Adnan Anwar, ST.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

by on Feb.09, 2011, under Buku

Buku dari tere-liye, buku keempat(Hafalan Sholat Delisha, Moga Bunda Disayang Allah, dan Bidadari-Bidadari Surga) yang pernah saya baca dari pengarang yang sama. Satu hal yang membuat saya terkesan dari beliau adalah caranya menyusun kata-kata sehingga seolah susunan kata itu bukan hanya sekedar kalimat dan paragraph. Tapi benar-benar curahan hati dan perasaan dari pengarangnya. Dan selalu saja sangat terasa pesan yang ingin disampaikan oleh tere-liye dalam novel-nya ini.

Sangat banyak pertanyaan yang kadang menggelayut dalam pikiran kita khususnya mengenai kehidupan yang kita alami. Di sini beliau ingin menyampaikan 5 buah pertanyaan yang semuany dijelaskan mengapa pertanyaan itu ada dan bagaimana menjawabnya melalui sosok bernama Ray. Apakah lima pertanyaan itu? Sedikit bocoran saja. Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?

Yah, melalui buku ini saya mendapat kesan yang sangat mendalam mengenai bagaimana kita harus menyikapi hidup dengan sederhana. Segalanya dalam hidup ini memiliki keterkaitan. Hukum sebab akibat. Perbuatan baik ataupun buruk pasti ada akibatnya sekecil apapun.  Semua urusan adalah sederhana jika kita bias memandang dari sisi yang benar. Hanya kadang keegoisan kita membuat sesuatu menjadi begitu sangat rumit.

Ini adalah kisah seseorang bernama Ray yang kehilangan orang tuanya karena kebakaran(tepatnya senaja rumahnya dibakar oleh seorang pengusaha karena lahannya akan dibangun bangunan modern). Hidup dip anti asuhan sebagai anak yatim piatu dengan segala macam kesengsaraan. Akhirya minggat dan menjadi preman pasar. Bertemu dengan orang yang baik hati dan disekolahkan. Sesutu terjadi dan ia pergi. Pernah menjadi pencuri kelas atas, pegawai serabutan, mandor konstruksi, dan bahkan menjadi pengusaha sukses. Tapi semua itu seolah kosong. Apalagi setelah ia kehilangan istri tercinta.

Lalu, apakah kemudian ia sadar bahwa segala kejadian dalam hidupnya memiliki alasannya sendiri yang dulu ia tidak memahaminya. Yang dulu ia bertanya mengapa begitu? Mengapa begini? Mengapa harus itu? Mengapa harus ini? Semuanya terjawab di akhir hayatnya. Bagaimana ia memperoleh segala macam jawaban dan apakah itu membuatnya tenang? Baca selengkapnya dalam novel ini….

Satu dari sekian banyak paragraph yang membuat saya sangat terkesan, ketika Ray kehilangan istri yang sangat ia cintai dan ini menjawab pertanyaan tentang makna kehilangan adalah berikut ini :

“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan…. Dalam kasusmu, penjelasan ini akan teramat rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahaminya dari sisi istrimu, yang pergi….”
“Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagian orang-orang baik dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak akan menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan. Bukankah itu yang terjadi bertahun-tahun kemudian? Kau tidak pernah bias berdamai dengan kepergian istrimu?” ……..hal 315….

Mau pinjam, silakan dating ke kostku, ya!!! Huehehehehe…… Gratis alias ga usah bayar…….

No related posts.

:, , , , ,

1 Comment for this entry

  • Rayi

    referensinya cukup menarik,
    belajar berdamai dengan diri sendiri,coba memahami dari sisi orang yang pergi(entah pergi kemana dan kapan akan bertemu lagi,…)
    apakah bisa benar-benar memahami cinta yang sesungguhnya bila teramat mencintainya dan tipisnya iman?

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...