Adnan Anwar, ST.

Bidadari-Bidadari Surga

by on Jan.29, 2011, under Buku


Judul : Bidadari-Bidadari Surga

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman : 365 halaman

Harga : Rp 47.500,-

Sejak kemunculan novel pertamanya(Hafalan Sholat Delisa), saya cukup kagum dengan karya-karya dari tere liye. Selanjutnya saya tidak ragu-ragu untuk membeli buku-buku karya beliau seperti Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, dan terakhir yang saya beli Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Sungguh, buku-buku tersebut sangat dalam maknanya dan mengandung hikmah yang sangat besar buat saya.

Oh, ya saya sempat salah paham dengan pengarang buku ini. Saya berfikir bahwa tere liye adalah serang wanita. Mengapa saya beranggapan demikian? Dari namanya “tere liye” saya langsung mendapat kesan bahwa ini adalah nama seorang perempuan. Dan dilihat dari tutur bahasanya sangat lembut dan keibuan, apalagi pada buku pertamanya (Hafalan Sholat Delisa). Baru setelah saya membaca karya terakhir(yang ada sedikit review tentang pengarang), saya tahu bahwa tere liye adalah seorang lelaki. (Afwan, ya Pak…..).

Buku ini(Bidadari-Bidadari Surga) mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Saya beli sewaktu mendapat tugas di Semarang. Masuk kantor 5 hari sepekan maka hari sabtu dan minggu saya gunakan untuk membaca. Maka terbelilah buku ini. Saya beli di took buku Gramedia Semarang.

Awalnya saya pikir buku ini bercerita tentang kisah cinta seperti yangs edang popular saat itu. Ternyata saya salah besar. Dibuka dengan kisah seorang Dalimunte, pria cerdas yang sedang meneliti tentang kebenaran bahwa bulan pernah terbelah secara fisik menjadi dua(bukti mukjizat Nabi Muhammad yang pernah membelah bulan). Kebetulan saya cukup tertarik dengan alam semesta termasuk cosmos, system tata surya, dan hal-hal lain tentang alam semesta. Maka, dari awalnya saja saya sudah sangat tertarik dengan buku ini.

Saya sangat terharu dengan perjuangan Laisa, kakak pertama(perempuan)dari sebuah keluarga berkecukupan. Yang meskipun fisiknya tidak sebaik manusia kebanyakan tetapi mau berkorban untuk adik-adiknya. Bukan main-main, seluruh hidupnya dikorbankan untuk kesuksesan adik-adiknya. Bahkan ketika ia sakit pun, tak mau ia terlihat sakit dan ia menahannya sampai ajal menjemput. Ia selalu bilang “Kalian harus menjadi orang yang berhasil”.

Betapa adik-adiknya sangat menghormati perjuangan kakaknya tersebut. Dan yang lebih mengharukan lagi adalah bahwa ternyata ia bukanlah kakak kandung mereka. Subhanallah, sungguh seandainya semua kakak di dunia ini maka saya yakin tidak akan ada adik yang nakal dan bandel. Tidak aka nada adik-adik yang berani membantah kakaknya.
Saya hanya ingin mengambil beberapa hal yang saya dapat dari novel ini. Bahwa orang akan menghormati kita ketika kita mau berbuat yang benar dan kita konsisten untuk terus melakukannya. Kesuksesan tidak akan dapat diraih tanpa adanya kerja keras. Dan udah sepantasnya kehidupan dalam rumah tangga dibangun dengan rasa cinta dan kasih saying.

Sempat air mata ini menetes ketika sang kakak menghembuskan nafas terakhirnya. Kalian tahu apa permintaan terakhirnya? Tidak banyak, ia hanya ingin melihat adik-adiknya. Maka, Profesor Dalimunte yang sedang mengisi seminar tanpa ragu-ragu meninggalkan tempat untuk melihat kakaknya, Ikanuri dan Wibisana yang sedang ada perjanjian bisnis penting di luar negeri(sampai di tempat tujuan) langsung balik pulang membatalkan janji untuk menemui kakaknya, dan si bungsu, Yashinta yang sedang berada di puncak gunung segera berlari pulang untuk menemui kakaknya.

“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al-Waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (Ar Rahman:70)”

Buku yang sangat layak untuk dibaca.

No related posts.

:, , ,

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...