Adnan Anwar, ST.

Negeri 5 Menara

by on Apr.09, 2011, under Buku

menara

Judul : Negeri 5 Menara

Penulis : A Fuadi

Penerbit : Gramedia

Jumlah halaman : 416 halaman

Terbit : September 2009

Harga : Rp. 40.000,-

Di sampul depan buku ini tertulis “Sebuah novel yang terinspirasi kisah nyata.” Satu lagi novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Usut-punys usut kisah nyata yang dimaksud adalah kisah penulis sendiri sewaktu menempuh perjuangan di sebuah pondok di Jawa Timur. Memang ada kesan tersendiri jika novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Cerita yang disajikan terkesan lebih realistis dan bias dipahami hikmahnya.

Dikisahkan seorang remaja bernama Alif yang sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur, seperti Pak Habibie dan Pak Karno. Hal itu akan dia tempuh dengan masuk ke SMA yang selanjutnya diteruskan ke ITB. Suatu cita-cita yang selalu dia bagi bersama dengan sahabat tercinta, Randai. Rencana suda tersusun rapid an ujian akhir madrasah tsanawiyah pun sudah usai.

Permasalahan muncul ketika sang ibu menginginkan Alif menjadi seorang pemuka agama. Ia berpendapat bahwa selama ini sekolah agama hanya menjadi pilihan terakhir jika tidak diterima di sekolah biasa. Akhirnya, para pemuka agama yang muncul adalah orang-orang yang tidak punya latar belakang prestasi memadai. Ia ingin anaknya menjadi pioneer, seorang pemuka agama yang memang benar-benar berprestasi seperti Buya Hamka yang berasal dari daerah yang sama yaitu Minangkabau.

Alif pun mengalami tress berat. Sempat mengunci diri di kamar sebagai bentuk protes. Tetapi keputusan sang ibu tidak bias diganggu gugat. Alif harus masuk sekolah agama. Ia tahu tak akan bias menang melawan kemauan ibu. Hingga dating sebuah surat dari pamannya yang berada di Arab, menyarankan ia masuk Pondok Madani saja di Jawa Timur. Keputusan pun dibuat, Alif mau masuk sekolah agama tetapi jika dan hanya jika di Pondik Madani, Jawa Timur. Berat juga kedua orang tuanya melepas anaknya ke negeri orang tetapi daripada tidak masuk sekolah agama. Akhirnya Alif berangkat ke Jawa Timur.

Petualangan pun dimulai. Awalnya Alif merasa berat tinggal di pondok. Kedisiplinan yang luar biasa ketat membuat ia harus selalu memompa adrenalinnya. Di bawah menara ia sering mencurahkan isi hatinya beserta 4 orang sahabatnya yang juga senasib sepenanggungan, Baso, Raja, Atang, dan Said. Mereka mempunyai karakter yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Kalimat ”man jadda wa jada” menjadi senjata utama ketika mereka merasa kesulitan di pondok. Barangsiapa berusaha maka ia akan berhasil. Ketika menghafal Al-Quran begitu sulit, mempelajari bahasa Arab dan Inggris yang menjadi bahasa sehari-hari menjadi begitu susah. Man jadda wa jada, pekik mereka dalam hati. Waktu pun berjalan begitu cepatnya.

Ketika ia mulai terbiasa dengan kehidupan pondok datanglah surat dari sahabatnya di Minangkabau, Randai. Ia menceritakan tentang asyiknya sekolah di SMA. Kebebasan yang mereka dapatkan, ilmu yang dipelajari, bahkan liburan antar semester yang menyenangkan. Hal itu tidak dapat didapatkan di Pondok Madani. Ia senang karena keberhasilan sahabatnya tetapi juga iri. Sempat ia menyesal karena masuk pondok dan ingin keluar dari sana.

Akankah ia bias menyelesaikan sekolahnya di pondok? Apa reaksinya menerima surat dari Randai yang selalu mengisahkan kebahagiaannya sekolah di SMA bahkan diterima di ITB sesuai rencana mereka dulu? Apakah ia bias mewujudkan impiannya sejak kecil menjadi seperti Pak Habibie dan Pak Karno? Silakan baca selengkapnya di novel ini……

No related posts.

:, , , , ,

Leave a Reply

Looking for something?

Gunakan form berikut untuk mencari:

Tidak dapat menemukan artikel yang anda cari? Tinggalkan pesan atau langsung kontak saya...