Nasehat
Ketika Kenyataan Tak Sesuai Harapan
by pigeon on Apr.03, 2012, under Nasehat
Setiap manusia pasti punya keinginan. Karena dengan adanya keinginan itulah yang membedakan ia dengan benda mati. Keinginan bisa beraneka ragam, bisa dari yang hanya bersifat abstrak sampai yang sangat kompleks sekalipun. Untuk mencapai keinginan itu maka diperlukan adanya usaha. Besar kecilnya usaha sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai keinginan tadi. Maka sebagian besar manusia berlomba-lomba berusaha untuk memenuhi keinginannya.
Tetapi ternyata mendapatkan apa yang menjadi keinginan tidaklah sesederhana yang kita pikirkan. Ada banyak hal yang mempengaruhi keberhasilannya, yang paling besar adalah usaha. Tetapi kadang hanya oleh faktor yang kecil, kita gagal memperoleh keinginan yang sudah lama kita pendam padahal usaha yang dilakukan sudah sangat maksimal.
Contoh yang paling gampang adalah seorang karyawan sebuah perusahaan. Ia terikat oleh kebijakan perusahaan dan pastinya sangat terikat dengan atasan. Saya yakin hampir semua karyawan di dunia ini menginginkan jenjang karir yang menjanjikan. Di mana ia bisa segera mendapatkan posisi penting sehingga bisa menentukan lebih banyak kebijakan daripada hanya sebagai staff rendahan yang lebih banyak disuruhnya.
Tetapi sayangnya jenjang karier seorang karyawan juga ditentukan oleh atasan. Beruntung jika punya atasan yang baik sehingga justru mendukung bawahannya tetapi tidak sedikit atasan yang menghambat, entah disengaja ataupun tidak. Akhirnya, usaha yang sudah dilakukan dengan maksimal terbentur oleh kebijakan atasan dan keinginan pun harus tertunda pencapaiannya.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita menyikapinya? Adalah hal penting bagaimana kita menanggapi sesuatu di luar diri kita yang tidak sesuai dengan jalur yang sudah kita buat sebelumnya. Karena jika salah menyikapi bisa jadi justru semakin membuat diri kita stagnan atau malah mengalami kemunduran.
Maka menurut saya tidak ada kata berhenti dalam berusaha. Bahwa ada banyak penghambat di dunia ini yang akan selalu menghadang langkah maju kita maka seharusnya semakin kuat hadangannya, semakin kuat juga semangat kita. Jika ada kecurangan di dalam pencapaian hasilnya sehingga tidak sesuai dengan usaha yang sudah dilakukan maka yakinlah ALLAH tidak tidur. Ketika dengan ketidaksesuaian itu samaka sekali tidak mengendurkan semangat kita dalam berusaha maka sesungguhnya itu menjadi tabungan keberhasilan kita.
Yang harus kita hindari adalah menjadikan kecurangan orang lain sebagai teladan yang selanjutnya kita tiru. Hanya kemunduranlah yang akan kita dapatkan jika hal itu terjadi. Seperti sabda nabi,”Menghadapi suatu kecurangan maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa, ubah dengan mulutmu, jika tidak bisa cukuplah dengan hati. Itulah yang selemah-lemahnya.
Yuk, kita bersama berusaha menjadi manusia yang selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara-cara yang jujur dan sikap yang dewasa.
Cianjur, 3 April 2012
Saat Sudah Menikah
by pigeon on Mar.01, 2012, under Nasehat
Tulisan yang lalu saya berbagi pengalaman mengenai cara memilih pasangan. Ketika kita sudah mantab dengan calon pasangan yang akan dinikahi maka selanjutnya adalah proses pernikahan yang dimulai dengan lamaran, akad nikah, dan walimatul ‘ursy. Maka, setelah itu adalah kehidupan yang tidak lagi sendiri. Kehidupan yang akan dijalani bersama pasangan yang sudah kita pilih sendiri berdasarkan pemikiran-pemikiran yang matang tentunya.
Kalo boleh saya bilang, pernikahan bukan hanya masalah cinta dan sayang. Itu hanyalah satu lembar kertas dari beribu halaman di dalam buku pernikahan. Maka ketika kita mendudukkan cinta dan sayang terlalu tinggi maka bisa jadi akan mudah tergoncang oleh badai rumah tangga. Mengapa demikian? Karena cinta dan sayang adalah suatu perasaan yang dimiliki manusia. Sifatnya sangat labil dan flukuatif bergantung pada kedewasaan kita.
Oleh karena itu, yang lebih penting menurut saya adalah kesadaran diri akan arti pentingnya akad nikah. Betul, bahwa akad nikah hanyalah pengucapan sederhana dan semua orang yg bisa bicara sanggup untuk mengatakannya. Tetapi implikasinya yang harus kita pahami dan laksanakan dengan sebaik-baiknya. Bahwa di sana ada pengalihan tanggung jawab dari seorang ayah kepada mempelai laki-laki untuk menjaga sekaligus membimbing putrinya ke jalan yang benar.
Nha, tanggung jawab inilah yang harus dipahami betul khususnya oleh sang suami. Bagaimanapun juga ia yang sudah memilih sang gadis untuk menjadi istrinya maka segala macam yang ada pada dirinya harus bisa diterimanya. Bahwa sang istri kurang ini dan kurang itu adalah resiko yang harus ia ambil karena sudah memilihnya. Kadang kita mendengar ada perceraian yang disebabkan karena istri/suami tidak sesuai keinginan. Cara berfikir seperti itu teramat sangat salah menurut saya.
Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, pentingnya mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai calon pasangan ketika hendak menikah. Sebelum akad, pandang calon pasangan khususnya kekurangannya dan potensi kebaikan/keburukan di masa mendatang) tetapi ketika akad sudah diucapkan maka pandangan harus segera beralih menatap lurus ke depan sejajar antara kedua pasangan. Sehingga yang dipikirkan bukan lagi masalah kekurangan dari pasangan kita tetapi bagaimana caranya agar segala rintangan bisa diatasi bersama.
Bayangkan anda sedang berjalan berdua tetapi saling berhadap-hadapan. Bisa jalannya miring keduanya atau satunya ke depan satunya mundur. Jika ada kerikil atau paku di depan sangat mungkin tidak terlihat oleh keduanya. Tetapi jika anda berjalan berdua dengan bergandengan tangan dan sama-sama lurus memandang ke depan maka yang terjadi adalah sinergi yang sangat apik. Jika yang satu tidak melihat ada lubang, maka yang satunya bisa mengingatkan dan sebaliknya.
Yuk, kita sama-sama belajar untuk konsekuen terhadap pasangan yang kita pilih. Setelah pasangan menikah, bukan waktunya lagi untuk saling pandang mengenai kekurangan maing-masing tetapi beralih sama-sama memandang lurus ke arah tujuan bersama yaitu bahagia di dunia maupun akherat
Cianjur, 29 Februari 2012
Memilih Pasangan
by pigeon on Feb.28, 2012, under Nasehat
Hari ini, Kamis, 23 Februari 2012 adalah hari di mana penikahan kami tepat berusia satu bulan. Tak terasa memang karena segala sesuatunya terasa sangat berbeda antara waktu ketika belum menikah dan sudah menikah. Banyak teman-teman saya yang juga berkomentar bahwa ada perubahan dalam diri saya setelah menjadi seorang kepala keluarga. Menurut saya itu adalah keharusan. Situasi dan kondisi sangat berbeda maka harus ada perubahan juga dalam diri saya. Entah dalam hal-hal yang bersifat batiniah maupun lahiriah.
Okelah, saya kira cukup ceritanya tentang saya. Di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang memilih pasangan hidup. Di mana cara ini juga yang saya terapkan sehingga terpilihlah gadis cantik yang saat ini suda sah menjadi istri saya. Harus kita sadari bahwa pernikahan adalah perkara besar. Pernikahan bisa menetukan nasib kita di akherat nanti, apakah surga ataukah neraka. Maka dari itu harus benar-benar diperhitungkan bahkan semenjak memilih pasangan.
Banyak orang yang pikirannya terlalu pendek dalam perkara ini sehingga gagal dalam pernikahannya. Prinsipnya adalah jika kita hanya berpedoman pada hal-hal yang sifatnya duniawi(kecantikan dan kekayaan) maka akan sangat sulit dalam menjalani hari-hari berumah tangga nantinya. Karena semua itu sifatnya sementara dan sangat mudah berubah. Jadi, jika anda jatuh cinta karena kecantikan/ketampanan dan atau kekayaan, maka cinta tersebut akan sangat mudah berkurang bahkan hilang. Jika kita memang cinta pada seseorang maka lahirlah ketampanan/kecantikan bukan sebaliknya.
Lalu, mengingat pernikahan itu adalah sebuah investasi jangka panjang maka kita juga harus melihat calon pasangan kita dalam jangka panjang. Bolehlah jika dia saat ini belum sukses, belum kaya, belum pintar tetapi ketika ada potensi di masa depan dia akan menjadi lebih baik maka mengapa tidak. Daripada kita hanya melihat kondisi dia saat ini tetapi di masa depan justru punya potensi akan meninggalkan kita. Betapa banyak wanita yang menikah karena hanya melihat prianya saat ini tampan dan betapa banyak wanita yang menikah karena hanya melihat wanitanya saat ini cantik. Dia tidak sadar bahwa 10 tahun lagi bisa jadi ketampanan/kecantikan tersebut sudah pudar.
Maka yang saya ingin bagi kepada para pembaca semuanya adalah ketika kita sedang memilih calon pasangan kita, bukalah mata lebar-lebar. Lihatlah dia secara utuh. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang dia, terutama kekurangannya. Karena saya yakin, kelebihan dari pasangan akan dengan mudah kita terima tetapi kekurangan? Tanyakanlah pada diri anda sendiri, mumpung belum akad nikah, apakah anda siap menerima kekurangan-kekurangan tersebut?
Terakhir, lihatlah dia tidak hanya di masa sekarang tetapi juga potensinya di masa depan. Tahukah anda bedanya anak-anak dan dewasa? Anak-anak hanya berfikir apa yang ada sekarang sementara orang dewasa berfikir lebih jauh ke depan. Pernikahan adalah urusannya orang dewasa maka berfikirlah dewasa. Semoga anda mendapatkan pasangan yang terbaik buat anda. BERSAMBUNG
Cianjur, 23 Februari 2012
Aku Sudah Menikah
by pigeon on Feb.13, 2012, under Nasehat
Postingan kali ini saya hanya mau berbagi kebahagiaan dengan teman-teman pembaca semuanya. Bahwa pada tanggal 23 Januari 2012 kemarin saya(Adnan Anwar) telah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis cantik yang bernama Rahayu Martaning Tyas. Sungguh suatu hal yang sangat luar biasa saya rasakan ketika status yang saya sandang saat ini telah berubah menjadi seorang suami.
Ada banyak perubahan yang saya rasakan dengan adanya ikrar pernikahan yang sudah saya ucapkan. Tidak canggung lagi ketika teman-teman di kantor memanggil dengan sebutan “Bapak”, ada tujuan yang jelas dan focus mengenai apa yang harus saya lakukan ke depan dan masih banyak lagi. Memang sangat menantang tetapi itulah justru yang membuat diri kita menjadi manusia seutuhnya.
Masih ingat dengan salah satu postingan saya terdahulu tentang sebuah kalimat yang diambil dari film Spiderman yaitu “With great power comes great responsibility”. Adalah benar bahwa ketika akad pernikahan sudah diucapkan maka datanglah kekuasaan untuk memimpin sebuah rumah tangga. Seiring dengan datangnya kekuasaan tersebut, dating juga tanggung jawab yang harus dipikul yaitu bagaimana caranya agar rumah tangga yang sudah diawali bias berjalan sebagaimana mestinya sampai tujuan yang diharapkan.
Hal yang sederhana memang tetapi implikasinya luar biasa banyaknya. Tak perlulah saya sebutkan satu per satu. Tetapi justru di situlah letak tantangannya. Hal-hal yang sifatnya kecil, sepele, remeh-temeh, bias membesar jika tidak ditangani dengan segera. Ini yang harus kita sadari di awal membina rumah tangga.
Maka di banyak buku yang membahas tentang pernikahan pasti akan memunculkan syarat pernikahan adalah kesiapan mental. Memang secara tertulis tidak ada tetapi menurut saya, kesiapan mental adalah syarat utama dan pertama yang harus dipenuhi ketika ingin membina rumah tangga jika ingin rumah tangganya sukses dalam perjalanannya.
Lalu, seperti apakah kesiapan mental itu? Yaitu kesiapan untuk hidup bersama dengan pasangan yang kita pilih. Sekali lagi itu adalah kata-kata yang sederhana tetapi implikasinya yang penting. Siap hidup bersama artinya siap berbagi bersama dalam setiap rintangan yang akan muncul dengan mengedepankan solusi dan toleransi bukannya ego pribadi. Dengan bekal itu, insyaALLAH rumah tangga akan berjalan dengan harmonis.
Ini adalah opini saya yang muncul selama saya menjabat sebagai pemimpin rumah tangga yang masih dalam hitungan hari. Jika ada yang kurang tepat mohon sharing dari pembaca semuanya. Akhirnya, mohon doanya agar pernikahan kami langgeng dan doa kami selalu buat pernikahan para pembaca semuanya.
Yang belum menikah, siapkan mental anda dan yang sudah menikah perbaiki terus diri anda agar selalu bias berkolaborasi dengan apik bersama pasangan hidup anda.
Cianjur, 13 Februari 2012
Mundur untuk Menang
by pigeon on Sep.27, 2011, under Nasehat
Hidup adalah pertarungan yang tidak akan selesai sampai ajal menjemput kita. Selama itu pula kita berjuang untuk selalu menang dalam setiap kesempatan bertarung. Hanya saja, kemenangan tidak akan kita dapatkan dengan cara yang mudah setiap kali bertarung. Ada saatnya di mana kita harus berjuang dengan sangat keras agar pertarungan tersebut dapat kita memangkan. Tetapi adakalanya pula kita tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk memenangkannya.
Mendapatkan kemenangan bukan berarti kita harus selalu maju dan menghadang lawan. Memang benar bahwa tindakan offensive sangat identik dengan langkah maju menghadang lawan. Seperti dalam pertandingan sepak bola, ketika tim kita ingin menyerang pihak lawan maka kita harus menggiring bola menuju gawang lawan, yang berarti kita harus melangkah atau bahkan berlari maju menghadang lawan-lawan yang akan datang menghadang.
Dalam pertarungan hidup, strategi sangat diperlukan untuk mendapatkan kemenangan yang kita inginkan. Strategi adalah suatu cara agar kemenangan tersebut bisa kita dapatkan dengan efektif dan efisien. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa ada suatu kesempatan di mana dalam pertarunagn yang sama orang yang mendapatkan kemenangan dengan strategi tidak akan menghabiskan banyak tenaga. Strategi kita buthkan agar sumber daya yang kita miliki dapat terberdayakan sehingga tidak ada pengorbanan yang sia-sia.
Banyak orang yang mengatakan bahwa jika ingin menang maka kita harus selalu maju. Mungkin ada benarnya juga tetapi menurut saya tidak selamanya benar. Kadangkala kita harus mundur dulu untuk mengumpulkan kekuatan, menyusun ulang strategi, dan meminta bala bantuan yang lebih banyak untuk kemudia maju lagi. Kemenangan pun kita dapatkan dengan lebih mudah. Permasalahan yang sangat pelik kadang datang menghampiri kita. Untuk ke luar dari sana, kita tidak harus selalu datang menjemput masalah itu kemudian memecahkannya, bisa jadi justru kita langsung kalah.
Ada kalanya kita harus berhenti sejenak berusaha, merenungkan kembali apa saja yang sudah kita lakukan, menganalisanya dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah dibuat. Jika perlu kita susun strategi baru untuk menyelesaikan maslah tersebut. Ketika sudah matang maka kita akan lebih matang untuk menghadapi permasalahan itu lagi.
Yang lebih baik adalah permasalahan yang dihadapi tidak kita lawan sendirian. Ketika kita sedang reses untuk memikirkan cara baru, masih ada orang lain yang maju untuk menahan permasalahan tersebut agar tidak meluas. Seperti kata beberapa temanku “Orang yang bertarung dengan otak akan mengalahkan orang yang bertarung dengan otot.” Kita dibekali dengan sebuah organ yang bernama otak, dengan kemampuan luar biasa. Lalu, mengapa kita tidak memanfaatkannya dengan optimal?
Yakinlah Maka Kau Akan Berhasil
by pigeon on Sep.14, 2011, under Nasehat
Begitu banyak hal di dunia ini yang membutuhkan pengambilan keputusan. Ada yang waktunya banyak tetapi ada juga yang waktunya sangat singkat alias mepet. Dalam setiap pengambilan keputusan selalu saja ada resiko yang mengikutinya. Resiko inilah yang kadang membuat kita ragu alias mangu-mangu, apakah pengambilan keputusan yang kita lakukan sudah tepat atau belum. Maka keraguan inilah yang kadang justru membuat keputusan yang seharusnya benar menjadi salah.
Bagaimana bias demikian? Harus kita pahami bahwa pengambilan keputusan yang tepat harus selalu diikuti dengan tindakan yang tepat pula. Yang lebih penting justru adalah tindakan yang mengikutinya. Sesalah apapun pengambilan keputusan yang dilakukan, jika diikuti dengan tindakan yang tepat maka kesalahan tersebut bias segera diperbaiki. Sehingga yang tadinya salah menjadi benar.
Sebaliknya keputusan yang benar akan menjadi salah ketika tidak diikuti dengan tindakan yang benar. Hal ini sangat sering terjadi. Dan kebanyakan hal ini terjadi karena keragu-raguan. Ketika keputusan sudah diambil maka sebenarnya tidak ada peluang untuk mengubahnya. Yang bias kita lakukan adalah menindaklanjutinya. Kadang kita terlalu focus untuk memikirkan bahwa keputusan itu salah dan berfikir seandainya bias diulang kembali.
Percuma, berfikir seandainya hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya bias kita gunakan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Begitu banyak orang meragukan keputusannya sendiri dan berakibat kegagalan. Bukan keputusannya yang membuat dia gagal tetapi sikapnya terhadap keputusan yang ia ambil. Sangat penting untuk memahami bahwa masa lalu tidak dapat diubah dengan tangan kita, masa sekaranglah yang bias kita ubah sesuai dengan kehendak kita.
Keyakinan yang muncul bahwa keputusan yang dibuat sudah benar akan memunculkan semangat untuk meneruskan keputusan tersebut. Meneruskan dengan tindakan-tindakan berguna yang akan mengubah kesalahan menjadi kebenaran dan kebenaran menjadi kesuksesan. Ya, yakinlah bahwa apapun resiko yang muncul akibat keputusan yang kita ambil pasti bias kita pecahkan dan satu pemecahan resiko sama dengan peningkatan derajat kualitas hidup kita. Artinya semakin banyak resiko yang kita lalui dengan baik semakin tinggi kualitas hidup kita.
Memang tidak mudah untuk segera bersikap ketika keputusan itu sudah diambil apalagi kita merasa bahwa keputusan itu salah. Sangat berat dan penuh dengan penyesalan tetapi yakinlah bahwa hal itu tidak akan berguna banyak. Mengalahkan keraguan adalah salah satu perang terbesar dalam hidup kita selain perang melawan kemalasan. Jangan sampai kemudian membawa orang lain dalam perspektif masalah yang kita hadapi. Seperti mengandikan diri kita dengan seseorang. Percuma, kawan!! Tidak akan menyelesaikan masalah.
Lakukan aksi dengan segera, maka penyesalan dan keraguan itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Keyakinan hanya akan muncul ketika kita percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita mempunyai potensi yang entah seberapa besarnya. Justru karena kita tidak tahu besarnya maka cukup gali semaksimal mungkin. Seperti kata banyak orang, kemampuan manusia itu ada batasnya tetapi yang harus kita ingat adalah kita tidak tahu seberapa jauh batasnya. Lalu, mengapa kita harus membuat batasan kita sendiri yang justru akan menekan kemampuan kita.
Dinamika Persahabatan
by pigeon on Sep.13, 2011, under Nasehat
Hidup ini tak akan menjadi indah jika kita tidak punya sahabat. Ia bagaikan oase di padang pasir, bagaikan cermin yang selalu memberikan pandangannya tentang diri kita. Ia bias menjadi penawar di kala hati sedang luka. Dan ia bias menjadi tempat berbagi mana kala kebahagiaan dating menjelma. Sebagian besar kebahagiaan kita pasti ada sangkut pautnya dengan sahabat.
Begitu berartinya sahabat bagi kehidupan kita. Bukan berarti ia begitu mudah didapatkan dan dipertahankan. Sulit mencari orang yang bias mengerti tentang diri kita apa adanya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin bukan? Selalu ada saja kendala yang dihadapi ketika persahabatan itu mulai bersemi antara dua atau lebih orang.
Bagaimana seseorang bias menerima kita dengan begitu baiknya? Tatkala kita juga mau menerima mereka dengan sama baiknya. Bukan berarti bahwa dua orang atau lebih yang sudah saling mengerti lalu berjalan mulus tanpa halangan. Sama sekali tidak. Selalu saja ada duri di tengah jalan yang bias membuat roda persahabatan kita tertusuk dan bocor. Masalahnya adalah apakah kita mau berhenti lalu memperbaikinya bersama atau ditinggal saja motornya lalu mencari kendaraan sendiri-sendiri.
Pertengkaran antara dua orang sahabat biasanya hanyalah salah faham. Yang satu tidak bermaksud demikian tetapi sahabat yang lain merasa demikian. Akhirnya terjadilah perselisihan yang akibatnya sangat tergantung dari mentalitas kedua belah pihak. Dalam sebuah pertengkaran harus ada yang menjadi air dan ada yang menjadi batu. Karena kemarahan yang kerasnya seperti batu bias luluh oleh lembutnya belaian air. Jika keduanya menjadi batu maka yang terjadi adalah keduanya akan pecah dan berserakan ke mana-mana.
Akibat dari perselisihan bias menjadikan keduanya memutuskan persahabatan tetapi jika berhasil mengatasinya maka justru akan semakin mempererat persahabatn yang sebelumnya sudah terjalin. Bagaimana tidak? Dari perselisihan maka kita menjadi tahu watak asli sahabat kita dan keduanya bias menjadikan hal itu sebagai bahan koreksi untuk masing-masing personal. Ia menjadi tahu apa yang tidak disukai oleh sahabatnya dan satunya akan menjadi tahu bahwa sahabatnya tidak bermaskud demikian.
Rasa solidaritas antar teman seharusnya menjadi prioritas yang utama jika mau menjadi sahabat yang baik. Ketika kita sudah tahu watak sahabat kita maka sudah sepantasnya kita semakin tahu juga bagaimana membuatnya senang. Jika ia melakukan kesalahan maka tugas kita untuk mengingatkan dan jika ia berbuat sesuatu hal yang baik maka tidak ada salahnya kita mencontohnya. Hanya saja kadang gengsi menjadi penghalang yang sangat mengganggu. Rasa tidak ingin kalah dengan sahabat kita menjadikan kita buta akan kebenaran yang sesungguhnya.
Apalagi jika kita menyinggung masalah wanita. Tidak sedikit persahabatan yang kandas di tengah jalan hanya karena wanita. Pertemuan yang dulunya sering dilakukan menjadi tidak seintens dulu karena salah satu atau keduanya lebih mengutamakan menghabiskan waktu dengan sahabat wanitanya. Bukan menyalahkan sang wanita tetapi kita sebagai manusia dewasa seharusnya bias memprioritaskan mana yang lebih penting dan berguna bagi kehidupan kita.
Maju terus persahabatan di dunia ini!!!!
Berjuanglah Sedikit Lebih Keras dari Biasanya
by pigeon on Sep.09, 2011, under Nasehat
Suatu ketika kita pasti pernah mendambakan sesuatu dengan begitu inginnya. Sampai-sampai tiap malam kita memimpikannya, tiap jam kita memikirkannya dan tiap detik kita membayangkannya. Sebegitu kuat keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Tetapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Selalu saja harus ada pengorbanan untuk mendapatkannya. Bias berupa pengorbanan materi, pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga, bahkan kombinasi dari ketiganya. Pertanyaannya adalah maukah kita memberikan pengorbanan tersebut ditukar dengan keinginan kita tadi?
Jika keinginan tersebut sangat sesuai dengan pengorbanan yang kita lakukan nantinya pastilah kita tidak akan ragu-ragu untuk menggapainya. Istilahnya yang lebih keren “worthy”. Okelah kita mau melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginan tersebut. Tetapi ternyata tidak semua keinginan dapat kita dapatkan dengan sesuai dengan apa yang pikirkan. Sudah begitu hebatnya kita berusaha tetapi tetap saja belum menghasilkan apa-apa. Mengapa bias demikian? Jelas, karena ada sesuatu yang telah mengaturnya.
Seperti kata orang bijak,”Manusia hanya bias berusaha, masalah hasil tetap Yang Maha Kuasa yang memberikan keputusan”. Harus kita pahami bahwa Dia adalah Zat Yang Maha Kuasa, tidak tergantung pada apapun di dunia ini. Terserah kehendak-Nya mau memberikan apa yang kita inginkan atau tidak. Hanya saja Dia telah berjanji bahwa manusia yang mau berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Tidak disebutkan seberapa besar usaha yang harus kita lakukan. Maka yang dapat kita lakukan adalah terus berusaha sampai Dia memberikan apa yang kita inginkan.
Suatu saat kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin. Percayalah bahwa Dia lebih tahu batas kemampuan kita disbanding kita sendiri. Oleh karena itu berusahalah lebih keras dari biasanya. siapa tahu, yang lebihnya itu merupakan syarat terkabulnya keinginan kita. Jika ternyata belum berhasil juga maka berusahalah sedikit lagi. Siapa tahu Dia ingin menguji kita apakah kita benar-benar yakin dengan keinginan kita. Jika ternyata belum juga dapat maka berusahalah sedikit lebih keras lagi. Siapa tahu ia ingin menjadikan kita lebih daripada orang lain. Jika belum juga kita dapatkan, oh ternyata ia memberikan dalam bentuk lain yang lebih besar daripada keinginan kita tadi.
Allah bekerja dengan caranya sendiri. Kita sebagai makhluk tidak akan dapat menerka apalagi memastikan tindakan-Nya. Dia hanya memberikan petunjuk apa yang harus kita lakukan. Dan yang pasti petunjuk-Nya tidak akan pernah menyesatkan. Dia tahu segalanya. Dia tahu seberapa besar kemampuan kita, Dia tahu apa yang benar-benar kita inginkan, dan Dia juga tahu apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya, serta Dia juga sangat tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat kita.
Hanya saja kadang kita terlalu terburu-buru memutuskan bahwa keinginan kita tidak terpenuhi. Siapa tahu? Percayalah, kawan. Jika hari ini kamu berusaha lebih keras daripada kemarin maka hari ini kamu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin. Maka, selalu berusaha lakukan dengan lebih keras, lebih sungguh-sungguh, lebih focus, dan lebih semangat daripada biasanya. Maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Petasan di Bulan Ramadhan
by pigeon on Aug.14, 2011, under Nasehat
Sudah hampir separo perjalanan kita menjalani puasa di bulan Ramadhan. Bagi orang yang mengetahui, bulana ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa baginya. Segala macam daya upaya akan diusahakan untuk mendapatkan hasil terbaik. Karena semua kegiatan yang bukan maksiat adalah ibadah, dan pahalanya dilipatgandakan menjadi berlipat-lipat. Bulan ini adalah momen yang tepat bagi orang yang beriman untuk menabung sebanyak-banyaknya pahala dan menghapus sebanyak-banyaknya dosa.
Hanya saja, ada satu kebiasaan yang menurut saya kurang pas sehubungan dengan bulan ini. Petasan, sangat identik dengan bulan Ramadhan. Betapa maraknya petasan di bulan ini jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Saya masih ingat waktu kecil dulu, petasan hanya dinyalakan setelah puasa berakhir sebagai tanda kemenangan kita. Sebagai sebuah perayaan kesyukuran umat Islam.
Tapi saat ini, bahkan ketika bulan ramadhan hari pertama pun bunyi petasan sudah terdengar di mana-mana. Ditambah lagi dengan semakin beragamnya jenis petasan. Bukan hal yang salah ketika seseorang menyalakan petasan tetapi akan menjadi hal yang salah ketika hal itu mengganggu kenyamanan orang lain.
Paling tidak nyaman adalah ketika waktunya setiap umat Islam menjalankan ibadah sholat tarawih, tetapi sebagian orang justru bermain di luar masjid dan menyalakan petasan. Pertama, orang tersebut sengaja meninggalkan salah satu ibadah yang hanya ada di bulan ramadhan yaitu sholat tarawih. Meskipun sholat tarawih hukumnya sunnah, tetapi adalah sebuah kerugian jika sampai meninggalkannya. Kedua, dengan bunyi petasan yang sangat keras maka pasti akan mengganggu jamaah yang sedang melaksanakan sholat tarawih.
Bagi orang beriman yang mengharapkan kekhusyukan dalam beribadah, hal ini akan sangat mengganggu. Bukankah seharusnya kita bisa saling menghargai orang lain? Apalagi beribadah adalah hak manusia yang paling asasi, satu-satunya hak yang tidak bisa diganggu gugat. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka itu tidak berfikir sampai ke sana? Kenapa mereka hanya berfikir akan kesenangan mereka sendiri saja? Padahal jelas, di dekatnya adalah masjid. Dah jelas mereka juga tahu bahwa pada jam tersebut di masjid sedang ada kegiatan sholat tarawih.
Pertanyaan itu sepertinya tidak akan terjawab. Karena ketika suatu saat saya bertanya pada mereka tidak ada jawaban. Justru hanya tertawa-tawa lalu melenggang pergi. Begitu saja seterusnya. Memang sebagian besar pelakunya adalah usia remaja dan anak-anak. Maka sebenarnya kewajiban semua orang tua untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak-anak mereka tentang menghargai orang lain, lebih khusus lagi dalam hal ibadah.
Dan tentu saja kewajiban kita semua sebagai umat Islam untuk terus mengingatkan saudara-saudara kita yang mungkin masih lalai dalam Islamnya. Karena dakwah adalah sebuah perjalanan panjang tiada akhir sampai hari akhir menghampiri kita semua.
Makna Cinta
by pigeon on Jun.11, 2011, under Nasehat
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang gadis yang juga merupakan temanku. Beberapa hal kami perbincangkan hingga pembicaraan mengarah ke masalah cinta. Kebetulan temanku itu sudah memiliki pacar yang ketika aku tanya apakah sudah mantab untuk memilihnya sebagai pendamping ia menjawab dengan ragu-ragu.
Awalnya temanku itu minta didownloadkan beberapa lagu. Setelah saya lihat judulnya kok semua bertema patah hati atau putus cinta. Saya tanya ke dia, mengapa kok suka dengan lagu-lagu dengan tema seperti ini? Secara tidak langsung lagu-lagu seperti itu akan mengarahkan pemikiran kita bahwa patah hati dan atau putus cinta itu hal biasa dan menurut saya itu adalah hal yang kurang baik. Dengan santainya dia menjawab, “Mumpung masih belum menikah gapapa, kan bica cari lagi.” Eik, saya kaget dengan jawaban itu.
Apakah para pembaca merasa kaget dengan jawaban santai semacam itu? Semoga saja ya. Kenapa saya kaget? Dalam agama Islam, cinta itu adalah hal yang teramat suci. Coba para pembaca sekalian cari mengenai cinta dalam ranah Islam. Betapa agung dan luar biasanya cinta. Sesuatu yang terjadi pada hal yang sangat besar maka peristiwa itu juga menjadi sangat besar.
Analoginya begini. Tahu kan yang namanya menawa Eiffel yang ada di Perancis? Bayangkan satu tiang penyangga patah. Menurut anda apakah itu hal yang luar biasa? Ya, pasti iya dibandingkan dengan patahnya tiang bendera di depan sekolah kita. Maka, putus cinta itu adalah sesuatu yang luar biasa. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa bisa sampai putus cinta?
Perceraian dalam Islam harus memenuhi persyaratan yang begitu panjangnya. Kenapa? Karena Islm mencoba untuk tetap mencari perdamaian daripada perpisahan. Tetapi apa yang terjadi pada orang yang sedang pacaran? Apakah putus cinta ketika sedang pacaran tetap adalah hal biasa. Menurut saya, ini adalah mind set yang harus dirubah.
Bahwa ketika kita memutuskan bahwa,”Aku cinta dia” maka sesungguhnya ada konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. Kata ini memiliki efek domino yang sangat panjang. Bagaimana disebut cinta ketika masih berfikir bahwa putus cinta itu adalah hal biasa. Masih bisa mencari orang yang lebih baik dari dia.
Kalo memang masih berfikir untuk mencari yang lebih baik, maka jangan putuskan bahwa kita cinta dengan dia. Karena hal itu hanya akan memberikan rasa sakit bagi kedua belah pihak yang ujung-ujungnya pada hal yang tidak kita harapkan. Artinya, saya sedikit berkesimpulan bahwa orang yang masih berfikir putus cinta itu biasa adalah orang yang memang sedang bermain-main dengan yang namanya cinta. Kasihan orang yang menjadi korban permainannya.
Untuk itu kawan, saya mengajak mari kita kembalikan makna cinta sesuai dengan makna yang sebenarnya. Untuk apa kita mengatakan cinta jika masih berfikir untuk mencari yg lebih baik. Begitu mudahnya cinta berpindah, apakah layak itu disebut cinta. Paling mudah adalah cintailah dia ketika anda memang sudah siap menikah dengannya. Kalo memang tidak mengarah ke pernikahan, lalu untuk apa? Bersenang-senang? Jangan sampai terlena dengan kesenangan dunia, Kawan!!!






