Kecopetan
by pigeon on May.23, 2011, under Cerpen
Setiap kejadian yang menimpa hidup manusia sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa. Tak seorang pun tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi pada hari esok. Ramalan hanyalah hasil rekayasa otak manusia yang tidak mempunyai data-data yang lengkap untuk menyimpulkan suatu peristiwa. Yang jelas manusia hanya bias berusaha untuk mempelajari dan membenahi terhadap apa yang sudah terjadi agar kalau kejadian itu buruk bias diperbaiki dan kalau baik ditingkatkan.
Kertono keluar dari rumah kecilnya menenteng tas warna hitam. Tidak seperti biasanya kali ini bajunya rapi, rambutnya disisir klimis, entah mau ke mana dia. Belum ada orang yang ditemui tetapi senyum manisnya sudah lebih dulu menghiasi mulutnya. Mungkin dia baru saja dapat keberuntungan beberapa hari ini.
“Mau ke mana Nak Kartono, rapi amat?” tanya Bu Endah, tetangga sebelah, begitu melihat Kartono lewat di depan rumahnya.
“Cari kerja, Bu. Interview, karena kemarin sudah lolos ujian tulis.”
“Oooo…h, semoga berhasil, Nak. Jangan minder kalo ditanyai macem-macem!”
“Terima kasih, Bu. Mari, saya berangkat dulu!”
”Hati-hati di jalan, sekarang banyak copet di bus-bus kota!”
”Ya!”
Sepeda tuanya segera meluncur di jalan desa melewati tengah-tengah sawah. Tujuannya yang pertama adalah terminal bus yang akan menuju ke kota tak jauh dari rumahnya. Dengan sepeda yang dikayuh santai paling lima belas menit sampai tetapi kalau ngebut ya 10 menit sudah sampai.
Di dalam hati Kartono berkecamuk berbagai macam perasaan, mulai dari perasaan yang sedap untuk dirasakan sampai pada yang pedih jika diungkapkan. Tetapi semua itu hanyalah luapan psikologis manusianya yang kalau benar-benar hati ditenangkan dan otak dijernihkan maka semuanya akan menjadi kosong tak berisi. Sebuah keadaan yang jika salah seorang manusia dapat mencapai tingkat itu maka kedamaian dan ketenteramanlah yang didapatkan, bebas dari hal-hal yang bersifat keduniawian.
Tak lama setelah keberangkatan Kartono, sepeda tua yang menemaninya tadi sudah tersandar di antara sepeda-sepeda lainnya di tempat penitipan. Begitu banyak macamnya tetapi semuanya tercampur satu sama lain, tertata dengan rapi sejajar menghadap ke arah yang sama. Sungguh apik tatanan itu. Andai saja umat manusia bisa seperti itu yang meskipun bermacam-mecam tetapi tetap bisa bersatu menyongsong tujuan yang sama. Tetapi itu hanyalah impian, impian dari segelintir orang yang masih sadar di tengah zaman edan sekarang ini.
”Yang mau ke kota segera naik karena bus akan segera berangkat!” Kernet bus keluar dari busnya dan melambaikan tangan ke arah para penumpang yang sedari tadi sudah menunggu, termasuk Kartono.
Para penumpang pun segera naik, tak terkecuali Kartono. Bus yang tadinya kosong sekarang terisi penuh. Kartono duduk di kursi nomor dua dari belakang. Cerdas juga pikirannya dengan memilih tempat duduk di sana karena selain dekat dengan pintu juga terhindar dari sengatan sinar matahari pagi yang datang dari arah timur (bus berjalan ke utara).
Di sampingnya ada seorang kakek yang kira-kira umurnya sudah limapuluhan. Dari gaya pakaiannya juga terlihat kalau beliau masih memegang teguh adat kebudayaan orang jawa, sangat rapi seperti mau ke istana raja saja.
”Mau ke mana, Kek?”Tanya Kartono memulai pembicaraan.
“Mau ke pasar Beringharjo beli baju. Di rumah sudah banyak yang rusak. Adik sendiri mau ke mana, kok rapi bener?”
“Mau cari kerja, Kek. Sudah satu tahun saya menganggur tak dapat kerja. Sekarang ada kesempatan mau saya coba lagi.”
“Ooo..h. Memang sekarang cari kerja susah, tidak seperti dulu. Asal bisa mencangkul pasti dapat uang. Pendidikan terakhirnya apa, Dik?”
”Saya tamatan D3 Ekonomi. Saya tidak punya keahlian lain jadi ke sana ke mari modal saya hanya ijazah di tas saya ini.”
”Hati-hati menjaganya, jangan sampai hilang. Sekarang banyak orang util.”
”Iya, Kek.”
Perjalanan sudah memakan waktu hampir setengah jam. Tempat yang dituju Kartono masih beberapa kilo lagi, itupun harus pindah bus karena bus yang ditumpanginya sekarang tidak melewati kantor tempat di mana Kartono akan diinterview.
Kondektur bus menarik uang kepada para penumpang satu persatu. Kartono mengeluarkan uang seribuan dari dalam tasnya. Setelah kondektur sampai di depannya, disodorkannya uang tadi. ”Wirobrajan.” katanya. Kondektur menerima uang itu tanpa mengucapkan sepetah kata pun, hanya tersenyum sebentar sambil melihat wajah penumpangnya itu pertanda mengerti.
Tak disangka tas yang dibawa Kartono mengundang perhatian salah seorang penumpang bus itu yang duduknya di kursi paling belakang. Pandangannya selalau tertuju pada tas yang dibawa Kartono. Mungkin karena tas itu selalu didekap erat oleh pemiliknya sehingga dikira orang itu ada barang berharga yang bisa diambilnya.
Sementara Kartono tidak tahu bahwa ada yang terus mengawasi , keadaan di dalam bus semakin sepi karena sebagian penumpang sudah turun di tempat tujuannya masing-masing. Memang benar barangkali kata Bang Napi bahwa kejahatan dapat terjadi bukan hanya karena ada niat dari si pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan.
Kesempatan itu tercium oleh orang yang mengawasi tadi. Kartono berdiri, bersiap-siap untuk turun di tempat tujuannya. Sementara orang tadi bergerser tempat duduknya tepat di depan pintu. Posisi tersebut merupakan posisi yang sangat strategis dan sangat nyaman untuk mengambil barang milik penumpang yang hendak turun dari bus.
Akhirnya kesempatan itu pun datang. Kartono lengah dengan melepas dekapannya pada tas yang dibawanya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi tas itu segera disambar dan setelah itu langsung lari keluar dari dalam bus. Entah mengapa Kartono tak sempat berteriak minta tolong, mungkin karena sangat kagetnya sehingga dia langsung ikut lari mengejar orang yang telah mengambil tasnya tadi.
Aksi kejar-kejaran pun dimulai. Tak disangka-sangka ternyata si pencopet telah hafal betul daerah ini. Mulai dari jalan hingga gang-gang diambilnya sebagai tempat untuk lari tanpa ragu-ragu. Larinya cepat bagaikan cheetah, gerakannya lincah seperti tupai. Sementara Kartono terus mengikuti dari belakang tak kalah hebatnya.
Orang-orang yang ada di sekitar hanya mampu melihat mereka berdua tanpa bisa berbuat apa-apa karena tak tahu menahu masalah yang sedang dihadapi mereka berdua, sementara Kartono sendiri tidak minta tolong kepada mereka untuk membantu mengejar pencopet yang telah mengambil tasnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya menangkap si pencopet tadi dan mengambil tas miliknya kembali.
Aksi saling kejar terus berlanjut. Kartono seperti kalau kata orang jawa ”ora duwe wudel” karena kecepatan larinya tak pernah berkurang. Si pencuri tak kalah hebatnya karena memang sudah kebiasaannya lari untuk menghindari kejaran orang-orang sehingga staminanya cukup fit untuk menandingi Kartono.
Tetapi yang namanya manusia pasti punya batas kemampuan. Setelah kira-kira dua puluh menit berlari keduanya mulai mengendor staminanya. Meskipun tetap dalam keadaan berlari namun kecepatannya sudah agak berkurang bila dibandingkan dengan saat-saat awal pengejaran. Tak tahu harus bagaimana lagi, pencopet itu ambil jalan menuju ke persawahan. Barangkali orang yang mengejarnya tidak bias lari di pematang sawah dan jatuh sehingga ia bias meloloskan diri.
Keduanya telah memasuki daerah persawahan, berlari di antara tumbuhan padi yang mulai menunjukkan buahnya. Kartono tak merasa kesulitan sedikitpun dengan medan yang sedang dihadapinya seperti yang diharapkan pencuri. Karena rumah Kartono memang di desa dan semenjak kecil di situlah tempat bermainnya. Jadi Kartono justru seperti sedang mengenang masa kecilnya , hanya bedanya dulu yang dikejarnya adalah tikus atau teman bermainnya sedangkan sekarang yang dikejarnya adalah pencopet yang telah mengambil tasnya.
Sampai di ujung sawah, keduanya melewati padang rumput yang hijau. Dulunya adalah lapangan sepak bola tetapi karena jarang dipakai lagi sehingga rumput tumbuh dengan liar. Kartono sudah tak kuat lagi. Ia segera mengambil resiko untuk melompat sekuat mungkin menerjang si pencopet dengan harapan pencopet tersebut jatuh dan ia segera dapat mengambil tasnya. Tetapi di lain pihak jika lompatannya tidak terlalu kuat dan tidak dapat menjangkau tubuh pencopet maka ia tidak akan punya kekuatan lagi untuk mengejarnya, pencopet lari dan ia hanya mendapat lelah serta capek.
Tetapi itulah dunia, semua selalu ada resiko dan mau tidak mau manusia harus bias memilih di antara dua pilihan itu. Hanya orang yang teguh dan tegas berani mengambil resiko dengan pertimbangan yang sudah direncanakan. Orang seperti itulah yang akan sukses dalam hidupnya karena meskipun ia gagal minimal telah tahu apa yang menyebabkan kegagalan itu dan suatu hari nanti tidak akan mengulanginya lagi.
Seluruh tenaga dikumpulkan Kartono terpusat pada kakinya sebagai bakal titik tumpu untuk melompat. Tanpa pikir panjang lagi, dengan jarak antara Kartono dan pencopet itu kira-kira 3 meter Kartono melompat ke depan. Sudut lompatannya sangat tepat untuk mendapatkan jarak yang paling jauh yaitu sebesar 450. Tetapi apakah ini akan berhasil? Dengan kondisi Kartono yang telah berada pada puncak kelelahannya.
Tak disangka, lompatan Kartono hanya dapat menyentuk baju pencopet yang melayang ke belakang karena tertiup angin dari depan. Kartono tak dapat bangun lagi, kekuatannya habis sudah, tak ada harapan. Menangis pun ia tak mampu lagi. Bajunya tak serapi waktu ia berangkat tadi, acak-acakan dan kotor di sana-sini. Tetapi dalam keputusasaannya itu……
”Gluduk….!” Masih dalam posisi terjerembab, Kartono melihat pencopet itu jatuh tak jauh dari tempatnya. Tanpa buang waktu lagi, kesempatan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lari menuju pencopet dan langsung menindihnya dari atas agar tidak bisa lari lagi. Semangat Kartono bangkit lagi dan seolah kelelahannya tadi terbayar sudah. Bak harimau yang sedang kelaparan direbutnya kembali tas yang sedari tadi diincar dalam proses pengejaran.
”Ini tasku, di dalamnya ada ijazahku. Jangan pernah mengambilnya dariku dan jangan pernah mengambil barang yang bukan menjadi hakmu!” Setelah mengatakan itu Kartono melenggang pergi. Tak terpikir olehnya untuk memukuli apalagi membunuh orang tadi. Mungkin karena kelelahan yang amat sangat dan waktu yang telah terbuang padahal masih harus ke kantor tempat interview
”Maaf!” Kata pencopet itu. Ia tak dapat bangkit lagi. Ia hanya dapat melihat kepergian Kartono kembali ke sawah tempat di mana mereka muncul tadi.
S E L E S A I
Yogyakarta, 22 Mei 2005
By : Adnan Anwar
TE UGM 04
No related posts.







May 23rd, 2011 on 8:33 am
musti hati2 nih kalau naik bus, ngomong2 soal jogja, saya juga lagi di jogja, dan memang banyak pencopetan kalau naik bus. hehe.
May 23rd, 2011 on 9:12 pm
Alhamdulillah, kalo saya selama di Jogja belum pernah kecopetan..hehehe..
May 23rd, 2011 on 10:32 am
cerita ini mengingatkan saya pada ibu saya yang kecopetan juga di jalan Garut Tasik, untuk ada angkutan yang sampai kerumah hingga bisa bayar dirumah
May 23rd, 2011 on 9:16 pm
Semoga bisa menjadi pelajaran kita semua…
May 24th, 2011 on 2:07 am
trims buat postingani ini, mampir juga ke blog saya ya.
May 26th, 2011 on 6:16 am
Terima kasih sudah berkunjung, tentu saya akan sempatkan kunjungan balik…