Adnan Anwar, ST.

Nasehat

Aku Sudah Menikah

by on Feb.13, 2012, under Nasehat

Postingan kali ini saya hanya mau berbagi kebahagiaan dengan teman-teman pembaca semuanya. Bahwa pada tanggal 23 Januari 2012 kemarin saya(Adnan Anwar) telah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis cantik yang bernama Rahayu Martaning Tyas. Sungguh suatu hal yang sangat luar biasa saya rasakan ketika status yang saya sandang saat ini telah berubah menjadi seorang suami.

Ada banyak perubahan yang saya rasakan dengan adanya ikrar pernikahan yang sudah saya ucapkan. Tidak canggung lagi ketika teman-teman di kantor memanggil dengan sebutan “Bapak”, ada tujuan yang jelas dan focus mengenai apa yang harus saya lakukan ke depan dan masih banyak lagi. Memang sangat menantang tetapi itulah justru yang membuat diri kita menjadi manusia seutuhnya.

Masih ingat dengan salah satu postingan saya terdahulu tentang sebuah kalimat yang diambil dari film Spiderman yaitu “With great power comes great responsibility”. Adalah benar bahwa ketika akad pernikahan sudah diucapkan maka datanglah kekuasaan untuk memimpin sebuah rumah tangga. Seiring dengan datangnya kekuasaan tersebut, dating juga tanggung jawab yang harus dipikul yaitu bagaimana caranya agar rumah tangga yang sudah diawali bias berjalan sebagaimana mestinya sampai tujuan yang diharapkan.

Hal yang sederhana memang tetapi implikasinya luar biasa banyaknya. Tak perlulah saya sebutkan satu per satu. Tetapi justru di situlah letak tantangannya. Hal-hal yang sifatnya kecil, sepele, remeh-temeh, bias membesar jika tidak ditangani dengan segera. Ini yang harus kita sadari di awal membina rumah tangga.

Maka di banyak buku yang membahas tentang pernikahan pasti akan memunculkan syarat pernikahan adalah kesiapan mental. Memang secara tertulis tidak ada tetapi menurut saya, kesiapan mental adalah syarat utama dan pertama yang harus dipenuhi ketika ingin membina rumah tangga jika ingin rumah tangganya sukses dalam perjalanannya.

Lalu, seperti apakah kesiapan mental itu? Yaitu kesiapan untuk hidup bersama dengan pasangan yang kita pilih. Sekali lagi itu adalah kata-kata yang sederhana tetapi implikasinya yang penting. Siap hidup bersama artinya siap berbagi bersama dalam setiap rintangan yang akan muncul dengan mengedepankan solusi dan toleransi bukannya ego pribadi. Dengan bekal itu, insyaALLAH rumah tangga akan berjalan dengan harmonis.

Ini adalah opini saya yang muncul selama saya menjabat sebagai pemimpin rumah tangga yang masih dalam hitungan hari. Jika ada yang kurang tepat mohon sharing dari pembaca semuanya. Akhirnya, mohon doanya agar pernikahan kami langgeng dan doa kami selalu buat pernikahan para pembaca semuanya.

Yang belum menikah, siapkan mental anda dan yang sudah menikah perbaiki terus diri anda agar selalu bias berkolaborasi dengan apik bersama pasangan hidup anda.

Cianjur, 13 Februari 2012

2 Comments :, , , more...

Mundur untuk Menang

by on Sep.27, 2011, under Nasehat

Hidup adalah pertarungan yang tidak akan selesai sampai ajal menjemput kita. Selama itu pula kita berjuang untuk selalu menang dalam setiap kesempatan bertarung. Hanya saja, kemenangan tidak akan  kita dapatkan dengan cara yang mudah setiap kali bertarung. Ada saatnya di mana kita harus berjuang dengan sangat keras agar pertarungan tersebut dapat kita memangkan. Tetapi adakalanya pula kita tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk memenangkannya.

Mendapatkan kemenangan bukan berarti kita harus selalu maju dan menghadang lawan. Memang benar bahwa tindakan offensive sangat identik dengan langkah maju menghadang lawan. Seperti dalam pertandingan sepak bola, ketika tim kita ingin menyerang pihak lawan maka kita harus menggiring bola menuju gawang lawan, yang berarti kita harus melangkah atau bahkan berlari maju menghadang lawan-lawan yang akan datang menghadang.

Dalam pertarungan hidup, strategi sangat diperlukan untuk mendapatkan kemenangan yang kita inginkan. Strategi adalah suatu cara agar kemenangan tersebut bisa kita dapatkan dengan efektif dan efisien. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa ada suatu kesempatan di mana dalam pertarunagn yang sama orang yang mendapatkan kemenangan dengan strategi tidak akan menghabiskan banyak tenaga. Strategi kita buthkan agar sumber daya yang kita miliki dapat terberdayakan sehingga tidak ada pengorbanan yang sia-sia.

Banyak orang yang mengatakan bahwa jika ingin menang maka kita harus selalu maju. Mungkin ada benarnya juga tetapi menurut saya tidak selamanya benar. Kadangkala kita harus mundur dulu untuk mengumpulkan kekuatan, menyusun ulang strategi, dan meminta bala bantuan yang lebih banyak untuk kemudia maju lagi. Kemenangan pun kita dapatkan dengan lebih mudah. Permasalahan yang sangat pelik kadang datang menghampiri kita. Untuk ke luar dari sana, kita tidak harus selalu datang menjemput masalah itu kemudian memecahkannya, bisa jadi justru kita langsung kalah.

Ada kalanya kita harus berhenti sejenak berusaha, merenungkan kembali apa saja yang sudah kita lakukan, menganalisanya  dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah dibuat. Jika perlu kita susun strategi baru untuk menyelesaikan maslah tersebut. Ketika sudah matang maka kita akan lebih matang untuk menghadapi permasalahan itu lagi.

Yang lebih baik adalah permasalahan yang dihadapi tidak kita lawan sendirian. Ketika kita sedang reses untuk memikirkan cara baru, masih ada orang lain yang maju untuk menahan permasalahan tersebut agar tidak meluas. Seperti kata beberapa temanku “Orang yang bertarung dengan otak akan mengalahkan orang yang bertarung dengan otot.” Kita dibekali dengan sebuah organ yang bernama otak, dengan kemampuan luar biasa. Lalu, mengapa kita tidak memanfaatkannya dengan optimal?

Leave a Comment :, , , more...

Yakinlah Maka Kau Akan Berhasil

by on Sep.14, 2011, under Nasehat

Begitu banyak hal di dunia ini yang membutuhkan pengambilan keputusan. Ada yang waktunya banyak tetapi ada juga yang waktunya sangat singkat alias mepet. Dalam setiap pengambilan keputusan selalu saja ada resiko yang mengikutinya. Resiko inilah yang kadang membuat kita ragu alias mangu-mangu, apakah pengambilan keputusan yang kita lakukan sudah tepat atau belum. Maka keraguan inilah yang kadang justru membuat keputusan yang seharusnya benar menjadi salah.

Bagaimana bias demikian? Harus kita pahami bahwa pengambilan keputusan yang tepat harus selalu diikuti dengan tindakan yang tepat pula. Yang lebih penting justru adalah tindakan yang mengikutinya. Sesalah apapun pengambilan keputusan yang dilakukan, jika diikuti dengan tindakan yang tepat maka kesalahan tersebut bias segera diperbaiki. Sehingga yang tadinya salah menjadi benar.

Sebaliknya keputusan yang benar akan menjadi salah ketika tidak diikuti dengan tindakan yang benar. Hal ini sangat sering terjadi. Dan kebanyakan hal ini terjadi karena keragu-raguan. Ketika keputusan sudah diambil maka sebenarnya tidak ada peluang untuk mengubahnya. Yang bias kita lakukan adalah menindaklanjutinya. Kadang kita terlalu focus untuk memikirkan bahwa keputusan itu salah dan berfikir seandainya bias diulang kembali.

Percuma, berfikir seandainya hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya bias kita gunakan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Begitu banyak orang meragukan keputusannya sendiri dan berakibat kegagalan. Bukan keputusannya yang membuat dia gagal tetapi sikapnya terhadap keputusan yang ia ambil. Sangat penting untuk memahami bahwa masa lalu tidak dapat diubah dengan tangan kita, masa sekaranglah yang bias kita ubah sesuai dengan kehendak kita.

Keyakinan yang muncul bahwa keputusan yang dibuat sudah benar akan memunculkan semangat untuk meneruskan keputusan tersebut. Meneruskan dengan tindakan-tindakan berguna yang akan mengubah kesalahan menjadi kebenaran dan kebenaran menjadi kesuksesan. Ya, yakinlah bahwa apapun resiko yang muncul akibat keputusan yang kita ambil pasti bias kita pecahkan dan satu pemecahan resiko sama dengan peningkatan derajat kualitas hidup kita. Artinya semakin banyak resiko yang kita lalui dengan baik semakin tinggi kualitas hidup kita.

Memang tidak mudah untuk segera bersikap ketika keputusan itu sudah diambil apalagi kita merasa bahwa keputusan itu salah. Sangat berat dan penuh dengan penyesalan tetapi yakinlah bahwa hal itu tidak akan berguna banyak. Mengalahkan keraguan adalah salah satu perang terbesar dalam hidup kita selain perang melawan kemalasan. Jangan sampai kemudian membawa orang lain dalam perspektif masalah yang kita hadapi. Seperti mengandikan diri kita dengan seseorang. Percuma, kawan!! Tidak akan menyelesaikan masalah.

Lakukan aksi dengan segera, maka penyesalan dan keraguan itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Keyakinan hanya akan muncul ketika kita percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita mempunyai potensi yang entah seberapa besarnya. Justru karena kita tidak tahu besarnya maka cukup gali semaksimal mungkin. Seperti kata banyak orang, kemampuan manusia itu ada batasnya tetapi yang harus kita ingat adalah kita tidak tahu seberapa jauh batasnya. Lalu, mengapa kita harus membuat batasan kita sendiri yang justru akan menekan kemampuan kita.

Leave a Comment :, , , more...

Dinamika Persahabatan

by on Sep.13, 2011, under Nasehat

Hidup ini tak akan menjadi indah jika kita tidak punya sahabat. Ia bagaikan oase di padang pasir, bagaikan cermin yang selalu memberikan pandangannya tentang diri kita. Ia bias menjadi penawar di kala hati sedang luka. Dan ia bias menjadi tempat berbagi mana kala kebahagiaan dating menjelma. Sebagian besar kebahagiaan kita pasti ada sangkut pautnya dengan sahabat.

Begitu berartinya sahabat bagi kehidupan kita. Bukan berarti ia begitu mudah didapatkan dan dipertahankan. Sulit mencari orang yang bias mengerti tentang diri kita apa adanya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin bukan? Selalu ada saja kendala yang dihadapi ketika persahabatan itu mulai bersemi antara dua atau lebih orang.

Bagaimana seseorang bias menerima kita dengan begitu baiknya? Tatkala kita juga mau menerima mereka dengan sama baiknya. Bukan berarti bahwa dua orang atau lebih yang sudah saling mengerti lalu berjalan mulus tanpa halangan. Sama sekali tidak. Selalu saja ada duri di tengah jalan yang bias membuat roda persahabatan kita tertusuk dan bocor. Masalahnya adalah apakah kita mau berhenti lalu memperbaikinya bersama atau ditinggal saja motornya lalu mencari kendaraan sendiri-sendiri.

Pertengkaran antara dua orang sahabat biasanya hanyalah salah faham. Yang satu tidak bermaksud demikian tetapi sahabat yang lain merasa demikian. Akhirnya terjadilah perselisihan yang akibatnya sangat tergantung dari mentalitas kedua belah pihak. Dalam sebuah pertengkaran harus ada yang menjadi air dan ada yang menjadi batu. Karena kemarahan yang kerasnya seperti batu bias luluh oleh lembutnya belaian air. Jika keduanya menjadi batu maka yang terjadi adalah keduanya akan pecah dan berserakan ke mana-mana.

Akibat dari perselisihan bias menjadikan keduanya memutuskan persahabatan tetapi jika berhasil mengatasinya maka justru akan semakin mempererat persahabatn yang sebelumnya sudah terjalin. Bagaimana tidak? Dari perselisihan maka kita menjadi tahu watak asli sahabat kita dan keduanya bias menjadikan hal itu sebagai bahan koreksi untuk masing-masing personal. Ia menjadi tahu apa yang tidak disukai oleh sahabatnya dan satunya akan menjadi tahu bahwa sahabatnya tidak bermaskud demikian.

Rasa solidaritas antar teman seharusnya menjadi prioritas yang utama jika mau menjadi sahabat yang baik. Ketika kita sudah tahu watak sahabat kita maka sudah sepantasnya kita semakin tahu juga bagaimana membuatnya senang. Jika ia melakukan kesalahan maka tugas kita untuk mengingatkan dan jika ia berbuat sesuatu hal yang baik maka tidak ada salahnya kita mencontohnya. Hanya saja kadang gengsi menjadi penghalang yang sangat mengganggu. Rasa tidak ingin kalah dengan sahabat kita menjadikan kita buta akan kebenaran yang sesungguhnya.

Apalagi jika kita menyinggung masalah wanita. Tidak sedikit persahabatan yang kandas di tengah jalan hanya karena wanita. Pertemuan yang dulunya sering dilakukan menjadi tidak seintens dulu karena salah satu atau keduanya lebih mengutamakan menghabiskan waktu dengan sahabat wanitanya. Bukan menyalahkan sang wanita tetapi kita sebagai manusia dewasa seharusnya bias memprioritaskan mana yang lebih penting dan berguna bagi kehidupan kita.

Maju terus persahabatan di dunia ini!!!!

Leave a Comment :, , , more...

Berjuanglah Sedikit Lebih Keras dari Biasanya

by on Sep.09, 2011, under Nasehat

Suatu ketika kita pasti pernah mendambakan sesuatu dengan begitu inginnya. Sampai-sampai tiap malam kita memimpikannya, tiap jam kita memikirkannya dan tiap detik kita membayangkannya. Sebegitu kuat keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Tetapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Selalu saja harus ada pengorbanan untuk mendapatkannya. Bias berupa pengorbanan materi, pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga, bahkan kombinasi dari ketiganya. Pertanyaannya adalah maukah kita memberikan pengorbanan tersebut ditukar dengan keinginan kita tadi?

Jika keinginan tersebut sangat sesuai dengan pengorbanan yang kita lakukan nantinya pastilah kita tidak akan ragu-ragu untuk menggapainya. Istilahnya yang lebih keren “worthy”. Okelah kita mau melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginan tersebut. Tetapi ternyata tidak semua keinginan dapat kita dapatkan dengan sesuai dengan apa yang pikirkan. Sudah begitu hebatnya kita berusaha tetapi tetap saja belum menghasilkan apa-apa. Mengapa bias demikian? Jelas, karena ada sesuatu yang telah mengaturnya.

Seperti kata orang bijak,”Manusia hanya bias berusaha, masalah hasil tetap Yang Maha Kuasa yang memberikan keputusan”. Harus kita pahami bahwa Dia adalah Zat Yang Maha Kuasa, tidak tergantung pada apapun di dunia ini. Terserah kehendak-Nya mau memberikan apa yang kita inginkan atau tidak. Hanya saja Dia telah berjanji bahwa manusia yang mau berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Tidak disebutkan seberapa besar usaha yang harus kita lakukan. Maka yang dapat kita lakukan adalah terus berusaha sampai Dia memberikan apa yang kita inginkan.

Suatu saat kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin. Percayalah bahwa Dia lebih tahu batas kemampuan kita disbanding kita sendiri. Oleh karena itu berusahalah lebih keras dari biasanya. siapa tahu, yang lebihnya itu merupakan syarat terkabulnya keinginan kita. Jika ternyata belum berhasil juga maka berusahalah sedikit lagi. Siapa tahu Dia ingin menguji kita apakah kita benar-benar yakin dengan keinginan kita. Jika ternyata belum juga dapat maka berusahalah sedikit lebih keras lagi. Siapa tahu ia ingin menjadikan kita lebih daripada orang lain. Jika belum juga kita dapatkan, oh ternyata ia memberikan dalam bentuk lain yang lebih  besar daripada keinginan kita tadi.

Allah bekerja dengan caranya sendiri. Kita sebagai makhluk tidak akan dapat menerka apalagi memastikan tindakan-Nya. Dia hanya memberikan petunjuk apa yang harus kita lakukan. Dan yang pasti petunjuk-Nya tidak akan pernah menyesatkan. Dia tahu segalanya. Dia tahu seberapa besar kemampuan kita, Dia tahu apa yang benar-benar kita inginkan, dan Dia juga tahu apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya, serta Dia juga sangat tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat kita.

Hanya saja kadang kita terlalu terburu-buru memutuskan bahwa keinginan kita tidak terpenuhi. Siapa tahu? Percayalah, kawan. Jika hari ini kamu berusaha lebih keras daripada kemarin maka hari ini kamu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin. Maka, selalu berusaha lakukan dengan lebih keras, lebih sungguh-sungguh, lebih focus, dan lebih semangat daripada biasanya. Maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Leave a Comment :, , more...

Petasan di Bulan Ramadhan

by on Aug.14, 2011, under Nasehat

Sudah hampir separo perjalanan kita menjalani puasa di bulan Ramadhan. Bagi orang yang mengetahui, bulana ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa baginya. Segala macam daya upaya akan diusahakan untuk mendapatkan hasil terbaik. Karena semua kegiatan yang bukan maksiat adalah ibadah, dan pahalanya dilipatgandakan menjadi berlipat-lipat. Bulan ini adalah momen yang tepat bagi orang yang beriman untuk menabung sebanyak-banyaknya pahala dan menghapus sebanyak-banyaknya dosa.

Hanya saja, ada satu kebiasaan yang menurut saya kurang pas sehubungan dengan bulan ini. Petasan, sangat identik dengan bulan Ramadhan. Betapa maraknya petasan di bulan ini jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Saya masih ingat waktu kecil dulu, petasan hanya dinyalakan setelah puasa berakhir sebagai tanda kemenangan kita. Sebagai sebuah perayaan kesyukuran umat Islam.

Tapi saat ini, bahkan ketika bulan ramadhan hari pertama pun bunyi petasan sudah terdengar di mana-mana. Ditambah lagi dengan semakin beragamnya jenis petasan. Bukan hal yang salah ketika seseorang menyalakan petasan tetapi akan menjadi hal yang salah ketika hal itu mengganggu kenyamanan orang lain.

Paling tidak nyaman adalah ketika waktunya setiap umat Islam menjalankan ibadah sholat tarawih, tetapi sebagian orang justru bermain di luar masjid dan menyalakan petasan. Pertama, orang tersebut sengaja meninggalkan salah satu ibadah yang hanya ada di bulan ramadhan yaitu sholat tarawih. Meskipun sholat tarawih hukumnya sunnah, tetapi adalah sebuah kerugian jika sampai meninggalkannya. Kedua, dengan bunyi petasan yang sangat keras maka pasti akan mengganggu jamaah yang sedang melaksanakan sholat tarawih.

Bagi orang beriman yang mengharapkan kekhusyukan dalam beribadah, hal ini akan sangat mengganggu. Bukankah seharusnya kita bisa saling menghargai orang lain? Apalagi beribadah adalah hak manusia yang paling asasi, satu-satunya hak yang tidak bisa diganggu gugat. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka itu tidak berfikir sampai ke sana? Kenapa mereka hanya berfikir akan kesenangan mereka sendiri saja? Padahal jelas, di dekatnya adalah masjid. Dah jelas mereka juga tahu bahwa pada jam tersebut di masjid sedang ada kegiatan sholat tarawih.

Pertanyaan itu sepertinya tidak akan terjawab. Karena ketika suatu saat saya bertanya pada mereka tidak ada jawaban. Justru hanya tertawa-tawa lalu melenggang pergi. Begitu saja seterusnya. Memang sebagian besar pelakunya adalah usia remaja dan anak-anak. Maka sebenarnya kewajiban semua orang tua untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak-anak mereka tentang menghargai orang lain, lebih khusus lagi dalam hal ibadah.

Dan tentu saja kewajiban kita semua sebagai umat Islam untuk terus mengingatkan saudara-saudara kita yang mungkin masih lalai dalam Islamnya. Karena dakwah adalah sebuah perjalanan panjang tiada akhir sampai hari akhir menghampiri kita semua.

 

Leave a Comment :, , , more...

Makna Cinta

by on Jun.11, 2011, under Nasehat

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang gadis yang juga merupakan temanku. Beberapa hal kami perbincangkan hingga pembicaraan mengarah ke masalah cinta. Kebetulan temanku itu sudah memiliki pacar yang ketika aku tanya apakah sudah mantab untuk memilihnya sebagai pendamping ia menjawab dengan ragu-ragu.

Awalnya temanku itu minta didownloadkan beberapa lagu. Setelah saya lihat judulnya kok semua bertema patah hati atau putus cinta. Saya tanya ke dia, mengapa kok suka dengan lagu-lagu dengan tema seperti ini? Secara tidak langsung lagu-lagu seperti itu akan mengarahkan pemikiran kita bahwa patah hati dan atau putus cinta itu hal biasa dan menurut saya itu adalah hal yang kurang baik. Dengan santainya dia menjawab, “Mumpung masih belum menikah gapapa, kan bica cari lagi.” Eik, saya kaget dengan jawaban itu.

Apakah para pembaca merasa kaget dengan jawaban santai semacam itu? Semoga saja ya. Kenapa saya kaget? Dalam agama Islam, cinta itu adalah hal yang teramat suci. Coba para pembaca sekalian cari mengenai cinta dalam ranah Islam. Betapa agung dan luar biasanya cinta. Sesuatu yang terjadi pada hal yang sangat besar maka peristiwa itu juga menjadi sangat besar.

Analoginya begini. Tahu kan yang namanya menawa Eiffel yang ada di Perancis? Bayangkan satu tiang penyangga patah. Menurut anda apakah itu hal yang luar biasa? Ya, pasti iya dibandingkan dengan patahnya tiang bendera di depan sekolah kita. Maka, putus cinta itu adalah sesuatu yang luar biasa. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa bisa sampai putus cinta?

Perceraian dalam Islam harus memenuhi persyaratan yang begitu panjangnya. Kenapa? Karena Islm mencoba untuk tetap mencari perdamaian daripada perpisahan. Tetapi apa yang terjadi pada orang yang sedang pacaran? Apakah putus cinta ketika sedang pacaran tetap adalah hal biasa. Menurut saya, ini adalah mind set yang harus dirubah.

Bahwa ketika kita memutuskan bahwa,”Aku cinta dia” maka sesungguhnya ada konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. Kata ini memiliki efek domino yang sangat panjang. Bagaimana disebut cinta ketika masih berfikir bahwa putus cinta itu adalah hal biasa. Masih bisa mencari orang yang lebih baik dari dia.

Kalo memang masih berfikir untuk mencari yang lebih baik, maka jangan putuskan bahwa kita cinta dengan dia. Karena hal itu hanya akan memberikan rasa sakit bagi kedua belah pihak yang ujung-ujungnya pada hal yang tidak kita harapkan. Artinya, saya sedikit berkesimpulan bahwa orang yang masih berfikir putus cinta itu biasa adalah orang yang memang sedang bermain-main dengan yang namanya cinta. Kasihan orang yang menjadi korban permainannya.

Untuk itu kawan, saya mengajak mari kita kembalikan makna cinta sesuai dengan makna yang sebenarnya. Untuk apa kita mengatakan cinta jika masih berfikir untuk mencari yg lebih baik. Begitu mudahnya cinta berpindah, apakah layak itu disebut cinta. Paling mudah adalah cintailah dia ketika anda memang sudah siap menikah dengannya. Kalo memang tidak mengarah ke pernikahan, lalu untuk apa? Bersenang-senang? Jangan sampai terlena dengan kesenangan dunia, Kawan!!!

Leave a Comment :, , , more...

Mari Berbagi

by on May.29, 2011, under Nasehat

Kalian tahu kawan, apa yang membuat orang bias stress? Jawabannya gampang dan sangat sepele, yaitu masalah berbagi. Tak ada manusia di dunia ini yang mampu hidup dengan mengandalkan pundaknya sendiri. Hanya orang yang sombong dan pembual belaka yang mengatakan demikian. Akhir-akhir ini saya sangat merasakan betapa dengan berbagi bias mengurangi beban yang ada dalam pikiran. Tidak harus dengan bercerita, cukup berkumpul dengan orang-orang tercinta di sekitar kita. Entah mereka adalah saudara kita, sahabat kita, teman kita, atau bahkan orang yang baru kenal sekalipun.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya tetapi yang saya alami adalah sebuah semangat yang meledak-ledak setelah berkumpul dengan orang-orang tercinta. Memang pada dasarnya masalah yang sedang menghadang belum terselesaikan sama sekali tetapi semangat, ya semangat itulah sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dengan semangat, maka memikul berat sebesar apapun akan dengan mudah bias dilakukan. Aneh, memang. Bagaimnana bias begitu?

Manusia memang diciptakan dengan segala macam keunikannya. Tidak banyak yang menyadari bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Banyak misteri yang masih belum bias diungkap perihal tingkah laku manusia. Hubungannya dengan kemampuannya untuk memunculkan suatu kekuatan yang melebihi batas kemampuannya. Hanya dengan dorongan semangat orang-orang di sekitarnya ia bias menembus batas itu.

Seorang pelari marathon yang sudah kehabisan napas. Ia berfikir tak akan sanggup lagi meneruskan perlombaan. Semua kekuatan yang ada dalam dirinya sudah habis terkuras selama perjalanan yang sudah dilalui. Sementara itu, terlihat olehnya istri dan anak tercinta berada di balik garis batas jalan. Sambil bersorak-sorak dan melambaikan tangan untuk memberikan dorongan moril kepada suami dan ayah tercinta mereka. Keajaiban pun terjadi. Seolah muncul kekuatan yang entah datangnya dari mana. Ia bias berlai lagi bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Bagaimana bias? Tentu saja bias, karena ia adalah manusia.

Kita harus menyadari bahwa manusia memiliki potensi yang sangat besar. Kita tidak tahu seberapa jauh potensi itu bias digali tapi yang jelas potensi itu masih banyak dan siap dimunculkan. Hanya saja butuh moment yang tepat untuk membangkitkannya. Salah satunya adalah dengan berbagi. Orang yang kesehariannya hanya berdiam diri di kamar memiliki kecenderungan lamban dalam bertindak. Saya yakin bahwa dengan berbagai sesamannya maka sebenarnya kita sedang menggali sebuah mata air potensi yang siap memancar bila saatnya sudah tiba.

Maka dari itu. Yuk, kita sama-sama berbagi. Dalam suka maupun duka, senang maupun sedih. Kepada teman dekat ataupun teman yang jauh. Jika kita peduli kepada orang lain maka sebaliknya orang lain pun akan peduli dengan kita. Apa yang kita keluarkan sebenarnya sama dengan apa yang akan kita terima nantinya. Semakin banyak kita berbagi maka semakin banyak pula kita akan dibagi.

Leave a Comment :, , more...

Belajar adalah Hiburan

by on May.26, 2011, under Nasehat

Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan hiburan? Menurut saya, hiburan adalah suatu hal(bias berupa barang ataupun pekerjaan, yang bias membuat hati kita menjadi senang/bahagia. Jadi, intinya adalah membuat hati kita senang, tidak tergantung pada apa dan bagaimana barang/pekerjaan tersebut, yang penting membuat hati kita menjadi senang. Maka, sebenarnya tidak bias kita mengatakan bahwa hiburan adalah pergi ke kebun binatang, atau memiliki suatu barang yang mewah. Bagi sebagian orang mungkin ya, tetapi bagi sebagian yang lain mungkin bukan.

Tetapi sebaik-baik hiburan adalah sesuatu yang tidak hanya membuat hati kita senang tetapi juga memberikan dampak positif kepada diri kita. Seperti kata pepatah “Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau sambil menyelam minum air.” Jika yang kita dapatkan dari suatu hiburan hanya kesenangan semata maka nilai kemanfatannya kurang bukan?

Suatu kali saya pernah melihat seseorang yang rajinnya bukan main. Tiap hari belajar-belajar dan belajar lagi. Hampir tiap kali saya bertemu dengannya, pasti sedang belajar. Bahkan di hari Minggu yang bagi kebanyakan orang merupakan hari di mana menyegarkan otak dan pikiran dengan cara mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan seperti memancing, jalan-jalan, ke tempat-tempat yang indah, dan lain sebagainya. Tetapi bagi dia, hari Minggu tetap saja diisi dengan belajar. Lalu, sayapun bertanya,”Kamu ini kok belajar terus, apa nggak butuh hiburan? Apa pikiranmu nggak sumpek dan jenuh karena terus belajar?” Jawabannya singkat saja,”Tentu saja tidak, karena bagi saya belajar adalah hiburan.”

Saya kaget. Belajar, yang bagi sebagian orang(terutama yang masih sekolah dan atau kuliah) merupakan pekerjaan yang paling membosankan sedunia tapi dijadikan hiburan. Benar-benar hal yang sangat positif, ya sangat positif. Tak ada hal lain yang bias membuat orang menjadi cerdas dan berilmu selain belajar. Maka dengan menjadikannya sebagai hiburan maka seseungguhnya hal yang sangat luar biasa.

Bayangkan saja jika semua orang bias melakukan hal itu. Ketika saya diskusikan dengan beberapa orang, kebanyakan sudah nyerah duluan dengan mengatakan,”Wah, kalo aku jelas nggak bias.” Artinya, bagi beberapa orang(mungkin termasuk saya), belajar merupakan pekerjaan yang masuk dalam daftar blacklist yang akan dikerjakan jika perlu saja. Atau mungkin lebih tepatnya jika terpaksa saja.

Memang bukan merupakan hak orang lain untuk memaksa seseorang belajar dengan rajin. Tetapi bangsa ini membutuhkan orang-orang cerdas untuk membangunnya menjadi negara yang kuat dan makmur. Dan itu tidak akan dapat dicapai kecuali dengan giat dalam belajar dan bekerja. Jadi, mengapa kita tidak menjadikan belajar sebagai suatu hiburan yang menyenangkan?

Leave a Comment :, , , more...

Ikhlas (Pinjam – Meminjam)

by on May.22, 2011, under Nasehat

Ikhlas adalah perbuatan yang sangat mulia. Bagi siapa saja yang bisa melakukannya maka pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Hal ini sesuai dengan kadar kesulitannya yang juga luar biasa. Sebenarnya ikhlas berhubungan erat dengan perasaan. Seberapa jauh kita bisa mengelola perasaan kita. Memang sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena kita tidak memerlukan modal apapun berupa materi. Susahnya karena kita memiliki ego yang selalu mengutamakan diri sendiri.

Asal tahu saja, kawan. Ikhlas memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu harus ditengok dari semua sudut pandang, baik dari diri sendiri dan juga dari luar diri. Kalo kita hanya menengok sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri, maka saya jamin tak akan ada kata ikhlas dalam kamus kehidupan kita. Allah berusaha mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita juga harus menghormati orang lain.

Banyak sekali aplikasi ikhlas yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah ikhlas dalam hukum pinjam meminjam. Agar pembahasan tidak terlalu panjang maka saya khususkan bagi orang yang meminjamkan saja. Karena bagi orang yang meminjamkan, penerapan sifat ikhlas jauh lebih terasa daripada orang yang meminjam.

Meminjamkan sesuatu kepada orang lain adalah tindakan yang sangat mulia kawan. Kita membantu kesulitan orang lain sehingga ia terbebas dari kesusahan. Hanya saja kemuliaan itu tidak akan ada harganya jika tidak diikuti dengan ikhlas. Ikhlas dalam meminjamkan barang yang kita miliki kepada orang lain.

Ikhlas dalam hal ini artinya kita rela seandainya nanti barang yang dinpinjam sudah dikembalikan memiliki kondisi yang tidak sesuai dengan ketika kita meminjamkan. Misal ada cacat, ada goresan, ada sesuatu yang kurang, rusak, dan lain sebagainya. Kecuali sudah ada perjanjian sebelumnya bahwa barang kembali harus sama persis dengan barang ketika keluar(tapi kayaknya susah deh untuk memenuhi syarat ini).

Yang kadang bikin kita susah menerapkan ikhlas adalah ketika barang yang kita pinjamkan menjadi cacat, rusak, berkurang jumlahnya, dan atau berubah warnanya sementara si peminjam diam saja tanpa merasa bersalah sama sekali. Kadang ia justru diam pura-pura tidak tahu. Ada juga yang justru menghindar dengan mengatakan,”Itu sudah semenjak saya pinjam sudah begitu.” Jengkel tidak jika kita diperlakukan seperti itu. Akan lebih mudah jika si peminjam mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan meminta keredhoan dari pemilik barang untuk mengikhlaskannya. Syukur-syukur mau bertanggung jawab memperbaiki atau mengganti.

Saya sendiri kadang masih susah sekali untuk bersifat ikhlas dalam kondisi seperti itu. Kewajiban si peminjam adalah menjaga agar barang yang dipinjam dijaga dengan baik tetapi seolah mereka cuek bebek. Parahnya ada yang berprinsip,”Ah, mumpung cuman pinjam, rusak ga papa.” Justru kebalik, orang mau meminjamkan berarti memberikan amanah untuk menjaga barang itu. Jika si pemilik barang tidak mengikhlaskannya bisa jadi pengganjal masuk surga bagi si peminjam.

Untuk itu, mari kita mencoba berusaha sekuat mungkin untuk berperilaku bijak. Bagi si pemilik barang yuk kita belajar ikhlas untuk barang yang kita pinjamkan. Dan untuk si peminjam yuk kita belajar menjaga amanah dengan berusaha menggunakan barang yang kita pinjam sebaik mungkin. Dan apabila terjadi kerusakan kita mau mengakuinya terus terang.

Leave a Comment :, , , more...

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...