Adnan Anwar, ST.

Cerpen

Kucing

by on Mar.28, 2012, under Cerpen

Rani adalah seorang anak kelas VI di SD Sukabumi. Ia adalah anak yang rajin dan pandai. Di sekolahnya ia selalu disayang dan dipuji oleh teman-temannya. Tapi dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu terlalu saying pada kucingnya.

Ia sering berbicara pada kucing itu. Senang ataupun susah diceritakannya pada kucing itu.

“Piko, piko.” Teriak Rani memanggil nama kucingnya sepulang dari sekolah.

“Piko. Bu, di mana piko, kok tak ada ?” tanyanya kepada ibu.

”Di luar barangkali. Kamu jangan  deket-deket sama kucing, Rni. Kucing itu ada virusnya!” Ibu memperingatkan Rani.

”Kucing lain memang ada, Bu. Tapi piko lain. Ia adalah kucing yang tak ada virusnya.”

”Kamu ini dibilangin orang tua kok ngeyel!”

Begitulah  kebiasaan Rani sepulang dari sekolah. Bukannya orang tua yang dicari pertama kali tetapi kucing yang berwarna putih merah itu yang dicari. Setiap ibu memperingatkan selalu diacuhkannya, dianggapnya tidak pernah ada. Kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa karena jangankan dibuang, tidak kelihatan satu jam saja ia sudah marah-marah, kadang sampai menangis.

”Ooo, kamu di sini, ya. Ayo k kamarku saja !” ajak Rani kepada kucing itu setelah menemukannya di dapur sedang tidur.

”Meeoong,” jawab kucing itu.

Bagi Rani setiap kucing itu bilang ”meong” dianggapnya menyetujui perkataan Rani. Anehnya piko selalu taat padanya. Kali ini Rani mengajak piko ke tempat tidurnya. Ia tidur telungkup sambil berbicara pada piko yang ada di depannya.

”Piko, kamu tadi udah makan apa belom ?”

”Meoong!”

”Ooo, jadi udah, ya. Pasti sudah karena kamu diam saja. Kan, kalau lapar kamu selalu ribut minta makan. Ya, kan ?”

”Meoong!”

”Dari tadi kamu meong-meong terus. O, iya. Kamu kan bisanya memang begitu.”

”Meoong!”

”Ya, meong lagi. Eh, piko. Tahu tidak, tadi ada ulangan di sekolah. Wah, asyik sekali karena soalnya sangat mudah. Aku dapat nilai sepuluh. Hebat, kan?”

”Meong!”

”Rani makan dulu, ya. Dari tadi belom makan, nih. Kamu sudah kenyang jadi tinggal tidur saja.”

Begitulah setiap hari Rani melakukan kegiatannya sepulang sekolah. Kadang Rani lupa makan karena asyik berbicara sendiri dengan piko. Tanya sendiri, jawab sendiri, bantah sendiri, kucingnya tinggal bilang meong  hati Rani sudah senang.

Hari-hari dijalani Rani dan piko dengan baik. Hingga suatu saat piko sakit. Tidak mau makan hanya minum saja. Badannya lesu, kerjaannya hanya tidur saja. Rani bukan main gelisahnya. Ia minta kepada ayahnya untuk dipanggilkan dokter hewan. Rumahnya memang tidak terlalu jauh sehingga dengan sepeda motor cukup lima belas menit sampai. Selesai memeriksa Rani langsung bertanya pada Pak Dokter.

”Bagaimana, Dok? Apakah piko baik-baik saja. Apa sakitnya parah. Apa bisa diobatai, Dok?”

“Dia baik-baik saja. Hanya masuk angina, tadi sudah saya suntik, besok pagi juga sembuh.”

“Terima kasih, Dok.” Kata Pak Rahman, ayah Rani sewaktu dokter itu mau pulang.

“Sama-sama.” Jawab dokter itu.

Bukan main senangnya Rani begitu dokter mengatakan piko tidak apa-apa. Kusing itu diangkatnya, diciumnya, dipeluknya. Pokonya anehaneh saja kelakuan Rani.

Hari-hari berikutnya Rani makin sayang kepada kucing itu. Setiap kali bertemu dipeluklah, diciumlah, ditimanglah dan masih banyak lagi kelakuan Rani yang lain.

Hingga suatu saat Rani mulai batuk-batuk. Ia sudah diperiksakan ke dokter umum tetapi batuknya tidak juga hilang, malah semakin parah. Karena kalau batuknya sudah menjadi-jadi ia sering mengeluarkan darah dari mulutnya. Kedua orng tuanya membawa Rani ke dokter Spesialis anak. Selesai diperiksa dokter itu berkata pada orang tua Rani.

”Apakah di rumah anda ada kucing, Bu?” tanya pak Dokter

”Ada, bahkan Rani sangat menyayanginya.” jawab ibu Rani

”Spertinya Rani terkena virus yang ada pada bulu kucing. Jika ia mencium bulu kucing maka virus itu masuk ke dalam paru-paru dan merusak sistem pertukaran udara. Akibatnya paru-paru anak ini semakin lama akan semakin keropos.”

”Apa anak saya bisa tertolong?”

”Saya tidak bisa menjamin, karena kemungkinan untuk sembuh hanya 1 %. Anak ini sudah terlalu lama menyimpan virus itu dalam paru-parunya. Ia harus dioperasi secepatnya.”

”Baik, Dok. Segera saja dilaksanakan!”

”Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”

Keesokan harinya Rani dibawa ke ruang operasi. Ia akan dioperasi pada bagian paru-parunya untuk mengeluarkan virus yang ada di dalamnya. Tetapi sayang sekali, sebelum dokter melakukannya nyawa Rani sudah meninggalkan raganya.

”Tidaaaaaaak!!!” Ibu Rani langsung pingsan

Sejak kematian Rani, di rumah itu tak pernah lagi ada seekor kucing pun.

***

Adnan Anwar
SLTP I SANDEN

Leave a Comment :, , , more...

Sesuatu Yang Ditunda

by on Sep.12, 2011, under Cerpen

“Aduh, aduu..h udah jam lima. Pekerjaan rumah Pak Sidi belum aku kerjakan lagi. Gimana nih ?” Gumam Andi, seorang ank kost yang sekalhnya di salah satu SMU Negeri di Jogjakarta.

”Udah jam setengah enam, baru dua lagi yang bisa aku kerjakan. Padahal soalnya ada 10. Biarin aja, ah. Nanti nyontek sama temen-temen aja, pasti mereka sudah jadi.” Gumamnya sambil menutup buku pekerjaannya.

Sudah satu setengah tahun Andi duduk di bangku SMU. Awalnya prestasinya bagus, bahkan pada semester pertama ia mendapat rengking lima, sebuah prestasi yang patut dibanggakan mengingat sekolah tersebut adalah sekolah yang paling favorit di Yogyakarta.

Tetapi sejak semester dua, prestasinya mulai menurun. Memang ia ikut di beberapa organisasi sekolah seperti Rohis dan KIR tetapi sebenarnya bukan itu yang menjadi beban baginya melainkan sesuatu hal lain yang saat ini belum diketahuinya.

Satu yang saat ini ia ketahui, adalah bahwa ia sulit menerima mata pelajaran. Mengingat masa kejayaannya pada waktu SMP, ia sering merasa heran dan tidak percaya. Dulu, sekali saja ia menerima pelajaran pasti langsung terkuasai, minimal setengahnya. Tetapi sekarang, bahkan ada beberapa mata pelajaran (Sub-mata pelajaran) yang ia benar-benar tidak mengerti sama sekali.

Setelah sekian lama, ia menemukan dua buah kelemahannya dalam belajar. Memang diakui bahwa ia akan belajar jika akan ada ulangan saja. Karena malas. Itulah yag selalu ia katakan sebagai alasan. Satu lagi, ia tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Kalaupun pekerjaan rumah itu harus dukumpulkan maka ia selalu mengerjakannya pagi hari sebelum berangkat ke sekolah yang pada hari itu juga harus dikumpulkan.

”Oke, anak-anak. Besok Sabtu ulangan, ya! Pelajari semua yang telah saya ajarkan!” Terdengar Bu Ndari dengan suara yang lembut, walaupun beliau adalah guru Matematika.

”Waktunya masih sepekan lagi. Jadi kalian bisa latihan soal-soal yang ada di buku. Cari soal sebanyak mungkin, makin banyak kalian berlatih maka kalian akan semakin mahir.” Terdengar lagi suaranya

”Masih satu minggu, santai ajalah. Tapi aku harus berlatih nih.” Gumam Andi dalah hatinya

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Andi sudah menyadari akan kelemahannya. Bahkan jauh hai sebelum ulangan ia sudah punya banyak rencana, tetapi pelaksanannya itu yang amburadul. Sehingga akhirnya ditunda-tunda dan ditunda terus sampai batas akhir waktunya.

Sekian lama Andi merenungi nasibnya dalam halprestasi belajarnya. Rasanya iri ketika melihat teman-temannya yang lain ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti suatu perlombaan atau untuk mendapat beasiswa pendidikan. Tetapi apa boleh buat, keadaannya yang demikian rasanya tidak mungkin mendapat penghargaan seperti itu.

Suatu hari sekolah mengadakan suatu program yang dinamakan ”remedial”. Program ini khusus untuk anak-anak yang dianggap ketinggalan. Hari itu Nadi sangat yakin dirinya aklan masuk dalam program tersebut. Tetapi alangkah kagetnya ia ketika panggilan selesai, dari sekian mata pelajaran yang ada tak satupun namanya disebut. Temannya, Arif yang 10 besar saja mauk dalam program itu tetapi Andi yang rata-rata 20 ke atas malah tidak.

Timbul semangat belajar di dalam dirinya, ternyata masih ada kemampuan yang tersisa dalam dirinya dan belum dikeluarkan. ”Aku pasti bisa!” Tekadnya bulat.

* * *

Waktu terus berjalan, Andi sepulah dari sekolah hendak pergi ke bimbingan belajar di salah satu lembaga dekat sekolahnya. Maklum, sekarang ia sudah kelas tiga dan ingin memperispkan lebih matang sebelum UAN dan SPMB. Dikayuhnya seped federal peninggalan kakaknya itu. Di tengah perjalanan tiba-tiba sebuah moil kijang dari arah depan melaju dengan cepatnya. Andi dengan santainya tidak memperdulikan mobil tersebut dan terus dikayuhnya sepedanya.

Saat jarak antara ia dengan mobil kira-kira 10 meter, ada seorang anak kecil menyeberang tetapt di depannya. Kontan Andi menghindarinya dengan membanting stang ke arah kanan. Mobil yang melaju cepat tak dapat mengelak sehingga menabrak sepeda yang ditumpangi Andi dan terpental ke belakang. Di belakangnya ada sebuah bus yang melaju dan Andi tepat terlempar di depannya. Terjdilah tabrakan dua kali sekaligus.

Tidak ayal lagi, tubuh Andi berlumuran darah penuh luka. Saat orang-orang hendak menolongnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan m,embawa tekad kuat untuk menjadi lebih baik. Membawa prestasi yang masih terpendam di dalam dirinya. Itulah takdrnya. Takdir yang sudah ditentukan jauh sebelum manusia ada.

Kita tidak tahu kapan dan di mana kita akan pergi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, penundaan hanya akan menimbulkan penundaan selanjutnya. Allah telah menentukan apa yang terbaik buat kita, tetapi apakh kita hanya akn menunda hidayah/ petunjuk dari Allah? Tidak, kita harus berusaha semampu kita selama masih ada kesempatan dan kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan habis.

S E L E S A I

YOGYAKARTA, 24 Maret 2003

Leave a Comment :, , , more...

Roy, Betapa Mulia Hatimu !!!

by on Jun.12, 2011, under Cerpen

“Nur, kita ini adalah teman, teman sekelas. Mengapa kita harus bermusuhan ?”

”Alaaaah, sudahlah. Jangan sok baik. Kita bersaing dalam kelas berarti kita bermusuhan.”

“Itu kan dalam pelajaran, apa gunanya kita bermusuhan, Nur?”

“Sudahlah. Aku tidak mau membicarakannya lagi. Sudah dulu, ya aku sibuk. Sampai jumpa.”

Kian hari hubungan antara Roy dan Nur bukannya membaik tetapi malah semakin memburuk. Prestasi Roy meningkat secara bertahap, sedangkan Nur semakin merosot. Belajarnya kurang. Nur semakin membenci Roy, tetapi sebaliknya Roy tetap sabar meskipun Nur kadangkala mengejek dan memakinya.

Suatu hari Nur berjalan melewati kelasnya yang kosong, karena anak-anak pergi ke perpustakaan atau ke kantin sekolah. Nur melihat kunci laci meja guru masih menggantung di tempatnya. Nur segera mendekat dan membuka laci itu. Nur terkejut melihat buku jawaban soal-soal matematika milik Pak Syamsul. Ia membuka halaman pertama, ia mencoba mengingatnya. Tetapi begitu membuka halam kedua, Roy masuk ke dalam kelas  dan melihat Nur sedang membuka buku milik Pak Syamsul yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh siswa. Karena gugupnya Nur mencoba menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam laci, tetapi karena tergesa-gesa ia menyobek halam kedua sampai setengahnya. Nur marah-marah pada Roy.

”Dasar laki-laki sialan. Kau pasti akan melaporkannya pada Pak Syamsul!” kata Nur sambil menangis.

”Tapi kau telah menyobeknya, kan ?” tanya Roy beralasan

”Sudahlah. Kau pasti akan melaporkannya.” Nur berlari keluar menerjang Roy

Roy berjalan keluar juga sambil memikirkan tindakan apa yang akan dilakukannya nanti. Ia berfikir keras sambil menimbang-nimbang setiap gagasan yang muncul dalam kepalanya.

”Apa yang harus aku lakukan ?” katanya dalam batin. Kalau aku melaporkannya pada pak Syamsul yang sangat galak itu, Nur pasti akan celaka. Ia akan dimarahi, dipukul atau yang lainnya. Padahal perempuan itu kulitnya tipis, hatinya mudah kuncup, tentu aku tak akan mengadukannya. Tetapi jika aku tidak melaporkannya maka seperti biasa pak Syamsul pasti akan menanyai anak sekelas satu-persatu dan akhirnya ketahuan juga. Wajah perempuan itu mudah diterka apa yang baru saja ia lakukan.

Sementara Roy sibuk berfikir, bel tanda masuk telah berbunyi. Anak-anak segera masuk ke kelas masing-masing, tidak terkecuali Roy dan Nur. Pak syamsuk segera masuk juga. Begitu beliau membuka laci dan melihat salah satu halaman bukunya robek ia langsung bertanya pada anak-anak dengan suara yang agak marah.

”Siapa yang telah merobek buku saya ini ?” tanya pak Syamsul sambil memperlihatkan buku itu. Anak-anak kelihatan tegang melihat kemarahan di wajah pak Syamsul tetapi Nur tidak juga mau mengaku. Ia terus saja melihat Roy yang juga tampak tegang.

”Kalau tidak ada yang mengaku, akan saya tanyai satu persatu. Di antara kalian pasti ketahuan.”  Anak-anak dipanggil satu persatu urut dari nomor absen satu. Hingga nomor absen 28 tidak juga ketemu, tetapi begitu dipanggil nomor absen 29 Nur agak ragu-ragu untuk maju ke depan. Nur sangat gemetaran karena takut. Diberanikannya untuk maju menghadap pak Syamsul tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya ada seorang anak yang berteriak sambvil mengacungkan tangannya.

”Saya, Pak. Saya yang merobek buku itu.”

”Haaaa, Roy. Mengapa kamu lakukan ini? Kamu tahu apa yang akan dilakukan pak Syamsul padamu?” Nur berkata dalam hati.

Roy segera dibawa ke ruang Bp oleh pak Syamsul. Entah apa yang akan dilakukan terhadap Roy tetapi yang pasti Nur tidak pernah menyangka bahwa Roy akan melakukan tindakan senekat itu.

Kali ini Nur benar-benar dibuat khawatir oleh Roy. Sekarang ia sudah mulai sadar akan perbuatannya selama ini terhadap Roy. Setelah Roy keluar dari ruang Bp, Nur segera memberondong pertanyaan kepada Roy.

“Roy, apa kamu tidak apa-apa. Apa yang telah dilakukan pak Syamsul terhadapmu. Apa ada yang sakit ?”

“Tidak apa-apa. Ternyata pak Syamsul itu orangnya baik. Beliau hanya menasehatiku tadi. Dan beliau memperingatkanku agar tidak mengulangu perbuatan itu.”

“Roy, maafkan aku atas perbuatan yang telah aku lakukan kepadamu. Aku tidak menyangka. Roy, betapa mulia hatimu.

By : Adnan Anwar
SLTPN I SANDEN

2 Comments :, , , , more...

Kecopetan

by on May.23, 2011, under Cerpen

Setiap kejadian yang menimpa hidup manusia sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa. Tak seorang pun tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi pada hari esok. Ramalan hanyalah hasil rekayasa otak manusia yang tidak mempunyai data-data yang lengkap untuk menyimpulkan suatu peristiwa. Yang jelas manusia hanya bias berusaha untuk mempelajari dan membenahi terhadap apa yang sudah terjadi agar kalau kejadian itu buruk bias diperbaiki dan kalau baik  ditingkatkan.

Kertono keluar dari rumah kecilnya menenteng tas warna hitam. Tidak seperti biasanya kali ini bajunya rapi, rambutnya disisir klimis, entah mau ke mana dia. Belum ada orang yang ditemui tetapi senyum manisnya sudah lebih dulu menghiasi mulutnya. Mungkin dia baru saja dapat keberuntungan beberapa hari ini.

“Mau ke mana Nak Kartono, rapi amat?” tanya Bu Endah, tetangga sebelah, begitu melihat Kartono lewat di depan rumahnya.

“Cari kerja, Bu. Interview, karena kemarin sudah lolos ujian tulis.”

“Oooo…h, semoga berhasil, Nak. Jangan minder kalo ditanyai macem-macem!”

“Terima kasih, Bu. Mari, saya berangkat dulu!”

”Hati-hati di jalan, sekarang banyak copet di bus-bus kota!”

”Ya!”

Sepeda tuanya segera meluncur di jalan desa melewati tengah-tengah sawah. Tujuannya yang pertama adalah terminal bus yang akan menuju ke kota tak jauh dari rumahnya. Dengan sepeda yang dikayuh santai paling lima belas menit sampai tetapi kalau ngebut ya 10 menit sudah sampai.

Di dalam hati Kartono berkecamuk berbagai macam perasaan, mulai dari perasaan yang sedap untuk dirasakan sampai pada yang pedih jika diungkapkan. Tetapi semua itu hanyalah luapan psikologis manusianya yang kalau benar-benar hati ditenangkan dan otak dijernihkan maka semuanya akan menjadi kosong tak berisi. Sebuah keadaan yang jika salah seorang manusia dapat mencapai tingkat itu maka kedamaian dan ketenteramanlah yang didapatkan, bebas dari hal-hal yang bersifat keduniawian.

Tak lama setelah keberangkatan Kartono, sepeda tua yang menemaninya tadi sudah tersandar di antara sepeda-sepeda lainnya di tempat penitipan. Begitu banyak macamnya tetapi semuanya tercampur satu sama lain, tertata dengan rapi sejajar menghadap ke arah yang sama. Sungguh apik tatanan itu. Andai saja umat manusia bisa seperti itu yang meskipun bermacam-mecam tetapi tetap bisa bersatu menyongsong tujuan yang sama. Tetapi itu hanyalah impian, impian dari segelintir orang yang masih sadar di tengah zaman edan sekarang ini.

”Yang mau ke kota segera naik karena bus akan segera berangkat!” Kernet bus keluar dari busnya dan melambaikan tangan ke arah para penumpang yang sedari tadi sudah menunggu, termasuk Kartono.
Para penumpang pun segera naik, tak terkecuali Kartono. Bus yang tadinya kosong sekarang terisi penuh. Kartono duduk di kursi nomor dua dari belakang. Cerdas juga pikirannya dengan memilih tempat duduk di sana karena selain dekat dengan pintu juga terhindar dari sengatan sinar matahari pagi yang datang dari arah timur (bus berjalan ke utara).

Di sampingnya ada seorang kakek yang kira-kira umurnya sudah limapuluhan. Dari gaya pakaiannya juga terlihat kalau beliau masih memegang teguh adat kebudayaan orang jawa, sangat rapi seperti mau ke istana raja saja.

”Mau ke mana, Kek?”Tanya Kartono memulai pembicaraan.

“Mau ke pasar Beringharjo beli baju. Di rumah sudah banyak yang rusak. Adik sendiri mau ke mana, kok rapi bener?”

“Mau cari kerja, Kek. Sudah satu tahun saya menganggur tak dapat kerja. Sekarang ada kesempatan mau saya coba lagi.”

“Ooo..h. Memang sekarang cari kerja susah, tidak seperti dulu. Asal bisa mencangkul pasti dapat uang. Pendidikan terakhirnya apa, Dik?”

”Saya tamatan D3 Ekonomi. Saya tidak punya keahlian lain jadi ke sana ke mari modal saya hanya ijazah di tas saya ini.”

”Hati-hati menjaganya, jangan sampai hilang. Sekarang banyak orang util.”

”Iya, Kek.”

Perjalanan sudah memakan waktu hampir setengah jam. Tempat yang dituju Kartono masih beberapa kilo lagi, itupun harus pindah bus karena bus yang ditumpanginya sekarang tidak melewati kantor tempat di mana Kartono akan diinterview.

Kondektur bus menarik uang kepada para penumpang satu persatu. Kartono mengeluarkan uang seribuan dari dalam tasnya. Setelah kondektur sampai di depannya, disodorkannya uang tadi. ”Wirobrajan.” katanya. Kondektur menerima uang itu tanpa mengucapkan sepetah kata pun, hanya tersenyum sebentar sambil melihat wajah penumpangnya itu pertanda mengerti.

Tak disangka tas yang dibawa Kartono mengundang perhatian salah seorang penumpang bus itu yang duduknya di kursi paling belakang. Pandangannya selalau tertuju pada tas yang dibawa Kartono. Mungkin karena tas itu selalu didekap erat oleh pemiliknya sehingga dikira orang itu ada barang berharga yang bisa diambilnya.

Sementara Kartono tidak tahu bahwa ada yang terus mengawasi , keadaan di dalam bus semakin sepi karena sebagian penumpang sudah turun di tempat tujuannya masing-masing. Memang benar barangkali kata Bang Napi bahwa kejahatan dapat terjadi bukan hanya karena ada niat dari si pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan.

Kesempatan itu tercium oleh orang yang mengawasi tadi. Kartono berdiri, bersiap-siap untuk turun di tempat tujuannya. Sementara orang tadi bergerser tempat duduknya tepat di depan pintu. Posisi tersebut merupakan posisi yang sangat strategis dan sangat nyaman untuk mengambil barang milik penumpang yang hendak turun dari bus.

Akhirnya kesempatan itu pun datang. Kartono lengah dengan melepas dekapannya pada tas yang dibawanya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi tas itu segera disambar dan setelah itu langsung lari keluar dari dalam bus. Entah mengapa Kartono tak sempat berteriak minta tolong, mungkin karena sangat kagetnya sehingga dia langsung ikut lari mengejar orang yang telah mengambil tasnya tadi.

Aksi kejar-kejaran pun dimulai. Tak disangka-sangka ternyata si pencopet telah hafal betul daerah ini. Mulai dari jalan hingga gang-gang diambilnya sebagai tempat untuk lari tanpa ragu-ragu. Larinya cepat bagaikan cheetah, gerakannya lincah seperti tupai. Sementara Kartono terus mengikuti dari belakang tak kalah hebatnya.

Orang-orang yang ada di sekitar hanya mampu melihat mereka berdua tanpa bisa berbuat apa-apa karena tak tahu menahu masalah yang sedang dihadapi mereka berdua, sementara Kartono sendiri tidak minta tolong kepada mereka untuk membantu mengejar pencopet yang telah mengambil tasnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya menangkap si pencopet tadi dan mengambil tas miliknya kembali.

Aksi saling kejar terus berlanjut. Kartono seperti kalau kata orang jawa ”ora duwe wudel” karena kecepatan larinya tak pernah berkurang. Si pencuri tak kalah hebatnya karena memang sudah kebiasaannya lari untuk menghindari kejaran orang-orang sehingga staminanya cukup fit untuk menandingi Kartono.

Tetapi yang namanya manusia pasti punya batas kemampuan. Setelah kira-kira dua puluh menit berlari keduanya mulai mengendor staminanya. Meskipun tetap dalam keadaan berlari namun kecepatannya sudah agak berkurang bila dibandingkan dengan saat-saat awal pengejaran. Tak tahu harus bagaimana lagi, pencopet itu ambil jalan menuju ke persawahan. Barangkali orang yang mengejarnya tidak bias lari di pematang sawah dan jatuh sehingga ia bias meloloskan diri.

Keduanya telah memasuki daerah persawahan, berlari di antara tumbuhan padi yang mulai menunjukkan buahnya. Kartono tak merasa kesulitan sedikitpun dengan medan yang sedang dihadapinya seperti yang diharapkan pencuri. Karena rumah Kartono memang di desa dan semenjak kecil di situlah tempat bermainnya. Jadi Kartono justru seperti sedang mengenang masa kecilnya , hanya bedanya dulu yang dikejarnya adalah tikus atau teman bermainnya sedangkan sekarang yang dikejarnya adalah  pencopet yang telah mengambil tasnya.

Sampai di ujung sawah, keduanya melewati padang rumput yang hijau. Dulunya adalah lapangan sepak bola tetapi karena jarang dipakai lagi sehingga rumput tumbuh dengan liar. Kartono sudah tak kuat lagi. Ia segera mengambil resiko untuk melompat sekuat mungkin menerjang si pencopet dengan harapan pencopet tersebut jatuh dan ia segera dapat mengambil tasnya. Tetapi di lain pihak jika lompatannya tidak terlalu kuat dan tidak dapat menjangkau tubuh pencopet maka ia tidak akan punya kekuatan lagi untuk mengejarnya, pencopet lari dan ia hanya mendapat lelah serta capek.

Tetapi itulah dunia, semua selalu ada resiko dan mau tidak mau manusia harus bias memilih di antara dua pilihan itu. Hanya orang yang teguh dan tegas berani mengambil resiko dengan pertimbangan yang sudah direncanakan. Orang seperti itulah yang akan sukses dalam hidupnya karena meskipun ia gagal minimal telah tahu apa yang menyebabkan kegagalan itu dan suatu hari nanti tidak akan mengulanginya lagi.

Seluruh tenaga dikumpulkan Kartono terpusat pada kakinya sebagai bakal titik tumpu untuk melompat. Tanpa pikir panjang lagi, dengan jarak antara Kartono dan pencopet itu kira-kira 3 meter Kartono melompat ke depan. Sudut lompatannya sangat tepat untuk mendapatkan jarak yang paling jauh yaitu sebesar 450. Tetapi apakah ini akan berhasil? Dengan kondisi Kartono yang telah berada pada puncak kelelahannya.

Tak disangka, lompatan Kartono hanya dapat menyentuk baju pencopet yang melayang ke belakang karena tertiup angin dari depan. Kartono tak dapat bangun lagi, kekuatannya habis sudah, tak ada harapan. Menangis pun ia tak mampu lagi. Bajunya tak serapi waktu ia berangkat tadi, acak-acakan dan kotor di sana-sini. Tetapi dalam keputusasaannya itu……

”Gluduk….!” Masih dalam posisi terjerembab, Kartono melihat pencopet itu jatuh tak jauh dari tempatnya. Tanpa buang waktu lagi, kesempatan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lari menuju pencopet dan langsung menindihnya dari atas agar tidak bisa lari lagi. Semangat Kartono bangkit lagi dan seolah kelelahannya tadi terbayar sudah. Bak harimau yang sedang kelaparan direbutnya kembali tas yang sedari tadi diincar dalam proses pengejaran.

”Ini tasku, di dalamnya ada ijazahku. Jangan pernah mengambilnya dariku dan jangan pernah mengambil barang yang bukan menjadi hakmu!” Setelah mengatakan itu Kartono melenggang pergi. Tak terpikir olehnya untuk memukuli apalagi membunuh orang tadi. Mungkin karena kelelahan yang amat sangat dan waktu yang telah terbuang padahal masih harus ke kantor tempat interview

”Maaf!” Kata pencopet itu. Ia tak dapat bangkit lagi. Ia hanya dapat melihat kepergian Kartono kembali ke sawah tempat di mana mereka muncul tadi.

S E L E S A I
Yogyakarta, 22 Mei 2005
By : Adnan Anwar
TE UGM 04

6 Comments :, , , more...

Hanya Bergurau

by on Apr.06, 2011, under Cerpen

Tiba-tiba saja hari ini, si Anton yang selalu gembira wajahnya tampak kusut. Ia menjadi murung dan tak bergairah. Kerjanya hanya duduk saja, tak mau bemain dengan teman yang lain.

Saat istirahat kedua semua siswa pergi dari kelasnya membanjiri kantin dan perpustakaan. Terkecuali Anton dan Ujang, si raja usil. Tega-teganya ia menjahili Anton.

”Hei, Anton. Ada apa sih kamu? Kok murung begitu, tidak biasanya deh.”

”Ah, tidak ada apa-apa, Jang. Aku males aja kok.”

”Alaaah. Jangan bo’ong kamu, aku tahu kamu sedang ada masalah. Cerita dong sama aku.”

”Tidak ada, kok. Aku tidak ada masalah.”

”Aku ini kan temanmu, jangan pake rahasia-rahasiaan begitu dong. Ayolah kawan!”

”Sudahlah, jangan ganggu aku. Aku lagi mau sendirian, nggak mau diganggu.”

”Walaupun kau sembunyikan begitu, aku sudah tahu masalahmu. Kamu putus dengan si Yanti, pacar kamu itu kan? Ngaku ajalah, jangan pura-pura!”

”Hei, Jang. Kalo ngomong jangan sembarangan, ya. Aku dan Yanti itu hanya teman, bukan pacar seperti yang kamu bilang tadi.”

Ujang tidak jera-jeranya mengejek Anton, padahal ia tidak tahu masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh Anton. Ia hanya iseng menggoda si Anton karena memang sudah mnjadi wataknya.

”Ooooo, jadi sewaktu kamu menyatakan cinta pada Yanti, kamu ditolak mentah-mentah? Ooooh, beginilah cinta, deritanya tiada akhir. Dik Chang E, mengapa kau tolak cinta Panglima Tian Feng yang suci ini?”

”Ujang, kamu sudah keterlaluan. Rasakan ini.”

”Plak……”

Anton sangat marah hingga ia menampar Ujang dengan keras sampai jatuh dan mengenai kursi guru. Baru Ujang mau membalas perbuatan Anton, Indra datang dan melerai perkelahian mereka. Indra adalah anak yang adil dan bijaksana.

”Jang, ada apa ini, mengapa kalian berkelahi?”

”Ndra, itu tu Ujang. Berani benar dia menghina aku. Memangnya tahu apa kamu tentan masalahku.”

”Memang benar kan kau putus dengan Yanti.” Bela si Ujang

”Enak saja kau.” Anton marah lagi dan hampir memukul Ujang dengan kepalan tinjunya tetapi dicegah oleh Indra.

”Terangkan dulu masalahnya, baru bertindak. Ceritakan apa masalahmu Anton!”

Anton bercerita kepada Indra dan Ujang. Ternyata ibunya Anton sedang sakit, sedangkan bapaknya sudah meninggal dunia. Jadi tidak ada lagi yang bekerja untuk mencari uang. Makanya Anton menjadi murung dan sedih memikirkan hal ini.

”Jadi begitu. Makanya Jang jangan asal nyerobot aja. Selidiki dulu masalahnya baru ngomong.” Jelas Indra

“Aku kan hanya bergurau,” bela Ujang

”Iya, tapi jangan keterlaluan.” Indra menjelaskan

”Iya, deh. Aku ngaku salah. Maafkan aku ya Ton. Aku telah melukai perasaanmu,” Ujang akhirnya sadar dan berjabat tangan dengan Anton.

”Aku juga minta maaf karena telah memukulmu tadi,” balah Anton

Persahabatan tidak selamanya rukun. Adakalanya terjadi perselisihan dan perbedaan pandangan. Sahabat yang baik akan selalu dapat mengatasi permasalaha dengan kawannya. Jadilah sahabat yang baik dan abadi.

***

Adnan Anwar
SLTPN I SANDEN

NB: Aslinya tulisan ini adalah naskah drama untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia kelas dua dengan pengajarnya adalah Bu Supinah

Leave a Comment :, , , , more...

Memancing

by on Feb.19, 2011, under Cerpen

Pagi ini cerah sekali, lebih cerah daripada biasanya. Matahari sudah nongol sejak tadi. Sinarnya menghangatkan setiap sudut ruangan di muka bumi ini. Sebagian menembus celah-celah pepohonan, memunculkan pemandangan yang tak akan pernah aku lupakan. Burung-burung kecil terbang kesana-kemari, loncat sana loncat sini seolah sedang menari menyambut datangnya pagi.

Jalan di depan rumahku mulai ramaui oleh lalu lintas beberapa warga yang hendak pergi ke pasar. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki tetapi ada juga yang naik sepeda motor meskipun hanya sedikit. Beberapa orang terlihat sedang menyapu halamannya masing-masing. Memang seperti itulah kebiasaan mereka di waktu pagi apalagi ini hari Minggu.

Aku menunggu di depan rumah. Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman sebayaku bersepakat untuk pergi memancing hari ini. Tadi malam kebetulan banyak laron yang keluar dari sarangnya. Kami menangkap cukup banyak untuk dijadikan umpan. Beberapa masih hidup hingga pagi ini tetapi banyak juga yang sudah mati, terutama yang ada di posisi paling bawah. Mungkin kehabisan nafas di sana.

Memang sulit jadi yang terbawah. Semuanya serba tidak menyenangkan. Seolah ia ada hanya untuk memperkokoh eksistensi bagi yang ada di atas. Bagaimana mungkin di katakan atas kalau tidak ada yang di bawah.

“Hai, Bas!” Beberapa anak datang sambil melambaikan tangan

“Hai, kok lama bener. Ntar keburu siang lho!” Jawabku

“Maaf. Tadi bantuin ibu dulu jemur baju. Jadinya telat deh.” Sahut yang lain.

“Ya, udah. Langsung berangkat aja yuk!”

“Bentar. Tak absen dulu biar afdhol.”

“Iya, deh!” Jawab mereka serempak.

“Andi!”

“Ada.”

“Tarno!”

“Ada, Bos.”

“Oke. Dah lengkap. Sekarang ayo kita berangkat!”

“Ayoo……!”

Sambil membawa pancing di tangan kami masing-masing, aku, Budi, Andi, dan Tarno berangkat ke lokasi pemancingan. Ada beberap tempat yang kata orang, banyak ikannya tetapi kami memutuskan untuk mengunjungi tempat pertama yang paling dekat dulu, yaitu sumur di tengah sawah milik Pak Bandi.

Biasanya kalau musim kemarau, sawah-sawah jadi kering. Akhirnya beberapa petani memutuskan untuk membuat sumur di sawah mereka. Air ditimba dengan ember lalu dialirkan ke sawah masing-masing sehingga tanaman tetap tumbuh dengan subur.

Pada musin penghujan air melimpah. Jangankan cukup, justru air berlebih. Sumur-sumur yang telah dibuat sebelumnya jadi tidak terpakai. Banyak tumbuhan air yang tumbuh di pinggir-pinggir sumur dan ikan-ikan pun senang untuk menempatinya.

Kami berjalan melewati jalan desa dengan riangnya, membayangkan ikan apa yang akan kami dapatkan nantinya. Sesekali bercanda satu sama lain. Saat yang paling membahagiakan memang masa-masa menjadi anak kecil. Hidup tanpa beban, yang penting adalah bermain untuk mendapat kesenangan. Kalaupun suatu saat ditimpa kesusahan, paling-paling satu hari saja sudah terlupakan.

Tiba di area persawahan, kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan, indah sekali. Di mana-mana tumbuh tanaman padi yang menghijau. Beberapa petak sawah dipasang orang-orangan sawah, fungsinya agar burung-burung mengira itu orang beneran dan tidak berani mendekat untuk memakan biji-biji padi. Tetapi sepertinya cara seperti itu kurang efektif, buktinya beberapa burung prit pari justru bertengger di atas kepala orang-orangan tersebut

Di sana-sini berseliweran beraneka ragam capung. Banyak sekali macamnya, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang berwarna merah, kuning, hijau bahkan biru juga ada. Kami sering menangkap beberapa ekor untuk dijadikan mainan. Caranya sayap yang besar itu dipotong kira-kira separo, tujuannya agar tidak bisa terbang terlalu tinggi, lalu diterbangkan. Kami mengejarnya ramai-ramai. Kejam juga ternyata kami, ya… namanya juga anak kecil. Jika kami sudah lelah, capung tersebut kami lepaskan juga. Nggak tahu sih gimana nasib capung itu, ada yang mengatakan sayap yang sudah dipotong tadi bisa tumbuh lagi, ada juga yang mengatakan capung itu akan mati karena tidak bisa terbang untuk mencari makanan. Tapi aku tidak peduli, yang penting kami senang.

Ada tiga jalan di depan kami, jalan besar ke tengah sawah dan dua jalan kecil yang menyusuri pinggir-pinggir sawah, satu ke kanan dan yang lainnya ke kiri.

“Kita lewat jalan yang mana, Bud?” Tanyaku

“Lewat tengah sawah aja. Ntar langsung ke sawahnya Pak Karto yang punya sumur dan banyak ikannya!” Jawab Budi.

“Wah, panas kalo lewat tengah. Mending kita lewat jalan pinggir, baru ke sana lewat pematang sawah.” Tarno ikut bicara

“Aku setuju usulnya Tarno. Lagian jalan besar di tengah sawah ini banyak batunya.” Tambah Andi

“Ya udah deh. Karena semua pengin lewat pinggir sawah, let’s go, berangkat!”

“Ayo berangkat!”

Perjalanan pun berlanjut, menyusuri pinggir-pinggir sawah. Suasananya masih sangat sejuk karena banyak pohon yang menutupi panasnya sinar matahari. Tetapi kalau sudah di tengah persawahan dijamin orang kota nggak akan mau ke sana sebab ntar kulitnya yang putih bersih bisa berubah menjadi hitam coklat karena terbakar.

Beberapa orang petani tengah sibuk dengan garapannya masing-masing. Ada yang menabur pupuk, ada yang mencari rumput untuk makanan hewan ternaknya, ada juga yang sudah menyelesaikan pekerjaanyya dan istirahat di bawah gubug sambil menikmati makanan ala kadarnya. Nikmat sekali sepertinya makanan itu.

Tetapi memang, makanan yang dimakan si bawah gubug sawah selalu enak. Sering pagi-pagi sekali kami menyempatkan pergi ke sawah sambil membawa sebungkus nasi, beberapa gorengan dan minuman. Hawanya yang masih sejuk menambah kenikmatan suasana di sawah.

Perjalanan jhampir sampai, tinggal melewati beberapa petak sawah lagi. Sumur yang akan menadi tempat tujuan kami juga sudah mulai terlihat. Tidak terlalu besar, paling Cuma satu meter kali satu setengah meter. Tetapi ikannya cukup banyak. Mulai yang berukuran kecil seperti sepat, cethul, dan wader hingga yang berukuran besar seperti bader, kutuk, bahkan katanya lele juga ada.

Tidak jauh dari sumur tersebut berdiri sebuah gubug. Di situlah kami akan beristirahat jika sudah lelah. Cukup luas untuk menampung empat anak kecil seperti kami. Kadang kami bercanda ria di gubug itu, bahkan sampai main berkelahi di situ juga.

“Ayo, segera kita pasang umpannya!” Ajakku begitu sampai di pinggir sumur. Kubuka plastik berisi laron sebagai umpan. Sekarang lebih banyak yang mati daripada tadi pagi. Tetapi itu tidak masalah, toh ikannya tetap mau memakannya.

“Iya, aku pengin segera mendapat ikannya.” Sahut Andi.

“Laronnya besar-besar, pasti ikannya sangat suka dan segera memakan umpan yang kita pasang.” Tarno ikut bicara

“Aku pengin dapat bader, soalnya selama ini aku belum pernah mendapatklan ikan yang satu ini.” Budi ikut bicara sambil memasang umpan ke kait pancingnya.

“Kalo di sumur yang tenang begini sulit mendapatkan bader karena ikan semacam itu biasanya hidup di air yang mengalir.” Sahutku.

“Yup, aku dah selesai. Duluan, ya!” Tarno ternyata paling cepat memasang umpan.

Satu persatu kami pun selesai menyiapkan umpannya. Segera kami masukkan ke dalam sumur. Sekarang tinggal menunggu ikan terjerat ke umpan lalu menariknya cepat-cepat. Pekerjaan seperti ini biasanya sangat menyenangkan atau malah sebaliknya. Tetapi kami menunggu dengan sabar. Biasanya kalau sudah kepanasan, pancing kami tancapkan ke bagian pinggir sumur lalu berteduh di bawah gubug sambil tetap memperhatikannya.

Waktu telah berlalu selama satu jam lebih. Beberapa ekor ikan berhasil kami tangkap tetapi itu belum memuaskan kami. Ikan yang kami tangkap tidaklah istimewa karena ukurannya yang kecil-kecil padahal yang diinginkan adalah ikan yang berukuran besar atau minimal sedang.

Kelesuan mulai menggerayangi tiap-tiap dari kami. Terutama Andi, ia malah tertidur di gubug semenjak tadi. Barangkali bosan karena umpannya tidak segera dimakan oleh ikan. Sementara yang lain tetap menunggu dengan sabar, termasuk aku.

Kata orang, dengan sabar maka akan mendapatkan keberuntungan. Barangkali aja memang belum saatnya, sehingga kami harus tetap menunggu. Sesekali pengapungnya bergerak-gerak pertanda ada ikan yang tertarik tetapi tidak jadi memakannya entah mengapa.

Lama kami menunggu sampai akhirnya pengapung milik Tarno bergerak-gerak. Kami mengira pasti ikannya tidak jadi memakan umpannya seperti tadi tetapi pengapung terus bergerak-gerak. Perhatian kami semua langsung tertuju pada pancing milik Tarno.

“Kayaknya aku bakal dapat ikan besar.” Kata Tarno sambil memegangi pancingnya, bersiap-siap mengangkat umpan dan berharap ada ikannya.

“Iya, sepertinya besar. Hati-hati, No. Tunggu bentar lagi sampai umpannya benar-benar dimakan!” Sahut Budi.
Mendengar keributan ini Andi akhirnya bangun dan ikut nimbrung.

“Tar, tunggu sampai pengapungnya ditarik ke bawah oleh ikannya.” Katanya

“Eh, pengapungnya bergerak ke pinggir. Sekarang aja, ntar malah lepas!” Usulku.

Tarno menengok pengapungnya yang sekarang ada di pinggir, bersatu dengan beberapa tumbuhan air. Mungkin ia terlalu menjorok ke sumur tetapi siapa peduli. Fokus kami sekarang adalah pengapung milik Tarno.

Tiba-tiba pengapung tertarik ke dalam air dengan begitu cepat.

“Tariii….kkkk!” Teriak kami serempak.

Tarno seperti kaget dan segera menarik pancingnya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu, tanah tempat pijakan Tarno retak dan tercebur ke dalam sumur. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Tarnio ikut masuk ke dalam air.

Tubuhnya mengelepar-gelepar, tangannya menggapai-gapai apaun yang ada di sana untuk pegangan tetapi percuma, semuanya ikut tenggelam. Sepertinya Tarno kesakitan. Ia tak bisa berenang dan mungkin sudah cukup banyak air yang masuk ke dalam mulutnya.

“Tarno, raih pancingku. Nanti kami tarik!” Teriak Andi sambil menyodorkan pancingnya ke tangan Tarno.

“Pegang yang erat, ya!” Tambah Budi.

Tetapi sepertinya tarno kehilangan konsentrasi. Tangannya tidak juga dapat meraih pancing yang kami sodorkan. Semua jadi panik, tak tahu harus berbuat apalagi untuk menolong teman kami.

“Tarno, berusahalah. Raih pancing ini!” Teriak Budi

“Iya, kamu pasti bisa. Jangan menyerah!” Tambahku

Setelah beberapa lama akhirnya Tarno berhasil meraih pancing. Dengan sekuat tenaga, kami menariknya ke atas. Semua ikut membantu tanpa kecuali. Aku, Budi, dan Andi bersama-sama memegang pancing yang kami gunakan untuk menarik tubuh Tarno.

Untung waktu itu, airnya cukup banyak sehingga Tarno terapung dekat permukaaan tanah dan kami pun tidak terlalu berat mengangkatnya. Semua berkat kerja sama dari kami semua. Dengan saling memberi semangat ternyata keberhasilan bukan hal yang tidak mungkin utnuk diraih.

Hari ini kami benar-benar mendapat pelajaran yang sangat berharga. Terutama persahabatan kami berempat semakin erat, itu yang paling penting. Tidak ada yang dapat menandingi kekuatan persahabatan karena di dalamnya ada cinta, kasih sayang, dan kepedulian.

S E K I A N

Yogyakarta, 1 April 2006
Adnan Anwar
TE UGM ‘04
Semester IV

Memory tentang desaku dan masa kecilku bersama sahabat-sahabatku Agung, Pinut, Daryanto

Leave a Comment :, , , , more...

Sang Ketua Rohis

by on Jan.27, 2011, under Cerpen

Pagi yang cerah dan menyejukkan. Matahari terbit dengan indahnya dari ufuk timur. Sinarnya menembus daun-daun pepohonan di depan rumah. Induk ayam mengosak-asik sampah, mencarikan makanan buat anak-anaknya. Burung-burung berkicauan bersahut-sahutan seolah ikut menyambut datangnya hari yang baru, hari yang akan membawa hal-hal baru di dalamnya.

Makanan sudah terhidang di depan meja. Dengan dandanan yang rapi, baju seragam putih abu-abu berbet di lengan kanannya bertuliskan SMU N I YOGYAKARTA dan bersepatu fantofel, Irwan keluar dari kamarnya.

”Apa lagi kertas yang kau bawa itu, Wan?” Tanya Bu Isti, ibunya Irwan.

“Kertas proposal korban, Bu. Baru kuperiksa dan ingin kuserahkan pada Dimas hari ini.” Jawabnya.

“Ingat lho, Wan. Kamu boleh berorganisasi tapi jangan sampai lupa pada pelajaran. Itu tujuanmu sekolah!”

“Iya, Bu. Aku tahu.”

Hari Raya Idul Adha sudah dekat. Irwan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara. Walaupun sudah dibentuk panitia sendiri, ia masih sibuk memeriksa, mengontrol, dan mengecek sana-sini. Memang ia adalah sosok ketua rohis yang istiqomah, benar-benar bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya. Tidak ketinggalan juga bahwa ia paling anti dengan yang namanya pacaran. Di berbagai forum, ia selalu mengajak pada teman-temannya agar menjauhi satu hal tersebut.

“Ingat, ya adik-adik. Pacaran itu tidak ada dalam konsep Islam. Maka, mengapa kita harus melakukannya, lagipula Rosulullah tidak pernah memberikan tuntunan pada umatnya tentang pacaran.” Jelasnya dalam salah satu forum kajian kelas.

“Tanya, Mas. Apakah mas Irwan pernah jatuh cinta?” Tanya salah seorang anak, peserta forum.

”Belum dan saya tidak ingin melakukannya. Tidak boleh itu namanya jatuh cinta dan pacaran.”

”Tapi, Mas. Jatuh cinta kan datang dengan sendirinya, bagaimana tuh?”

”Ya, harus dihilangkan, cegah sekuat mungkin. Ingat sekali lagi bahwa cinta sejati itu hanya kepada Allah semata.” Katanya menutup forum.

Begitulah pandangannya tentang cinta, sangat kolot dan keras kepala. Itulah pula yang membuatnya dijauhi oleh anak-anak yang tidak setuju dengan pendapatnya. Tetapi memang begitulah pendidikan agama yang diberikan di sekolah tersebut. Baik oleh alumni yang masih aktif berdakwah di sekolah, baik oleh kakak kelas yang tentu saja berpengaruh langsung maupun oleh guru agama. Sehingga timbul dua golongan di dalam sekolah tersebut yaitu golongan anak rohis yang menentang keras perilaku pacaran dan golongan anak-anak yang bukan rohis.

Suatu ketika Irwan sedang berjalan di lorong antara kelas menuju ruang rohis. Karena pintunya tidak terkunci ia langsung masuk saja tanpa punya pikiran apa-apa. Tetapi tidak disangka pada saat yang bersamaan, Ika, Sang Sekretaris keluar dari ruangan yang sama melalui pintu yang sama. Kejadian yang tidak diharapkan oleh kedua insan manusia itu pun terjadi. Keduanya bertabrakan. Irwan melihat wajah sekretarisnya itu sangat dekat, lebih dekat daripada apapun yang pernah dipandangnya selama ini dan Ika pun balik memandangnya. Jantung Irwan berdetak kencang, kencang sekali. Baru setelah sekitar setengah menit, waktu yang cukup lama untuk saling memandang, keduanya baru tersadar. Ika segera berlari keluar melewatinya, sedang Irwan hanya bisa berdiri tercengang tak bergerak.

Entah apa yang terjadi pada sang ketua rohis itu, ia tak bisa melupakan kejadian itu. Belajar malamnya tak masuk bahkan sampai-sampai tidurnya bermimpi persis seperti kejadian tadi sore. Ia terus beristighfar dan minta petunjuk-Nya tetapi ternyata tetap tak bisa melupakannya.

Paginya ia hendak minta maaf pada Ika di kelasnya langsung. Tetapi ketika ia sudah sampai di depannya, jantungnya berdetak kencang lagi. Ia gugup, mulutnya sulit digerakkan apalagi mendengar Ika bicara duluan.

”Irwan mau ngomong apa?” tanyanya.

“A…..nu, aa….nu….. A..ku…., a..ku…..” dengan gugup ia mulai bicara.

“Ada apa sih?” Tanya Ika lagi, yang kini mulai punya dugaan tertentu terhadap sikap ketuanya itu, dan ia pun menjadi gugup juga.

“Maaf.” Dengan cepat Irwan berkata sambil berlari menjauhi Ika. Sambil berlari ia bergumam ”Ada apa aku ini? Mengapa aku jadi gugup begini?”

* * *

Hari ini seluruh pengurus Rohis mengadakan rapat guna membahas persiapan/pembentukan panitia seminar yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Rapat berjalan dengan lancar. Panitia telah terbentuk dan rapat ditutup pada pukul lima sore. Semua keluar kecuali Irwan yang katanya ingin membaca buku sebentar di ruangan tersebut.

Di lain pihak, Ika yang sudah tiba di kostnya baru ingat kalau buku PR Matematikanya ketinggalan  di ruang rohis. Tanpa pikir panjang ia pakai jilbabnya dan setengah berlari menuju sekolah yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Irwan yang tengah asyik membaca buku dikejutkan oleh suara yang telah sangat dihafalnya.

“Assalamu’alaikum. Maaf, aku mau mengambil bukuku yang ketinggalan.” Katanya sambil berjalan mengambil buku di atas meja.

Irwan sangat gugup, tak sangup bicara sepatah katapun melihat sekretarisnya itu, berduaan lagi dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Ia terus memandangi wajah Ika sampai keluar dari ruangan. Satu perbuatan yang selama ini , Irwan selalu mengajarkan untuk tidak melakukannya yaitu memandang tajam pada seorang wanita, akhwat lagi.

Lama ia termenung di tempat tidur, memikirkan perasaannya yang selama ini mengganggu pikirannya. Tanpa sadar ia tertidur lelap, dan lagi-lagi ia memimpikan Ika, sekretarisnya itu.

Pagi yang indah, seperti biasa makan bersama keluarga. Irwan hanya diam tanpa bersuara, suara gemelitik piring saja yang menghiasi ruangan itu.

”Ika, siapa dia Irwan?” Tanya Bu Isti kepada Irwan

”Dia sekretarisku. Darimana Ibu tahu?”

”Pasti ia sangat cantik, sholehah, dan sangat anggun sampai bisa memikat seorang ketua rohis.”

”Ah, Ibu ini suka bercanda. Mana mungkin aku terpikat begitu.”

”Sudah, jangan bohong. Buktinya tadi malam kamu mimpi tentang dia kan? Sampai ngelindur panggil-panggil namanya lagi, apa itu namanya bukan cinta?”

”Apa benar ini cinta?” Gumamnya

Dalam perjalanannya ke sekolah ia terus memikirkan perkataan ibunya tadi pagi. ”Aku akan menahannya dan melupakannya.” Katanya

Tetapi di luar dugaannya, semakin ia berusaha melupakannya, perasaan itu semakin terasa. Perasaan ingin bertemu, perasaan ingin bicara, dan perasaan ingin memandang wajahnya. Bahkan kini ia mulai mencari-cari alasan hanya untuk menemui sekretarisnya itu. Dan setiap kali bertemu ada perasaan senang bercampur gugup dalam hatinya.

Begitulah cinta. Ia tidak dapat diciptakan tetapi juga tidak dapat dimusnahkan. Cinta adalah anugrah dari Sang Maha Mencinta. Lalu mengapa kita harus berusaha mencegahnya. Satu hal yang harus diingat adalah cinta itu boleh dan harus disyukuri tetapi jangan sampai cinta kepada sesama membuat kita buta dan gila apalagi sampai mengalahkan cinta kita kepada Sang Pencipta, sumber datangnya cinta dan cinta sejati bagi manusia.

S E K I A N
Yogyakarta, 21 Januari 2003
SMU N I YOGYAKARTA

Leave a Comment :, , more...

Layar Tancap

by on Nov.05, 2010, under Cerpen

“Nanti malam ada layar tancap, lho!!”

“Di mana, Gung?”

“Di lapangan Sorobayan. Katanya film yang akan diputar sangat seru.”

Aku, Agung, Daryanto dan Pinut baru kali ini punya kesempatan untuk menonton layer tancap. Desa tempat tinggalku masih tergolong terbelakang alias tertinggal meskipun beberapa tahun yang lalu kepala dukuh menolak adanya IDT(Inpres Desa Tertinggal). Padahal dana yang ditawarkan tidak sedikit, bukan hanya jutaan tetapi ratusan juta. Cukup untuk membangun desa menjadi lebih maju dan makmur.

Sangat jarang desaku tersentuh produk teknologi termasuk layer tancap. Bisa jadi setahun cuma dua kali atau malah satu kali. Yang punya televisi bisa dihitung dengan jari, itupun stasiun yang nyambung paling TVRI yang isinya selalu berita atau kethoprak, sangat membosankan. Tidak aneh jika ada layer tancap animo masyarakat sangat besar. Walaupun harus bayar tiket masuk tetapi hal itu hanyalah angina lalu bila dibandinngkan dengan kepuasan yang diraih.

”Gimana, nih. Pada mau nonton, gak?” agung yang sedari tadi menjadi sumber informasi mencoba merayu kami.

“Tapi aku harus izin sama orang tuaku dulu. Kalau boleh sih gak masalah.” Daryanto ikut bicara. Mukanya memandang burung-burung prit pari yang terbang ke sana kemari dalam hamparan tanaman padi. Kadang-kadang seorang petani melempar batu kea rah gerombolan burung yangs edang asyik melahap biji padi yang mulai menguning.

“Beli ticketnya gimana?” pinut, anggota termuda dari kelompok kami rupanya juga tertarik. Wajahnya yang masih kekanak-kanakan kadang merangsang kami untuk menggodanya.

“Beres deh pokoknya. Tapi nanti kalian ngganti uangnya ke aku. Cumin gopek, kok.” Agung sepertinya menguasai pembicaraan ini.

Aku sendiri hanya diam, tak tahu harus bilang apa. Sebenarnya sih pengen ikut apalagi temen-temen juga mau nonton tetapi aku takut bilang sama orang tuaku. Belum pernah sebelumnya aku keluar pada malam hari, bukannya takut tetapi memang sudah menjadi adapt di keluarga ini bahwa waktu malam adalah waktunya untuk istirahat dan belajar kecuali kalau bener-bener penting tentunya. Umurku baru 10 tahun,. Apa mungkin aku diijinkan?

Orang tua biasanya takut kalau anaknya keluar sendirian. Tetapi aku kan nggak senmdirian, ada tiga temen yang bersamaku nanti. Mereka kan juga anak-anak, di bawah umurku lagi, apa orang tuaku mau membiarkan anaknya keluar malam-malam bersama tiga anak kecil yang kalau terjadi apa-apa terhadapku tak bisa melindungi, justru aku yang melindungi mereka karena paling tua.

“Herdi, kamu ikut nggak?” aku tersentak.

“Ikut sajalah. Kita semua kan harus kompak. Aku dan Pinut juga ikut.” Gantian Daryanto membujukku.

Aku pali tua dan barangkali pemimpin di sini meskipun yidak pernah ada pemilihan apalagi pelantikan seperti para pembesar. Omonganku sangat manjur. Kalau aku tidak ikut bisa jadi mereka juga tidak ikut alias batal. Aku tidak ingin mengecewakan mereka,. Aku tidak mau menjadi pemicu untuk membatalkan rencana ini. Mereka adalah temanku, kami adalah kelompok yang solid, satu ikut semua harus ikut.

“Oke, deh. Aku ikut.” Serentak mereka bersorak kegirangan. Aku sendiri merasa lega dan senang tetapi ada juga sedikit rasa takut, soalnya aku belum pernah keluar malam.

Angin bertiup sepoi-sepoi menerjang apa saja yang dilewatinya. Suasana di gubug sawah milik Pinut menjadi sangat menyenangkan. Keputusan sudah bulat, nanti malam kami semua akan nonton layer tancap. Kami main gulat untuk meluapkan kegembiraan yang kami alami, tak tahu mana kawan mana lawan pokoknya kalau ada yang bebas langsung ditubruk bersama-sama. Sampai-sampai kami lupa pada tugas untuk menjaga sawah Pinut dari burung-burung. Mereka juga asyik memakan biji-biji padi, memanfaatkan waktu sementara kami lengah.

* * *

Sudah jam enam sore, hatiku masih gundah. Apalagi kalau bukan rencana nanti malam bersama teman-temanku. Setengah aku takut karena kalau benar-benar itu terlaksana maka itu adalah kali pertama aku keluar malam. Bukan hal yang mudah melakukan sesuatu yang pertama. Banyak orang mengalami kegagalan pada saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Misalnya saja naik sepeda, naik motor atau pertama masuk sekolah. Minimal pasti ada rasa canggung dan segan. Itulah yang kurasakan saat ini.

Aku juga takut bilang sama orang tuaku. Bukannya mereka orang galak, mereka baik, baik sekali. Tak pernah mereka mengecewakan aku, bahkan memarahi puntak pernah. Hal itu membuat aku sangat menghormatinya. Aku tak mau membuat mereka kecewa, aku tidak mau membuat mereka sedih dengan apa yang akan kulakukan. Bicara dengan mereka menjadi sangat sulit, seperti mau interview saja. Kalau cumin minta uang sih sudah sering aku lakukan dan mereka selalu memberi, kadang lebih dari yang aku minta. Tetapi untuk kali ini masalahnya lain. Apa yang aku inginkan ini tidak menyangkut uang atau barang, lebih dari itu menyangkut diri pribadiku, anak bungsu dari kedua orang tuaku.

Di lain pihak aku sangat ingin nonton layer tancap. Ingin sekali. Jarang aku nonton film apalagi kalau nontonnya ramai-ramai, banyak orang, banyak teman. Kalau lucu tertawa semua, kalau sedih semua terdiam. Pasti sangat seru, lebih daripada nonton televise. Kalau televise biasanya cumin nonton sendirian. Semua ditanggung sendiri, susah, senang, lucu milik sendiri.

Aku jadi membayangkan bagaimana keadaannya nanti. Ketakutanku mulai berkurang, beralih kegembiraaan yang mendominasi perasaanku. Katanya sih layar tancap itu sangat besar sehingga semua orang satu lapangan bisa menonton sepuasnya tetapi sebesar apa aku tak tahu. Mungkin 1 m2, 2 m2, 4 m2 atau lebih besar lagi. Selain itu layarnya berwarna tidak seperti televise di rumahku yang hanya hitam-putih. Lebih nyata dan lebih asyik nontonnya.Semua yang ada di layar persis seperti keadaan yang sebenarnya.

Film yang diputar biasanya komedi atau perang-perangan. Aku lebih suka yang kedua, beberapa tokoh seperti Barry Prima, Advent Bangun atau George Rudi sangat akrab menjadi perbincangan kelompok kami. Aktingnya sangat bagus , lebih-lebih pada saat mengeluarkan jurus andalannya masing-masing, seru. Kadang keluar sinar dari tangan atau bumi berguncang atau malah muncul senjata sakti, bisa berupa kapak, pedang atau tongkat, seu deh pokoknya.

Aku harus berani, batinku. Orang tuaku sangat baik pasti mengijinkan, teman-temanku juga boleh, masak aku tidak boleh. Toh, jarak lapangan Sorobayan tempat film mau diputar tidak terlalu jauh dari rumah, paling cumin 700 meter. Setlah keluar dari desa, melewati sawah dan sampai. Mudah, kan. Nanti sehabis sholat maghrib aku akan bilang. Yang penting sekarang mandi dulu, badanku mulai gatal semenjak pulang dari sawah tadi.

“Bu, aku mau nonton film!” pintaku

“Film apa?” tanyanya. Wajah beliau masih terlihat biasa. Ekspresinya netral, tak ada kesan marah ataupun senang.

“Nanti malam ka nada layer tancap, aku dan teman-teman berencana mau nonton bareng. Jam sembilan nanti berangkat. Boleh ya, Bu.”

“Kamu ini masih kecil, tidak cocok kamu nonton film kayak gitu. Belum waktunya. Kalau mau nonton, di rumah saja, sama saja kan?” Mulai aku lihat tanda-tanda negative dari ibu. Sementara batinku bergejolak antara sedih dan kecewa.

Aku sangat menghormati ibuku. Hamper semua permintaan dikabulkannya, tetapi kali ini?

“Kan cuman deket, Bu? Lagian aku sama Agung, Daryanto dan juga Pinut. Aku juga sudah beli tiketnya.” Aku mulai merengek berharap ibu berubah pikiran. Aku tampilkan ekspresi muka yang sedih dan memohon layaknya seorang pengemis.

“Nanti tiketnya tak ganti, tapi jangan keluar rumah. Banyak bahaya yang mengancan keselamatanmu. Kamu belum tahu keadaan luar di malam hari, kalau terjadi apa-apa nanti kamu juga yang rugi.” Ibu sepertinya bersikeras dan aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku sudah terlanjur berjanji pada teman-teman.

“Bagaimana dengan teman-teman, Bu?”

“Mereka akan mengerti. Sudahlah, belajar sana. Sudah jam setengah tujuh.”

“Hu …uh.” Aku beranjak lari dari tempat dudukku, pergi ke kamar dan merebahkan diri. Aku sedih, air mataku hampirmenetes. Teringat teman-teman yang akan menunggu orang yang takkan pernah dating. Malam ini aku sangat kecewa, ingin marah tetapi tak ada gunanya. Pikiranku melayang ke mana-mana tak tentu arah. Kadang memikirkan ibu, kadang teman-teman, kadang film yang akan diputar, kadang kosong. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, sepertinya semuanya jadi tak enak dilakukan.

Aku jadi berfikir mengapa orang tua selalu begitu. Melarang anaknya melakukan sesuatu hal yang sangat diinginkannya. Pendapatku tentang mereka berubah. Ternyata tak sebaik yang aku kira. Di balik kebaikan pasti ada keburukan. Dua hal yang seperti dua muka dalam koin mata uang logam. Jika salah satu muncul maka yang lainnya pasti juga akan muncul. Orang tua bisa menjadi penghalang keinginan anaknya. Itulah yang terbayang pada otakku saat ini. Betapa kejamnya.

Sayup-sayup kudengar ibuku berbicara, mungkin dengan kakakku. Mereka sudah dewasa, yang satu kelas dua SMA dan satu lagi masih kelas 1 SMP. Pasti mereka membicarakan aku, sebal aku pada mereka. Pada saat ada orang marah, malah dibicarakan. Masih kudengarkan mereka. Tak jelas. Tetapi aku semakin yakin karena kadang ada kata-kata film. Film… apa gitu. Kadang juga terdengar layer tancap. Mau apa mereka padaku.

Aneh, kalau mereka membicarakan aku kenapa namaku tak pernah disebut, minimal panggilan mereka terhadapku,lah. Apa sebenarnya maksud membicarakan layer tancap. Jangan-jangan? Batinku menduga-duga. Sesaat kesedihanku hilang berganti perasaan curiga. Perasaan ini makin kuat. ”Pasti mereka juga mau nonton layer tancap,” batinku mengambil kesimpulan. “Baiklah,” lanjutku. Kalau mereka pergi itu berarti tidak adil. Aku harus berbuat sesuatu. Akan aku pergoki sewaktu mereka mau pergi. Kalau aku tidak, mereka juga tidak.

“Apa, aduh. Jam berapa ini?” Aku gugup sewaktu mendapati diriku terbangun dari tidur.

“Jangan-jangan mereka sudah pergi. Aku telat. Terlambat. Kucari jam kecil di atas meja. Tak ada. Kuobrak-abrik seluruh isi meja demi sebuah jam.

“Sial, di mana kau?” sementara waktu semakin sempit, entah aku akan merelakannya.

“Sial.” Aku menggerutu pada diri sendiri. Jam tidak ketemu, entah sudah jam berapa sekarang. Mungkin filmnya sudah diputar atau malah sudah selesai. Kurebahkan lagi tubuhku.

“A…ah. Ini dia.” Aku tersentak kaget, ternyata jamnya ada di samping bantal. O, iya. Aku lupa menaruhnya sebelum tidur. Kulihat jarum menunjuk angka sembilan dan sebelas. Kukucek mataku biar lebih jelas.

“Jam sembilan kurang lima, masih ada harapan,” desisku. Kulihat ke kamar kakakku yang berdampingan langsung dengan kamarku. Masih ada, mereka belum berangkat.

Hatiku senang, entah senang karena apa. Tetapi puas, mungkin ini yang dinamakaniri pada orang lain. Perasaan tak senang bila orang lain berhasil dan perasaan senang bila orang lain tak berhasil. Ada keinginan untuk menggagalkan kesuksesan orang lain. Manusia memang sangat beragam sifatnya, ada yang baik dan ada yang jahat. Sebenarnya manusia terlahir dalam keadaan yang baik. Lingkungan dan hawa nasfu yang membuatnya mengambil jalan kejahatan. Kembali aku memabayang-bayangkan, bersiap-siap seandainya mereka mau pergi. Aku tak mau ketiduran lagi.

“Gluduk-gluduk.” Suara kaki dihentakkan di lantai. Suaranya dari sebelah kamarku, pasti mau pergi. Aku pura-pura tidur . suara langkah kaki berjalan lewat depan kamarku. Sempat aku membuka mata melihat kakakku berjalan, bergegas. Tidak salah lagi, batinku. Segera aku bangun, pura-pura ambil minum dan menyapa.

“Lho, mau ke mana, kok bawa sepeda segala?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Tampak kakakku sudah bersiap dengan sepedanya, pintu keluar juga sudah terbuka. Kulihat juga ibuku sedang memegangi bagian belakang sepeda untuk membantunya keluar.

“Mau njagong di rumahnya Amir.” Jawab ibuku dengan santai. Kakakku sepertinya agak gugup dan kecurigaanku pun mulai naik. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang kudengar Amir syukuran habis dikhitan. Aku kesal. Aku tahu ada udang di balik batu dari semua ini tetapi apa daya. Aku hanyalah anak umur 10 tahun yang bisanya manut pada yang lebih tua.

Kutepis kekesalanku dan kembali ke tempat tidur. Huh, desisku. Prasangkaku tetap mengatakan bahwa kakak mau nonton layar tancap. Tetapi alasan untuk menyembunyikannya sangat rasional sehingga memukul telak segala tuduhanku.

Oh, iya. Kenapa kakak pergi sendiri? Apa mungkin benar-benar mau njagong? Mana mungkin bapak dan ibu mengijinkan kakak pergi sendirian? Sementara pikiranku terus bergelayutan, terdengar lagi langkah kaki mendekat. Kulihat kakak kedua lewat depan kamar, juga agak tergesa-gesa. Apalagi ini, batinku. Segera kutinggalkan tempat tidur dan sekali lagi pura-pura ambil minum.

“Mau ke mana?” tanyaku. Terlihat kakak gugup di depan pintu yang sudah setengah terbuka.

“Ke WC.” Jawabnya singkat. Sial, batinku. Memang kebetulan atau sudah di scenario ini. Sekali lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. Alasannya sangat kuat. Kulihat pakaiannya juga seperti tidak mau pergi ke mana-mana. Tetapi bisa saja disembunyikan di balik baju, hanya saja aku tak punya bukti. Itu masalahnya.

Banyak hal yang sebenarnya kita tahu tetapi tak punya bukti untuk mengungkapnya. Lihat saja di Indonesia, sudah jelas melakukan korupsi tetapi tenang saja karena semua bukti telah lenyap bak pasir tertiup angina. Dan rakyat kecil seperti kita hanya bisa mengumpat dan memaki tanpa bisa menyeret mereka ke penjara.

Sekali lagi aku kembali ke tempat tidur dengan membawa kekalahan. Rasa jengkelku naik. Aku tak punya bukti tapi aku yakin. Bagaimana jika aku salah dan merekalah yang benar? Tapibisa juga aku yang benar, dan kalu sudah begitu mau apa? Apa aku akan diijinkan nonton? Nggak, kan. Aku jadi bingung sendiri.

“Glodek.” Pintu keluar ditutup. Prasangkaku naik lagi. Kalau kakakku mau ke WC mengapa pintunya dikunci? Aku semakin jengkel, apalagi setelah terdengar suara sepeda dikayuh menjauhi rumah. Rupanya semua ini telah diatur supaya aku tidak tahu. Aku sangat jengkel malam ini. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketidakberdayaan yang kualami.

* * *

“A…..h!!” hari sudah pagi. Matahari bersinar terang. Cahayanya menembus jendela kaca kamar. Tubuhku masih terasa kaku.  Jam di sebelah bantal menunjukkan pukul 06.00. masih pagi, batinku. Sudah semalam semenjak kejadian itu masih ada sisa-sisa rasa jengkel yang melekat di hatiku.

Hari ini adalah Minggu, jadi aku libur sekolah. Mengapa rumah jadi sepi begini? Kakakku, tertidur pulas. Ayah dan ibuku tidak ada. Aku tengok keluar, ternyata ibu sedang menjemur baju.

“Untung kamu tidak nonton film semalam, Nak!!!” kata ibuku begitu melihatku

“Ada apa, Bu?” tanyaku keheranan

“Tadi malam penonton ribut, jotos-jotosan. Untung kedua kakakmu berhasil kabur. Agung, temenmu itu jadi korban. Kena jotos.”

“Apa? Bagaimana keadaannya, Bu?”

“Tak apa. ayahmu ke sana melihat keadaan dan membantu mengobati. Besok-besok kamu jangan punya keinginan seperti itu lagi. Terlalu berbahaya. Kamu masih kecil, masih panjang hari depanmu. Kalau sudah besar kau boleh melakukan apa saja yang kau mau.”

Setengah perasaan aku menyesal, telah mempunyai prasangka  yang jelek pada anggota keluargaku sendiri, apalagi pada orang tuaku. Mereka sangat memperhatikan aku, demi kebaikanku. Aku sadar bahwa umurku yang baru 10 tahun masih menyimpan begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan.

Memang keinginan tidak selalu harus diwujudkan. Dan bersyukur pada apa yang kita alami adalah cara terbaik untuk mensikapi hidup. Kadang kita tidak tahu bahwa terwujudnya suatu keinginan bisa menyebabkan malapetaka pada diri sendiri, hanya Allah yang tahu kebutuhan makhluk-Nya.

SELESAI

By : Adnan Anwar

5 Comments :, , , more...

Tolong-Tolong !

by on Oct.22, 2010, under Cerpen

“Tolong-tolong!” Sekali lagi suara itu datang. “ Siapa itu?” tanyaku sambil melihat sekeliling. Tetapi tidak ada yang menjawab, kupikir juga wajar karena aku sedang sendirian sehingga tidak ada orang lain di sekelilingku. Aneh, darimana datangnya suara itu? Aku benar-benar terganggu akan keberadaan suara itu.

Semenjak aku masuk ke Sekolah Menengah Umum, itulah mulai datangnya suara-suara itu. Mengapa ? Mengapa harus pada waktu itu? Mengapa tidak dari dulu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada dalam pikiranku. Kuakui semenjak aku sekolah di SMU ini, kehidupanku mulai berubah. Dari ibadahku sampai hubunganku dengan masyarakat. Dulu aku rajin beribadah dan selalu tepat waktu, dulu aku selalu hormat kepada orang lain tetapi sekarang? Ibadahku selalu molor, bahkan tidak aku lakukan, dengan orang lain pun aku mulai ”njangkar”, bahkan sekarang aku juga mulai punya kebiasaan buruk yaitu merokok dan minum minuman keras.

Rumahku di desa yang bernama Sanden, dekat dengan pantai selatan. Semenjak Tk sampai SLTP aku sekolah di sana, dan baru kali ini aku sekolah di kota. Kata oran-orang di desaku ”Negara”. Karena jaraknya yang amat jauh maka aku pun kost di dekat SMU sekolahku tersebut. Keadaan inilah yang selalau menjadi dalil bagi orang tuaku untuk memarahiku ketika hari Minggu aku pulang dalah keadaan mabuk. (continue reading…)

2 Comments :, , , , more...

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...