Nostalgia
Dokter Kecil
by pigeon on Sep.10, 2011, under Nostalgia
Peristiwa ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SD Sorobayan 1. Saya agak lupa bulan apa tapi setiap detil kejadiannya saya masih ingat. Awalnya saya, Purnomo(teman satu kelas), dan Mas Jalu(nama lengkapnya Widya Jalu Latri, kakak angkatan kelas 5) digembleng khusus untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba dokter kecil yang akan dilaksanakan beberapa minggu ke depan. Hampir tiap hari kami keluar kelas, dikumpulkan di ruangan khusus lalu diberikan materi-materi yang berhubungan dengan dunia kesehatan. Mulai dari pertolongan pertama, hidup sehat, makanan sehat, dan masih banyak lagi.
Hari demi hari kami lalui dengan kegiatan belajar khusus mengenai dunia kesehatan tersebut. Hingga tiba saatnya hari perlombaan. Saya sendiri belum tahu begitu pasti akan seperti apa perlombaan yang dilaksanakan. Apakah seperti cerdas cermat ataukah praktek simulasi layaknya seorang dokter. Meskipun sebenarnya kami merasa masih sangat kurang dalam hal persiapan tetapi mau dikata apalagi, hari pelaksanaan sudah datang.
Saya datang seperti biasa, pukul 07.00 sudah sampai di sekolah. Kami berangkat bersama guru pembimbing yang bernama Bu Parinah(waktu itu menjawab sebagai wali kelas III). Ketika semua sudah siap, ada satu permasalahan yaitu kendaraan. Saya sendiri tidak punya sepeda waktu itu, guru pembimbing juga tidak punya sepeda motor, sementara Purnomo sama seperti saya tidak punya sepeda. Hanya mas Jalu yang punya. Akhirnya kami memutuskan bahwa saya membonceng Mas Jalu sementara Purnomo membonceng Bu Guru.
Sementara Bu Guru masih bersiap-siap, Mas Jalu punya ide untuk berangkat duluan, saya pun menyetujuinya. Jadilah mas Jalu dengan sepeda “jengki”-nya memboncengkan saya di belakang. Dengan kecepatan santai kami menuju Puskesma Sanden, tempat di mana lomba dilaksanakan. Sampai di sana, kami agak kaget karena lokasi sangat sepi, hanya ada para pasien yang akan berobat. Kami berusaha menunggu di pintu gerbang, mungkin sebentar lagi banyak peserta lain yang akan datang. Karena memang saat kami tiba di sana jam masih menunjukkan pukul 07.30 sementara perlombaan dijadwalkan pukul 08.00.
Setengah jam kami menunggu tetap tidak ada peserta lain yang datang. Kami memutuskan untuk kembali ke sekolah, karena bahkan Bu Parinah pembimbing kami pun tidak kelihatan batang hidungnya. Agak sedikit ngebut Mas Jalu mengayuh sepedanya agar segera sampai di sekolah. Tiba di sekolah kami segera menuju ruang guru untuk mencari Bu Parinah. “Lho, beliau sudah berangkat sejak tadi”. Kata salah seorang guru yang ada di sana. Waduh, kecolongan nih.
Kami memutuskan untuk kembali ke Puskesmas lagi. Mas Jalu masih ngotot dengan kecepatan penuh dalam mengayuh sepedanya, keringatnya mengucur deras terlihat dari bajunya yang sudah mulai basah. Tiba di puskesmas, keadaan masih sama saat kami datang pertama tadi. “Lho, gimana to? Katanya udah berangkat, tapi kok di sini masih sepi?” Tanya kami pada diri kami sendiri. Kami menunggu beberapa menit sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke sekolah.
“Gantian kamu yang mboncengin ya!” Pinta mas Jalu. Saya menyetujui saja. Nggak enak juga sama beliau karena sudah tiga dua kali bolak balik. Asal tahu aja, jarak sekolah kami ke puskesmas tidak kurang dari 3 Km. Artinya Mas Jalu sudah mengayuh sepedanya sepanjang 6 Km dengan memboncengkan saya.
Saya segera mengayuh sepeda pelan-pelan. Tidak disangka, baru separuh perjalanan saya sudah ngos-ngosan. Kerngatku mulai mengucur, bajuku langsung basah. Apa mau dikata, sepeda harus tetap dikayuh. Nggak enak minta gantian sama Mas Jalu. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 09.00, kami pikir apapun yang akan terjadi, kami tidak akan kembali lagi. Paling juga sudah di WO sama panitia karena sangat terlambat. Apalagi kondisi fisik kami yang sudah kelelahan.
Tiba di sekolah, saya segera memarkirkan sepeda di tempat parkir. Tak ayal lagi, bajuku basah kuyub seperti habis kehujanan. Begitu lewat di depan kantor, Bu Parinah keluar dan menyapa kami,”Lho, kalian darimana?” Kami bingung sendiri, dan agak kesal sebenarnya. Kenapa juga masih bertanya, jelas-jelas kami dari Puskesmas yang ternyata tidak ada orang. “Dari Puskesmas, Bu! Tapi di sana tidak ada orang di sana, makanya kami balik lagi.” “”Oalaaaah, pantesan tidak ketemu. Lombanya itu di SD Sanden II, bukannya di Puskesmas.” Kami bengong, ternyata kami salah tempat. “Lombanya dibatalkan karena peserta yang ikut hanya 3 tim, termasuk kalian. Haduh-haduh, adnan kamu sampai keringatan begitu. Kasihan sekali. Ayo ikut Ibu!!” Saya tidak tahu mau dibawa ke mana.
Sementara saya mengikuti Bu Parinah, Mas Jalu kembali ke kelas. Ternyata saya dibawa ke kantin. “Sudah ambil makanan sesukamu, ibu yang bayar.” Hyaaaa….saya nggak bener. Soalnya harusnya Mas Jalu lebih kecapekan daripada saya. Hanya karena saya kebagian mengayuh sepeda yang terakhir hingga keringat masih kelihatan, Bu Guru mengira saya terus yang mengayuh sepeda. Mau bagaimana lagi, saya ambil saja es lilin satu buah.
Buat Mas Jalu, maaf sekali atas kejadian itu ya!!! Semoga ALLAH selalu melindungi-Mu di manapun berada…
Mencari Rempon di Sawah Tebu
by pigeon on May.21, 2011, under Nostalgia
Sebuah kesyukuran, saya dilahirkan di sebuah desa yang masih sangat asri. Persawahan masih sangat luas dan beraneka ragam tanamannya. Rumahku sampai ke persawahan hanya berjarak kira-kira 200 meter. Sangat dekat. Sudah menjadi kebiasaan setiap berapa tahun persawahan yang dimiliki oleh penduduk kampung disewa oleh pabrik gula(PG Madukismo, pabriknya ada di kawasan madukismo, Yogyakarta) untuk ditanami tebu. Yang paling menyenangkan adalah ketika tebu yang sudah matang dan berada dalam proses panen.
Para penduduk biasanya ramai-ramai pergi ke daerah persawahan yang yang sedang panen tebu. Para pemuda biasanya lebih suka meminta tebu yang matang dan diminum airnya, manis dan sangat enak. Sementara orang tua kebanyakan mencari batang tebu yang sudah kering atau daun tebu yang sudah kering untuk dijadikan bahan bakar memasak. Selain itu, anak-anak biasanya mencari “glagah” atau batang yang menghubungkan pohon tebu dengan bunganya. Yang sudah kering biasanya bisa dibuat mainan.
Nha, dalam proses panen selalu ada satu orang yang disebut mandor. Tugasnya mengawasi para penduduk agar tidak sembarangan mengambil tebu yang dipanen. Hal yang kami tangkap ketika mendengar kata “mandor” adalah orangnya pasti sangar, galak, dan tak segan-segan memarahi penduduk. Jelas saja kami, anak-anak, sangat takut jika bertemu dengannya. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Yang bertindak sebagai mandor adalah tetangga kami juga yaitu Pak Harto.
Alkisah, saya dan kakak-kakak saya diminta ibu untuk mencari “rempon” alias batang tebu yang sudah kering. Dengan bersepeda kami berangkat. Sampai di lokasi, kami langsung beraksi. Saya mencari dan mengambil semua batang tebu yang ada di tanah termasuk pucuk tebu yang belum kering sekalipun. Kakak saya yang pertama mengingatkan,”Itu bukan rempon, jangan diambil. Ntar dimarahi mandor!!” Saya membantah,”Ini kan pucuknya, ha bakalan dimarahi.” Kakak saya mengingatkan lagi tapi saya tetep ngeyel. Akhirnya saya memisahkan diri.
Agak jauh saya menyeret sekian banyak pucuk tebu yang belum kering ke sepeda. Tiba-tiba saya kaget mendengar suara,”Hoi, mau dibawa ke mana tebu itu.” Saya menengok. Pak Harto, mandor, mengacung-acungkan celurit sambil menunjukkan wajah garangnya ke arah saya. Saya takut sekali. Saya tidak peduli, tetap saja saya bawa tebu tersebut. Mandor semakin keras berteriak dan berjalan mendatangi saya. Sampai di dekat saya, ia bertanya lagi,”Mau dibawa ke mana tebunya?” Saking takutnya saya tak bisa berkata apa-apa. Saya hanya menjawab,”Rempon.”
“Kayak gini kok rempon, turunkan!!” Bentaknya. Otomatis saya turunkan. Temen-temen saya, melihat adegan itu di pinggir sawah ketawa cekikikan. Saya malu sekali. Masih ada rasa takut saya mendekati kakak saya. “Tadi mandor memarahi siapa?” Tanyanya. Saya mau jujur tapi malu. Lha, tadi sudah diingatkan tapi ngeyel. Akhirnya saya jawab,”Nggak tahu.”
Fiuh, pelajaran saja teman-teman. Apapun nasehat, peringatan, atau kritikan dari orang lain pertimbangkanlah. Siapa tahu memang benar dan akan memberikan sesuatu hal yang baik pada diri kita. Jangan sombong dengan merasa benar sendiri dan berusahalah untuk mau mengakui kesalahan sendiri.
Memori : Mas Sidiq, Mas Heru, Mbak Rahma
Berkemah Saat Kelas 2 SMP
by pigeon on Mar.18, 2011, under Nostalgia
Semenjak SD sampai SMP, kegiatan pramuka adalah wajib hukumnya. Kegiatan ekstrakurikuler ini masuk ke dalam nilai yang ada di raport. Akhirnya, mau tidak mau, suka atau tidak suka, siswa harus tetap mengikuti kegiatan ini. Kalo saya tidak salah ingat ada semacam pangkat yang ada dalam organisasi pramuka. Sewaktu SD, pangkatnya adalah siaga. Sedangkan setelah naik ke jenjang SMP, pangkatnya juga naik menjadi penggalang. Tidak tahu juga apa bedanya, tapi mungkin hanya untuk menunjukkan umur saja.
Kelas 2 naik ke kelas 3 SMP(saya lupa-lupa ingat apakah kelas 2 naik ke kelas 3 ataukah kelas 1 naik ke kelas 2), kami melaksanakan kemah selama tiga hari. Dan inilah pengalamanku kemah selama itu. Pada waktu masih di jenjang SD pernah berkemah tetapi hanya dua hari satu malam, itupun masih di kecamatan yang sama. Kegiatan ini dilaksanakan jauh di kulon progo, saya lupa nama tempatnya.
Persiapan yang dilakukan adalah meminjam tenda, persiapan alat-alat yang harus dibawa, pembagian tugas piket jaga dan tidak lupa membuat pagar untuk membatasi area kelompok kami. Satu kelompok kalo tidak salah berjumlah 15 anak, dan saya menjadi ketua kelompoknya. Aneh, sekali pemilihan ketua waktu itu dilakukan dengan lotere. Yang namanya terambil menjadi ketua. Hari itu pun tiba, kami berangkat pagi-pagi sekali.
Hari pertama tidak ada kendala yang berarti. Semua berjalan dengan lancer dan kami menikmati kegiatan ini. Hari kedua adalah hari yang tak bias aku lupakan sampai hari ini. Dari pagi kakak-kaka panitia membuat berbagai macam peralatan yang saya tahu kemudian itu akan digunakan untuk acara setelah sholat dzuhur nanti. Pesannya singat, jangan sekali-kali menyentuh alat yang telah dibuat oleh panitia.
Jam 10.00 kami memulai kegiatan baru. Yaitu, tiap anak harus mencari kertas yang disebar di area kemah lalu melaksanakan apa yang tertulis di sana. Tibalah giliranku. Aku mendapatkan kertas di bawah palang-palang bamboo yang diikat di pohon oleh panitia serta dekat dengan tenda panitia. Aku agak kesusahan menulis di kertas satu lembar itu. Lalu, ada seorang kakak bilang,”Duduk di palang bamboo itu ada, Dik biar gampang!!” Awalnya saya teringat peringatan awal tadi,”Tidak boleh menyentuh alat yang dibuat panitia” tapi kemudian terpikir juga bahwa yang menyarankan kakak panitia juga, jadi tidak apa-apa.
Dengan santainya saya mengerjakan soal di kertas, sampai akhirnya ada panggilan dari horn,”Yang duduk di atas bamboo harap ke sini.” Saya belum sadar. Tiga kali dipanggil saya belum juga menyadarinya, sampai ada yang mengingatkan. Kaget. Saya turun dengan pelan lalu menghadap kaka panitia. “Adik tahu kesalahannya?” Tanyanya langsung. Saya bingung, lau menyadarinya sejenak kemudian. Saya bilang bahwa salah satu kakak yang menyuruh duduk di situ. Saya dimarahi. “Jangan bawa-bawa panitia atas kesalahan adik.” Haduh, jengkel juga aku. Emang bener kakak panitia yang nyuruh kok.
Hukuman pun ditentukan. Saya dikasih secarik kertas, lalu disuruh naik ke atas bamboo tadi dan membaca tulisan di kertas tadi keras-keras. Saya bilang,”Tidak mau. Nanti saya dihukum lagi karena perintah di awal tidak boleh menyentuh alat itu.” Kakanya marah,”Saya yang buat alat itu, dan saya berhak menyuruh kamu naik ke sana.” Hmmm…..tadi panitia juga yang nyuruh saya duduk, dan saya tetep dihukum juga, gimana sih? Batinku.
Sampai di atas saya buka tulisannya,”TEMAN-TEMAN SAYA DIHUKUM LHO!!” Ternyata suaraku tidak cukup keras. Saya dikasih pengeras suara. Perhatian pun tertuju pada saya. Sebagian ada yang cuek aja tetapi kebanyakan tertawa akan tingkah laku saya. Malu juga sebenarnya, apalagi saya adalah ketua regu. Setelah kembali ke kelompok saya lagi, kontan saja teman-teman menertawakan saya keras-keras. Huh, menyebalkan sekali.
Saya sadar bahwa posisi waktu itu memang mengharuskan mematuhi kakak panitia. Apapun argument yang saya keluarkan tetep saja kalah. Apalagi satu-satunya bukti adalah kakak panitia yang menyuruh saya itu. Yang kalopun ditanya dengan mudah ia bias mengelak dan pastinya panitia lain percaya dengannya. Ya, sudahlah. Biarkan itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi saya sewaktu SMP.
Kenangan di TK ABA Sorobayan
by pigeon on Feb.26, 2011, under Nostalgia
Aku tidak ingat pasti tepatnya tahun berapa. Aku juga tak dapat mengingat tepatnya waktu itu TK nol besar atau nol kecil. Yang aku ingat pasti, aku duduk di sekolah itu, TK ABA Sorobayan. Sungguh sampai sekarang aku masih tidak paham betul apa singkatan dari ABA. Ya….lupa-lupa ingatlah. Beberapa nama yang terlekat erat dalam memori otakku. Purnomo, Ardiana Dewi Sesanti, Dewi Wulandari, Andhik Hermawan. Entah mengapa hanya itu nama-nama yang aku ingat dari sekian banyak penghuni TK tersebut. Maafkan aku teman-teman yang lain, bukannya dengan sengaja aku melupakan kalian tetap karena waktu pertemuan kita yang sudah sangat lama.
Ok-lah. Ada satu kejadian yang aku masih ingat betul. Hanya satu ini kejadian yang sampai sekarang, sedikitpun tidak hilang dari otakku. Sampai sedetil-detilnya aku masih ingat. Seperti kebanyakan siswa sekolah lainnya, kami harus membayar uang SPP setiap bulannya. Kalo tidak salah waktu itu sebesar Rp 500/bulan. Kalo dinilai dengan nilai rupiah sekarang, kecil sekali bukan? Aku saja waktu itu hanya diberi uang saku Rp 100/hari. Toh, masih cukup untuk jajan bahkan kadang sisa malah kadang-kadang masih utuh.
Aku dating diantar ibuku sampai ke pintu gerbang TK. Waktu itu masih belum banyak siswa yang dating. Di depan sekolah ada “plorotan” yang biasanya kami gunakan untuk bermain. Maka aku duduk-duduk sebentar di tempat itu. Tak lama kemudian bu guru dating. Kami senang sekali menyalami bu guru yang baru dating. Karena beliau pasti akan tersenyum manis dan bahagia. Tanpa menunggu lama aku langsung membayarkan uang SPP yang telah diberikan ibuku sebelumnya. Pelayanan diberikan di ruang guru karena memang buku catatan ada di sana.
Selesai aku langsung keluar. Kulihat Dewi(Ardiana Dewi Sesanti) agak terburu-buru menuju ruang kelas sambil membawa kartu pembayaran SPP beserta uangnya. Di depan kantor guru jelas sekali aku lihat uangnya(receh 5 keping, masing-masing Rp 100) jatuh dari tempatnya. Sungguh aku ingin sekali bilang padanya tapi aku malu sekaligus takut. Pertama karena aku belum terlalu dekat dengannya. Kedua karena aku laki-laki dan dia perempuan. Mesi aku tak tahu apa masalahnya dengan itu tapi itu membuatku berbeda daripada bergaul dengan sesame laki-laki. Akhirnya aku diam saja dan masuk ke kelas. Aku sempat membayangkan bagaimana ia akan membayar uang SPP, sementara uangnya jatuh tadi.
Pelajaran pertama aku lalui dengan terus bertanya-tanya. Sampai jam istirahat pun dating. Nha, pada waktu keluar salah satu temenku yang lain(aku lupa siapa namanya, kalo nggak salah Supriyadi) menemukan uang Rp 100 sebanyak 5 keping di depan pintu kelas. Aku diam saja, hanya menonton. Sungguh ia adalah laki-laki yang baik dan jujur. Bukannya menyimpan uang itu, dia justru melaporkannya kepada bu guru. Aku salut pada dia sampai sekarang, anak sekecil itu(padahal waktu itu aku juga sama kecilnya…huehehehe…..) memberikan contoh akhlak yang sangat mulia. Nha, sekarang banyak orang dewasa yang tak tahu malu mengambil uang yang bukan hak miliknya. Na’udzubillahimindzalik.
Pada jam kedua bu guru membuat pengumuman di depan kelas. Menanyakan apakah ada yang kehilangan uang Rp 100 sebanyak 5 keping. Saya sudah yakin pasti Dewi angkat tangan. Sungguh aneh, tak ada yang mengangkat tangannya. Sampai bu guru menanyakan 3 kali tidak ada yang merasa kehilangan. Sebenarnya aku ingin menegurnya tapi sekali lagi rasa malu dan takut itu terlalu besar. Aku diam saja.
Karena tidak ada yang mengaku maka bu guru memutuskan uang tersebut akan menjadi milik penemunya. Ah, saying sekali, batinku waktu itu. Kenapa aku tidak mengambilnya dan melaporkannya pada bu guru? Kalo begitu kejadiannya kan uang itu jadi milikku sekarang? Batinku lagi. Ah, sebenarnya bukan itu masalahnya. Aku masih penasaran, bagaimana mungkin Dewi tidak merasa kehilangan. Padahal jelas sekali aku melihat uang itu jatuh dari plastic yang dibawanya beserta kartu pembayaran. Ah, meskipun aku tanya dia sekarang pasti dia sudah lupa. Akhirnya biarlah ini menjadi tanda tanya dalam diriku.
Hikmahnya, biarlah para pembaca sendiri yang menyimpulkan, ya!!!!
In memories : Ipunk(Purnomo), Dewi(Ardiana Dewi Sesanti), Supriyadi. Moga kalian selalu dalam lindungan-Nya. Amien.
Bebek Mbah Sastro
by pigeon on Feb.04, 2011, under Nostalgia
Hari ahad(aku lebih suka menyebutnya ahad daripada minggu) bagiku adalah hari di mana aku bias bermain sepuasnya dengan teman-temanku. Tapi hari ahad juga merupakan hari di mana aku selalu bangun lebih siang daripada hari-hari biasanya. Alasannya jelas, karena pada hari tersebut aku tidak harus berangkat ke sekolah yang sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, selalu masuk pada pukul 07.00. Pada hari ahad juga aku selalu melakukan kebiasaan jelek itu, tidak mandi pagi. Mengapa? Karena begitu bangun aku langsung cuci muka dan meluncur ke dunia luar bersama teman-temanku. Kadang pada saat masih meringkuh di tempat tidur sudah terdengar suara beberapa anak memanggil-manggil namaku untuk segera keluar dan menghabiskan waktu seharian untuk bermain.
Acara hari ini dimulai dengan mencari melinjo, dan memang acara hari ahad selalu dimulai dengan mencari melinjo. Mungkin tak banyak yang mengalami hal ini tetapi kami selalu mencari melinjo yang jatuh ke seluruh pelosok dusun bahkan sampai ke dusun tetangga. Setelah terkumpul maka bias dijual dengan harga lumayan perkilonya. Biasanya sih antara 3000 sampai 4000 perkilonya. Cukup untuk menambah uang saku yang diberikan orang tuaku.
Pencarian sampai ke dusun sebelah yang sangat dekat dengan sawah. Secara kebetulan kami berpapasan dengan Mbah Sastro. Beliau cukup terkenal di dusun kami, karena beliau adalah satu-satunya yang memelihara bebek dengan jumlah cukup banyak. Sering kami berpapasan dengan beliau pada saat menggembalakan bebeknya. “Selamat pagi. Mbah?” Sapa kami tetapi dalam bahasa Jawa. Beliau diam saja, bahkan tersenyum pun tidak. Kami maklum saja karena beliau juga terkenal agak galak. Mungkin karena sering beberapa bebeknya diambil tanpa ijin oleh beberapa anak yang bahkan kami pun tidak tahu siapa mereka.
Perjalanan pun dilanjutkan. Hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari pertemuan kami dengan Mbah Sastro, terlihat kumpulan bebek sekitar 7-10 ekor sedang mencari makan di sebuah comberan dekat pohon melinjo yang sedang kami cari. Bisik-bisik antara kami pun dimulai. “Eh, itu bebeknya Mbah Satro ketinggalan.” Seorang temanku memulai. “Eh, iya. Gimana nih?” Sambutku. “Kasih tahu Mbah Sastro aja yuk!” Ajak yang lain. “Yuk…yuk…yuk…” Jawab semuanya serempak.
Agak berlari kami menyusul Mbah Sastro yang masih kelihatan dari sini. “Mbah bebeknya ada yang ketinggalan.” Kami serempak, takut kalo hanya satu orang yang ngomong. Mbah Sastro melihat bebek yang sedang digembalakannya. Lalu menoleh kepada kami. “Kalo kalian bias nangkap, bebek itu buat kalian.” Kata beliau. Kaget juga kami mendengar penuturan beliau. Setelah saling pandang beberapa saat, kami segera berlari ke tempat di mana kami menemukan bebek yang ketinggalan tadi. Ternyata masih ada. Beramai-ramai kami mengejar tapi tak satupun bebek yang tertangkap. Akhirnya salah seorang dari kami berkata,”Kok Mbah Sastro baik banget. Bahkan kemarin minta telornya aja nggak boleh.” “Iya…iya….Tapi Mbah Sastro tadi bilang sendiri kan?” Jawabku.
Karena capek akhirnya kami memutuskan pulang. Sampai di rumah ada kakakku dan beberapa pemuda kampong lainnya sedang ngobrol. Langsung saja aku bilang,”Eh, tadi bebeknya Mbah Sastro ada yang ketinggalan. Kata beliau jika bias nangkep jadi miliknya.” Temen-temenku yang lain mengiyakan sambil menganggukkan kepala. Nggak tahu kenapa kakakku dan beberapa pemuda malah tertawa setengahnya mengejek. “Itu bukan bebeknya Mbah Sastro.” Kakakku menjawab. Kami ngeyel dan tetep bilang bahwa itu bebeknya Mbah Sastro. Sampai agak jengkel dengan kakakku.
***
Sampai SMP aku baru sadar bahwa apa yang dikatakan oleh kakakku sangat mungkin. Dan barangkali begitulah kebenarannya. Mana mungkin Mbah Sastro memberikan bebeknya dengan cuma-Cuma, 7 ekor lagi. Untung saja waktu itu kami tidak berhasil menangkap bebek itu. Jika berhasil maka bias dituduh mencuri.
In memory : Agung, Daryanto, Pinut, Gombloh
Memancing di Sawah
by pigeon on Jan.22, 2011, under Nostalgia
Aku tidak ingat kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Dan ingatanku tentang kejadian itu pun tidak seutuhnya. Hanya beberapa potong saja yang bisa kuingat. Tapi yang paling penting adalah bahwa selalu ada kenangan-kenangan di masa kita masih anak-anak yang bahkan belum bisa berfikir matang, yang tidak akan pernah hengkang dari ingatan kita. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Jadi, tidak ada salahnya sebuah kisah ini kepada para pembaca semuanya sebagai bahan bacaan yang semoga bermanfaat.
Seingatku waktu itu aku masih duduk di sekolah dasar. Aku tidak ingat kelas berapa tapi aku bisa memastikan antara kelas 1 sampai kelas 3. Hari Minggu selalu menjadi hari yang menyenangkan bagi pelajar sekolah dasar. Tidak harus pergi sekolah, tidak harus mandi pagi-pagi, tidak harus mengerjakan PR dulu, dan yang paling penting adalah kita bisa main sepuasnya, dari pagi sampai sore sekalipun.
Kakakku yang kedua mengajakku memancing bersama teman-temannya ke sebuah sungai yang membelah persawahan di desa kami. Sungainya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Lebarnya mungkin sekitar 3 meter. Ada jembatan yang mengubungkan sisi sebelah barat dan sisi sebelah timur. Sungai ini tidak pernah kering sepanjang tahun, bahkan pada musim kemarau sekalipun. Dan sungai inilah tempat tujuan kami untuk memancing.
Saya juga tidak ingat betul jam berapa kami tiba di sana. Yang aku ingat adalah matahari sudah sangat tinggi, panasnya membakar. Di pinggir sungai ada beberapa pohon pisang yang kami jadikan tempat untuk berteduh sambil menunggu umpan kami dilahap oleh ikan. Sekitar setengah jam kami menunggu, masih juga belum ada yang mendapatkan ikan. Tetapi di situlah asyiknya memancing. Melatih kesabaran.
Tiba-tiba kakakku berteriak. Aku tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang diucapkannya tetapi aku bisa memastikan bahwa ada ikan yang tersangkut di kail pancingnya. Posisi kakakku memang agak jauh dariku, paling sekitar 5-8 meter. Semua berteriak histeris karena setelah sekian lama, ada juga yang kailnya tersangkut ikan.
Tanpa kami sadari tanah pijakan kakakku longsor ke bawah. Tak ayal lagi kakakku berterik sekerasnya karena tubuhnya jatuh ke sungai. Melihat kejadian itu aku ikut berteriak histeris. Kedalaman sungai yang mencapai 2 meter dari atas sampai permukaan air. Sementara kedalaman air aku tidak tahu. Au mendekat ke tempat kakakku jatuh sambil terus memanggilnya. Hampir saja aku menangis dan mencoba menanyakan solusi pada teman kakakku dengan memandangnya.
Anehnya, teman kakakku justru bersorak dan tertawa. Aku jengkel. Bagaimana mungkin seorang teman menertawakan temannya sendiri yang terkena musibah. Nyawa taruhannya. Aku mencoba mendekat padanya dan ingin menonjoknya tetapi belum sampai ke tempatnya, kakakku muncul dari dalam air dan tertaw-tawa. Aku senang sekaligus jengkel. Sampai segitunya aku khawatir, kakakku malah tertawa senangnya.
Aku tidak bisa berifikir lebih jauh lagi. Tetap saja tak dapat sampai ke logikaku waktu itu. Hal yang sangat berbahaya seperti itu tetapi justru semuanya tertawa girang. Sampai akhirnya aku mengerti dan itu membuatku bangga pada kakakku.
Setiap apa yang kita lakukan sebaiknya kita pahami betul apa resikonya. Dan kalo memang kita siap menghadapi resikonya maka tidak menjadi masalah jika kita tetap mau melakukannya. Tetapi jika tidak sebaiknya mundur saja. Kakakku tahu betul kemampuan dirinya untuk menghadapi resiko jatuh ke sungai. Maka tertawalah dia ketika resiko itu benar-benar terjadi dan dengan mudah ia menghadapinya.
Lomba Nasyid di UII
by pigeon on Oct.23, 2010, under Nostalgia
Mengenang masa lalu menjadikan kita semakin bijak dalam mengarungi samudra kehidupan yang semakin besar gelombangnya ini. Bukan berarti kita selalu berfikir ke belakang tetapi menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan di masa mendatang adalah sesuatu yang bijaksana. Bahkan seorang sopir pun secara berkala akan melihat spion untuk mengetahi apa saja yang telah dilaluinya.
Kejadian ini saya alami ketika duduk di kelas 1 SMA. Keaktifan saya di organisasi keagamaan di sekolah membuat saya dan beberapa teman sering berkumpul untuk membicarakan berbagai macam kegiatan yang akan dilaksanakan. Ide untuk membentuk tim nasyid muncul dari salah seorang teman dari kelas 1.2, namanya Jokos Susilo. Orangnya periang dan terkesan apa adanya, ngomong ceplas-ceplos tapi tidak menyinggung. Ia mengutarakan bahwa kelas 3 dan 2 sudah ada tim nasyidnya lalu mengapa tidak kita membentuk tim nasyid kelas 1?
Terbentuklah sebuah tim nasyid dengan beberapa anggota. Joko Susiloa tentunya, saya sendiri, Dimas Iwandanu, Andi, Akmal, Ibnu, dan Rano. Pembagian yang sudah jelas adalah Andi di suara 1 dan Ibnu di suara bass, yang lainnya nggak jelas. Maklumlah masih baru dan belum punya pengalaman. Latihan pun mulai kami lakukan. Kalo nggak salah tiap hari Kamis sore.
Berlatih sendiri ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Tidak ada yang bisa memberikan petunjuk bagaimana bernasyid yang baik karena memang pada dasarnya tidak ada yang punya basic kemampuan ataupun kemampuan bernasyid. Hanya Rano yang pernah punya pengalaman di seni suara sewaktu SMP tetapi nasyid tentu berbeda dengan seni suara yang ia geluti dulu. Akhirnya kami memutuskan untuk minta diajari oleh tim nasyid kelas 2.
Tidak sesuai harapan, mereka sendiri masih agak kacau. Meskipun sedikit lebih baik daripada kami tetapi tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepada kami. Keputusan jatuh ke tim nasyid kelas 3. Lumayan. Mereka sudah punya pengalaman manggung di sana sini. Yang paling sering melatih kami waktu itu adalah Mas Egha, Mas Aldi, Mas Denis, dan Mas Bayu. Perlahan-lahan latihan kami menunjukkan hasil.
Hingga ada undangan lomba nasyid yang diadakan oleh Uniersitas Islam Indonesia. Dengan semangat membara kami mendaftar. Kalo tidak salah biaya pendaftaran ditanggung oleh organisasi. Dengan semangat kami berlatih lagu wajib yang harus dilantunkan yaitu I’tiraf yang dibawakan oleh salah satu tim nasyid paling beken dari Malaysia. Lagu kedua adalah pilihan tapi saya lupa kami memilih apa dulu.
Hari perlombaan pun tiba. Tidak disangka ternyata pesertanya hanya ada tiga tim, yaitu kami kemudian tim dari SMA 4 Yogyakarta dan satu lagi saya lupa. Kami mendapat giliran yang pertama. Deg-degan tapi menyenangkan. Kami tampil loss saja tak peduli hasilnya gimana yang penting tampil sebaik mungkin. Alhamdulillah, kami berhasil menampilkan performa terbaik kami.
Pada saat pengumuman, kami deg-degan. Bukan karena ingin juara 1 tetapi takut berada di rangking 3, lha pesertanya kan cuma 3. Rasa penasaran kami berganti menjadi rasa senang dan gembira ketika yang menjadi juara pertama adalah tim kami. Sungguh tak disangka. Sebenarnya tim dari SMA 4 lebih bagus performa maupun suaranya tetapi di tengah penampilan lead vocalnya lupa lirik sehingga sempat terhenti beberapa saat. Sehingga kamilah yang jadi juara 1. Selain piala, kami juga dapat uang saku 300 ribu. Uang tersebut kami gunakan untuk membeli rebana.
In memories : Andi, Joko, Rano, Akmal, Dimas
Semoga Allah selalu melindungi kalian……
Lomba Matematika di SMA 7 Yogyakarta
by pigeon on Oct.22, 2010, under Nostalgia
Masa SMP adalah masa yang sangat gemilang dalam kehidupan saya. Memang bukan yang paling gemilang tetapi di masa itu banyak prestasi yang telah saya torehkan dan membuat bangga kedua orang tua saya. Hal ini tidak lepas dari dukungan teman-teman seperjuangan waktu itu. Dan juga tentu saja dukungan serta bimbingan dari para guru yang tidak lelah mengajari.
Pada waktu kelas 3, saya paling senang mengikuti lomba, khususnya lomba mata pelajaran. Tidak hanya lomba bahkan hanya sekedar try out pun saya sangat suka. Banyak sekali manfaatnya. Di samping dapat kenalan baru, saya juga bias mengasah kemampuan seberapa tinggi potensi yang saya miliki. Berangkat dari beberapa try out yang diadakan oleh beberapa bimbel di Bantul, saya mulai terbiasa untuk mengerjakan soal.
Suatu ketika saya ditunjuk untuk mengikuti lomba mata pelajaran Matematika yang diadakan oleh SMUN 7 Yogyakarta. Biasanya saya hanya ikut dalam ruang lingkup kota Bantul saja, maka ini untuk pertama kalinya saya keluar kota Bantul. Hari Minggu, tapi tanggalnya saya lupa. Registrasi dimulai pukul 08.00, maka saya berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 naik bus umum. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. (continue reading…)






