Adnan Anwar, ST.

Layar Tancap

by on Nov.05, 2010, under Cerpen

“Nanti malam ada layar tancap, lho!!”

“Di mana, Gung?”

“Di lapangan Sorobayan. Katanya film yang akan diputar sangat seru.”

Aku, Agung, Daryanto dan Pinut baru kali ini punya kesempatan untuk menonton layer tancap. Desa tempat tinggalku masih tergolong terbelakang alias tertinggal meskipun beberapa tahun yang lalu kepala dukuh menolak adanya IDT(Inpres Desa Tertinggal). Padahal dana yang ditawarkan tidak sedikit, bukan hanya jutaan tetapi ratusan juta. Cukup untuk membangun desa menjadi lebih maju dan makmur.

Sangat jarang desaku tersentuh produk teknologi termasuk layer tancap. Bisa jadi setahun cuma dua kali atau malah satu kali. Yang punya televisi bisa dihitung dengan jari, itupun stasiun yang nyambung paling TVRI yang isinya selalu berita atau kethoprak, sangat membosankan. Tidak aneh jika ada layer tancap animo masyarakat sangat besar. Walaupun harus bayar tiket masuk tetapi hal itu hanyalah angina lalu bila dibandinngkan dengan kepuasan yang diraih.

”Gimana, nih. Pada mau nonton, gak?” agung yang sedari tadi menjadi sumber informasi mencoba merayu kami.

“Tapi aku harus izin sama orang tuaku dulu. Kalau boleh sih gak masalah.” Daryanto ikut bicara. Mukanya memandang burung-burung prit pari yang terbang ke sana kemari dalam hamparan tanaman padi. Kadang-kadang seorang petani melempar batu kea rah gerombolan burung yangs edang asyik melahap biji padi yang mulai menguning.

“Beli ticketnya gimana?” pinut, anggota termuda dari kelompok kami rupanya juga tertarik. Wajahnya yang masih kekanak-kanakan kadang merangsang kami untuk menggodanya.

“Beres deh pokoknya. Tapi nanti kalian ngganti uangnya ke aku. Cumin gopek, kok.” Agung sepertinya menguasai pembicaraan ini.

Aku sendiri hanya diam, tak tahu harus bilang apa. Sebenarnya sih pengen ikut apalagi temen-temen juga mau nonton tetapi aku takut bilang sama orang tuaku. Belum pernah sebelumnya aku keluar pada malam hari, bukannya takut tetapi memang sudah menjadi adapt di keluarga ini bahwa waktu malam adalah waktunya untuk istirahat dan belajar kecuali kalau bener-bener penting tentunya. Umurku baru 10 tahun,. Apa mungkin aku diijinkan?

Orang tua biasanya takut kalau anaknya keluar sendirian. Tetapi aku kan nggak senmdirian, ada tiga temen yang bersamaku nanti. Mereka kan juga anak-anak, di bawah umurku lagi, apa orang tuaku mau membiarkan anaknya keluar malam-malam bersama tiga anak kecil yang kalau terjadi apa-apa terhadapku tak bisa melindungi, justru aku yang melindungi mereka karena paling tua.

“Herdi, kamu ikut nggak?” aku tersentak.

“Ikut sajalah. Kita semua kan harus kompak. Aku dan Pinut juga ikut.” Gantian Daryanto membujukku.

Aku pali tua dan barangkali pemimpin di sini meskipun yidak pernah ada pemilihan apalagi pelantikan seperti para pembesar. Omonganku sangat manjur. Kalau aku tidak ikut bisa jadi mereka juga tidak ikut alias batal. Aku tidak ingin mengecewakan mereka,. Aku tidak mau menjadi pemicu untuk membatalkan rencana ini. Mereka adalah temanku, kami adalah kelompok yang solid, satu ikut semua harus ikut.

“Oke, deh. Aku ikut.” Serentak mereka bersorak kegirangan. Aku sendiri merasa lega dan senang tetapi ada juga sedikit rasa takut, soalnya aku belum pernah keluar malam.

Angin bertiup sepoi-sepoi menerjang apa saja yang dilewatinya. Suasana di gubug sawah milik Pinut menjadi sangat menyenangkan. Keputusan sudah bulat, nanti malam kami semua akan nonton layer tancap. Kami main gulat untuk meluapkan kegembiraan yang kami alami, tak tahu mana kawan mana lawan pokoknya kalau ada yang bebas langsung ditubruk bersama-sama. Sampai-sampai kami lupa pada tugas untuk menjaga sawah Pinut dari burung-burung. Mereka juga asyik memakan biji-biji padi, memanfaatkan waktu sementara kami lengah.

* * *

Sudah jam enam sore, hatiku masih gundah. Apalagi kalau bukan rencana nanti malam bersama teman-temanku. Setengah aku takut karena kalau benar-benar itu terlaksana maka itu adalah kali pertama aku keluar malam. Bukan hal yang mudah melakukan sesuatu yang pertama. Banyak orang mengalami kegagalan pada saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Misalnya saja naik sepeda, naik motor atau pertama masuk sekolah. Minimal pasti ada rasa canggung dan segan. Itulah yang kurasakan saat ini.

Aku juga takut bilang sama orang tuaku. Bukannya mereka orang galak, mereka baik, baik sekali. Tak pernah mereka mengecewakan aku, bahkan memarahi puntak pernah. Hal itu membuat aku sangat menghormatinya. Aku tak mau membuat mereka kecewa, aku tidak mau membuat mereka sedih dengan apa yang akan kulakukan. Bicara dengan mereka menjadi sangat sulit, seperti mau interview saja. Kalau cumin minta uang sih sudah sering aku lakukan dan mereka selalu memberi, kadang lebih dari yang aku minta. Tetapi untuk kali ini masalahnya lain. Apa yang aku inginkan ini tidak menyangkut uang atau barang, lebih dari itu menyangkut diri pribadiku, anak bungsu dari kedua orang tuaku.

Di lain pihak aku sangat ingin nonton layer tancap. Ingin sekali. Jarang aku nonton film apalagi kalau nontonnya ramai-ramai, banyak orang, banyak teman. Kalau lucu tertawa semua, kalau sedih semua terdiam. Pasti sangat seru, lebih daripada nonton televise. Kalau televise biasanya cumin nonton sendirian. Semua ditanggung sendiri, susah, senang, lucu milik sendiri.

Aku jadi membayangkan bagaimana keadaannya nanti. Ketakutanku mulai berkurang, beralih kegembiraaan yang mendominasi perasaanku. Katanya sih layar tancap itu sangat besar sehingga semua orang satu lapangan bisa menonton sepuasnya tetapi sebesar apa aku tak tahu. Mungkin 1 m2, 2 m2, 4 m2 atau lebih besar lagi. Selain itu layarnya berwarna tidak seperti televise di rumahku yang hanya hitam-putih. Lebih nyata dan lebih asyik nontonnya.Semua yang ada di layar persis seperti keadaan yang sebenarnya.

Film yang diputar biasanya komedi atau perang-perangan. Aku lebih suka yang kedua, beberapa tokoh seperti Barry Prima, Advent Bangun atau George Rudi sangat akrab menjadi perbincangan kelompok kami. Aktingnya sangat bagus , lebih-lebih pada saat mengeluarkan jurus andalannya masing-masing, seru. Kadang keluar sinar dari tangan atau bumi berguncang atau malah muncul senjata sakti, bisa berupa kapak, pedang atau tongkat, seu deh pokoknya.

Aku harus berani, batinku. Orang tuaku sangat baik pasti mengijinkan, teman-temanku juga boleh, masak aku tidak boleh. Toh, jarak lapangan Sorobayan tempat film mau diputar tidak terlalu jauh dari rumah, paling cumin 700 meter. Setlah keluar dari desa, melewati sawah dan sampai. Mudah, kan. Nanti sehabis sholat maghrib aku akan bilang. Yang penting sekarang mandi dulu, badanku mulai gatal semenjak pulang dari sawah tadi.

“Bu, aku mau nonton film!” pintaku

“Film apa?” tanyanya. Wajah beliau masih terlihat biasa. Ekspresinya netral, tak ada kesan marah ataupun senang.

“Nanti malam ka nada layer tancap, aku dan teman-teman berencana mau nonton bareng. Jam sembilan nanti berangkat. Boleh ya, Bu.”

“Kamu ini masih kecil, tidak cocok kamu nonton film kayak gitu. Belum waktunya. Kalau mau nonton, di rumah saja, sama saja kan?” Mulai aku lihat tanda-tanda negative dari ibu. Sementara batinku bergejolak antara sedih dan kecewa.

Aku sangat menghormati ibuku. Hamper semua permintaan dikabulkannya, tetapi kali ini?

“Kan cuman deket, Bu? Lagian aku sama Agung, Daryanto dan juga Pinut. Aku juga sudah beli tiketnya.” Aku mulai merengek berharap ibu berubah pikiran. Aku tampilkan ekspresi muka yang sedih dan memohon layaknya seorang pengemis.

“Nanti tiketnya tak ganti, tapi jangan keluar rumah. Banyak bahaya yang mengancan keselamatanmu. Kamu belum tahu keadaan luar di malam hari, kalau terjadi apa-apa nanti kamu juga yang rugi.” Ibu sepertinya bersikeras dan aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku sudah terlanjur berjanji pada teman-teman.

“Bagaimana dengan teman-teman, Bu?”

“Mereka akan mengerti. Sudahlah, belajar sana. Sudah jam setengah tujuh.”

“Hu …uh.” Aku beranjak lari dari tempat dudukku, pergi ke kamar dan merebahkan diri. Aku sedih, air mataku hampirmenetes. Teringat teman-teman yang akan menunggu orang yang takkan pernah dating. Malam ini aku sangat kecewa, ingin marah tetapi tak ada gunanya. Pikiranku melayang ke mana-mana tak tentu arah. Kadang memikirkan ibu, kadang teman-teman, kadang film yang akan diputar, kadang kosong. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, sepertinya semuanya jadi tak enak dilakukan.

Aku jadi berfikir mengapa orang tua selalu begitu. Melarang anaknya melakukan sesuatu hal yang sangat diinginkannya. Pendapatku tentang mereka berubah. Ternyata tak sebaik yang aku kira. Di balik kebaikan pasti ada keburukan. Dua hal yang seperti dua muka dalam koin mata uang logam. Jika salah satu muncul maka yang lainnya pasti juga akan muncul. Orang tua bisa menjadi penghalang keinginan anaknya. Itulah yang terbayang pada otakku saat ini. Betapa kejamnya.

Sayup-sayup kudengar ibuku berbicara, mungkin dengan kakakku. Mereka sudah dewasa, yang satu kelas dua SMA dan satu lagi masih kelas 1 SMP. Pasti mereka membicarakan aku, sebal aku pada mereka. Pada saat ada orang marah, malah dibicarakan. Masih kudengarkan mereka. Tak jelas. Tetapi aku semakin yakin karena kadang ada kata-kata film. Film… apa gitu. Kadang juga terdengar layer tancap. Mau apa mereka padaku.

Aneh, kalau mereka membicarakan aku kenapa namaku tak pernah disebut, minimal panggilan mereka terhadapku,lah. Apa sebenarnya maksud membicarakan layer tancap. Jangan-jangan? Batinku menduga-duga. Sesaat kesedihanku hilang berganti perasaan curiga. Perasaan ini makin kuat. ”Pasti mereka juga mau nonton layer tancap,” batinku mengambil kesimpulan. “Baiklah,” lanjutku. Kalau mereka pergi itu berarti tidak adil. Aku harus berbuat sesuatu. Akan aku pergoki sewaktu mereka mau pergi. Kalau aku tidak, mereka juga tidak.

“Apa, aduh. Jam berapa ini?” Aku gugup sewaktu mendapati diriku terbangun dari tidur.

“Jangan-jangan mereka sudah pergi. Aku telat. Terlambat. Kucari jam kecil di atas meja. Tak ada. Kuobrak-abrik seluruh isi meja demi sebuah jam.

“Sial, di mana kau?” sementara waktu semakin sempit, entah aku akan merelakannya.

“Sial.” Aku menggerutu pada diri sendiri. Jam tidak ketemu, entah sudah jam berapa sekarang. Mungkin filmnya sudah diputar atau malah sudah selesai. Kurebahkan lagi tubuhku.

“A…ah. Ini dia.” Aku tersentak kaget, ternyata jamnya ada di samping bantal. O, iya. Aku lupa menaruhnya sebelum tidur. Kulihat jarum menunjuk angka sembilan dan sebelas. Kukucek mataku biar lebih jelas.

“Jam sembilan kurang lima, masih ada harapan,” desisku. Kulihat ke kamar kakakku yang berdampingan langsung dengan kamarku. Masih ada, mereka belum berangkat.

Hatiku senang, entah senang karena apa. Tetapi puas, mungkin ini yang dinamakaniri pada orang lain. Perasaan tak senang bila orang lain berhasil dan perasaan senang bila orang lain tak berhasil. Ada keinginan untuk menggagalkan kesuksesan orang lain. Manusia memang sangat beragam sifatnya, ada yang baik dan ada yang jahat. Sebenarnya manusia terlahir dalam keadaan yang baik. Lingkungan dan hawa nasfu yang membuatnya mengambil jalan kejahatan. Kembali aku memabayang-bayangkan, bersiap-siap seandainya mereka mau pergi. Aku tak mau ketiduran lagi.

“Gluduk-gluduk.” Suara kaki dihentakkan di lantai. Suaranya dari sebelah kamarku, pasti mau pergi. Aku pura-pura tidur . suara langkah kaki berjalan lewat depan kamarku. Sempat aku membuka mata melihat kakakku berjalan, bergegas. Tidak salah lagi, batinku. Segera aku bangun, pura-pura ambil minum dan menyapa.

“Lho, mau ke mana, kok bawa sepeda segala?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Tampak kakakku sudah bersiap dengan sepedanya, pintu keluar juga sudah terbuka. Kulihat juga ibuku sedang memegangi bagian belakang sepeda untuk membantunya keluar.

“Mau njagong di rumahnya Amir.” Jawab ibuku dengan santai. Kakakku sepertinya agak gugup dan kecurigaanku pun mulai naik. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang kudengar Amir syukuran habis dikhitan. Aku kesal. Aku tahu ada udang di balik batu dari semua ini tetapi apa daya. Aku hanyalah anak umur 10 tahun yang bisanya manut pada yang lebih tua.

Kutepis kekesalanku dan kembali ke tempat tidur. Huh, desisku. Prasangkaku tetap mengatakan bahwa kakak mau nonton layar tancap. Tetapi alasan untuk menyembunyikannya sangat rasional sehingga memukul telak segala tuduhanku.

Oh, iya. Kenapa kakak pergi sendiri? Apa mungkin benar-benar mau njagong? Mana mungkin bapak dan ibu mengijinkan kakak pergi sendirian? Sementara pikiranku terus bergelayutan, terdengar lagi langkah kaki mendekat. Kulihat kakak kedua lewat depan kamar, juga agak tergesa-gesa. Apalagi ini, batinku. Segera kutinggalkan tempat tidur dan sekali lagi pura-pura ambil minum.

“Mau ke mana?” tanyaku. Terlihat kakak gugup di depan pintu yang sudah setengah terbuka.

“Ke WC.” Jawabnya singkat. Sial, batinku. Memang kebetulan atau sudah di scenario ini. Sekali lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. Alasannya sangat kuat. Kulihat pakaiannya juga seperti tidak mau pergi ke mana-mana. Tetapi bisa saja disembunyikan di balik baju, hanya saja aku tak punya bukti. Itu masalahnya.

Banyak hal yang sebenarnya kita tahu tetapi tak punya bukti untuk mengungkapnya. Lihat saja di Indonesia, sudah jelas melakukan korupsi tetapi tenang saja karena semua bukti telah lenyap bak pasir tertiup angina. Dan rakyat kecil seperti kita hanya bisa mengumpat dan memaki tanpa bisa menyeret mereka ke penjara.

Sekali lagi aku kembali ke tempat tidur dengan membawa kekalahan. Rasa jengkelku naik. Aku tak punya bukti tapi aku yakin. Bagaimana jika aku salah dan merekalah yang benar? Tapibisa juga aku yang benar, dan kalu sudah begitu mau apa? Apa aku akan diijinkan nonton? Nggak, kan. Aku jadi bingung sendiri.

“Glodek.” Pintu keluar ditutup. Prasangkaku naik lagi. Kalau kakakku mau ke WC mengapa pintunya dikunci? Aku semakin jengkel, apalagi setelah terdengar suara sepeda dikayuh menjauhi rumah. Rupanya semua ini telah diatur supaya aku tidak tahu. Aku sangat jengkel malam ini. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketidakberdayaan yang kualami.

* * *

“A…..h!!” hari sudah pagi. Matahari bersinar terang. Cahayanya menembus jendela kaca kamar. Tubuhku masih terasa kaku.  Jam di sebelah bantal menunjukkan pukul 06.00. masih pagi, batinku. Sudah semalam semenjak kejadian itu masih ada sisa-sisa rasa jengkel yang melekat di hatiku.

Hari ini adalah Minggu, jadi aku libur sekolah. Mengapa rumah jadi sepi begini? Kakakku, tertidur pulas. Ayah dan ibuku tidak ada. Aku tengok keluar, ternyata ibu sedang menjemur baju.

“Untung kamu tidak nonton film semalam, Nak!!!” kata ibuku begitu melihatku

“Ada apa, Bu?” tanyaku keheranan

“Tadi malam penonton ribut, jotos-jotosan. Untung kedua kakakmu berhasil kabur. Agung, temenmu itu jadi korban. Kena jotos.”

“Apa? Bagaimana keadaannya, Bu?”

“Tak apa. ayahmu ke sana melihat keadaan dan membantu mengobati. Besok-besok kamu jangan punya keinginan seperti itu lagi. Terlalu berbahaya. Kamu masih kecil, masih panjang hari depanmu. Kalau sudah besar kau boleh melakukan apa saja yang kau mau.”

Setengah perasaan aku menyesal, telah mempunyai prasangka  yang jelek pada anggota keluargaku sendiri, apalagi pada orang tuaku. Mereka sangat memperhatikan aku, demi kebaikanku. Aku sadar bahwa umurku yang baru 10 tahun masih menyimpan begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan.

Memang keinginan tidak selalu harus diwujudkan. Dan bersyukur pada apa yang kita alami adalah cara terbaik untuk mensikapi hidup. Kadang kita tidak tahu bahwa terwujudnya suatu keinginan bisa menyebabkan malapetaka pada diri sendiri, hanya Allah yang tahu kebutuhan makhluk-Nya.

SELESAI

By : Adnan Anwar

No related posts.

:, , ,

5 Comments for this entry

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...