dan, dia-lah dia….
by pigeon on Nov.07, 2010, under Buku

Judul : dan, dia-lah dia….
Pengarang : Andi Bombang
Penerbit : Diva Press
Terbit : Desember 2008
Halaman : 484 hlm
Harga : Rp 43.200,00 (Beli di Toga Mas, Jogja)
Saya termasuk orang yang suka membaca novel. Entah mengapa tetapi dari novel, kita bisa membayangkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis berdasarkan latar yang sedang terjadi(waktu, tempat, dan pelaku). Buku yang menuturkan banyak teori kadang berbeda apa yang ingin disampaikan penulis dan apa yang diterima pembaca dikarenakan perbedaan sudut pandang. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya informasi mengenai latar atau keadaan realitanya bagaimana suatu nasehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya beli pada hari Selasa, 23 Desember 2008 dan langsung dibaca. Terus terang sampai halaman terakhir buku ini, saya masih bingung mengenai apa maksud judul novel ini. Awalnya saya mengira yang dimaksud dia adalah Allah SWT tetapi kok ditulis dengan huruf kecil. Sementara jika yang dimaksud dengan dia adalah makhluk, kok sepertinya sulit dihubungkan dengan isi cerita. Ya, sudahlah tak menjadi masalah, yang penting kan isinya(bagi saya lho……).
Seperti novelnya yang pertama(Kun fayakun….), di novel ini penulis masih mengangkat tema tentang ketauhidan. Sangat kental nuansa tasawuf di sana. Ia mengatakan bahwa mempelajari Islam haruslah keseluruhan, jangan setengah-setengah. Maksudnya tidak hanya syariat saja yang dikejar tetapi juga hakikatnya harus dapat.
Pamungkas(tokoh utama novel ini) dilahirkan dari orang tua yang berbeda keyakinan. Bapaknya Islam sementara ibunya Kristen. Waktu kecil, berangkat ke gereja ya, ke masjid juga iya. Keadaan berubah setelah kedua orang tuanya meninggal. Sesuai dengan kata hatinya ia memilih Islam sebagai agamanya yang akan selalu dipegang teguh.
Meskipun utamanya adalah tentang ketauhidan tetapi kisah percintaan pun tidak lupa diikutkan oleh sang penulis. Bagaimana tokoh utama berjuang sekuat tenaga mendapatkan Ratih, anak dari seorang tokoh agama di daerahnya. Unik juga, karena awalnya ayah Ratih tidak setuju.
Hanya saja, dalam novel ini tidak banyak konflik social yang diangkat. Justru yang menjadi perhatian sang penulis adalah konflik batin tokoh utama dalam mengenal Islam dan juga mengenal sang Pencipta. “Bagaimana bisa beriman jika tidak mengenal yang diimani?” kata Pamungkas dalam salah satu percakapan.
Sangat mengena bagi saya apa yang ingin disampaikan oleh penulis novel ini. Menjalankan syariat tanpa hakikatnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Ibaratnya syariat itu adalah kulitnya maka hakikat adalah isinya. Keduanya harus ada bersamaan. Tetapi jika hakikatnya sudah dapat maka dengan sendirinya syariat akan dapat tetapi tidak berlaku sebaliknya. Bagaimanapun juga, manusia harus bisa merasakan bagaimana kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, maka ia baru bisa mengimani-Nya dengan sepenuh hati, tak tergoyahkan. Jika tidak maka yang terjadi adalah pasang surut.
OK. Penjelasan singkat yang tentu saja jauh dari apa yang ada dalam novel ini. Tertarik? Ingin membaca tetapi tidak punya uang untuk membeli? Gampang, silakan dating ke kost saya langsung dapet bukunya untuk dibaca. Hanya satu syaratnya, DIKEMBALIKAN!!!! He….he…he…
Saya termasuk orang yang suka membaca novel. Entah mengapa tetapi dari novel, kita bisa membayangkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis berdasarkan latar yang sedang terjadi(waktu, tempat, dan pelaku). Buku yang menuturkan banyak teori kadang berbeda apa yang ingin disampaikan penulis dan apa yang diterima pembaca dikarenakan perbedaan sudut pandang. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya informasi mengenai latar atau keadaan realitanya bagaimana suatu nasehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya beli pada hari Selasa, 23 Desember 2008 dan langsung dibaca. Terus terang sampai halaman terakhir buku ini, saya masih bingung mengenai apa maksud judul novel ini. Awalnya saya mengira yang dimaksud dia adalah Allah SWT tetapi kok ditulis dengan huruf kecil. Sementara jika yang dimaksud dengan dia adalah makhluk, kok sepertinya sulit dihubungkan dengan isi cerita. Ya, sudahlah tak menjadi masalah, yang penting kan isinya(bagi saya lho……).
Seperti novelnya yang pertama(Kun fayakun….), di novel ini penulis masih mengangkat tema tentang ketauhidan. Sangat kental nuansa tasawuf di sana. Ia mengatakan bahwa mempelajari Islam haruslah keseluruhan, jangan setengah-setengah. Maksudnya tidak hanya syariat saja yang dikejar tetapi juga hakikatnya harus dapat.
Pamungkas(tokoh utama novel ini) dilahirkan dari orang tua yang berbeda keyakinan. Bapaknya Islam sementara ibunya Kristen. Waktu kecil, berangkat ke gereja ya, ke masjid juga iya. Keadaan berubah setelah kedua orang tuanya meninggal. Sesuai dengan kata hatinya ia memilih Islam sebagai agamanya yang akan selalu dipegang teguh.
Meskipun utamanya adalah tentang ketauhidan tetapi kisah percintaan pun tidak lupa diikutkan oleh sang penulis. Bagaimana tokoh utama berjuang sekuat tenaga mendapatkan Ratih, anak dari seorang tokoh agama di daerahnya. Unik juga, karena awalnya ayah Ratih tidak setuju.
Hanya saja, dalam novel ini tidak banyak konflik social yang diangkat. Justru yang menjadi perhatian sang penulis adalah konflik batin tokoh utama dalam mengenal Islam dan juga mengenal sang Pencipta. “Bagaimana bisa beriman jika tidak mengenal yang diimani?” kata Pamungkas dalam salah satu percakapan.
Sangat mengena bagi saya apa yang ingin disampaikan oleh penulis novel ini. Menjalankan syariat tanpa hakikatnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Ibaratnya syariat itu adalah kulitnya maka hakikat adalah isinya. Keduanya harus ada bersamaan. Tetapi jika hakikatnya sudah dapat maka dengan sendirinya syariat akan dapat tetapi tidak berlaku sebaliknya. Bagaimanapun juga, manusia harus bisa merasakan bagaimana kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, maka ia baru bisa mengimani-Nya dengan sepenuh hati, tak tergoyahkan. Jika tidak maka yang terjadi adalah pasang surut.
OK. Penjelasan singkat yang tentu saja jauh dari apa yang ada dalam novel ini. Tertarik? Ingin membaca tetapi tidak punya uang untuk membeli? Gampang, silakan dating ke kost saya langsung dapet bukunya untuk dibaca. Hanya satu syaratnya, DIKEMBALIKAN!!!! He….he…he…
No related posts.






