bisa. Jangan menyerah!” Tambahku
Setelah beberapa lama akhirnya Tarno berhasil meraih pancing. Dengan sekuat tenaga, kami menariknya ke atas. Semua ikut membantu tanpa kecuali. Aku, Budi, dan Andi bersama-sama memegang pancing yang kami gunakan untuk menarik tubuh Tarno.
Untung waktu itu, airnya cukup banyak sehingga Tarno terapung dekat permukaaan tanah dan kami pun tidak terlalu berat mengangkatnya. Semua berkat kerja sama dari kami semua. Dengan saling memberi semangat ternyata keberhasilan bukan hal yang tidak mungkin utnuk diraih.
Hari ini kami benar-benar mendapat pelajaran yang sangat berharga. Terutama persahabatan kami berempat semakin erat, itu yang paling penting. Tidak ada yang dapat menandingi kekuatan persahabatan karena di dalamnya ada cinta, kasih sayang, dan kepedulian.
S E K I A N
Yogyakarta, 1 April 2006
Adnan Anwar
TE UGM ‘04
Semester IV
Memory tentang desaku dan masa kecilku bersama sahabat-sahabatku Agung, Pinut, Daryanto
Related posts:






