Nasehat
Mari Berbagi
by pigeon on May.29, 2011, under Nasehat
Kalian tahu kawan, apa yang membuat orang bias stress? Jawabannya gampang dan sangat sepele, yaitu masalah berbagi. Tak ada manusia di dunia ini yang mampu hidup dengan mengandalkan pundaknya sendiri. Hanya orang yang sombong dan pembual belaka yang mengatakan demikian. Akhir-akhir ini saya sangat merasakan betapa dengan berbagi bias mengurangi beban yang ada dalam pikiran. Tidak harus dengan bercerita, cukup berkumpul dengan orang-orang tercinta di sekitar kita. Entah mereka adalah saudara kita, sahabat kita, teman kita, atau bahkan orang yang baru kenal sekalipun.
Saya sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya tetapi yang saya alami adalah sebuah semangat yang meledak-ledak setelah berkumpul dengan orang-orang tercinta. Memang pada dasarnya masalah yang sedang menghadang belum terselesaikan sama sekali tetapi semangat, ya semangat itulah sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dengan semangat, maka memikul berat sebesar apapun akan dengan mudah bias dilakukan. Aneh, memang. Bagaimnana bias begitu?
Manusia memang diciptakan dengan segala macam keunikannya. Tidak banyak yang menyadari bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Banyak misteri yang masih belum bias diungkap perihal tingkah laku manusia. Hubungannya dengan kemampuannya untuk memunculkan suatu kekuatan yang melebihi batas kemampuannya. Hanya dengan dorongan semangat orang-orang di sekitarnya ia bias menembus batas itu.
Seorang pelari marathon yang sudah kehabisan napas. Ia berfikir tak akan sanggup lagi meneruskan perlombaan. Semua kekuatan yang ada dalam dirinya sudah habis terkuras selama perjalanan yang sudah dilalui. Sementara itu, terlihat olehnya istri dan anak tercinta berada di balik garis batas jalan. Sambil bersorak-sorak dan melambaikan tangan untuk memberikan dorongan moril kepada suami dan ayah tercinta mereka. Keajaiban pun terjadi. Seolah muncul kekuatan yang entah datangnya dari mana. Ia bias berlai lagi bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Bagaimana bias? Tentu saja bias, karena ia adalah manusia.
Kita harus menyadari bahwa manusia memiliki potensi yang sangat besar. Kita tidak tahu seberapa jauh potensi itu bias digali tapi yang jelas potensi itu masih banyak dan siap dimunculkan. Hanya saja butuh moment yang tepat untuk membangkitkannya. Salah satunya adalah dengan berbagi. Orang yang kesehariannya hanya berdiam diri di kamar memiliki kecenderungan lamban dalam bertindak. Saya yakin bahwa dengan berbagai sesamannya maka sebenarnya kita sedang menggali sebuah mata air potensi yang siap memancar bila saatnya sudah tiba.
Maka dari itu. Yuk, kita sama-sama berbagi. Dalam suka maupun duka, senang maupun sedih. Kepada teman dekat ataupun teman yang jauh. Jika kita peduli kepada orang lain maka sebaliknya orang lain pun akan peduli dengan kita. Apa yang kita keluarkan sebenarnya sama dengan apa yang akan kita terima nantinya. Semakin banyak kita berbagi maka semakin banyak pula kita akan dibagi.
Belajar adalah Hiburan
by pigeon on May.26, 2011, under Nasehat
Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan hiburan? Menurut saya, hiburan adalah suatu hal(bias berupa barang ataupun pekerjaan, yang bias membuat hati kita menjadi senang/bahagia. Jadi, intinya adalah membuat hati kita senang, tidak tergantung pada apa dan bagaimana barang/pekerjaan tersebut, yang penting membuat hati kita menjadi senang. Maka, sebenarnya tidak bias kita mengatakan bahwa hiburan adalah pergi ke kebun binatang, atau memiliki suatu barang yang mewah. Bagi sebagian orang mungkin ya, tetapi bagi sebagian yang lain mungkin bukan.
Tetapi sebaik-baik hiburan adalah sesuatu yang tidak hanya membuat hati kita senang tetapi juga memberikan dampak positif kepada diri kita. Seperti kata pepatah “Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau sambil menyelam minum air.” Jika yang kita dapatkan dari suatu hiburan hanya kesenangan semata maka nilai kemanfatannya kurang bukan?
Suatu kali saya pernah melihat seseorang yang rajinnya bukan main. Tiap hari belajar-belajar dan belajar lagi. Hampir tiap kali saya bertemu dengannya, pasti sedang belajar. Bahkan di hari Minggu yang bagi kebanyakan orang merupakan hari di mana menyegarkan otak dan pikiran dengan cara mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan seperti memancing, jalan-jalan, ke tempat-tempat yang indah, dan lain sebagainya. Tetapi bagi dia, hari Minggu tetap saja diisi dengan belajar. Lalu, sayapun bertanya,”Kamu ini kok belajar terus, apa nggak butuh hiburan? Apa pikiranmu nggak sumpek dan jenuh karena terus belajar?” Jawabannya singkat saja,”Tentu saja tidak, karena bagi saya belajar adalah hiburan.”
Saya kaget. Belajar, yang bagi sebagian orang(terutama yang masih sekolah dan atau kuliah) merupakan pekerjaan yang paling membosankan sedunia tapi dijadikan hiburan. Benar-benar hal yang sangat positif, ya sangat positif. Tak ada hal lain yang bias membuat orang menjadi cerdas dan berilmu selain belajar. Maka dengan menjadikannya sebagai hiburan maka seseungguhnya hal yang sangat luar biasa.
Bayangkan saja jika semua orang bias melakukan hal itu. Ketika saya diskusikan dengan beberapa orang, kebanyakan sudah nyerah duluan dengan mengatakan,”Wah, kalo aku jelas nggak bias.” Artinya, bagi beberapa orang(mungkin termasuk saya), belajar merupakan pekerjaan yang masuk dalam daftar blacklist yang akan dikerjakan jika perlu saja. Atau mungkin lebih tepatnya jika terpaksa saja.
Memang bukan merupakan hak orang lain untuk memaksa seseorang belajar dengan rajin. Tetapi bangsa ini membutuhkan orang-orang cerdas untuk membangunnya menjadi negara yang kuat dan makmur. Dan itu tidak akan dapat dicapai kecuali dengan giat dalam belajar dan bekerja. Jadi, mengapa kita tidak menjadikan belajar sebagai suatu hiburan yang menyenangkan?
Ikhlas (Pinjam – Meminjam)
by pigeon on May.22, 2011, under Nasehat
Ikhlas adalah perbuatan yang sangat mulia. Bagi siapa saja yang bisa melakukannya maka pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Hal ini sesuai dengan kadar kesulitannya yang juga luar biasa. Sebenarnya ikhlas berhubungan erat dengan perasaan. Seberapa jauh kita bisa mengelola perasaan kita. Memang sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena kita tidak memerlukan modal apapun berupa materi. Susahnya karena kita memiliki ego yang selalu mengutamakan diri sendiri.
Asal tahu saja, kawan. Ikhlas memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu harus ditengok dari semua sudut pandang, baik dari diri sendiri dan juga dari luar diri. Kalo kita hanya menengok sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri, maka saya jamin tak akan ada kata ikhlas dalam kamus kehidupan kita. Allah berusaha mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita juga harus menghormati orang lain.
Banyak sekali aplikasi ikhlas yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah ikhlas dalam hukum pinjam meminjam. Agar pembahasan tidak terlalu panjang maka saya khususkan bagi orang yang meminjamkan saja. Karena bagi orang yang meminjamkan, penerapan sifat ikhlas jauh lebih terasa daripada orang yang meminjam.
Meminjamkan sesuatu kepada orang lain adalah tindakan yang sangat mulia kawan. Kita membantu kesulitan orang lain sehingga ia terbebas dari kesusahan. Hanya saja kemuliaan itu tidak akan ada harganya jika tidak diikuti dengan ikhlas. Ikhlas dalam meminjamkan barang yang kita miliki kepada orang lain.
Ikhlas dalam hal ini artinya kita rela seandainya nanti barang yang dinpinjam sudah dikembalikan memiliki kondisi yang tidak sesuai dengan ketika kita meminjamkan. Misal ada cacat, ada goresan, ada sesuatu yang kurang, rusak, dan lain sebagainya. Kecuali sudah ada perjanjian sebelumnya bahwa barang kembali harus sama persis dengan barang ketika keluar(tapi kayaknya susah deh untuk memenuhi syarat ini).
Yang kadang bikin kita susah menerapkan ikhlas adalah ketika barang yang kita pinjamkan menjadi cacat, rusak, berkurang jumlahnya, dan atau berubah warnanya sementara si peminjam diam saja tanpa merasa bersalah sama sekali. Kadang ia justru diam pura-pura tidak tahu. Ada juga yang justru menghindar dengan mengatakan,”Itu sudah semenjak saya pinjam sudah begitu.” Jengkel tidak jika kita diperlakukan seperti itu. Akan lebih mudah jika si peminjam mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan meminta keredhoan dari pemilik barang untuk mengikhlaskannya. Syukur-syukur mau bertanggung jawab memperbaiki atau mengganti.
Saya sendiri kadang masih susah sekali untuk bersifat ikhlas dalam kondisi seperti itu. Kewajiban si peminjam adalah menjaga agar barang yang dipinjam dijaga dengan baik tetapi seolah mereka cuek bebek. Parahnya ada yang berprinsip,”Ah, mumpung cuman pinjam, rusak ga papa.” Justru kebalik, orang mau meminjamkan berarti memberikan amanah untuk menjaga barang itu. Jika si pemilik barang tidak mengikhlaskannya bisa jadi pengganjal masuk surga bagi si peminjam.
Untuk itu, mari kita mencoba berusaha sekuat mungkin untuk berperilaku bijak. Bagi si pemilik barang yuk kita belajar ikhlas untuk barang yang kita pinjamkan. Dan untuk si peminjam yuk kita belajar menjaga amanah dengan berusaha menggunakan barang yang kita pinjam sebaik mungkin. Dan apabila terjadi kerusakan kita mau mengakuinya terus terang.
Bahagianya Melihat Senyum Mereka
by pigeon on May.20, 2011, under Nasehat
Apa yang anda lihat ketika memandang wajah kedua orang tua anda? Tak banyak yang sadar bahwa di dalam teduhnya pandangan mereka tersimpan sejuta harapan agar anak-anaknya meraih kesuksesan lebih daripada yang mereka alami. Kebahagiaaan mereka adalah ketika melihat anak-anaknya sukses dalam menjalani kehidupan, baik itu dalam bentuk sekolah, kuliah, pekerjaan, ataupun rumah tangga.
Kadang kita berfikir bahwa yang ingin kita berikan kepada kedua orang tua kita adalah materi. Berbagai macam barang dan fasilitas dunia hendak kita berikan kepada mereka. Tapi kadang justru bukan itulah yang mereka inginkan. Saya yakin Bapak/Ibu akan lebih senang melihat kita bahagia daripada diberikan materi yang melimpah. Memang harus sebijaksana mungkin melihat kondisi mereka.
Tidakkah kita berfikir ketika kita sesame saudara kandung bertengkar, apalagi di depan mata mereka. Sedih pastinya yang mereka rasakan, betapapun kita memberikan hadiah apapun juga. Lihatlah ketika kita murung, orang tua akan dating menegur menanyakan perihal masalah yang kita hadapi. Karena mereka juga ikut merasakan kemurungan kita.
Memang suatu kali kita perlu untuk memberikan hadiah. Sekedar untuk menunjukkan kasih saying kita kepada mereka. Tapi materi bukanlah segalanya. Eksistensi kita di depan mereka yang lebih dibutuhkan. Apalagi jika rumah kita jauh dari mereka. Hanya sekedar suara di telepon yang bahkan jauh dari suara aslinya sudah bias membuat mereka tersenyum. Apalagi jika kita bias menyempatkan diri untuk sekedar mampir bertatap muka di tengah kesibukan kerja. Pastilah membuat mereka sangat bahagia.
Mereka bangga ketika melihat anak-anaknya meraih kesuksesannya masing-masing. Mereka merasa puas bahwa pengorbanan yang mereka lakukan selama ini telah membuahkan hasil yang sangat manis. Perjuangan yang mereka lakukan tidak bias diukur dengan materi. Hanya kasih saying yang bias membasuh luka-luka lama selama mereka mendidik kita.
Sungguh kejam seorang anak yang berani melawan orang tuanya. Kadang kita terlalu egois dengan mengatakan bahwa cara berfikir mereka kuno, ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan zaman sekarang. Memangnya seberapa banyak pengalaman kita menyelami kehidupan dibandingkan mereka. Kalaupun kita belajar sampai jenjang yang lebih tinggi daripada mereka maka sesungguhnya kita belajar teori. Sementara mereka belajar dari pengalaman langsung. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Lalu, mengapa muncul pemikiran bahwa kita lebih pandai dari mereka?
Dulu mereka selalu mengerti dan memahami keadaan kita. Waktu masih bayi, balita, sekolah, kuliah, sampai kerja pun mereka tetap mau mengerti keadaan kita. Lalu, ketika kita sudah dewasa dan mampu berfikir sendiri, mengapa tidak gentian, kita yang mengerti dan memahami keadaan mereka. Ketika mereka ngotot anaknya harus jadi ini jadi itu. Kita harus bias memahami dan mengerti. Dan menjadi tugas kita untuk menerangkan secara arif ketika ada perbedaan pendapat dengan mereka.
Bagi saya, senyum Ibu dan Bapak adalah kebahagiaanku. Aku selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa jerih payah mereka mendidikku tak akan sia-sia. Buah yang matang bias segera mereka petik dan dinikmati sesuka hati.
Berbuatlah Sesuatu Hari Ini
by pigeon on Mar.28, 2011, under Nasehat
Kadang kita tidak menyadari bahwa alam yang kita huni sekarang ini berlandaskan hukum sebab-akibat. Akibat akan terjadi jika ada sebab. Jika kita melakukan sesuatu hari ini maka di kemudian hari entah tepatnya kapan akan terjadi sesuatu yang lain sebagai akibat dari apa yang kita lakukan hari ini. Seperti para petani yang menanam padi hari ini maka mereka akan menuai beras 6 bulan yang akan dating(dengan asumsi proses pertumbuhannya lancar). Jika logikanya dibalik maka tidak akan terjadi apa-apa di kemudian hari seandainya kita tidak melakukan apa-apa hari ini.
Pertanyaannya adalah, apa yang harus kita lakukan hari ini? Banyak orang yang terjebak pada pertanyaan ini. Hal ini sebenarnya sangat simple dan sederhana. Apa yang kita lakukan hari ini sangat mencerminkan apa yang diinginkan seseorang dalam kehidupannya. Maka jika kita ingin tahu apa sih sebenarnya maunya orang ini, lihat saja apa yang ia lakukan(hanya pendapat saya saja). Orang yang sangat taat beragama, yang setiap hari ia isi dengan beribadah kepada Tuhannya maka sudah pasti visinya adalah sukses kehidupan dunia dan akhirat. Orang yang sangat rajin dalam bekerja maka kemungkinan besar ia menginginkan kesuksesan dalam hal materi. Orang yang sangat giat berorganisasi yang bergerak di bidang social maka kemungkinan besar ia ingin menjadi orang yang berguna bagi lingkungan sektarnya, dsb.
Saya di sini berbicara ideal. Jadi, yang saya maksud orang yang taat beribadah adalah yang memang taat beribadah dalam arti yang sebenarnya, ya badannya ya hatinya, ya pikirannya. Karena tidak jarang kita melihat orang yang rajin beribadah hanya untuk mendapat penghormatan orang-orang sekitarnya. Dan juga yang saya maksud orang yang sangat rajin dalam bekerja juga dalam arti yang sebenarnya. Kita pasti pernah melihat orang yang rajin bekerja tetapi karena keterpaksaan.
Nha, selanjutnya apa yang sebenarnya yang kita inginkan dalam hidup ini? Tanyalah pada diri anda masing-masing. Jika sudah jelas keinginannya maka segera lakukan langkah-langkahnya hari ini juga. Ada yang mengatakan bahwa kebanyakan orang menyesal bukan karena telah melakukan sesuatu tetapi mereka menyesal karena tidak melakukan sesuatu. Kalimat yang sering mereka keluarkan adalah,”Ah, mengapa kemarin aku tidak begini?”,”Aduh, seharusnya dulu saya begitu”,”Hah, seandainya dulu saya begini” dan lain-lainnya. Ya, saya juga pernah mengalami yang demikian. Lebih baik gagal karena kita melakukan sesuatu daripada kita menyesal karena tidak melakukan sesuatu.
Jika kita bingung mengenai apa yang harus kita lakukan hari ini maka segera perbaiki keinginan kita. Karena keinginan itulah yang akan membimbing kita untuk melakukan apa-apa yang perlu untuk meraihnya. Jika kita berada di Jakarta maka kita akan bingung mau ke mana seandainya tidak ada tujuan yang jelas. Tetapi jika kita sudah tahu bahwa di Jakarta kita ingin mendapatkan hiburan dan rekreasi maka dengan cepat kita akan bias menentukan arahnya, yaitu ke TMII misalnya, atau ke Ancol, atau ke Dufan. Selanjutnya kita akan lebih mudah menentukan transportasi apa yang ingin kita gunakan. Apakah mau naik bus way, atau taksi, atau malah menyewa mobil pribadi. Semua akan menjadi jelas jika keinginan kita juga jelas.
Kesimpulannya jika kita tidak melakukan apa-apa hari ini maka jangan harap akan menuai hasil di kemudian hari. Lakukan sesuatu hari ini maka kita akan menuai hasilnya di masa yang akan dating.
Dahsyatnya Ilmu
by pigeon on Mar.11, 2011, under Nasehat
Ahad, 22 Agustus 2010
Pagi hari saya menata kamar karena memang sudah menjadi kebiasaan pada hari Ahad, saya melakukan kegiatan beres-beres kamar. Berharap agar pada hari Senin berikutnya yang merupakan hari pertama kerja, mendapati kamar dalam kondisi bersih dan rapi. Memberikan semangat sebelum berangkat kerja. Salah satu yang saya cek adalah kondisi barang-barang yang ada di kamar saya.
Ternyata saya dapati resleting tas yang biasa saya bawa untuk kerja rusak. Waduh, harus ganti sepertinya. Terbersit dalam pikiran saya bahwa harus keluar uang lagi untuk membeli dan membayar jasa penggantian resleting yang baru. Paling tidak minimal Rp 25.000,00 uang harus keluar. Ah, tidak apa-apa yang penting tas saya kembali normal seperti semula.
Akhinya saya putuskan untuk mencari tukang jahit di sekitar Cianjur sini pada sore harinya. Jam 15.45 saya berangkat dari kost. Muter-muter kota Cianjur, belum ketemu juga. Maklum, masih baru di sini jadi belum tahu lokasi tukang jahit. Sudah jam 17.00 lebih msih belum ketemu juga. Padahal adzan maghrib alias buka puasa sebentar lagi. Saya hampir putus asa, hingga untuk terakhir kalinya saya mencoba ke pasar di dekat Ramayana.
Seolah Allah menunjukkan kuasa-Nya. Ada sebuah toko yang memberikan jasa penggantian resleting. Saya segera masuk dan mengutarakan maksud saya. “Maaf, Mas. Resletingnya kosong!!” Haduh, kesimpulannya saya harus segera pulang sekarang. “Tapi, coba lihat dulu mas tasnya.” Saya sodorkan tas saya dan penjual itu melihat-lihat. Setelah mencoba resleting yang rusak dia mengambil tang. Dengan tang tersebut dia menekan kepala resleting beberapa kali dan eng….ing….engggg….resleting saya kembali normal sepeti semula. Alhamdulillah. Saya mau memberikan uang tapi dia menolak. Alhamdulillah, kupanjatkan doa untuknya agar Allah melapangkan rezekinya.
Senin, 23 Agustus 2010
Hari pertama mulai kerja saya ikut kegiatan P2TL. Unit ini adalah salah satu bidang yang ada di PT. PLN(Persero). Tugasnya adalah melacak pelanggan yang melakukan kecurangan dalam penggunaan tenaga listrik. Kalo boleh saya bilang, P2TL adalah polisinya PLN. Dari rumah ke rumah kami menelusuri tiap KWH Meter yang terpasang di rumah pelanggan. Mengapa KWH Meter? Karena kebanyakan kecurangan dilakukan melalui media ini.
Baru dua rumah yang kami teliti, pada rumah ketiga kami menemukan keanehan. Dari beban 200 W yang kami masukkan, hanya 60 W yang terukur di KWH Meter. Artinya ada 140 KWH yang tidak terukur alias tidak dibayar oleh pelanggan ini. Kami melepas KWH Meter dan meneliti pengawatannya. Ternyata ada kawat yang seharusnya tidak berada di sana. Selidik punya selidik, dengan kawat tersebut maka arus yang seharusnya masuk ke alat ukur, menyeberang langsung sehingga tidak masuk dalam pengukuran.
Kami konfirmasikan ke pemilik rumah. Ternyata ia penghuni baru yang tidak tahu apa-apa. Tapi tetap saja tindakan ini harus ada yang mempertanggung jawabkan dan pemilik rumahlah orangnya. Tidak pedulia dia yang berbuat atau bukan. Kami memutuskan listrik ke rumah tersebut untuk sementara sampai ia membayar kekurangan pada bulan-bulan sebelumnya sekaligus dendanya.
***
Nha, dari dua pengalaman saya tadi saya mendapatkan hikmah tentang dahsyatnya ilmu. Di tangan orang yang baik, ilmu bisa sangat bermanfaat bagi orang lain seperti ditunjukkan pada kisah pertama. Bahkan sekecil apapun ilmu itu. Sebaliknya, di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, ilmu bisa merugikan orang lain seperti ditunjukkan pada kisah yang kedua.
Maka dari itu kawan. Allah mewajibkan ummat-Nya untuk menuntut ilmu. Tetapi penguasaan ilmu harus dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Sehingga ilmu tersebut memberikan manfaat bagi diri kita sendiri dan juga kepada orang lain. Jangan sampai menyalahgunakan ilmu yang kita miliki, sayang menurut saya.
Semoga kita termasuk orang yang beriman dan berilmu…
Mempercayai dan Menjaga Kepercayaan
by pigeon on Feb.20, 2011, under Nasehat
Manusia diciptakan dengan sifat dasar yang saling membutuhkan satu sama lain. Ia adalah makhluk social yang kodratnya memang harus saling bekerja sama, saling melengkapi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan secara pribadi maupun kelompok. Contoh saja jika kita ingin makan maka kita harus membeli makanan yang merupakan hasil kerja orang lain. Atau jika kita ingin menulis maka kita membutuhkan orang yang bias membuat pensil dan kertas. Tidak bias dibayangkan jika kita harus mengerjakan semuanya sendiri.
Permasalahan yang muncul adalah ketika kita sangat membutuhkan orang lain sementara mereka tidak secara tanggap mau membantu kita. Suatu ketika kita pasti punya suatu cita-cita yang hendak diwujudkan. Contoh yang kecil saja di dunia perkuliahan. Di sana pasti ada tugas untuk membuat suatu makalah yang harus dikerjakan secara kelompok. Biasanya ada pembagian tugas masing-masing agar beban yang ditanggung masing-masing orang menjadi ringan, di samping agar terjadi keadilan untuk semua anggota.
Di sinilah pentingnya mempercayai dan menjaga kepercayaan. Artinya kita percaya kepada masing-masing anggota bahwa mereka akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan rasa percaya kepada orang lain dalam team ini maka tidak akan menimbulkan prasangka dan iri. Karena prasangka dan iri bias memunculkan pertengkaran dalam team dan juga rasa tidak enak yang mengendap dalam hati. Sebaliknya, karena orang lain juga percaya kepada kita maka kita harus bias menjaga kepercayaan ini dengan cara melaksanakan tugas dengan baik. Ini penting demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Dengan saling percaya dan dan menjaga kepercayaan ini maka akan terjadi keharmonisan yang sangat banyak manfaat positifnya.
Masih banyak contoh kasus yang di dalamnya membutuhkan rasa mempercayai dan menjaga kepercayaan. Bahkan kalo boleh saya mengatakan bahwa hamper setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari yaitu yang melibatkan orang lain di dalamnya, membutuhkan rasa mempercayai dan menjaga kepercayaan. Tugas piket di kost, tugas sekolah, organisasi, olah raga, dan masih banyak lagi. Bukankah sangat menyenangkan jika kita bias mempercayai orang lain dan mendapat timbal balik dari dia berupa tugas yang kita berikan bias diselesaikan dengan baik.
Pernah suatu ketika di mana saya diamanahi sebuah jabatan yang harus membawahi beberapa sub jabatan. Sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan ketika mereka memberikan laporan bahwa tugas mereka sudah dilaksanakan. Sangat terasa lebih ringan tanggung jawab yang harus dipikul. Tak sungkan-sungkan saya memberikan apresiasi kepada mereka karena sikap mereka yang sangat luhur dan patut menjadi contoh bagi saya sendiri.
Yuk, kita saling mempercayai dan juga menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita. Pasti akan menjadi sangat menyenangkan jika hal itu terjadi. Jika kita menitipkan uang 10 ribu untuk diberikan kepada orang lain maka orang lain tersebut juga menerima 10 ribu. Jika kita diberi tugas piket tiap minggu maka kita juga harus menjalankannya tiap minggu. Pasti kehidupan di bumi ini akan menjadi lebih menyenangkan.
Jaga Tingkah Laku Kita
by pigeon on Jan.30, 2011, under Nasehat
Berhubungan dengan orang lain bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena tidak membutuhkan banyak tenaga dan biaya untuk melakukannya. Dikatakan susah karena setiap orang memiliki perangai yang berbeda-beda sehingga kadang tanpa kita sadari seseorang membenci kita. Tetapi di situlah letak tantangannya. Dengan adanya perbedaan kita dituntut untuk bisa beradaptasi dan berkolaborasi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Membina hubungan itu gampang, mempertahankannya agar tetap harmonis, itu yang susah. Tiap manusia memiliki kesukaan dan kebiasaannya sendiri-sendiri. Sesuatu yang kita sukai belum tentu disukai oleh orang lain dan sesuatu yang kita benci belum tentu dibenci oleh orang lain. Sehingga yang paling penting ketika kita ingin membangun keharmonisan(entah dalam hal pertemanan, hubungan suami-istri, saudara, orang tua-anak, dan lain-lain) adalah adanya saling pengertian satu sama lain.
Bagi kita sendiri, harus mengerti apa yang tidak disukai oleh orang yang ada di lingkungan sekitar kita dan bagi mereka juga demikian. Jangankan perbuatan, bahkan perkataan pun harus benar-benar kita jaga. Seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa,”Lidah itu lebih tajam daripada pedang”. Maksudnya adalah bahwa pedang mampu menyakiti seseorang secara fisik, sedangkan lidah mampu memberikan rasa sakit yang luar biasa pada hati/perasaan kita. Luka fisik bisa sembuh dengan segera sedangkan luka hati tidak bisa kita pastikan kesembuhannya.
Kadang secara tidak sengaja kita berkata sesuatu yang menyinggung perasaan teman kita, atau kita mengatakan sesuatu yang menurutnya tidak pantas untuk dikatakan. Sehingga secara tiba-tiba teman kita tersebut membenci atau menjauhi kita tanpa kita tahu penyebabnya. Maka paling mudah adalah mengoreksi diri kita sendiri, adakah perkataan atau perilaku kita yang sudah membuat hatiinya sakit sehingga bertindak seperti itu.
Saya sendiri kadang sulit menerima tingkah laku seseorang yang menurut saya tidak pantas dilakukan. Contoh saja merokok. Di lingkungan tempat saya bekerja, merokok adalah hal biasa. Bahkan dengan keluarnya SK Direksi tentang larangan merokok di area kantor tidak membuat mereka jera. Bagi saya, asap rokok dan abu yang berserakan di mana-mana sangatlah mengganggu. Tapi mungkin bagi mereka seolah biasa saja. Itulah yang harus menjadi bahan renungan kita bersama. Tidak bisakah mereka merokok dengan arif, tanpa mengganggu privacy orang lain yang tidak suka merokok??
Yah, menjadi PR bagi kita semua bagaimana caranya agar kita bisa menjaga keharmonisan antar sesama kita. Saling menghargai hak masing-masing sehingga merasa nyaman satu sama lain. Untuk itu, saya mengajak kepada para pembaca semua untuk berusaha menjaga perkataan dan perbuatan kita agar tidak mengganggu orang-orang yang ada di sekitar kita. Bukankah hal yang sangat menyenangkan kita kita bisa berkomunikasi dan bertindak dengan nyaman?? Yah, setiap orang pasti mendambakan hal yang demikian.
Tak ada kata terlambat untuk memulai. Mulailah dari diri kita, mulailah dari hal-hal yang kecil dan mulailah sekarang juga.
Hati-Hati dengan Kata Orang
by pigeon on Jan.19, 2011, under Nasehat
Ketika kita memutuskan untuk menjadi manusia yang mau bergaul dengan banyak orang maka kita juga harus siap dengan segala macam kata-kata yang akan mereka keluarkan. Ada begitu banyak orang yang bergaul bersama kita maka sebanyak itu pula jenis kata-kata yang akan kita terima. Pertanyaannya adalah apakah kita siap dengan segitu banyaknya jenis kata-kata?
Siap atau tidak siap kita harus siap. Karena jika tidak kita akan mudah terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Memang benar bahwa kata-kata itu hanya sekedar angin lalu saja sebelum kita mengijinkannya memasuki ruang-ruang pikiran kita. Tetapi namanya manusia pasti punya celah yang sadar atau tidak kadang pintu itu terbuka dengan sendirinya sehingga membuat beban pemikiran yang dalam buat kita.
Moment adalah saat yang penting kita perhatikan. Betapa kita sudah berusaha untuk tegar pada prinsip yang sudah kita pegang sejak awal. Tetapi saat moment-moment tertentu kita akan terpengaruh juga, minimal akan memikirkan ulang apa yang sudah kita pegang sebelumnya. Dan inilah yang sangat berbahaya, terutama bagi kalangan pemuda.
Masa yang cukup sulit adalah perpindahan dari masa kuliah ke masa kerja. Itu adalah moment di mana seorang pemuda masuk ke dunia yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Dunia kuliah yang serba disajikan dalam cover ideal sementara dunia kerja yang idealisme itu seolah hanya kulit yang sangat tipis dibalik tebalnya realita yang jauh dari ideal. Pengaruh yang begitu kuat tiba-tiba saja menyeruak dan mempengaruhi alam bawah sadar kita.
Banyak orang mengalami perubahan yang sangat drastis ketika melalui masa ini. Yang harus kita perhatikan adalah apakah perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik atau ke ara yang lebih buruk. Tentu saja kita semua menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi seperti kata pepatah orang jawa yang mengatakan bahwa,”Ana rega ana rupa” alias ada harga yang harus dibayar.
Kuncinya adalah ketika kita sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah maka prinsip itu harus kita pegang penuh. Suatu ketika kita ragu dengan prinsip itu maka segera konsultasikan kepada orang yang lebih tahu daripada kita. Jika kita biarkan saja keragu-raguan itu mengendap di dalam otak kita maka semakin besar kemungkinan pintu gerbang keyakinan kita akan jebol.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa memang sangat sulit dan berat untuk mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Apalagi kita berada di lingkungan yang kurang mendukung dengan apa yang kita yakini. Tetapi bukankah memang semua itu butuh pengorbanan? Dan setiap pengorbanan, jika kita melakukannya dengan ikhlas dan sabar akan memberikan hasil yang kadang kita sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya. Hanya ALLAH-lah yang tahu mana yang terbaik buat kita.
Jika ada ujian akan keimanan kita kepada-Nya maka sebenarnya itu adalah test terhadap kekuatan kita. Sanggupkah kita? Dan ALLAH sudah berjanji, Dia tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Maka tidak ada alasan untuk menyerah. Yakin akan kemampuan kita dan yakin akan janji-Nya. InsyaALLAH, masa depan yang cerah sedang menunggu dis seberang sana.
Yuk, teman-teman. Sebagai golongan muda yang akan memberikan perubahan negeri ini menuju ke arah yang lebih baik, kita mantapkan hati kita akan kebenaran. Jangan mudah terpengaruh oleh golongan tua yang tidak selamanya mereka benar.
Menyikapi Pendapat Orang lain (Bagian 2)
by pigeon on Dec.23, 2010, under Nasehat
Masih berkaitan dengan artikel sebelumnya karena entah mengapa tangan ini masih menuntut untuk menuliskan beberapa ide yang belum tertuang dalam artikel sebelumnya. Dalam artikel ini saya lebih menekankan mengenai latar belakang seseorang berpendapat. Karena hal itu yang menurut saya dijadikan dasar untuk memberikan respons.
Sebelumnya saya menulis bahwa ketika kita menyikapi pendapat orang lain(apalagi kerabat atau teman dekat) maka lihatlah sudut pandang orang yang berpendapat tersebut. Dengan kata lain sisihkan sebentar ego kita untuk langsung mengeluarkan pendapat kita sendiri. Satukan sudut pandang barulah memutuskan apakah mau pro atau kontra. Sehingga jelas permasalahannya. Salah satu hal yang perlu kita lihat adalah latar belakang mengapa seseorang berpendapat.
Banyak sekali latar belakang yang membuat seseorang berpendapat. Maka kita pun harus menyesuaikan responnya. Missal seseorang berpendapat karena ia ingin sombong. Maka saya piker tidak perlu menanggapi isi pendapatnya, karena titik permasalahannya adalah rasa sombongnya. Karena menurut saya percuma mendebat pendapat seseorang yang didasari oleh kesombongan, nggak aka nada hasilnya. Begitu juga pendapat yang didasari karena ingin merendahkan orang lain. Nggak perlu ditanggapi, justru lebih baik jika kita mengingatkan.
Lain jika pendapat tersebut murni karena pemikirannya. Itulah yang dia ketahui maka ia berpendapat demikian. Pernah dengar istilah “Flash of Genius”? Mungkin kalo diterjemahkan menjadi pemikiran sesaat seorang yang cerdas. Saya perluas menjadi pemikiran sesaat yang membuat seseorang mengembangkan idenya. Ya contohnya ketika saya menonton film dengan judul “Flash of Genius” maka tercetuslah ide untuk menulis artikel ini. Atau Newton yang kepalanya kejatuhan buah apel yang membuatnya berfikir tentang gravitasi. Pasti setiap orang pernah mengalaminya.
Menjadi menarik untuk memberikan tanggapan kepadanya. Dan alangkah baiknya jika kita sekali lagi menyamakan sudut pandang. Ketika seseorang berpendapat apakah ia memang pantas mengeluarkan pendapat tersebut. Kadang lebih baik menguji pendapat orang lain kemudian memberikan solusi dari sudut pandang kita sendiri daripada langsung memberikan counter terhadapnya. Bingung, ya?
Ok, deh. Missal saya bilang “Bunga mawar itu indah.” Sebelum anda mencounter pendapat saya tersebut dan mengatakan “Bunga melati lebih indah.” Lebih baik menguji pendapat dari saya. Missal dengan bertanya “Bunga mawar indahnya di mana? Tapi bunga mawar itu berduri lho?” Dan seterusnya….. barulah anda mengeluarkan pendapat “Kalo menurutku sih bunga melati lebih indah.” Dan anda bias membandingkannya dengan bunga mawar versi saya(warnanya, mahkotanya, durinya, baunya, dll). Terjadilah diskusi(maaf, saya lebih suka menyebut diskusi daripada debat) yang menyenangkan.
Lebih teliti lagi jika kita ingin menanggapi pendapat yang berupa tulisan. Untuk menghindari debat kusir yang saya sebutkan sebelumnya maka alangkah baiknya jika kita lebih bijaksana lagi. Tidak semua orang bias mengutarakan pendapat lewat tulisan. Kadang yang dimaksud A tetapi bahasa tulisan mengatakan seolah-olah B. Perlu klarifikasi terlebih dahulu(kecuali media yang digunakan sudah resmi dan diakui bersama, contoh majalah, jurnal, makalah, skripsi, thesis, dll) sebelum kita mencounter. Media tulisan juga dibatasi oleh jumlah kata yang berarti kadang tidak semua ide tertuang di sana.
Kesimpulan saya dalam artikel ini adalah bahwa daripada kita langsung mencounter pendapat seseorang lebih baik menyamakan sudut pandang terlebih dahulu, telusuri latar belakang mengapa ia berpendapat seperti itu, sehingga kita bias memutuskan respon yang tepat. Akhirnya yang terjadi adalah diskusi yang menambah wawasan kedua pihak alih-alih debat kusir yang nggak mutu dan bikin dongkol saja. Apalagi jika sudah muncul kata “pokoknya”…..walah…..
Bayangkan saja jika anda mengatakan “Wah, pemandangan di sini indah.” Dan tiba-tiba orang lain mengatakan “Jelek. Lebih indah pemandangan di sana.” Lalu, anda berusaha sabar dan mengatakan “Menurut saya suasana di sini juga lebih nyaman, banyak pohon menghijau.” Dan orang tadi bilang “Pokoknya di sini jelek. Di sana lebih indah.” Kelihatan nggak mutunya kan orang tadi?
Akan lebih menyenangkan jika orang lain bilang”Ehhhmmmmm, menurut anda keindahan di sini terletak pada apanya?” Lalu anda menerangkan “Yaaa…..di sini banyak pohon menghijau, membuat udara menjadi segar. Anginnya juga tidak terlalu kencang, jadi nyaman buat tubuh kita.” Nha, orang tadi bias melihat fakta-fakta tadi lalu membandingkan dengan pendapatnya sendiri. Misal dengan mengatakan “Iya, sih. Tapi menurutku di sini terlalu ramai. Menjadikannya kurang cocok untuk bersantai. Kalo saya, di sana lebih indah. Yaaa….meskipun pohonnya tidak sebanyak di sini tapi lebih cocok untuk menikmati suasana. Apalagi jika sore hari, melihat matahari terbenam, di sana lebih bagus.” Dan seterusnya….. Lebih enak dan menyenangkan, kan?
Ok, deh. Semoga bermanfaat. Oh, iya. Kalo misalnya saya berpendapat “Anak-anak Teknik Elektro 2004 itu pandai-pandai”. Apa respon yang akan anda berikan?






