Adnan Anwar, ST.

Buku

Ayahku (Bukan) Pembohong

by on Oct.16, 2011, under Buku

tere-liyePengarang : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia
Terbit : Juni 2011
Jumlah hal : 299 hal
Harga : Rp 36.000,- (Harga pada waktu saya membelinya)

Boleh dibilang saya adalah penggemar buku-buku karangan tere-liye. Hampir semua novel yang ditulisnya saya punya dan sudah saya baca. Bukan pada pengarangnya sebenarnya saya suka, tetapi tulisannya mempunyai keunikan tersendiri buat saya. Ada hal-hal tertentu disajikan dengan begitu apik dan menarik.

Buku yang berjudul “Ayahku (Bukan) Pembohong” bercerita tentang seorang ayah yang membesarkan anaknya dengan cerita-cerita. Seorang ayah yang menanamkan hakikat kehidupan melalui cerita-ceritanya. Sayangnya kian dewasa sang anak, ia mulai mempertanyakan kebenaran cerita dari ayahnya. Bahkan ia sempat membenci ayahnya yang juga menceritakan hal yang sama pada cucu-cucunya.

Bahasanya sangat bagus dan jalan ceritanya selalu memberikan kejutan yang tidak pernah terduda selain hikmah-hikmah kehidupan yang diselipkan di sana-sini. Setiap karakter benar-benar dibangun dengan bagus. Bahkan saya sendiri sebagai pembaca bisa mencerna orang seperti apa Dam(tokoh utama dalam novel ini), juga ayahnya yang suka bercerita, juga Zas dan Qon(putra dan putri dam).

Kisah cinta Dam dan Taani meskipun tidak begitu ditonjolkan tetapi sangat melekat buat saya. Romantismenya ketika bertemu kembali setelah sekian tahun berpisah cukup membuat pembacanya tersenyum.

Di akhir buku ini, penulis mencoba menyampaikan kepada para pembacanya tentang hakikat kebahagiaan. Bahwa ia ada di dalam diri setiap insan manusia tidak tergantung pada apa-apa yang ada di luar dirinya.

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat ituberasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. “ itulah salah satu nasehat yang diberikah ayah Dam.

Lalu, sebenarnya cerita seperti apa yang diberikan ayah kepada Dam? Mengapa Dam menyangsikan kebenaran cerita-cerita ayahnya? Sebenarnya cerita ayahnya itu semua bohong atau benar? Temukan jawabannya di novel ini.

Tidak punya bukunya, mau beli ga punya uang? Silakan datang ke rumah saya dan akan saya pinjamkan dengan gratis..hehehe…

Leave a Comment :, , , , more...

Burlian

by on Sep.18, 2011, under Buku

burlianBurlian adalah salah satu buku yang tergabung dalam serial anak-anak mamak oleh tere-liye. Buku sebelumnya yang sudah saya baca adalah “PUKAT” di mana dalam kisah serial ini, Pukat adalah kakak dari Burlian. Meskipun kisahnya terkait satu sama lain dan tokoh, latar tempat, serta latar waktu adalah sama tetapi bukanlan cerita bersambung. Masing-masing punya tokoh utamanya sendiri sesuai dengan judulnya dan juga memiliki kisah sendiri yang memang dimungkinkan beberapa saling terkait.

“Burlian” sendiri bercerita tentang sosok anak laki-laki bernama Burlian. Oleh Bapaknya dengan sebutan “si anak spesial” dengan harapan dia benar-benar menjadi anak yang spesial. Dan kenyataannya memang dia adalah anak yang spesial.

Banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui sosok Burlian ini. Mengenai persahabatan, kecintaan terhadap alam, jiwa saling menolong, dan tidak ketinggalan pentingnya menghormati orang tua.

Kisah paling berkesan buat saya adalah semangat Burlian untuk selalu membuat perubahan di lingkungan sekitarnya. Tentu saja dengan kepolosannya sebagai anak-anak. Misal kisah pertemuannya dengan Nakamura(seorang insinyur dari Jepang yang mendapat proyek pembukaan jalan lintas Sumatra). Nakamura suatu ketika punya permasalahan dengan putri yang sangat disayanginya. Melihat situasi tersebut, Burlian dengan ide briliannya mengirim surat jauh-jauh ke Jepang, yaitu kepada Keiko, putri dari Nakamura untuk menasehati betapa sayang dan cinta ayahnya kepada putrinya. Dengan memang berhasil.

Juga semangat Burlian dalam membaca buku. Sangat luar biasa. Bahkan perpustakaan di sekolahnya tak cukup untuk memenuhi hasrat Burlian untuk membaca. “Kau terlalu cepat membaca buku-buku itu, Burlian!!” Kata Pak Bin, guru satu-satunya di sekolah Burlian.

Bagi anda yang suka membaca kisah sederhana tetapi penuh makna maka buku ini sangat tepat untuk anda miliki.

2 Comments :, , , more...

Daun Pun Berdzikir

by on May.24, 2011, under Buku

daun

Judul : Daun Pun Berdzikir

Penulis : Taufiqurrahman al-Azizy.

Penerbit : Laksana

Tebal : 361 halaman

Terbit : Mei 2010

Harga : Rp 46.000,00

“Bram…!” Sebuah panggilan yang lembut itu menghentikan langkah Bram. “Karena Allah, aku pun mencintaimu,” ucap suara itu, yang tak lain dan tak bukan keluar dari bibir Shofi. Bram menarik napas dalam-dalam.

Suara itu….

Sebuah suara yang sangat dirindukannya. Sebuah suara yang sangat didambakannya. Sebuah suara yang dicarinya selama ini ke mana-mana. Sebuah suara yang menghentikan langkahnya, memejamkan matanya, mendebarkan detak jantungnya, menggemetarkan sendi tubuhnya. Sebuah suara yang tak diduga-duganya. Panggilan kekasih….

*   *   *

Perjalanan pencarian cinta yang panjang telah dilewati Bram. Jiwa, harta, dan air mata telah diberikan. Namun, hanya kecintaan kepada sang Rabb-lah yang sanggup merobohkan kebekuan hati sang kekasih. Karena kecintaan kepada-Nya jauh di atas segala cinta dunia.

Sebuah novel religius sangat inspiratif yang akan menuntun Anda menemukan cinta berlandaskan kecintaan kepada Sang Maha Cinta. Karena hanya berbekal cinta kepada-Nya, hidup Anda akan bahagia. Sekalipun cobaan terus menghantam, Anda akan tetap teguh tegar, menatap dunia dengan optimis. Inilah kesaksian daun-daun pun turut berdzikir karya novelis muslim kawakan, Taufiqurrahman al-Azizy.

Saya mulai membaca karya Taufiqurrahman al-Azizy sejak novelnya yang berjudul Kitab Cinta Zusuf & Zulaikha. Yang membuat saya tertarik dengan karya-karya beliau adalah susunan katanya yang indah dan mengalir. Penuh dengan nuansa syair dan puisi. Bahkan kadang perbincangan yang terjadi di dalam novelnya pun mengandung bahasa syair.

Di dalam novel Daun Pun Berdzikir, bercerita tentang kisah cinta yang terganjal akibat perbedaan materi. Shoffi adalah gadis dengan kedudukan terhormat sementara Haydar adalah pemuda miskin yang untuk mencari sesuap nasi saja harus bekerja keras membanting tulang. Kisah cinta mereka semakin terganjal dengan kedatangan Bram, pemuda tampan dan kaya raya yang sedang melakukan penelitian di desa tempat di mana Shoffi dan Haydar tinggal.

Ada konflik yang terjadi antara ketika pemuda-pemudi tersebut serta orang tua Shoffi dan juga Orang tua Haydar. Semua dikemas dengan intrik-intrik yang menarik. InsyaALLAH, banyak hikmah yang bisa diambil dari novel ini.

Leave a Comment :, , , , more...

Negeri 5 Menara

by on Apr.09, 2011, under Buku

menara

Judul : Negeri 5 Menara

Penulis : A Fuadi

Penerbit : Gramedia

Jumlah halaman : 416 halaman

Terbit : September 2009

Harga : Rp. 40.000,-

Di sampul depan buku ini tertulis “Sebuah novel yang terinspirasi kisah nyata.” Satu lagi novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Usut-punys usut kisah nyata yang dimaksud adalah kisah penulis sendiri sewaktu menempuh perjuangan di sebuah pondok di Jawa Timur. Memang ada kesan tersendiri jika novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Cerita yang disajikan terkesan lebih realistis dan bias dipahami hikmahnya.

Dikisahkan seorang remaja bernama Alif yang sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur, seperti Pak Habibie dan Pak Karno. Hal itu akan dia tempuh dengan masuk ke SMA yang selanjutnya diteruskan ke ITB. Suatu cita-cita yang selalu dia bagi bersama dengan sahabat tercinta, Randai. Rencana suda tersusun rapid an ujian akhir madrasah tsanawiyah pun sudah usai.

Permasalahan muncul ketika sang ibu menginginkan Alif menjadi seorang pemuka agama. Ia berpendapat bahwa selama ini sekolah agama hanya menjadi pilihan terakhir jika tidak diterima di sekolah biasa. Akhirnya, para pemuka agama yang muncul adalah orang-orang yang tidak punya latar belakang prestasi memadai. Ia ingin anaknya menjadi pioneer, seorang pemuka agama yang memang benar-benar berprestasi seperti Buya Hamka yang berasal dari daerah yang sama yaitu Minangkabau.

Alif pun mengalami tress berat. Sempat mengunci diri di kamar sebagai bentuk protes. Tetapi keputusan sang ibu tidak bias diganggu gugat. Alif harus masuk sekolah agama. Ia tahu tak akan bias menang melawan kemauan ibu. Hingga dating sebuah surat dari pamannya yang berada di Arab, menyarankan ia masuk Pondok Madani saja di Jawa Timur. Keputusan pun dibuat, Alif mau masuk sekolah agama tetapi jika dan hanya jika di Pondik Madani, Jawa Timur. Berat juga kedua orang tuanya melepas anaknya ke negeri orang tetapi daripada tidak masuk sekolah agama. Akhirnya Alif berangkat ke Jawa Timur.

Petualangan pun dimulai. Awalnya Alif merasa berat tinggal di pondok. Kedisiplinan yang luar biasa ketat membuat ia harus selalu memompa adrenalinnya. Di bawah menara ia sering mencurahkan isi hatinya beserta 4 orang sahabatnya yang juga senasib sepenanggungan, Baso, Raja, Atang, dan Said. Mereka mempunyai karakter yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Kalimat ”man jadda wa jada” menjadi senjata utama ketika mereka merasa kesulitan di pondok. Barangsiapa berusaha maka ia akan berhasil. Ketika menghafal Al-Quran begitu sulit, mempelajari bahasa Arab dan Inggris yang menjadi bahasa sehari-hari menjadi begitu susah. Man jadda wa jada, pekik mereka dalam hati. Waktu pun berjalan begitu cepatnya.

Ketika ia mulai terbiasa dengan kehidupan pondok datanglah surat dari sahabatnya di Minangkabau, Randai. Ia menceritakan tentang asyiknya sekolah di SMA. Kebebasan yang mereka dapatkan, ilmu yang dipelajari, bahkan liburan antar semester yang menyenangkan. Hal itu tidak dapat didapatkan di Pondok Madani. Ia senang karena keberhasilan sahabatnya tetapi juga iri. Sempat ia menyesal karena masuk pondok dan ingin keluar dari sana.

Akankah ia bias menyelesaikan sekolahnya di pondok? Apa reaksinya menerima surat dari Randai yang selalu mengisahkan kebahagiaannya sekolah di SMA bahkan diterima di ITB sesuai rencana mereka dulu? Apakah ia bias mewujudkan impiannya sejak kecil menjadi seperti Pak Habibie dan Pak Karno? Silakan baca selengkapnya di novel ini……

Leave a Comment :, , , , , more...

Galaksi Kinanthi

by on Feb.27, 2011, under Buku

Galaksi Kinanthi. Dari judulnya saja sudah membuat saya cukup tertarik dengan buku ini. Tetapi seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa “Don’t judge the book just from the cover” maka sebelum membeli buku ini saya mengadakan cek and ricek. Dan setelah membaca beberapa review maka tidak ada keraguan untuk membeli buku ini. Tapi jujur sebenarnya cover yang terlihat di halaman depan ini kurang menarik(menurut saya) dan kurang sesuai dengan isinya. Mengapa? Setelah membaca isi keseluruhan, latar tempat lebih banyak terjadi di gunung kidul yang sangat berbeda dengan gambaran cover tersebut(hanya pendapat saja).

Begitu membuka buku ini pastilah yang saya cari pertama kali adalah daftar isi. Kaget. Isinya adalah berbagai konstelasi bintang zaman Yunani kuno seperti sagitarius, virgo, cancer, leo, dsb. Mungkin maksudnya biar sesuai dengan salah satu kata dalam judulnya yaitu “Galaksi”. Terpikir bahwa isinya adalah tentang konstelasi alam semesta raya yang maha luas ini. Ternyata salah besar. Saya menerjemahkan judul ini sebagai buku yang bercerita kisah keseluruhan seseorang (Galaksi) yang bernama Kinanthi(Kinanthi).

Terinspirasi oleh kisah nyata, Tasaro menulis novel ini. Sebelumnya saya pernah membaca novel dengan pengarang yang sama berjudul “Samita, Sepak Terjang Hui Sing, Murid Perempuan Cheng Ho”. Keduanya bernuansa kejawen alias sangat terasa adat Jawa-nya. Bahkan di awal cerita, penulis sempat mengangkat adat  Kejawen(sesajen, rasulan, doa minta hujan, dll) yang sepertinya masih tetap terpelihara di Gunung Kidul.

Dikisahakan seorang perempuan bernama Kinanthi yang sangat miskin dan dijauhi oleh masyarakat setempat. Hanya seorang yang mau menerimanya yaitu anak rois di desa tersebut yang bernama Ajuj. Suatu ketika, mereka berdua memandang kelamnya langit malam dihiasi bintang.

“Itu namanya gubug penceng, Thi. Nah, di bawah Gubug Penceng itu ada galaksi rahasia. Namanya………Galaksi Cinta.”……hlm 50….  Ada atau tidak galaksi itu, bagi Kinanthi yang penting ia bias selalu dekat dengan Ajuj. Sayang, Tuhan belum mengijinkan mereka untuk terus bersama.

Saking miskinnya, orang tua Kinanthi menjualnya kepada penyalur TKW. Berpisah dengan Ajuj tidak membuat ia kehilangan kenangan-kenangan itu. Bahkan ketika ia dijual ke Arab Saudi, Kuwait, dan akhirnya ke Amerika dengan berbagai macam penderitaan akibat penganiayaan sang majikan, ia tetap ingat akan Galaksi Cinta. Bahkan ketika ia sudah sukses di Amerika, menjadi penulis terkenal di sana ia tetap tak bias melupakan pria yang entah sekarang ada di mana, masih hidup atau sudah meninggal.

Rasa penasaran itu membuatnya kembali ke Indonesia. Bertemu kembali dengan Ajuj dan keluarganya ternyata tidak membuat keadaan semakin membaik. Ia dan Ajuj terpisah oleh jurang ilmu yang sangat dalam. Ajuj, sekarang hanya pemuda biasa dengan kulit dekil, dan pekerjaannya hanya mencari gamping di gunung. Sementara Kinanthi yang sudah menjadi professor dan penulis ternama. Komunikasi mereka menjadi canggung. Tapi jauh di dalam sana perasaan itu masih ada.

Apakah akhirnya Kinanthi dan Ajuj bias bersatu? Apakah Kinanthi mau meninggalakan kehidupan mewahnya di Amerika demi Ajuj? Baca selengkapnya di novel berjudul “Galaksi Kinanthi” ini.
Mau beli tapi gak punya uang, bisa saya pinjamkan. Cukup datang ke kost saja….enak to…..mantep to….(lho…..). Gratis alias ga usah bayar……

Oh, iya. Kalo dah baca dan ingin menambahi silakan saja…….

Senin, 6 Juli 2009

Leave a Comment :, , , more...

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

by on Feb.09, 2011, under Buku

Buku dari tere-liye, buku keempat(Hafalan Sholat Delisha, Moga Bunda Disayang Allah, dan Bidadari-Bidadari Surga) yang pernah saya baca dari pengarang yang sama. Satu hal yang membuat saya terkesan dari beliau adalah caranya menyusun kata-kata sehingga seolah susunan kata itu bukan hanya sekedar kalimat dan paragraph. Tapi benar-benar curahan hati dan perasaan dari pengarangnya. Dan selalu saja sangat terasa pesan yang ingin disampaikan oleh tere-liye dalam novel-nya ini.

Sangat banyak pertanyaan yang kadang menggelayut dalam pikiran kita khususnya mengenai kehidupan yang kita alami. Di sini beliau ingin menyampaikan 5 buah pertanyaan yang semuany dijelaskan mengapa pertanyaan itu ada dan bagaimana menjawabnya melalui sosok bernama Ray. Apakah lima pertanyaan itu? Sedikit bocoran saja. Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?

Yah, melalui buku ini saya mendapat kesan yang sangat mendalam mengenai bagaimana kita harus menyikapi hidup dengan sederhana. Segalanya dalam hidup ini memiliki keterkaitan. Hukum sebab akibat. Perbuatan baik ataupun buruk pasti ada akibatnya sekecil apapun.  Semua urusan adalah sederhana jika kita bias memandang dari sisi yang benar. Hanya kadang keegoisan kita membuat sesuatu menjadi begitu sangat rumit.

Ini adalah kisah seseorang bernama Ray yang kehilangan orang tuanya karena kebakaran(tepatnya senaja rumahnya dibakar oleh seorang pengusaha karena lahannya akan dibangun bangunan modern). Hidup dip anti asuhan sebagai anak yatim piatu dengan segala macam kesengsaraan. Akhirya minggat dan menjadi preman pasar. Bertemu dengan orang yang baik hati dan disekolahkan. Sesutu terjadi dan ia pergi. Pernah menjadi pencuri kelas atas, pegawai serabutan, mandor konstruksi, dan bahkan menjadi pengusaha sukses. Tapi semua itu seolah kosong. Apalagi setelah ia kehilangan istri tercinta.

Lalu, apakah kemudian ia sadar bahwa segala kejadian dalam hidupnya memiliki alasannya sendiri yang dulu ia tidak memahaminya. Yang dulu ia bertanya mengapa begitu? Mengapa begini? Mengapa harus itu? Mengapa harus ini? Semuanya terjawab di akhir hayatnya. Bagaimana ia memperoleh segala macam jawaban dan apakah itu membuatnya tenang? Baca selengkapnya dalam novel ini….

Satu dari sekian banyak paragraph yang membuat saya sangat terkesan, ketika Ray kehilangan istri yang sangat ia cintai dan ini menjawab pertanyaan tentang makna kehilangan adalah berikut ini :

“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan…. Dalam kasusmu, penjelasan ini akan teramat rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahaminya dari sisi istrimu, yang pergi….”
“Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagian orang-orang baik dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak akan menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan. Bukankah itu yang terjadi bertahun-tahun kemudian? Kau tidak pernah bias berdamai dengan kepergian istrimu?” ……..hal 315….

Mau pinjam, silakan dating ke kostku, ya!!! Huehehehehe…… Gratis alias ga usah bayar…….

1 Comment :, , , , , more...

Bidadari-Bidadari Surga

by on Jan.29, 2011, under Buku


Judul : Bidadari-Bidadari Surga

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman : 365 halaman

Harga : Rp 47.500,-

Sejak kemunculan novel pertamanya(Hafalan Sholat Delisa), saya cukup kagum dengan karya-karya dari tere liye. Selanjutnya saya tidak ragu-ragu untuk membeli buku-buku karya beliau seperti Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, dan terakhir yang saya beli Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Sungguh, buku-buku tersebut sangat dalam maknanya dan mengandung hikmah yang sangat besar buat saya.

Oh, ya saya sempat salah paham dengan pengarang buku ini. Saya berfikir bahwa tere liye adalah serang wanita. Mengapa saya beranggapan demikian? Dari namanya “tere liye” saya langsung mendapat kesan bahwa ini adalah nama seorang perempuan. Dan dilihat dari tutur bahasanya sangat lembut dan keibuan, apalagi pada buku pertamanya (Hafalan Sholat Delisa). Baru setelah saya membaca karya terakhir(yang ada sedikit review tentang pengarang), saya tahu bahwa tere liye adalah seorang lelaki. (Afwan, ya Pak…..).

Buku ini(Bidadari-Bidadari Surga) mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Saya beli sewaktu mendapat tugas di Semarang. Masuk kantor 5 hari sepekan maka hari sabtu dan minggu saya gunakan untuk membaca. Maka terbelilah buku ini. Saya beli di took buku Gramedia Semarang.

Awalnya saya pikir buku ini bercerita tentang kisah cinta seperti yangs edang popular saat itu. Ternyata saya salah besar. Dibuka dengan kisah seorang Dalimunte, pria cerdas yang sedang meneliti tentang kebenaran bahwa bulan pernah terbelah secara fisik menjadi dua(bukti mukjizat Nabi Muhammad yang pernah membelah bulan). Kebetulan saya cukup tertarik dengan alam semesta termasuk cosmos, system tata surya, dan hal-hal lain tentang alam semesta. Maka, dari awalnya saja saya sudah sangat tertarik dengan buku ini.

Saya sangat terharu dengan perjuangan Laisa, kakak pertama(perempuan)dari sebuah keluarga berkecukupan. Yang meskipun fisiknya tidak sebaik manusia kebanyakan tetapi mau berkorban untuk adik-adiknya. Bukan main-main, seluruh hidupnya dikorbankan untuk kesuksesan adik-adiknya. Bahkan ketika ia sakit pun, tak mau ia terlihat sakit dan ia menahannya sampai ajal menjemput. Ia selalu bilang “Kalian harus menjadi orang yang berhasil”.

Betapa adik-adiknya sangat menghormati perjuangan kakaknya tersebut. Dan yang lebih mengharukan lagi adalah bahwa ternyata ia bukanlah kakak kandung mereka. Subhanallah, sungguh seandainya semua kakak di dunia ini maka saya yakin tidak akan ada adik yang nakal dan bandel. Tidak aka nada adik-adik yang berani membantah kakaknya.
Saya hanya ingin mengambil beberapa hal yang saya dapat dari novel ini. Bahwa orang akan menghormati kita ketika kita mau berbuat yang benar dan kita konsisten untuk terus melakukannya. Kesuksesan tidak akan dapat diraih tanpa adanya kerja keras. Dan udah sepantasnya kehidupan dalam rumah tangga dibangun dengan rasa cinta dan kasih saying.

Sempat air mata ini menetes ketika sang kakak menghembuskan nafas terakhirnya. Kalian tahu apa permintaan terakhirnya? Tidak banyak, ia hanya ingin melihat adik-adiknya. Maka, Profesor Dalimunte yang sedang mengisi seminar tanpa ragu-ragu meninggalkan tempat untuk melihat kakaknya, Ikanuri dan Wibisana yang sedang ada perjanjian bisnis penting di luar negeri(sampai di tempat tujuan) langsung balik pulang membatalkan janji untuk menemui kakaknya, dan si bungsu, Yashinta yang sedang berada di puncak gunung segera berlari pulang untuk menemui kakaknya.

“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al-Waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (Ar Rahman:70)”

Buku yang sangat layak untuk dibaca.

Leave a Comment :, , , more...

dan, dia-lah dia….

by on Nov.07, 2010, under Buku

Judul              :  dan, dia-lah dia….

Pengarang    :  Andi Bombang

Penerbit        :  Diva Press

Terbit             :  Desember 2008

Halaman        :  484 hlm

Harga        : Rp 43.200,00 (Beli di Toga Mas, Jogja)

Saya termasuk orang yang suka membaca novel. Entah mengapa tetapi dari novel, kita bisa membayangkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis berdasarkan latar yang sedang terjadi(waktu, tempat, dan pelaku). Buku yang menuturkan banyak teori kadang berbeda apa yang ingin disampaikan penulis dan apa yang diterima pembaca dikarenakan perbedaan sudut pandang. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya informasi mengenai latar atau keadaan realitanya bagaimana suatu nasehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya beli pada hari Selasa, 23 Desember 2008 dan langsung dibaca. Terus terang sampai halaman terakhir buku ini, saya masih bingung mengenai apa maksud judul novel ini. Awalnya saya mengira yang dimaksud dia adalah Allah SWT tetapi kok ditulis dengan huruf kecil. Sementara jika yang dimaksud dengan dia adalah makhluk, kok sepertinya sulit dihubungkan dengan isi cerita. Ya, sudahlah tak menjadi  masalah, yang penting kan isinya(bagi saya lho……).

Seperti novelnya yang pertama(Kun fayakun….), di novel ini penulis masih mengangkat tema tentang ketauhidan. Sangat kental nuansa tasawuf di sana. Ia mengatakan bahwa mempelajari Islam haruslah keseluruhan, jangan setengah-setengah. Maksudnya tidak hanya syariat saja yang dikejar tetapi juga hakikatnya harus dapat.

Pamungkas(tokoh utama novel ini) dilahirkan dari orang tua yang berbeda keyakinan. Bapaknya Islam sementara ibunya Kristen. Waktu kecil, berangkat ke gereja ya, ke masjid juga iya. Keadaan berubah setelah kedua orang tuanya meninggal. Sesuai dengan kata hatinya ia memilih Islam sebagai agamanya yang akan selalu dipegang teguh.
Meskipun utamanya adalah tentang ketauhidan tetapi kisah percintaan pun tidak lupa diikutkan oleh sang penulis. Bagaimana tokoh utama berjuang sekuat tenaga mendapatkan Ratih, anak dari seorang tokoh agama di daerahnya. Unik juga, karena awalnya ayah Ratih tidak setuju.

Hanya saja, dalam novel ini tidak banyak konflik social yang diangkat. Justru yang menjadi perhatian sang penulis adalah konflik batin tokoh utama dalam mengenal Islam dan juga mengenal sang Pencipta. “Bagaimana bisa beriman jika tidak mengenal yang diimani?” kata Pamungkas dalam salah satu percakapan.

Sangat mengena bagi saya apa yang ingin disampaikan oleh penulis novel ini. Menjalankan syariat tanpa hakikatnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Ibaratnya syariat itu adalah kulitnya maka hakikat adalah isinya. Keduanya harus ada bersamaan. Tetapi jika hakikatnya sudah dapat maka dengan sendirinya syariat akan dapat tetapi tidak berlaku sebaliknya. Bagaimanapun juga, manusia harus bisa merasakan bagaimana kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, maka ia baru bisa mengimani-Nya dengan sepenuh hati, tak tergoyahkan. Jika tidak maka yang terjadi adalah pasang surut.

OK. Penjelasan singkat yang tentu saja jauh dari apa yang ada dalam novel ini. Tertarik? Ingin membaca tetapi tidak punya uang untuk membeli? Gampang, silakan dating ke kost saya langsung dapet bukunya untuk dibaca. Hanya satu syaratnya, DIKEMBALIKAN!!!! He….he…he…

Saya termasuk orang yang suka membaca novel. Entah mengapa tetapi dari novel, kita bisa membayangkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis berdasarkan latar yang sedang terjadi(waktu, tempat, dan pelaku). Buku yang menuturkan banyak teori kadang berbeda apa yang ingin disampaikan penulis dan apa yang diterima pembaca dikarenakan perbedaan sudut pandang. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya informasi mengenai latar atau keadaan realitanya bagaimana suatu nasehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya beli pada hari Selasa, 23 Desember 2008 dan langsung dibaca. Terus terang sampai halaman terakhir buku ini, saya masih bingung mengenai apa maksud judul novel ini. Awalnya saya mengira yang dimaksud dia adalah Allah SWT tetapi kok ditulis dengan huruf kecil. Sementara jika yang dimaksud dengan dia adalah makhluk, kok sepertinya sulit dihubungkan dengan isi cerita. Ya, sudahlah tak menjadi masalah, yang penting kan isinya(bagi saya lho……).

Seperti novelnya yang pertama(Kun fayakun….), di novel ini penulis masih mengangkat tema tentang ketauhidan. Sangat kental nuansa tasawuf di sana. Ia mengatakan bahwa mempelajari Islam haruslah keseluruhan, jangan setengah-setengah. Maksudnya tidak hanya syariat saja yang dikejar tetapi juga hakikatnya harus dapat.

Pamungkas(tokoh utama novel ini) dilahirkan dari orang tua yang berbeda keyakinan. Bapaknya Islam sementara ibunya Kristen. Waktu kecil, berangkat ke gereja ya, ke masjid juga iya. Keadaan berubah setelah kedua orang tuanya meninggal. Sesuai dengan kata hatinya ia memilih Islam sebagai agamanya yang akan selalu dipegang teguh.

Meskipun utamanya adalah tentang ketauhidan tetapi kisah percintaan pun tidak lupa diikutkan oleh sang penulis. Bagaimana tokoh utama berjuang sekuat tenaga mendapatkan Ratih, anak dari seorang tokoh agama di daerahnya. Unik juga, karena awalnya ayah Ratih tidak setuju.

Hanya saja, dalam novel ini tidak banyak konflik social yang diangkat. Justru yang menjadi perhatian sang penulis adalah konflik batin tokoh utama dalam mengenal Islam dan juga mengenal sang Pencipta. “Bagaimana bisa beriman jika tidak mengenal yang diimani?” kata Pamungkas dalam salah satu percakapan.

Sangat mengena bagi saya apa yang ingin disampaikan oleh penulis novel ini. Menjalankan syariat tanpa hakikatnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Ibaratnya syariat itu adalah kulitnya maka hakikat adalah isinya. Keduanya harus ada bersamaan. Tetapi jika hakikatnya sudah dapat maka dengan sendirinya syariat akan dapat tetapi tidak berlaku sebaliknya. Bagaimanapun juga, manusia harus bisa merasakan bagaimana kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, maka ia baru bisa mengimani-Nya dengan sepenuh hati, tak tergoyahkan. Jika tidak maka yang terjadi adalah pasang surut.

OK. Penjelasan singkat yang tentu saja jauh dari apa yang ada dalam novel ini. Tertarik? Ingin membaca tetapi tidak punya uang untuk membeli? Gampang, silakan dating ke kost saya langsung dapet bukunya untuk dibaca. Hanya satu syaratnya, DIKEMBALIKAN!!!! He….he…he…

Leave a Comment :, , , more...

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...